Pagi Hari Berenang di Pantai Karimunjawa

Pemandangan pantai yang ada dermaga kayunya
Pemandangan pantai yang ada dermaga kayunya

Semalam Riki sudah berencana memotret sunrise di salah satu pantai belakang rumahnya. Jika diruntut, pantai ini hanya berdekatan dengan Pantai Batu Putih Karimunjawa. Sejak dulu pantai ini tak bernama. Ketika pantai dibeli oleh pengelola, dibangun jembatan kayu kecil. Barulah pantai ini digandrungi para remaja untuk bersantai.

Seperti pantai-pantai lainnya yang belum dikelola dengan baik, pantai ini masih belum ada namanya. Sebagian warga hanya menyebut nama pantai dengan sebutan pemilik lahan. Cara tersebut paling mudah menandai sebuah lokasi.

Kurun waktu enam bulan setelah aku pulang, sudah ada banyak sudut pantai yang berbenah. Inilah yang membuatku makin bersemangat saat mudik. Aku bisa mengeksplore pantai dan menulisnya di blog. Bahkan tidak sedikit aku harus membayar tiket masuk, karena dikira wisatawan. Aku jarang mengaku sebagai warga setempat agar membayar karcis yang tidak mahal.

Kembali ke rencana awal. Pagi terasa sejuk, rerimbunan pepohonan masih menyisakan lembab tanah. Cekungan di titik-titik tertentu digenangi air yang belum meresap, serta terlihat tetesan air di ujung daun. Semalam Karimunjawa diguyur hujan. Sekarang pun mentari enggan muncul, hanya menampakkan cahaya sinar redup.

Aku terus berlari kecil sembari menenteng kamera. Menyusuri jalan menuju rumah Riki yang jaraknya 700 meter. Masih pagi, warga setempat beraktifitas. Setiap bertemu rumah warga (tetangga), mereka menyapaku. Hampir sebagian besar bertanya sejak kapan aku mudik. Suasana akrab seperti ini yang aku rindukan.

Sapaan mereka (tetangga) tidak hanya menggunakan bahasa Jawa. Sebagian lagi malah berteriak semangat menggunakan Bahasa Bugis. Aku terlahir di Karimunjawa berdarah Bugis – Mandar, sehingga dengan lancar menggunakan Bahasa Jawa dan Bugis. Sementara Bahasa Mandar, aku hanya paham ketika orang berbincang.
Ketika sampai pantai di belakang rumah
Ketika sampai pantai di belakang rumah

Riki sudah di teras rumah menunggu kedatanganku. Sejurus kemudian kami berjalan ke pantai. Akses jalan hanyalah setapak, menyibak kebun kelapa samping rumah Riki. Aku teringat akses jalan ini sering kulewati sewaktu kecil. Target kami adalah memanen Jeruk yang tumbuh liar di sekitaran kebun. Di Karimunjawa ada namanya Jeruk Bokor, Jeruk yang mulai agak punah di sini. Jenis Jeruk ini jarang kutemukan di tempat lain.

Rupanya pemilik lahan pantai ini sudah membuat akses jalan cukup bagus saat turun. Tebing tidak terlalu tinggi ini sudah ditata menjadi tangga. Dari ketinggian, aku melihat dermaga mungil yang menghadap ke timur laut. Sejenak aku mengabadikan dermaga kecil tersebut. Mungil dan bagus diabadikan kala pagi.

“Sejak kapan dibangun jembatan ini, Rik?”

“Beberapa bulan yang lalu, kak.”

Jembatan kayu ini tidaklah panjang. Berjarak antara 30 meter dari pesisir pantai. Namun karena lokasinya berada di sudut hamparan pasir putih membuatnya indah. Bahan kayu yang digunakan kombinasi Kayu Ulin dan Bengkirai/Bangkirai, ada juga disisipi Glugu (papan dari pohon Kelapa yang sudah tua dan hitam).
Hamparan pasir dan jejeran Nyiur di tepian pantai
Hamparan pasir dan jejeran Nyiur di tepian pantai

Papan-papan yang tertata di permukaan air berbunyi kala kaki menapakinya. Dari tengah dermaga kecil ini aku dapat melihat daratan. Nyiur-nyiur menjulang tinggi, hanya sedikit berbuah karena terlalu tua. Hamparan pasir putih kontras dengan jernihnya air laut. Air laut layaknya kaca, aku dapat melihat dasarnya. Tidak dalam memang, sekitar 1.5 meter saja.

Langit masih berbalut awan tebal. Sudut timur yang dilihat hanyalah gumpalan awan. Tidak jauh dari sana bongkahan batu besar berwarna putih tampak jelas. Itulah Pantai Batu Putih, pantai yang sudah aku kenal sejak kecil. Sewaktu kecil, aku sering merangkak naik ke atas batu tersebut.

Aku terdiam di ujung dermaga, menikmati pemandangan pagi. Jarang-jarang bisa melihat pemandangan seperti ini. Dulu, kalau ingin melihat daratan dari jarak dekat, aku harus mendayung sampan beberapa ratus meter terlebih dahulu.
Pantai Batu Putih terlihat jelas bongkahan batunya
Pantai Batu Putih terlihat jelas bongkahan batunya

Riki asyik memainkan gawainya. Aku menepi, menatap arah timur penuh gusar. Semburat cahaya sudah mulai tampak, hanya saja sang Baskara belum terlihat. Gumpalan awan merata, membuat aku harus gigit jari.

“Gagal liat sunrise kak!! Mendungnya tebal!!” Teriak Riki dari ujung dermaga.

“Iya!!” balasku tak kalah kencang.

Bukan anak pantai namanya kalau tidak berkomunikasi seperti ini. Bahkan dengan jarak dekat pun kita masih berteriak kencang. Bagi orang yang belum paham, tentu obrolan kami dirasa semacam sedang berdebat.

“Kita foto-foto saja!” Tandasku.

Solusi terbaik kala tidak dapat mengabadikan mentari terbit adalah berfoto. Aku dan Riki secara bergantian saling memotret. Maklum, pagi ini aku tidak membawa Tripod. Berkali-kali aku melompat, begitupun dengan Riki. Intinya memperbanyak stok foto untuk diunggah di Instagram.
Tanda-tanda gagal melihat sunrise
Tanda-tanda gagal melihat sunrise

“Pokoknya pas aku loncat di foto ya,” Celetuk Riki.

Aku menangguk setuju, toh sesekali jadi tukang poto dia. Mulai melompat di ujung dermaga, dari tempat duduk yang terpasang di ujung dermaga pun dilakukan. Butuh perjuangan agak keras, karena badannya mulai gempal. Tidak sepertiku yang ringan dan mudah terbawa angin.

Hampir di setiap sudut dermaga ini sudah kami abadikan. Yang terlupakan (teringat saat menulis) adalah pasirnya. Aku malah lupa mengabadikan foto di hamparan pasir putihnya. Riki masih menyimpan kecewa, dia terus bercerita kalau mentari terbit dari sini indah diabadikan. Aku percaya saja, karena aku sendiri pernah mengabadikan mentari terbit dari lokasi yang tidak jauh dari sini.
Memperbanyak stok foto dulu
Memperbanyak stok foto dulu

“Rik, ini kalau renang airnya dalam nggak?”

“Mana ada anak Karimunjawa kok takut air dalam,” Jawab Riki tertawa.

“Bukan takut, buat memastikan saja,” Timpalku.

Jika kulihat dari atas dermaga, air di sini tidaklah dalam. Apalagi masih terlihat jelas pasirnya. Aku memutuskan melepas baju dan berenang. Sudah lama tak berenang di pantai, biasanya saat pulang berbarengan dengan bulan puasa, sehingga kutangguhkan keinginan berenang.

Sejurus kemudian aku melompat dan terhempas di air laut. Secepatnya aku menggerakkan kakiku agar tidak tenggelam. Kucoba berdiri di lautan, dan ternyata benar tidak dalam. Air hanya sampai mulutku. Tidak sampai menggelamkanku. Kedalaman air sekitar 1.70 meter ini pas untuk berenang. Tidak terlalu dangkal dan tidak dalam.
Dan akhirnya beraksi, diabadikan Riki
Dan akhirnya beraksi, diabadikan Riki

Menyenangkan rasanya mandi laut antara pukul 06.30 – 07.20 WIB. Tidak terasa dinginnya air laut, malah terasa segar. Di saat aku asyik berenang, Riki malah gantian memegang kameraku dan mengabadikan beberapa momen ketika aku berenang.

Tidak terasa mendung semakin tebal, aku melihat pemandangan agak berbeda di ujung timur. Seperti air hujan yang sudah turun, tapi di tempatku belum ada tanda-tanda hujan.

“Rik, lihat ke timur. Kok beda ya pemandangannya,” Celetukku.

Dia melongok ke arah timur. Kulihat dia langsung mengemasi kameraku dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang kubawa.
Biar kurus, masih bisa terapung kok
Biar kurus, masih bisa terapung kok

“Itu hujan kak, cepat kita pulang,” Teriaknya.

Aku langsung menaiki tangga kecil yang tersedia di ujung dermaga. Kusambar saja kaos di dermaga dan berlari ke ujung daratan. Benar saja, begitu sampai jalanan bertangga di atas, hujan rintik mengguyur kami. Untung saja di dalam tas kamera kecil sudah kusiapkan plastik untuk membungkusnya. Kami berdua menyusuri jalan setapak dan sedikit basah air hujan. *Berenang di Pantai Karimunjawa pada hari Senin, 05 Desember 2016.
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

48 komentar :

  1. Enak ya Mas Rullah, rumahnya di Pulau. Pulau yang sangat indah pula. Tiap hari bisa renang di pantai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhehe, kalau lagi penat kudu main ke pantai mas :-)

      Delete
  2. Beningnya air laut di karimunjawa memang menggoda siapaun untuk nyebur mas. Sayang aku ga bisa berenang e XD
    Cukup berenang ga perlu snorkling pun saya rasa banyak org yang demikian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesekali dicoba mas, berenang di tepain pun jadi ahahahhaha

      Delete
  3. memang seru mandi di laut.... baru aja hari minggu kemarin berendem di laut
    kayaknya besok minggu juga bakal berendem di laut lagi

    ReplyDelete
  4. Ratjunnn aku kan pingin pantai berdermaga :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukannya dekat rumahmu ada jembatan beasr malahan? Itu Kretek hahahahhahah

      Delete
  5. Wah, sepertinya enak beud buat renang. Rugi kemaren belum jadi mampiiiiir :(

    ReplyDelete
  6. aku rindu pantai menenangkan banget. berenang di pantai karimunjawa sekedar pelepas lelah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeeee
      Pantai tempat buat melepas penat :-)

      Delete
  7. Ah asyik banget sih Mas dibelakang rumah langsung Pantai.. Jadi gak usah jauh" lg ya.. Ah Karimunjawa keren dah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan ajak aku ke Lampung mas hahahhahaha

      Delete
  8. waaah obrolan cuman dua orang itu serasa di film crow zero yak..... SERIZAWAAAA....!!!

    170 cm aku tenggelam Mas, kudu pakai pelampung....awhahwh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tinggal kucir rambut dan bawa samurai ahhahhahah

      Delete
  9. marai kelingan, bengine bar nagis terus isuk-isuk bar subuh langsung nyebur...... kapan meneh dab....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iki pantai waktu kita cuma pose pake celana dalam akakkakakka

      Delete
  10. Justru kalo kurus jadi terapung donk, oom. Kalo aku keberatan kayanya kok tenggelam ya. Wkwkwkwkwwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebalik kakak,
      Kalau di pantai orang gemuk malah mudah terapung hahahahhah

      Delete
  11. Replies
    1. Iso renang toh, Lant?
      Aku takut kalau kamu nggak bisa renang hahahahaha

      Delete
  12. Enak banget mas belakang rumah udah pantai. Hehe. Tapi sayang juga ya kalo pantai sampai dijual gitu. Apa udah biasa ya kayak gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pantai di Karimunjawa beberapa memang sudah dikelola orang Indonesia. Jadi sebagian warga ada yang menjual lahannya.

      Delete
  13. Weh, airnya jernih.....warnanya juga crystal clear gitu.....semoga begitu seterusnya. Jauhkan dari tangan-tangan jahil ya Allah, amiiin.

    Serius pak, keren itu pantainya.
    Enak ya rumahnya dekat pepantai. Kalau saya banyakn tambak ehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehhe, semoga pantai-pantai di manapun lokasinya tetap terjaga. Wah kalau tambak berarti banyak kepiting dan udang windu dong :-)

      Delete
  14. Aiiihhhhh dari fotonya kliatan seger bgt ya mas. Bisa hijau jernih begitu.. Kalo ga dalam gini, trs cuaca mendung pula, aku mau deh berenang :p.. Apalagi kliatannya arusnya ga kuat kan yaa.. Anakku jg pasti betah ini mah berenang di laut begini.. Jd pgn ke karimun jawa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agendakan main ke Karimunjawa bareng keluarga mbak :-D

      Delete
  15. WAh mantepp tenan mas Nasir :D
    btw kalau pulkam lewatnya sampean mana mas ? Semarang atau Jepara ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lewat Jepara mas, sekarang ada loh lewat kendal hahahhaha

      Delete
  16. Belum tercapai nii pengen ke Karimun Jawa, pengen bawa bocah2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mainkan mbak, atau mau kopdar di sana akakakkaka

      Delete
  17. Airnya terlihat jernih ya Mas, enaknya laut di pantai utara ombaknya nggak terlalu besar ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, berbeda dengan pantai selatan yang ombaknya bergulung-gulung

      Delete
  18. wah asik banget main ke karimun jawa. airnya jerni dan menunggu sunset juga sepertinya kegiatan seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk bermain air dan pasir memang menyenangkan di sini mas :)

      Delete
  19. belon pernah semoga someday bisa kesini aamiin cakep yah pantainya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, saya doakan agar bisa ke sana :-)

      Delete
  20. Aku selalu kagum dengan orang-orang berdarah pelaut. Di mana pun itu, terutama Bugis. Dan ketika melihat dirimu yang kurus masih bisa ngapung, di situ aku merasa malu, kalau aku selalu gagal berenang di laut :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaa,
      Ini saja sudah agak grogi rasanya mas. Tulang-tulang sedikit kaku ketika berenang. Biasanya kalau pulang bertepatan dengan puasa, jadi tidak ada waktu untuk berenang.

      Delete
  21. Jadi pengen berenang di pantai lagi, mskon kadang ada rasa celekit2 dr ubur2...tetap aja asik yah. Apalagi di sepanjang pantai Karimunjawa, bagus banget pemandangannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhehe berarti sudah sah kalau pernah disengat ubur-ubur :-)
      Jangan kapok main di pantai mbak :-D

      Delete
  22. Waaah udah 4 bulan berlalu baru ditulis...Baru tahu kalau kamu keturunan bugis... Seneng banget baca ini,,,terlebih mengetahui kalau kamu bisa renanggg...huaaaa iri banget... aku nggak bisa soalnya,,,bayar masuknya nggak mahal? Berapa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak bahanku yang belum terposting, bahkan sudah satu tahun yang lalu ahahhahaha. Masuknya gratis :-D

      Delete
  23. woww asyik banget mandi pagi sama air laut ...
    seger dan asin .. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pagi benar-benar seger, bahkan pilek pun hilang :-D

      Delete