Memotret Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017

Memotret Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017
Memotret Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang perayaan hari Nyepi 2017, di Jogja ada Festival Ogoh-ogoh. Festival ini diikuti Himpunan Mahasiswa Hindu yang kuliah di Jogja. Berbagai komunitas pun ikut menyemarakkan acara tersebut. Jalan Malioboro yang biasa dipadati kendaraan, untuk kali ini ditutup.

Hujan mengguyur dari siang hari, Festival Ogoh-ogoh sebelumnya sudah diarak dari Sleman dan berakhir di Jembatan Baru Sardjito. Setelah itu seluruh Ogoh-ogoh dinaikkan mobil bak terbuka menuju Malioboro. Di sini arakan Ogoh-ogoh kembali diarak mulai pukul 15.00 WIB. Tujuan akhir Ogoh-ogoh di Alun-alun Utara (Depan Keraton Yogyakarta). Aku sedikit terlambat datang, sehingga tidak bisa mengabadikan keseluruhan Ogoh-ogoh yang diarak.
Keramaian Festival Ogoh-ogoh di Malioboro
Keramaian Festival Ogoh-ogoh di Malioboro

Animo masyarakat Jogja yang menonton tak surut walau sempat diguyur rintikan hujan. Beruntunglah intensitas hujan di Malioboro tidak sederas daerah lain. Sehingga Festival Ogoh-ogoh tahun ini berjalan dengan lancar. Dari sekitar 20an Ogoh-ogoh berbagai bentuk dan rupa diarak. Dari sebanyak itu hanya tiga rombongan yang membawa Ogoh-ogoh yang sempat kumintai keterangannya.

Ogoh-ogoh pertama berbentuk Raksasa (Bhuta Kala) yang berhadapan dengan replika patung wanita berpakaian kuning sedang mengatupkan kedua tangannya. Kedua replika itu saling berhadapan. Ini adalah hasil karya dari Kumpulan Mahasiswa Hindu Sumatera. Tertera di bagian depan bertuliskan KMHSY Yowana Dharma Laksana.

Patung Bhuta Kala tersebut mengartikan raksasa yang sudah meninggal namun badannya tidak dibakar. Sehingga raksasa tersebut mencari-cari badannya. Seperti itulah yang disampaikan oleh Wayan Firman, seorang mahasiswa UPN yang berasal dari Bali.
Salah satu Bhuta Kala/Raksasa di Festival Ogoh-ogoh Tahun 2017
Salah satu Bhuta Kala/Raksasa di Festival Ogoh-ogoh Tahun 2017

Ada banyak Bhuta Kala (Raksasa) yang diarak, aku mendekati salah satu raksasa yang dominan berwarna merah mudah. Lidahnya menjulur ke luar dengan kedua tangan seakan-akan siap mencakar. Ditambah kuku-kukunya panjang. Ogoh-ogoh ini hasil karya dari teman-teman Mahatma. Kumpulan Mahasiswa Hindu Atmajaya Jogja.

Bhuta Kala ini bernama Legu Gondong, sosok raksasa berbentuk setengah Nyamuk. Menurut penuturan Kadek (Mahatma), nantinya Ogoh-ogoh ini akan dibakar di salah satu Pura yang ada di Maguwo. Beliau menerangkan jika pembuatan Ogoh-ogoh ini menggunakan daun pandan agar roh jahat tidak berani masuk. Mereka juga mengikuti adat yang di Bali, ketika Hari Nyepi mereka semua tidak keluar kontrakan.

“Makna yang penting adalah kita membakar Ogoh-ogoh dan mengikuti apa yang dilakukan di Bali, walaupun kami tinggal di Jogja,” Tutur Kadek.
Bhuta Kala ini bernama Legu Gondong
Bhuta Kala ini bernama Legu Gondong

Satu sosok Ogoh-ogoh yang menarik perhatianku lainnya adalah sosok seperti Hanoman yang menggenggam Bumi. Ogoh-ogoh ini hasil karya dari rombongan Padma Bhuana Jogja. Pesan yang ingin disampaikan adalah keselarasan antara lingkungan dengan alam.

Dikutip dari pernyataan Nyoman Dharya, mereka ingin menyampaikan bahwa sudah seharusnya kita mencintai dan melindungi alam. Selama ini di Jogja kita sudah mengabaikan rimbunnya pepohonan. Ada banyak hotel dibangun, tapi pepohonan semakin tersisihkan dan nyaris hilang. Padahal alam-lah yang membuat kita senantiasa dapat hidup sehat.
Konsep kali ini berkaitan dengan Go Green, di tangan memegang bumi
Konsep kali ini berkaitan dengan Go Green, di tangan memegang bumi

Pada dasarnya setiap Ogoh-ogoh yang dibuat selama lebih dari satu minggu ini mempunyai banyak makna dan pesan, hanya saja aku tidak sempat bertanya pada peserta itu sendiri. Berikut Ogoh-ogoh lainnya yang sempat kuabadikan.
Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017
Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017
Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017
Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017
Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017
Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017
Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro 2017

Memotret para peserta festival
Festival Ogoh-ogoh 2017 ini diikuti lebih dari 20 komunitas dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari kumpulan mahasiswa sampai masyarakat setempat. Berikut dokumentasi yang sempat kuabadikan berkaitan dengan pesertanya.

Salah satu yang menarik perhatian adalah para wanita yang ikut menyemarakkan Festival Ogoh-ogoh. Mereka berjalan sambil menebar senyuman ke setiap penonton yang memadati tepian jalan. Tak henti-hentinya kamera memotret setiap raut wajah penuh senyuman. Dari kejauhan, aku juga mengabadikan salah satu di antara ratusan peserta yang ikut.
Peserta Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro
Peserta Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro

Tidak hanya kawula muda dan mahasiswa yang berpartisipasi. Salut dengan beliau yang sudah berumur ikut berpartisipasi, tak ada raut capek walau sudah berjalan cukup jauh. Festival Ogoh-ogoh seakan-akan memberikan suntikan tenaga tambahan bagi mereka.
Peserta Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro
Peserta Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro

Pria, wanita, tua, muda, dan tidak ketinggalan anak-anak. Tidak sedikit anak-anak yang ikut dalam rombongan. Mereka dirias sedemikan rupa, dan antusias mengikuti festival tersebut. Dari sekian banyak anak-anak, aku hanya sempat mengabadikan sosok anak laki-laki yang duduk di atas kereta. Dia tampak tenang walau banyak kamera yang memotretnya.
Peserta Cilik Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro
Peserta Cilik Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro

Jika kita terfokus pada arakan Ogoh-ogoh menjulang tinggi, jangan sampai kita lupakan mereka yang terkuras tenaga mengangkat Ogoh-ogoh. Laki-laki kuat ini rela dirias dengan berbagai macam warna. Totalitas tampak dari penampilannya. Semangat mas!
Semangat mas!
Semangat mas!

Itulah sedikit keramaian yang sempat kuabadikan di Festival Ogoh-ogoh di Malioboro. Ogoh-ogoh yang terbuat dari bambu dan dirancang lebih dari dua minggu nantinya akan dibakar. Bentuk Ogoh-ogoh bermacam-macam, lebih dominan berbentuk Raksasa, tapi bisa juga berbentuk lainnya. *Dokumentasi Festival Ogoh-ogoh di Sepanjang Jalan Malioboro pada hari Sabtu, 25 Maret 2017.
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

30 komentar :

  1. Kayaknya seru banget. Udah lama enggak lihat ogoh-ogoh langsung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti tahun depan harus lihat Ogoh-ogoh kamu :-)

      Delete
  2. Pas bakar ogoh-ogoh boleh sambil bakar kenangan nggak mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenangan jangan dibakar, tapi disimpan hahahahhaa

      Delete
  3. Yg saya kagum dr Ogoh2 ini adalah seniman2 yg ada di baliknya. Niat banget buatnya dan itu gak gampang yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget mas, Mereka benar-benar paham apa yang akan dibuat dan setiap karya mempunyai pesan.

      Delete
  4. Wah acara Festival Ogoh-ogoh di jogya ramai juga ya Mas. Ah semoga ditahun berikutnya acara nya tambah keren lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rame banget mas. Walau sempat ujan tapi nggak bikin pengunjung bubar.

      Delete
  5. serem semuaaa. aku takutttt
    *ndelik ning kelek e Isyana ro Raisa*

    ReplyDelete
  6. wah bang ogoh ogoh yogya itu ya bang yang hanoman .... mendingan lucu daripada ogog ogog bali heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap ogoh-ogoh pada dasarnya menyeramkan ehhehehhe

      Delete
  7. Waaahhh tenyata banyak orang Hindu juga di Jogja,,,
    aku juga paling impress dengan tulisan kamu tentang hanoman yang membawa bumi itu,,, sudah saatnya kita menjaga lingkungan hidup... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhehe, benar banet mbak. Di Jogja ada banyak kok mahasiswa Hindu, mereka merayakan juga di Jogja

      Delete
  8. malioboro jadi makin rame dengan adanya festival ini.
    jadi kangen main kesana.
    ogoh-ogohnya agak nyeremin tp terlihat indah di keramaian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malioboro tetap ramai ketika ada Festival atau tidak, Ogoh-ogoh memang dibuat menyeramkan :-)

      Delete
  9. Takut kebawa mimpi lihat ogoh2nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak perlu takut bang, jangan dibawa mimpi :-D

      Delete
  10. Wah saya sudah pulang dari Jogja nih, kemarin kesana tidak saat ada festival,,
    cuman beli kaos-kaos sama jalan2 aja..
    wah salah timing nih berarti..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhehhe, besok main lagi ke Jogja :-)

      Delete
  11. Di Jombang juga ada pawai ogoh-ogoh sehari menjelang Nyepi, oh ya klo di Yogyakarta ritualnya dari Pura apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jogja ada beberapa Pura, mas. Jadi mereka menyebar biasanya kalau akan membakar Ogoh-ogohnya.

      Delete
  12. waaaah meriah ya
    salut dengan mahasiswa dari berbagai daerah yg kuliah di jogja, turut melestarikan kebudayaannya di kota budaya macam jogja ini :D

    ReplyDelete
  13. hiyyy .. serem serem ya ... tapi serem serem begini jadi menarik ya untuk dilihat dan di foto .. kapan lagi ketemu hantu rame2 dan siang bolong gini .. kalau malam soalnya takuttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhahaahha, nggak serem kang tapi seru :-D

      Delete
  14. baru tahu juga kalau ogoh ogoh itu banyak macam, nama dan maknanya ya mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ogoh-ogoh memang mempunyai nama dan pesan yang tersirat.

      Delete
  15. Ane takut mas kalau liat ogoh2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa takut? hehehhehe
      Ogoh-ogoh malah unik loh :-)

      Delete