Mengunjungi Perkebunan Apel dan Jeruk di Desa Wisata Poncokusumo

Apel jenis Royal Red di perkebunan Pak Teguh
Apel jenis Royal Red di perkebunan Pak Teguh

Mobil yang kami naiki menyusuri jalan kecil tak beraspal. Kami seperti berada di tengah-tengah perkebunan. Tiap sisi menjulang pagar tinggi dari batang-batang kayu kecil. Rimbun, tertutup dedaunan pohon liar. Kebun Apel atau Kebun Jeruk? Entahlah, yang pasti dibalik pagar tersebut adalah perkebunan.

Aku masih penasaran dengan kebun yang berada dibalik pagar menjulang tinggi tersebut. Mbah Irul mengatakan jika kami akan diantar menuju dua perkebunan buah tersebut. Espas berhenti di tengah jalan, hanya menepi sedikit. Mbah Irul sudah mendahului kami menyambut di gerbang pepohonan hidup.

“Kita ke perkebunan Apel dulu. Silakan petik dan makan sepuasnya. Kalau mau bawa pulang juga dipersilakan.”

Rombongan mengikuti langkah Mbah Irul menyeruak ke tengah-tengah kebun Apel. Di sini pemiliknya sedang sibuk memberi makan seekor sapi jantan besar, kandangnya berada di tengah-tengah perkebunan. Mbah Irul sedikit menceritakan perihal kebun apel ini.
Mengunjungi kebun apel di desa Poncokusumo, Malang
Mengunjungi kebun apel di desa Poncokusumo, Malang

Pak Teguh, pemilik lahan setengah hektare menyambut kami. Beliau mengatakan kalau dibuka sejak tahun 1995. Ini merupakan lahan milik keluarga, sehingga beliau yang merawatnya. Berbagai jenis apel tersebar di sini. Aku dan rombongan antusias mendengarkan jenis-jenis apel.

“Kalau tadi mas lihat di ujung ada apel yang warnanya merah, namanya itu Royal Red.”

Aku menganggukkan kepala. Memang tadi sewaktu masuk kulihat ada apel yang menarik perhatianku. Apel tersebut kulitnya berwarna merah. Tidak seperti apel lainnya yang dominan berwarna hijau.

Selain jenis Apel Royal Red, di perkebunan Pak Teguh paling banyak jenis Apel Rumbiuti dan Manalagi. Rumbiuti jenis apel hijau yang bergaris merah, pun hampir mirip dengan Apel Manalagi. Ada juga yang bentuknya agak lonjong.

Aku memetik salah satu buah yang sudah besar. Buah Apel Manalagi rasanya lebih manis, dan sedikit asam. Jika kita makan buah lokal, cukup mencuci buahnya dan langsung dimakan dengan kulitnya. Sedangkan buah apel impor kita harus mengupasnya terlebih dulu. Pak Teguh sengaja membuat kandang sapi di tengah-tengah perkebunan apel agar kotoran sapi bisa diberdayakan sebagai pupuk organik.
Apel jenis Manalagi dan Rumbiuti tumbuh subur
Apel jenis Manalagi dan Rumbiuti tumbuh subur

Di Malang, perkebunan Apel sendiri menjadi tempat agrowisata yang paling digandrungi pada wisatawan dari luar daerah. Di berbagai tempat, banyak kegiatan petik apel dan makan sepuasnya di tempat yang ditawarkan, jika kita ingin membawa pulang, kita bisa membeli di tempat yang sama.

Kupetik beberapa apel yang sudah ranum, memasukkannya ke dalam tas kecil. Pak Teguh dan Mbah Irul tertawa melihat kelakuanku.

“Buat stok selama perjalanan pak,” Ujarku tertawa.

Kami meninggalkan perkebunan apel milik Pak Teguh menuju mobil. Kali ini perjalanan berlanjut menuju perkebunan lainnya. Perkebunan Jeruk menanti kami, masih daerah Desa Wisata Poncokusumo.

Memetik Jeruk di perkebunan warga
Aku tidak pernah mengira jika di Desa Wisata Poncokusumo ada perkebunan Jeruk. Selama ini yang aku tahu adalah perkebunan Apel. Aku antusias kala ada agenda mengunjungi kebun jeruk tersebut. Sepulang dari kebun Apel Pak Teguh, mobil mengikuti jalan kampung, dan masuk ke pekarangan rumah warga.

Siang terik membuat kami merasa kepanasan. Kami dengan cepat keluar dari espas dan menuju teras rumah yang sepi. Di sini kulihat pohon Jeruk berjejer rapi, dan beberapa perempuan bekerja merawat pohon Jeruk.

Kami dipertemukan dengan Pak Kusnanto, pria berumur 48 tahun ini menyambut kami dengan sumringah. Diajaknya kami berteduh di salah satu pohon jeruk yang rindang. Di sini beliau mengajak berbincang santai sambal melihat aktivitas para pekerja.
Memasuki perkebunan jeruk di desa Poncokusumo
Memasuki perkebunan jeruk di desa Poncokusumo

Lahan seluas dua hektare ini awalnya merupakan perkebunan Apel. Namun karena biaya yang digunakan merawat Apel lebih mahal, Pak Kusnanto mengubah menjadi perkebunan jeruk. Seperti peralihan, dari Apel – Jeruk, dan nantinya akan dikembalikan menanam apel. Kebun Jeruk ini sejak tahun 2011, jenis jeruknya adalah Geprok Siam, atau lebih dikenal dengan sebutan Jeruk Siam.

“Awalnya jenis Jeruk Batu 55, terus kami ganti dengan Gemprok Siam,” Terang Pak Kusnanto.

Pembibitan dengan cara Okulasi. Jeruk ini masa tanamnya 2.5 tahun. satu pohon jika berbuah bisa mencapai 30kg. Rata-rata hasil panen dikirim ke luar kota, sebagian lagi dibeli minimarket untuk stok mereka. Harganya pun beragam antara Rp.10.000 – 16.000.

Perempuan-perempuan sibuk memegang semacam rol untuk mengecat dinding. Tiap dahan dilabur warna putih. Ini adalah kapur gamping yang sudah dihaluskan. Tiap dahan dan ranting dibalur dengan kapur gamping. Kapur gamping ini dibalurkan dengan tujuan untuk mengantisipasi jamur pada pohon Jeruk. Selain jamur, hama lain yang sering menyerang pohon Jeruk adalah Lumut, Kutu, dan Lalat.
Perempuan-perempuan bertugas melaburi kapur gamping pada dahan dan ranting pohon jeruk
Perempuan-perempuan bertugas melaburi kapur gamping pada dahan dan ranting pohon jeruk

Karyawan di perkebunan Jeruk ini mencapai 17 orang. Mereka bertugas merawat kebun seluas dua hektare. Setiap pohon diberi pupuk organik dan dicampur dengan pupuk kimia. Satu pohon jeruk bisa sampai 20 tahun masa produktifnya. Tak kulihat banyak duri pada batang jeruk. Sempat kutanyakan perihal tersebut, ternyata memang duri jeruk sengaja dipotongi agar mempermudah dalam merawat pohon.

Sayangnya kebun jeruk ini tidak bisa kita petik layaknya perkebunan apel. Hal ini dikarenakan perkebunan ini milik perseorangan. Tiap wisatawan diperbolehkan berkunjung dan berwisata edukasi, namun bukan memetik buahnya. Nantinya Desa Wisata Poncokusumo akan memberdayakan tanah desa dengan tanaman serupa.
Petik dan langsung dikupas
Petik dan langsung dikupas

Beruntung rombongan kami diperbolehkan memetik. Kami mengambil beberapa buah dan mengupasnya di dalam kebun. Sembari menikmati jeruk yang manis, kami berbincang dengan ibu-ibu yang merawat pohon.

Menarik memang masa peralihan perkebunan di Malang. Ketika pohon Apel sudah tua dan tidak lagi produktif, warga mengubah dengan perkebunan jeruk. Dan nantinya akan diubah lagi menjadi perkebunan Apel. Semoga jeruk-jeruk lokal dapat bersaing dengan jeruk impor yang makin mudah ditemui. Kita percaya bahwa jeruk lokal tak kalah bagus kualitas dan rasanya jika dibandingkan jeruk impor.

*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Explore Desa Wisata Malang (Tagar #EksplorDeswitaMalang) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Malang 14 - 17 April 2017.
Desa Wisata Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Narahubung: 0851-0502-5770 (Pak Khoirul Anam/Mbah Irul)
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

18 komentar :

  1. serunya metik apel langsing dikebunnya, mauuuu

    ReplyDelete
  2. Kayaknya kalau dataran tinggi Malang tidak usah kita ragukan lagi ya Mas keindahan dan potensi agribisnisnya. Semoga bisa makin berkembang dan jadi tuan rumah di negeri sendiri, makin laris dan diminati. Ada beberapa cerita bahwa apel dan jeruk lokal Batu dan Malang malah kalah dari barang impor, tapi memang harus dibuktikan lagi sih kebenarannya... ah ini topik yang menarik untuk dikaji.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak hanya buah mas, seperti bawang emrah, gula, garam dan lainnya juga ada waktunya punya kasus yang sama. Memang menarik ditelisiki bagi orang-orang paham dibidangnya.

      Delete
  3. Saya pernah berkunjung ke pedalaman Batu cari bunga, trus ngobrol sama orang2 sana (yg ngobrol orangtua sih, saya dengerin aja hehhe). Kalau sekarang tuh perkebunan apel di sini terancam punah.....eh, lebih ke arah mulai agak ga laku gitu. Produksinya menurun terus tiap tahunnya. Hasil produksi gak bisa nutupin biaya awal. Hmmm.....tapi lupa sih penyebab utamanya apa.

    Padahal Malang, ikonnya udah Kota Apel. Ya begitu deh, semoga saja selalu lestari :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, di beberapa tempat kebun apel sudah cukup tua, dan biaya perawatan tinggi. Makanya jeruk dijadukan masa peralihan, ketika nanti sudah tua diganti kembali dengan apel

      Delete
  4. Makan apel dan jeruk lansung di petik dari pohonya, pasti nikmat iya mas.

    Malang emang top lah, pass di bilang sebagai kota apel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain makan, kita di sini juga mendapatkan banyak informasi :-)

      Delete
  5. agrowisata juga jadi salah satu yang harus kami kunjungi kalau jalan2 ...
    sayangnya cuma ke kebun apel saja waktu itu..

    kemarin ke Jogja dan Solo juga jalan ke kebun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agriwisata selalu punya pengunjung mbak, :-)

      Delete
  6. wah pasti asik neh bisa metik buah sendiri. saya belum pernah metik buah apel. pingin deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain seru memetik sendiri, kita juga belajar tentang apel :-)

      Delete
  7. aku suka banget apel malang, asem asem manis seger gitu
    sering makan tapi belum pernah petik langsung dari pohon nya
    next time wajib coba nih

    ReplyDelete
  8. Melihat apelnya rasanya ingin saya bawa pulang buat dibikin apple pie :)

    ReplyDelete
  9. Kulit jeruknya tuwebel ya mas, nggak sepo tho?

    ReplyDelete