Nekat Gendong Sepeda ke Puncak Bukit Mbucu (Mbucu Hill)

Sepulang dari lokasi Air Terjun Tuwondo, perjalanan (11 Januari 2015) kami lanjutkan mencari lokasi yang dinamakan Mbucu Hill. Sebuah puncak yang ada dikawasan Banyakan dan bisa memandang luas wilayah Jogja dari ketinggan. Berdasarkan informasi dari seorang bapak yang menjaga parkir sepeda ditempat air terjun, kami mendapatkan gambaran rutenya. Yakni kembali turun sampai mentok aspal (kalau dari bawah belok kanan ke air terjun, maka kami harus ambil yang belok kiri. Kalau dari Air terjun berarti ambil yang agak lurus).

Aku dan Arzy sudah sepakat untuk menuju Mbucu Hill, oya Mbucu Hill ini juga dikenal dengan sebutan Watu Putih. Nanti kami akan tahu kenapa ada sebutan Watu Putih di Puncak Mbucu ini. rute yang lumayan menanjak kami lalui, lumayan sebemum sarapan tanjakan kami tadi sudah sarapan bubur ayam duluan. Jadi tenaga masih kuat. Beberapa tanjakan dengan jalan kombinasi aspal yang berlubang dan cor semen kami lahap. Tikungan-tikungan tajam menjadi menu kali ini, jadi perjalanan tidak membosankan. Beruntung juga sepedaku sudah aku upgrade dibeberapa parts-nya, jadi sangat membantu aku untuk menanjak. Aku putuskan untuk tidak menuntun sepeda disaat tanjakan, kalau pun capek cukup berhenti lalu naiki lagi sepedanya.
Menikmati tanjakan di Banyakan arah ke Mbucu
Menikmati tanjakan di Banyakan arah ke Mbucu
Menikmati tanjakan di Banyakan arah ke Mbucu
Menikmati tanjakan di Banyakan arah ke Mbucu
Disela-sela istirahat sambil memandang hamparan sawah dan rumah di bawah, kami bertemu dengan beberapa pesepeda yang sudah menuruni jalanan. Dengan hati-hati mereka mengendalikan sepedanya. Bahkan ada bapak-bapak yang menuntun sepeda saat turun, setelah kami cek ternyata remnya bermasalah. Aku sempat bertanya mengenai Puncak Mbucu, katanya masih lumayan lagi. Oke, semakin semangat kami untuk menuju ke Mbucu Hill.
Berpapasan dengan pesepeda lainnya
Berpapasan dengan pesepeda lainnya
Berpapasan dengan pesepeda lainnya
Berpapasan dengan pesepeda lainnya
Beberapa tanjakan sudah kami lahap dengan aman, sampai ada juga turunan dan kemudian sedikit nanjak. Disana ada sebuah bangunan kecil mirip pos kampling yang ditongkrongi dua anak kecil, aku bertanya rute menuju Mbucu Hill, salah satu anak menujukkan jalan cor dua tapak yang belok kiri dan sedikit menanjak. Kami menyusuri jalanan dengan pemandangan yang indah. Sesekali kami berhenti hanya ingin mengabadikan moment pemandangan indah. Kemudian kami melanjutkan mencari Mbucu Hill, tidak ada plang yang menujukkan arah menuju lokasi tersebut. Akhirnya kami bertemu dengan seorang ibu yang diladang, ternyata sudah kami lewati jalannya, kami balik arah mencari pertigaan untuk belok kanan menuju Mbucu Hill. Lagi-lagi tidak ada plang petunjuk arah, jalan berbatu dan licin kami lalui menaiki sepeda, begitu sampai bawah kami bertemu bapak-bapak sedang membersihkan kebun. Dari beliau ternyata kembali kami sudah kejauhan. Kami kembali lagi menuju arah jalan tadi dengan melihat sisi kanan katanya ada jalan setapak agak naik.
Sebelum sampai menuju Mbucu udah nyasar duluan
Sebelum sampai menuju Mbucu udah nyasar duluan
Sebelum sampai menuju Mbucu udah nyasar duluan
Sebelum sampai menuju Mbucu udah nyasar duluan
Benar saja, ternyata jalannya tadi kami lewati. Ada empat sepeda motor yang baru datang menuju lokasi Mbucu Hill. Kami putuskan membawa sepeda sampai dipuncak bukit Mbucu Hill. Dengan menuntun sepeda, kami lalui jalanan batu seperti tangga alami untuk menuju ke atas. Jalan setapak ini tidak bisa digunakan untuk menaiki sepeda, selain samping kiri-kanan masih rimbun, kecuramannya pun lumayan tinggi. Jadi kali ini sepeda yang kami bopong. Butuh pekerjaan sedikit ekstra keras untuk sampai dipuncak. Akhirnya sampai kami dihamparan batu membentuk seperti lantai, kami menaiki sepeda menuju spot yang paling bagus untuk melihat Jogja dari atas bukit ini.
Jalanan menuju puncak Mbucu, Banyakan, Piyungan
Jalanan menuju puncak Mbucu, Banyakan, Piyungan
Jalanan menuju puncak Mbucu, Banyakan, Piyungan
Jalanan menuju puncak Mbucu, Banyakan, Piyungan
Mbucu Hill mendapatkan sebutan Watu Putih karena memang bebatuan ini berwarna putih membentuk seperti sebuah lantai. Dari Mbucu Hill ini, kami dapat melihat Jogja. Walau terkena kabut, tapi tetap saja jelas. Dengar-dengar dari sini kalau cerah bisa melihat Gunung Merapi. Bahkan kalau sore, sunset akan terlihat indah. Begitulah kata teman-teman dari Banyakan yang tidak sengaja bertemu diatas bukit. Beberapa kali aku mengabadikan pemandangan yang terlihat dari atas bukit ini. Menurut teman-teman Banyakan ini, kalau Mbucu Hill ini sudah sering dipakai oleh wisatawan lokal untuk camping.
Pemandangan dari puncak Mbucu
Pemandangan dari puncak Mbucu
Pemandangan dari puncak Mbucu
Pemandangan dari puncak Mbucu
Setelah asyik ngobrol dengan pemuda-pemuda Banyakan, kami langsung mengabadikan sepeda dan diri kami. Sedikit narsis dengan mengangkat sepeda adalah pose yang paling kugemari saat berfoto. Baiklah, aku dan Arzy gantian berfoto. Selain itu kami juga berfoto bareng dengan mengatur kamera 10 detik. Keren kan? Kali ini mencoba mengangkat sepeda dengan menggunakan satu tangan. Walau berat tapi lumayan kuat juga aku mengangkatnya. Josssh, keren ya?
Foto dulu dipuncak Mbucu pakai sepeda
Foto dulu dipuncak Mbucu pakai sepeda
Foto dulu dipuncak Mbucu pakai sepeda
Foto dulu dipuncak Mbucu pakai sepeda
Kami benar-benar menikmati alam ini, lebih dari satu jam kami ngobrol santai seraya mengeringkan keringat. Udara masih sejuk dan tidak terasa panas sedikitpun. Selama kami bersantai, belum ada lagi orang yang mengunjungi tempat ini. aku sengaja berkeliling melihat setiap sudut Mbucu Hill. Disalah satu sudut, aku menemukan setumpukan sampah yang ditinggal oleh wisatawan. Satu kardus bekas air mineral gelas yang sudah tidak ada isinya hanya dibuang seenaknya. Aya bagi wisatawan yang berkunjung, aku harap kita saling menjaga kebersihan lingkungan. Kalau memang tempat ini tidak disediakan tong sampah, harusnya kalian membawa plastik besar untuk membawa sampah-sampah bekas makanan/minuman kalian. Jangan dibuang sembarangan seperti ini.
Sampah air mineral diantara semak-semak
Sampah air mineral diantara semak-semak
Tepat pukul 09:30 wib, kami turun mengikuti jalan yang tadi melalui desa Banyakan untuk kembali ke Jogja. Lumayan, pagi ini kami berhasil menuju dua tempat wisata alam yang tidak jauh dari pusat kota dan terjangkau dengan bersepeda. Minggu depan ingin bersepeda kemana? Waktunya awal pekan ini mencari-cari informasi lokasi yang ingin kami kunjungi dengan bersepeda. 
Baca juga postingan yang lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar :

  1. Alamnya ijo royo-royo, sueger...
    Keren juga sebagian jalannya dibeton.
    Pemandangan Yogya bagus dari atas bukit itu. Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mas...
      Iya, enaknya di Jogja itu masih banyak tempat yang seperti ini :-)

      Delete
  2. Jangankan yang gak ada tong sampahnya. Yang ada tong sampah aja masih males buat buang sampah ke tempatnya. Memang kebiasaan yang sudah dianggap biasa.

    Lama gak mampir mas. Banyk tigas luar kota hehehe...

    Asyik juga gowes. Kami di Balikpapan dan Samarinda ada komunitas Green Gowes Community yang pernah juga Tour De Merapi 3 tahuh yang lalu. Ini deketan gak sama Mbucu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata ada senior ini :-)
      Kalau lokasinya ini malah dekat kearah Gunungkidul, Salam kenal buat yang di Balikpapan dan Samarinda :-)

      Delete
  3. Jadi seorang bikers itu seru dan menantang, oh pengen banget :g

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini cuma untuk ngisi waktu libur aja kok, belum bisa benar-benar mendalami jadi pesepeda :-D

      Delete
  4. Asyik juga nih jalur trekking mas, apalagi lagi pakai gendong sepeda, menjadi pengalaman menjadi lebih berharga deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dibilang, sedikit menyiksa diri kang. Tapi kadang harus melakukan seperti itu biar lebih nikmat haaaa

      Delete
  5. Mantep. tempatnya adem begitu. Itu biarpun nekatnya setengah mati juga terbayar. Tapi... kalo ngeliat sampah yang disembunyiin begitu, jadi kesian. Itu sampah dibiarin gitu aja. Bang? nggak dikocekin bersama? xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak memang sampahnya, waktu kami disana sempat bertemu dengan para teman-teman yg warga Banyakan. Aku ngasih saran untuk membuat tempat sampah dari tong plastik agar sampahnya bisa dibuang pada tempatnya, juga kalau bisa masuk sini bayar tapi dengan ketentuan kebersihan tempat dijaga oleh pihak kampung.

      Delete
  6. wah keren...pemandagan dari puncak bukit paling bikin ane demen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo main kesini haaaa, ntar kalau nyepeda aku antar :-D

      Delete
  7. Kira2 berat sepedanya berapa kilo mas? Apa gak berat gendongnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh ini, pokoknya kalau Monarch 1.0 itu masih besi haaaa, jadi kayaknya lebih 10kg :-)

      Delete
  8. mantap dah rullah josh pokoknya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas buat hunting sunset bagus loh di sini :-)

      Delete