Bertemu dengan Empu Pembuat Keris di Desa Wisata Malangan

Koleksi keris milik Empu Sungkowo di Desa Wisata Malangan, Sleman
Koleksi keris milik Empu Sungkowo di Desa Wisata Malangan, Sleman

Sepanjang perjalanan, Pak Wiji terus bercerita memperkenalkan desa wisatanya. Aku mendengarkan dengan seksama di kursi belakang. Rasa penasaran dan antusias kala beliau mengatakan bahwa ada agenda kami bertemu dengan seorang Empu. Tokoh (empu) pembuat keris ini masih keturunan langsung dari Majapahit. Ki Sungkowo Harumbrodjo nama sosok yang Pak Wiji ceritakan.

“Kita nanti hanya singgah dan berbincang sebentar dengan beliau karena hari ini beliau ada acara di Bantul.”

Kami sadar waktu kedatangan ke sini bukanlah saat tepat untuk melihat bagaimana cara membuat keris. Namun semangat kami tidak pudar, kami antusias akan mendengarkan sedikit cerita dari sosok pembuat keris secara langsung. Kadang kita harus datang lebih dari sekali ke suatu tempat agar bisa melihat proses pembuatan keris. Pasti aku agendakan di lain waktu.

Mengelilingi Desa Wisata Malangan menggunakan sepeda tidak membuat kami capek. Justru kami benar-benar menikmati perjalanan ini. Pokdarwis di sini terus bersemangat mengajak kami menyusuri jalan-jalan kecil. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah yang pagarnya terbuka dan mempunyai halaman cukup luas.
Perwakilan Pokdarwis Desa Wisata Malangan mengantar kami naik sepeda
Perwakilan Pokdarwis Desa Wisata Malangan mengantar kami naik sepeda

Ini adalah rumah Empu Sungkowo yang kami kunjungi. Empu Sungkowo sudah menunggu kehadiran kami di rumah kecil yang satu lokasi dengan rumah besar. Di sana terlihat berjejeran koleksi keris beragam. Ada yang kecil dan besar, lekuk keris tersebut terlihat.

“Selamat datang mas,” Ucap beliau menyapa kami. Empu Sungkowo ramah, diantarkan Pak Wiji beserta Pokdarwis, kami mendengarkan cerita panjang lebar tentang pekerjaan Empu Sungkowo. Secara runtut beliau menceritakan silsilah keluarga.

Empu Sungkowo adalah generasi ke 17 dari Empu Supo. Empu Supo merupakan seorang empu yang melayani pembuatan Pusaka pada masa Majapahit. Garis keturunan sebagai Empu sudah tergaris dari oleh Empu Sungkowo dari ayahnya sendiri, Empu Djeno Harumbrodjo (1929-2006), seorang empu di Mataram. Salah satu pusaka yang dibuat oleh Empu Djeno adalah Keris Dapur Jangkung Mangkunegoro yang dimiliki oleh Sultan Hamengkubuwono IX.
Empu Sungkowo Harumbrodjo membuka salah satu koleksi kerisnya
Empu Sungkowo Harumbrodjo membuka salah satu koleksi kerisnya

Gelar Empu yang tersemat di Empu Sungkowo bukan serta merta karena beliau keturunan dari seorang Empu saja. Ketekunan beliau selama berpuluh-puluh tahun sebagai pembuat keris sebenarnya yang membuat Ki Sungkowo diberi gelar Empu.

Ketika teman-teman lain sedang berbincang dengan Empu Sungkowo, aku menyempatkan diri melihat bingkai foto yang terpajang di tembok. Di sana sebuah gambar mengenai alur pembuatan keris. Berhubung kesibukan Empu Sungkowo yang menjawab berbagai pertanyaan teman-teman. Aku hanya menulis secara sederhana berkaitan dengan prosesnya. Sebenarnya pada proses terdapat gambarnya, namun tidak sempat kuabadikan.

Dimulai dari adanya Tabel bahan baku, beroda, dan bahan besi. Proses yang selanjutnya adalah menyiapkan api, lalu membuat pembungkus pamor. Beberapa lempengan besi dijadikan satu, dibakar dengan api yang panas. Prosesnya memang sangat panjang dan rumit dijelaskan, namun ketika hampir selesai proses penghilangan karat, dilahan, membuat luk, menghaluskan ricikan, sampai memasang ganco.

Empu Sungkowo mengajak kami ke belakang rumah. Di sana adalah tempat pembuatan keris. Ruangan berdinding anyaman bambu ini tidak terlihat aktifitas pembuatan keris. Bahkan peralatannya pun tidak tersedia. Semua alat sedang beliau bawa ke acara di Bantul. Hanya tertinggal tungku perapian saja.
Tempat pembuatan keris Empu Sungkowo
Tempat pembuatan keris Empu Sungkowo

“Pembuatan keris antara tiga sampai empat bulan. Prosesnya dari penempaan besi sampai dengan menghaluskan itu membutuhkan waktu yang lama.”

Empu Sungkowo mengatakan jika dalam pembuatan sebuah keris hal yang paling penting adalah kesabaran, ketenangan, dan fokus. Karena setiap karya akan berbeda-beda hasilnya. Tidak hanya itu, Empu Sungkowo juga mempunyai pantangan (waktu yang tidak diperkenankan untuk bekerja). Hari-hari tersebut adalah Selasa Pahing, Rabu Wage, Kamis Legi, Kamis Pahing, serta Kamis Wage.

Ada ritual yang harus dilakukan ketika Empu Sungkowo akan membuat sebuah keris. Pembuatan keris dimulai pada pagi hari, selain itu sebelum membuat sebuah keris beliau mengadakan semacam doa bersama dengan menyediakan Ubo Rampe. Seorang pokdarwis memperlihatkan gambar dari gawainya tentang prosesi tersebut. Bahkan beberapa dokumentasi saat besi-besi tersebut ditempa dan mengeluarkan percikan api.

“Kamu harus melihat prosesnya mas. Nanti kalau ada pembuatan keris saya kabari,” Ujar salah satu pokdarwis Desa Wisata Malangan yang masih muda padaku.

Empu Sungkowo mengeluarkan beberapa keris yang belum jadi. Beliau juga menyertakan sebuah besi tebal yang berat ditunjukkan ke kami. Menurut Empu Sungkowo, besi yang digunakan untuk pembuatan keris adala besi kuno. Beliau tidak menjelaskan dari mana mendapatkan bahan besinya.
Lempengan besi dan keris yang belum jadi
Lempengan besi dan keris yang belum jadi

“Untuk membuat satu keris dibutuhkan lempengan besi yang beratnya 15 kilo. Nanti kalau sudah jadi beratnya hanya sekitar 8 ons. Dalam proses pembuatannya keris minimal saya dibantu oleh dua orang,” Terang Empu Sungkowo.

Terbayang bagaimana prosesnya, menempa tiga lempengan besi menjadi satu. Pembuatan keris itu waktunya beragam. Dimulai dari satu bulan dan sampai empat bulan. Tergantung tingkat kesulitannya. Menurut Empu Sungkowo setiap keris nantinya diberi semacam aura/kekuatan.

Ada yang penasaran mengenai mahar yang harus ditebus untuk membeli satu keris di sini? Sebuah keris di sini dimahari sekitar 15 juta. Ini bisa lebih mahal lagi jika calon pemesan ingin meminta rongko (tempat keris) yang mahal.

Rongko atau sebagian orang ada yang menyebutnya dengan kata “warangka” adalah pembungkus sebuah keris. Rongko  ini sendiri mempunyai nilai seni yang tinggi. Cukup selaras dengn kerisnya. Menurut Empu Sungkowo, biasanya kalau untuk rongko kita bisa memesan di daerah Imogiri. Di tempat beliau hanya untuk pembuatan kerisnya saja. Namun jika ada yang memesan sekalian dengan rongko, beliau juga bisa mencarikan.

Rongko ini terbuat dari jenis kayu tertentu. Selain itu rongko biasanya diberi hiasan semacam kuningan atau perak, hal ini untuk mempercantik sekaligus menjadikan sebuah keris menjadi sebuah benda yang berkharisma. Harga rongko juga beragam, ada yang murah dan tidak sedikit juga harganya mahal.
Empu Sungkowo menjelaskan secara detail tentang sebuah keris
Empu Sungkowo menjelaskan secara detail tentang sebuah keris

“Ki, kalau yang njenengan pernah buat paling mahal berapa nggeh maharnya?”

Empu Sungkowo tersenyum mendengar pertanyaan polos dari salah satu teman. Beliau bercerita kalau dulu pernah membuatkan sebuah keris yang dipesan oleh orang dari Singapura. Mahar yang ditebus orang tersebut sebesar 60an juta. Tertarik untuk memesan keris?

Tidak terasa kami sudah cukup lama di tempat Empu Sungkowo. Masih ada beberapa tempat lagi yang harus kami kunjungi di Malangan. Pertemuan hari ini membuat kita semakin bangga dengan Negara Indonesia. Keris menjadi benda pusaka yang melekat pada bangsa kita. Aku mengayuh sepeda meninggalkan rumah Empu Sungkowo. Tiba-tiba hati ini menyeruak sebuah pertanyaan yang membuatku sendiri penasaran. Siapa nantinya yang akan meneruskan Padepokan Empu Sungkowo.

*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Explore Desa Wisata Jogja (Hastag #EksplorDeswitaJogja) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Yogyakarta 24 - 26 Februari 2017.
Desa Wisata Malangan, Sleman
Alamat: Malangan, Sumber Agung, Moyudan, Sleman
Telp: 087-839-728-330 (Pak Wiji) / 0821-3722-3912 (Andrian)
Sosmed: @desawisata_malangan (Instagram)
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

24 komentar :

  1. kakek saya mempunyai beberapa keris, tapi hasil diberi dari gurunya, bukan beli atau membuatnya lewat empu. Dulu keris tersebut sering dicuci ketika tiba malam jum'at kliwon pakai bunga 7 rupa,

    ReplyDelete
  2. Harga keris di sana bikin gemeter... Nambah sedikit udah dapat mobil tuh hahaha. Empu Sungkowo baik banget mau jelasin proses pembuatan keris dari awal sampai akhir meski kita nggak sempet lihat prosesnya langsung ya. Tanda disuruh balik ke sana lagi. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kui, apalagi beli keris di sini bisa seperti pre order. Antriannya banyak. Iya e mas, pengen lihat prosesnya

      Delete
  3. Rasanya nanggung blm liat langsung proses pembuatannya ya mas. Aku sendiri baru liat proses pembuatan keris sekali di Padepokan Brojobuwono, itu pun hanya ketemu para panjak, gak sm empu nya langsung. Harus balik nih pankapan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agendakan buat nginep di sana. Itu si Ebret dikomporin geh

      Delete
  4. Kreatif ya desa2 skrg. Itu kalau datang perorangan, tanpa rombongan boleh masuk2 jg nggak lihat prosesnya? Takutnya awkward hehee. Alm buyut suamiku dulu empu kraton Ngayogyakarta tp spesialis tombak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama waktunya membuat diperbolehkan masuk perorangan mbak. Yang jelas sudah tau waktunya kapan membuat. Akan lebih baik lagi menghubungi orang-orang di sana agar tidak salah waktu :-)

      Delete
  5. aku selalu penasaran dengan keahlian pembuat keris, kira-kira ini memang turunan atau belajar sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Turunan itu pasti ada, seperti halnya Mpu Sungkowo. Namun latihan terus-menerus juga menjadi faktor penting untuk menjadi empu

      Delete
  6. Wah ternyata keris itu barang sakral yang bikinnya pake di doain beneran ya mas, baru tau ckckck.

    Btw aku pikir wisata malangan itu di malang, lah kok ternyata di sleman :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap pusaka ada ritual tertentu dalam membuatnya mbak. Dan itu mutlak :-)

      Delete
  7. ga pengen nolak tawaran pak wiji soal menginap lebih lama di Malangan untuk liat proses buat keris. Pengen bikin foto bercerita. menarik kayanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahha, ayoo ndang diagendakan sekalian ke Banjaroya

      Delete
  8. Keris saja ada maharnya ya :D
    Aku penasaran dengan proses pembuatannya, tapi kalau ikut ke desanya suka malas, hahahaha pemalas memang akunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, dijamin bakal takjub jika lihat prosesnya mak :-D

      Delete
  9. Wah asyik banget ketemu dengan empuh nya langsung. Pasti banyak cerita tentang pembuatan kerisnya dan lainnya ya, Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengennya ke sana lagi bang. Ingin lihat prosesnya langsung

      Delete
  10. Dari ceritamu terbayang bagaimana seorang empu menjalani laku prihatin, Mas. Kan tidak sembarang orang bisa menjalani profesi sebagai pembuat keris.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, mereka adalah orang-orang pilihan.

      Delete
  11. mahal ya harga keris ... apalagi jika ada "isinya" .. hehe,
    berarti yang saya lihat keris dijual murah .. berarti bikinnya ga pakai ritual kali ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Percaya tidak percaya nyatanya seperti itu kang. :-)

      Delete
  12. Wah aku fikir pembuatan keris itu udah ngak ada semnjak kerajaan berakhir... ternyta masih ada ya...
    Nice info nih... jadi tahu akunya!..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai sekarang masih ada empu pembuat keris kok :-)

      Delete