Desa Wisata Poncokusumo: Olahan Kripik dan Budidaya Bunga Krisan

Gerbang Desa Wisata Poncokusumo, Malang
Gerbang Desa Wisata Poncokusumo, Malang/ Dok. Iwan Tantomi)

Selepas salat magrib, seluruh rombongan blogger sibuk mengemasi barang dari dalam kamar homestay milik Pak Ansyori di Desa Wisata Gubugklakah. Kami menuju mobil espas menuju Desa Wisata Poncokusumo. Perwakilan dari Desa Wisata Poncokusumo sudah menjemput kami. Mbah Irul dan salah satu warganya yang bertugas menyetir mobil.

Perjalanan singkat sampai Desa Wisata Poncokusumo kami lalui. Kami baru sadar jika kedua desa tersebut hanya berjarak beberapa kilometer saja. Selama perjalanan, kami mendapatkan sedikit gambaran berkaitan dengan desa yang akan kami inapi. Nyatanya Desa Wisata Poncokusumo ini seperti kota, jalan lebar dan sudah ada beberapa toko besar.

Pagi menyingsing, aku keluar dari homestay. Di depan homestay sebuah lapangan sepakbola yang digunakan anak-anak sekolah untuk senam. Aku menyusuri jalanan, cukup lengang. Lantunan ayat-ayat suci alquran terdengar lantang dari corong pengeras suara salah satu sekolah.
Salah satu blok di Poncokusumo, Blok Minggu
Salah satu blok di Poncokusumo, Blok Minggu


“Desa Poncokusumo ini tidak ada RT/RW. Adanya malah blok di tiap jalannya,” Terang Mbah Irul sewaktu berkumpul malam hari di kelurahan.

Aku ingin memastikan pernyataan Mbah Irul tersebut. Kucari jalan/gang terdekat di jalan, lalu kulihat plang nama jalannya. Benar saja, di bawah nama jalan tertera blok yang dimaksud. Blok Minggu, ini blok yang berada di dekat pertigaan arah ke keluarahan. Tulisan blok ini sebenarnya peninggalan Belanda. Kawasan Poncokusumo dulunya dikonsep menggunakan blok untuk membedakan tiap gang.

Tidak ada keramaian kecuali anak-anak berlarian selepas senam SKJ di lapangan. Aku menghadap ke Gunung Semeru, tampak jelas kokoh di sana. Sayangnya, puncak Gunung Semeru tertutup kabut tebal. Aku kembali menuju homestay, menikmati kopi panas buatan empu rumah. Menunggu agenda seharian yang akan mengunjungi beberapa destinasi di Desa Wisata Poncokusumo.

“Sudah kumpul semua? Kita menuju pembuatan Kripik,” Kata Mbah Irul.
Ngobrol santai selama perjalanan
Ngobrol santai selama perjalanan


Rombongan berjumlah 10 orang ini masuk ke dalam espas. Mobil ini yang semalam menjemput kami dan menjadi transportasi yang kami gunakan selama di Poncokusumo. Cukup luas juga di dalam espas, mungkin karena barang bawaan kami tidak ikut dibawa. Selama di dalam espas, kami bercerita banyak hal. Ada keseruan walau baru semalam menginap di Poncokusumo.

Mencicipi Aneka Kripik Olahan Warga Desa Poncokusumo
Kunjungan pertama kami menuju tempat pembuatan Kripik. Kripik ini adalah usaha yang ditekuni Mbah Irul bersama keluarga dan warga setempat. Rombongan blogger langsung menuju belakang rumah. Kami menyusuri jalan kecil di teras samping rumah. Jalanan ini tembus sampai dapur.

Di samping rumah tampak tumpukan Singkong, ada juga Talas. Bahan baku seperti Singkong, Pisang, dan Talas dibeli Mbah Irul dari warga setempat. Tempat pembuatannya pun tidak mewah. Mbah Irul memanfaatkan ruangan dekat dapur untuk mengolah bahan baku hingga menjadi siap jual.
Mbah Irul menceritakan perihal bisnis kripik
Mbah Irul menceritakan perihal bisnis kripik

Sebuah meja kecil terdapat berbagai Kripik yang tersedia. Mulai dari rasa original sampai rasa coklat. Mbah Irul sudah lama merintis usaha kripik tersebut. Sudah ada juga kemasan dan merek kripiknya. Menurut Mbah Irul, merek tersebut terinspirasi dari nama kedua anaknya. Kemasannya pun baru dibuat sekitar 2 tahun lalu.

“Dulu jualnya dalam kemasan plastik kecil mas. Harganya Rp.500/bungkus. Itupun kami titipkan di warung-warung tetangga.”

Warga setempat menjadi ladang bagi Mbah Irul untuk menyuplai bahan baku. Talas dan Singkong dalam satu hari biasanya dibutuhkan sekitar satu kuintal. Tentu akan sangat sulit jika harus menanam Singkong dan Talas sendiri.

Pun dengan Pisang, bahan baku pisang yang dibutukan untuk membuat kripik setiap hari sekitar 5 tandan. Ini artinya butuh banyak pisang jika ingin memproduksi dalam jumlah besar. Tidak semua pisang bisa dijadikan kripik, hanya jenis pisang-pisang tertentu saja.
Seorang ibu mengupas pisang untuk dijadikan kripik
Seorang ibu mengupas pisang untuk dijadikan kripik

Aku dan teman-teman mencicipi kripiknya. Aku lebih suka kripik Talas yang rasanya gurih. Kami baru sadar jika Kripik yang semalam dibagikan pada kami di kelurahan sewaktu kumpul malam adalah hasil produksi dari tempatnya Mbah Irul.

“Sebenarnya pembuatan kripik ini hasil inisiatif sendiri. Kemudian pemerintah mengaspresiasi kami, sehingga mendapatkan bantuan. Hasil olahan warga kami ini juga sering diikutkan pameran PMKM.”

Kami mendapatkan banyak informasi berkaitan dengan olahan kripik. Bagi yang berwisata ke Desa Wisata Poncokusumo, kalian bisa membeli olahan kripik ini sebagai oleh-oleh bagi orang di rumah. Kita tahu Kabupaten Malang terkenal dengan Apel dan Kripik Apelnya, namun di setiap desa wisata pastinya mempunyai oleh-oleh sendiri.

Swafoto di Kebun Bunga Krisan
Seraya menggamit kamera serta sebungkus kripik dari Mbah Irul, aku berjalan menuju mobil. Kami akan mengunjungi budidaya Bunga Krisan. Bunga Krisan ini belum bisa diakses orang umum, karena pemiliknya belum siap. Ke depannya, Desa Wisata Poncokusumo sudah merancang tempat untuk membuat tempat khusus bunga Krisan yang bisa diakses masyarakat umum.

Seperti yang sudah diketahui, keberadan bunga Krisan sebenarnya bisa menggaet pengunjung untuk berkunjung. Hal ini dibuktikan oleh Setiya Aji Flower Farm di Bandungan. Lahan bunga Krisannya tiap pekan ramai dikunjungi wisatawan domestik yang ingin berfoto. Aku sendiri pernah ke sana. Kulihat animo pengunjung cukup besar.

Kebun bunga Krisan di Poncokusumo ini adalah milik Pak Misnan. Beliau sudah bergelut budidaya Bunga Krisan cukup lama. Menurut Pak Misnan, bunga-bunga ini nantinya disetor ke Batu, Malang. Kebun yang beliau miliki berukuran 25x50 meter. Di sana tidak hanya bunga Krisan yang sudah mekar, ada juga bibit yang masih kecil.
Pak Misnan berbincang dengan teman-teman blogger
Pak Misnan berbincang dengan teman-teman blogger

Kami senang dapat berkesempatan mengunjungi kebun bunga Krisan. Di sana kami menyempatkan memotret bunga, tak ketinggalan ber-swafoto. Sebelumnya, kami juga bertanya-tanya berkaitan dengan budidaya bunga Krisan.

Bunga Krisan lebih dominan berwarna putih dan kuning. Pak Misnan menceritakan bagaimana cara menanam bunga ini hingga panen. Mulai dari tanam hingga panen, waktu yang dibutuhkan antara 3-4 bulan. Tiap pagi dan sore wajib disiram, untuk penanamannya sendiri lebih baik dilakukan saat pagi atau sore sampai tengah malam.

Bunga Krisan ini juga rawan dengan hama. Biasanya hama yang membuatnya rusak adalah hama kutu bunga dan kutu merah. Jika diamati dengan seksama, apabila ada seperti hewan kecil yang beterbangan di sekitar bunga, itu adalah hamanya.

Terik panas tak kami hiraukan. Di dalam laham kebun Pak Misnan yang ditutupi terpal transparan, kami tetap semangat berbincang. Sesekali kami memotret bunga yang menurut kami menarik. Keringat mulai mengalir di badan.

“Seperti sedang sauna,” Celetuk salah satu teman bercanda.

Benar juga, di sini cukup panas. Ini karena efek terpal transparan yang menutupi seluruh bagian lahan bunga Krisan. Sering kali aku dan teman-teman secara bergantian keluar masuk ruangan. Di luar udara cukup sejuk walau siang hari.
Bunga Krisan di Desa Wisata Poncokusumo
Bunga Krisan di Desa Wisata Poncokusumo

Pak Misnan dapat meraup penghasilan 25 juta pertiga bulan. Penghasilan tersebut dibagi dengan karyawan dan untuk membeli pupuk. Pupuk yang digunakan tentunya pupuk organik dan kimia.

“Harganya bisa mencapat Rp.1000/tangkai.”

Harga tersebut bisa lebih murah, tergantung warna dan bagus/tidaknya. Oya, untuk memanen Bunga Krisan kita harus mencabut seluruh batangnya. Tidak hanya dengan memotong tangkai bunganya saja.

“Bunga yang paling dominan dibeli itu warna kuning dan putih,” Terang Pak Misnan.

Bunga Krisan memang banyak dibeli karena digunakan untuk mendekorasi tempat pengantin maupun untuk ucapan karangan bunga. Ada yang mau dibuatkan ucapan karangan bunga tulisan selamat menempuh hidup baru?

Seperti di tempat-tempat lainnya, sebelum kami berpamitan dengan Pak Misnan, kami menyebar dan memotret bunga tersebut. Sekali waktu kami juga mengabadikan diri bersama. Berhubung tidak ada yang membawa Tripod, jadi harus ada satu orang yang mengalah untuk mengabadikan.
Swafoto di Kebun Bunga Krisan Poncokusumo
Swafoto di Kebun Bunga Krisan Poncokusumo

Pokdarwis Desa Wisata Poncokusumo sudah merancang untuk membuat lahan desa menjadi salah satu lahan kebun Bunga Krisan. Jika ini terealisasi, tentu akan dengan mudah menarik kunjungan wisatawan yang tidak jauh dari Poncokusumo. Terlebih era sekarang promosi melalui sosial media sangat cepat diterima sebagian besar para wisatawan domestik.

Siang mulai terik, kami masih antusias mengelilingi beberapa tempat lagi di Desa Wisata Poncokusumo. Poncokusumo nyatanya tidak hanya mempunyai hutan Pinus Ledok Ombo saja, masih ada banyak destinasi wisata alternatif yang bisa dikunjungi oleh wisatawan.

*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Explore Desa Wisata Malang (Tagar #EksplorDeswitaMalang) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Malang 14 - 17 April 2017.
Desa Wisata Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Narahubung: 0851-0502-5770 (Pak Khoirul Anam / Mbah Irul).
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

38 komentar :

  1. jadi inget hobi alm.ayah yg suka bikin keripik saat beliau menanti kantor baru, lalu dititipkan ke warung-warung. Mbah Irul beruntung ya usahanya diapresiasi pemerintah.. oya kalau bunga krisan aku dulu taunya saat berkunjung ke Taman Bunga Nusantara Cipanas, bunga cantik yg rentan rontok kelopaknya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alfatihah untuk alm ayahmu mbak.

      Setiap desa wisata biasanya mempunyai cara agar tempatnya bisa dikenali. Pembuatan Kripik seperti ini mengangkat perekonomian warga setempat.

      Delete
  2. Kebun krisannya mungkin bisa dipadukan dengan sauna, ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama loh hahahaha, liat aja itu Aji dan Mas Alid; pas keluar udah macam abis jogging 10km hahahahha

      Delete
  3. di sembalun lombok timur juga lagi dikembangkan nih Bunga Krisan.. permintaan lagi banyak sepertinya ya.. banyak yang nikah, heuheuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahhaha, tertarik untuk buat bisnis bunga krisan mas? :-D

      Delete
  4. wahh boleh juga nih bisa main ke poncokusumo Malang, heee

    ReplyDelete
  5. Dulu jaman kuliah di jakal itu ada kebun bunga krisan kayak gini...uapiiik..tp setaun yang lalu aku nyoba ke sana niatnya mau ngajak anak smbil foto kece eh masa zooonkk..udah kukut :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihh padahal sekarang Krisan jadi banyak yang nyari loh.

      Delete
  6. bunga krisan tuh salah satu bunga favorit saya, jarang saya liat taman bunga krisan. Tripnya seru banget neh mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa foto ala-ala di hamparan bunganya mbak :-)

      Delete
  7. Pengen kripiknya, hahaha.. Cemilan saat ngeblog. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhaha
      Aku suka kripik yang rasanya gurih :-D

      Delete
  8. Kalau ke Malang sekalian keliling bisa lah kesini ya, Mas..hehe
    Gimana nih kabarnya, Mas? Sepertinya gak pernah maen lagi ke blogku..
    Sibuk ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di Malang memang disarankan keliling mas jika waktunya cukup. Bakalan seru

      Delete
  9. bunag krosannya kece habis, aku suja dengan bunga krisan karena banyak manfaatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunga krisan memang bagus mbak, apalagi buat foto-foto.

      Delete
  10. Cantiknyaa, teh bunga krisan juga banyak manfaatnya..keren ni desa wisatanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manfaat banget buat yang mau nikahan hahahhahah

      Delete
  11. Kudu pagi2 mas biar ndak panas di dalam kebun krisannya.

    Tp lumayan lah, itung2 olahraga tanpa tenaga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buahahhaha, agendanya pas siang mas :-D

      Delete
  12. harganyaaaaaa... eh tapi sesuai sih sama perawatannya bunga krisan, bunganya juga cantik :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang menjajikan sih kalau bisa budidaya dengan baik :-D

      Delete
  13. Konsep wisata seperti inilah yang seharusnya diperbanyak dan disebarkan oleh blogger. Mengangkat warga menengah ke bawah menjadi konsumsi warga menengah ke atas. Saling menguntungkan. Yang punya uang membelanjakannya ke orang yang berusaha. Sama halnya tetap belanja di pasar tradisional daripada ke minimarket besar hehehe ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Desa wisata benar-benar menyenangkan bang. Kita bisa berinteraksi dengan masyarakat, dan geliat ekonomi warga setempat juga berjalan.

      Delete
  14. Lama bgt gak ke sini, terakhir setaun lalu
    Poncokusumo hawanya enak bgt buat nanem buah, sayur Dan bunga
    Foto bareng diantara bunga2nya bagus, aku suka 😃

    ReplyDelete
  15. pengen keripiknya, bagi dong cuma ngilerin doang. Flower Boy kalian ya hehehe

    ReplyDelete
  16. Wah serunya bisa langsung melihat pembuatan keripil pisang. Mas boleh lah lempar beberapa tangkai bunga nya ke lampung buat pacar orang.. hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan buat pacar orang bang, buat pacar sendiri aja hahahhhaa

      Delete
  17. Malang jauh juga dari rumahku, tapi suka pengin wisata ke kebun krisan kayak gini -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaa, jauh itu bukan jarak. Kalau pas main ke Malang bisa mampir sekalian :-)

      Delete
  18. Samaaaa kita :D. Aku jg lbh seneng keripik talas drpd singkong mas.. Lbh enak ya memang :) .. Kalo aku ke desa ini, bakalan aku borong itu keripik2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehhe itu camilan yang nggak bisa dibuat berhenti sampai abis :-D

      Delete
  19. indah banget bunga krisan ... kalau kampung ini di dominasi bunga krisan yang berjejer banyak .. serasa di Belanda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya di kampung malah banyakan Bunga Matahari :-)

      Delete