Pancaragam Potret Gelaran Le Tour De Jogja 2018 - Nasirullah Sitam

Pancaragam Potret Gelaran Le Tour De Jogja 2018

Share This
Ekspresi perserta saat berhasil finish 110KM
Ekspresi peserta saat berhasil finish 110KM

Gelaran Le Tour De Jogja 2018 menyisakan euforia tak berujung. Dimulai dari WAG yang makin ramai, sampai postingan para peserta, panitia, maupun penonton di tiap media sosial. Ada semacam rasa bangga, namun tetap tak boleh jumawa. 

Aku tak banyak mengabadikan gambar, memotret candid para peserta yang beraksi, ataupun mengabadikan para panitia yang pikirannya terpusat pada acara. Tim fotografer sudah melakukan tugas dengan baik, merekam segala momen yang mungkin tak terlihat oleh kami yang berjaga di lokasi. 

Berawal dari hari jumat, panitia (termasuk aku) sudah bergelut dengan berbagai keperluan. Satu persatu mendata kekurangan, menambalnya, dan melanjutkan pekerjaan. Terang saja, tak hanya tenaga dan pikiran yang terkuras. Bahkan waktu bergulirpun kami tak sadar. Tersisa hanya lelah yang luar biasa. 

Berada di bagian pembagian race pack, aku dan tim tak sempat berbincang lama dengan peserta. Hanya sekadar menyapa kala mengambil race pack. Beruntung masih bisa mengabadikan diri dengan beberapa peserta Le Tour De Jogja 2018. 
Foto bersama peserta dari Jepang/ Sumber Facebook Akemi  Takeuchi
Foto bersama peserta dari Jepang/ Sumber Facebook Akemi  Takeuchi


***** 

Waktunya telah tiba. Minggu pagi JEC dipenuhi pesepeda dari berbagai penjuru Indonesia. Dari ujung Lhokseumawe sampai Papua Barat, semua berbaur menjadi satu. Menyapa kerabat, teman yang dikenal hanya lewat media sosial, bahkan bertemu dengan teman-teman baru. 

Merah menyala kala pagi. Ada 610 peserta yang tumpah ruah menjadi satu, belum lagi ditambah penonton yang memadati garis awal sepeda. Di depan, berjejer pesepeda berjersei hijau; atau apa warna jerseinya. Mereka adalah Road Captain

Terselip beberapa teman di dalamnya, mereka menjadi pesepeda yang mengiringi para peserta. Satu lagi, sosok pesepeda sekaligus pemuda yang dikenal melalui olahraga balap motor. Muhammad Fadli, seorang pesepeda difabel yang ingin membuktikan bahwa para difabel tidak boleh berputus asa. 
Bersiap di garis terdepan
Bersiap di garis terdepan

Le Tour De Jogja ini menjadi tahun kedua. Tahun lalu, saat pertama kali diadakan; berlokasi di GSP UGM dan diikuti sekitar 500 peserta. Tahun ini 610 peserta dari penjuru Indonesia dan manca. Menarik memang ketika ada dua pesepeda dari Jepang yang rela main ke Indonesia untuk ikut menjelajah rute penuh perbukitan. 

Dua peserta dari Jepang ditambah satu peserta eropa menjadi magnet para pesepeda. Setidaknya, mereka sering diajak foto bersama. Asiknya lagi, mereka semua sangat ramah. Konon rute 110 kilometer ini didominasi tanjakan dan pemandangan indah. 
Peserta manca ikut meramaiakan acara Le Tour De Jogja
Peserta manca ikut meramaiakan acara Le Tour De Jogja
Peserta manca ikut meramaiakan acara Le Tour De Jogja 

Bagi yang penasaran rutenya, berikut sedikit gambaran rute yang dilalui; JEC - Gedongkuning - Rejowinangun - Ketandan - Giwangan - Jejeran - Lapangan Sultan Agung - Tembi - Gabusan - Bakulan - Jetis - Imogiri - Selopamioro - Kopi Panggang - Terminal Panggang - Saptosari - Paliyan - Kelurahan Grogol - Playen - Gading - Tahura Wanagama - Sambipitu - Kampung Emas Plumbungan - Nglanggeran - Nawung - Candi Sojiwan - Kalasan - Berbah - AAU - Maguwo - Blok O – JEC. 

Lebih dari 70 persen tanjakan, bahkan mungkin di beberapa titik merupakan tanjakan menjulang tinggi. Dari keseluruhan tanjakan tersebut, aku baru merasakan yang menuju Panggang. Itupun berhenti beberapa kali saat menuju Pantai Ngunggah. Sebuah candaan muncul di WAG saat usai bersepeda. 

“Tanjakan sebenarnya jalan datar yang dimiringkan.” 

Sontak tulisan tersebut mendapatkan banyak respon dengan ikon-ikon tertawa. Ya, menurut para peserta, mereka tidak menyangka dengan rute seperti ini. Sebuah kejutan yang berhasil segenap panitia berikan. Selain itu, secara tidak langsung, panitia juga mempromosikan destinasi-destinasi wisata di Jogja. 

Peserta sepeda mulai menikmati rute yang disajikan. Tim Marshal sibuk mengurusi jalan, tim Fotografer siap siaga memotret dan merekam momen; aku dan teman-teman di lokasi acara menyiapkan lainnya. Sesekali mengecek tiap peserta melalui aplikasi Lacakin. 
Memantau peserta dengan aplikasi Lacakin
Memantau peserta dengan aplikasi Lacakin

Menjelang siang, satu demi satu peserta berdatangan. Jarak tempuh 110 kilometer diselesaikan dengan waktu empat jam. Bisa jadi kalau aku yang menempuh bisa sampai sore. Aku bergegas menuju gapura akhir, mengabadikan semampunya. 

Makin siang, makin banyak kelompok-kelompok kecil berdatangan. Aku menekan tombol shutter sebanyak-banyaknya. Tak peduli apakah nanti foto-foto ini berguna atau tidak. Setidaknya yang terlihat di ujung garis akhir hanya aku. Sementara para fotografer belum sepenuhnya sampai lokasi. 

Raut wajah ceria menutupi rasa capek kala mengayuh pedal sepeda. Mereka menikmati waktu menuju garis pembatas. Teriakan panjang, senyum sumringah, membentangkan tangan, atau malah berusaha sedikit atraksi dengan mengangkat ban depan sepeda saat melaju. Rasa capek lebur. Hilang sudah! 
Peserta melewati garis akhir
Peserta melewati garis akhir
Peserta melewati garis akhir

Aku mencari wajah-wajah sumringah tersebut. Meminta izin untuk mengabadikannya. Ketika mereka bersuka ria sudah sampai tujuan dengan semangat, teman-teman tim bertugas mengalungkan medali bertuliskan 110KM. Salah satu pesepeda mengekspresikan kepuasnnya dengan menggigit lempengan besi tersebut. 

Pandanganku terarah pada anak kecil yang menuntun sepeda. Dia menuju meja pendaftaran dan menyodorkan nomor punggung. Diambilnya sertifikat, dan dia tersenyum bangga. Aku bergegas mendekatinya dan menyapa anak tersebut yang didampingi bapaknya. 

“Namanya Syahrizal, kelas dua SMP,” Jawab ayahnya bangga. 

Aku terkesiap melihat anak SMP yang berasal dari Cilacap ini. Dia berhasil melibas tanjakan Siluk dan Sambipitu; tanjakan yang membuat lutut pesepeda macam aku bergetar. Kembali aku meminta izin mengabadikan dengan latar Le Tour De Jogja. 
Peserta termuda digelaran Le Tour De Jogja 2018
Peserta termuda digelaran Le Tour De Jogja 2018

“Medalinya digigit dek, biar keren,” Pintaku. 

Agaknya dia masih malu-malu. Lambat laun terlihat sudah biasa. Aku percaya, jika dia benar-benar dibimbing dengan baik; tentu saja lima tahun ke depan muncul atlit sepeda nasional dari Cilacap bernama Syahrizal. Semoga saja ini terwujud. 

Kerumunan pesepeda makin banyak, waktu berangsur cepat menjadi sore. Seluruh peserta sepeda sudah datang, bahkan ada yang sudah kembali menuju hotel. Ada 610 peserta yang didominasi luar Jogja. Sebuah antusias tinggi yang tak terduga olehku, pun dengan panitia lain. Kami (seluruh panitia dan marshal) berkumpul; berucap syukur sembari berharap tahun depan tetap ada Le Tour De Jogja. 

“Tahun depan tugasmu masih seperti tahun ini. Kamu bertugas di pendaftaran,” Celetuk salah satu panitia inti padaku. 

Aihh, rasanya baru saya ingin melepas lelah setelah bergadang beberapa malam; tapi dipikiranku sudah membayangkan tahun depan dengan suasana yang sama. Aku tersenyum sendiri. Tentu tahun depan aku berusaha lebih siap lagi jika masih dilibatkan. Terima kasih untuk seluruh peserta, panitia, dan sponsor atas terselenggaranya Le Tour De Jogja 2018. 

*Catatan; foto-foto di atas adalah milik saya pribadi, kecuali yang foto bersama dengan peserta dari Jepang. Nantinya foto-foto ini juga akan tersebar di FP Le Tour De Jogja dengan watermark LTDJ.

17 komentar:

  1. Cilacap lumayan ramai penyuka sepedanya kok Mas, cuman karena harga sepedanya yang mahal jadi aku cuman jadi penonton aja..hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cilacap didominasi orang-orang dari Pertamina ahhahah. Satu bus mereka ke sini dan dibayari perusahaan

      Hapus
  2. Sayangnya aku ndak punya roadbike mas, adanya cuma MTB heheee..

    BalasHapus
  3. heuheuheu ngehits banget gaya foto medali digigit...

    BalasHapus
  4. Iya mas, tanjakannya bikin asyik dan nuntun rame-rame hahahahah. Pas acara ini juga ada lomba KOM & Sprint kok

    BalasHapus
  5. Wadidaaawww treknya sampe Nglanggeran. Aku jelas wes gak kuat mas :))
    Kalah sama anak kelas dua SMP.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka kuat akrena sudah terbiasa sepedaan dengan kontur perbukitan. Kalau baru pesepeda kayak saya pun mesti tidak kuat

      Hapus
  6. Nggak paham persis sama rutenya sih, tapi pas baca ada Nglanggeran...wow, itu kan jalannya bener-bener nanjak. Salut sama dek Syahrizal. Apalah dayaku ini yang cuma kuat naik sepeda di jalanan datar saja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan datar malah bikin bosan loh kalau sepedaan ahahhahah

      Hapus
  7. Salam semangat pagi mas Sitam :-)

    Akhirnya tulisan mas Sitam muncul juga, jadi bisa meperkaya isi blogku :-)
    Terima kasih tulisannya dan tugas mas Sitam dalam kepanitiaan. Jhoz pokmen !!! :-)

    Salam gowes !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun pak Eko.
      Cepat sembuh pak, tadi saya baca blog bapak waktu terjatuh dari sepeda.

      Hapus
  8. seru ya mengabadikan lomba balap sepeda seperti ini, saya belum pernah ... jadi pengen coba juga ... kalau ada foto2 pesepeda yang lagi beraksi pasti tambah seru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun depan ada lagi kang di Jogja. Main-main ya hahahahha

      Hapus
  9. Balasan
    1. Agenda rutin setahun sekali, kemungkinan besar tahun depan bulan april

      Hapus

Pages