Semburat Senja di Embung Nglanggeran, Gunungkidul - Nasirullah Sitam

Semburat Senja di Embung Nglanggeran, Gunungkidul

Share This
Semburat Senja di Embung Nglanggeran, Gunungkidul
Semburat Senja di Embung Nglanggeran, Gunungkidul

“Penjemput dari Desa Wisata Nglanggeran sudah datang,” Kata pak Saifuddin pada kami.

Aku mendongakkan kepala, kulihat di lahan depan jejeran kios arah ke Air Terjun Sri Gethuk. Ada dua mobil yang terparkir, ini artinya kami harus segera berkemas menuju destinasi selanjutnya di Desa Wisata Nglanggeran. Padahal di depan kamu masih ada suguhan yang belum selesai dimakan. Belalang Goreng, Minuman Kelapa Bakar, dan Keripik Singkong. Kamipun membungkus Belalang Goreng dan Keripik Singkongnya.

Pak Saifuddin selaku Seksi Pemaket Wisata kawasan Sri Gethuk dan Goa Rancang Kencono di Desa Wisata Bleberan menyalami seluruh rombongan. Terasa sebentar di sini, tapi ada banyak informasi dan rasa keakraban yang kami rasakan. Apalagi kami sudah diajak mengunjungi goa dan bermain air. Kami harus melanjutkan perjalanan sesuai susunan agenda yang sudah disepakati.
Gorengan, Belalang Goreng, Keripik Singkong di Desa Wisata Bleberan (dok: cewealpukat.com)
Gorengan, Belalang Goreng, Keripik Singkong di Desa Wisata Bleberan (dok: cewealpukat.com)

Rombongan travel blogger berjumlah 9 orang (termasuk aku) menaikkan barang ke dalam mobil. Kami secara acak memilih tempat duduk dan membagi sendiri mobil mana yang ingin dinaiki. Aku kenalkan pada pembaca sosok-sosok blogger yang ikut acara ini; Alid (Jombang), Rifqy (Malang), Aya (Surabaya), Halim (Solo), Aji (Boyolali), Riska (Bogor), Dwi (Bantul) dan tentunya Hanif (Jogja).

Perjalanan dilanjutkan menuju Nglanggeran. Untuk mengusir rasa bosan, kami di dalam mobil bersenda gurau. Pemandu dari Nglanggeran turut menimpali candaan kami. Tidak butuh waktu lama, kami cepat akrab dengan pemandu.

Kata “Maklegender” menjadi topik sepanjang perjalanan. Kata tersebut diucapkan Aji ketika menikmati Kelapa bakar. Menurutnya kata maklegender itu artinya sensasi yang dirasakan ketika makanan memasuki tenggorokan.

“Tadi di Nglanggeran hujan, jadi kita langsung ke homestay ya,” Kata Mas Aris Budiyono selaku pemandu yang menjemput.

“Nanti malam kita berbincang santai di pendopo untuk membahas agenda besok pagi,” Tambahnya.

Kami menyetujui saran beliau. Jalur mobil dilewatkan dari arah jalan Kampung Emas Plumbungan. Jalur ini tak asing bagiku, beberapa kali sempat kulewati. Dari sini juga nantinya kita bisa menuju Air Terjun Kedung Kandang. Semacam mengingatkan pada beberapa tahun silam kala aku harus turun dari atas motor ketika melibas tanjakan.

“Sunsetnya indah. Bulat benar! Bagaimana kalau kita ke Embung dulu?” Pekik Mas Aris.

Sontak kami menatap ke arah barat, mentari sore ini cerah. Benar-benar bulat, di bawahnya gumpalan mega senja nan tebal. Sejurus rencana berganti, mobil diarahkan naik ke parkiran Embung Nglanggeran. Kami di dalam mobil girang, berharap masih dapat mengabadikan sunset.

Laju mobil tak bisa lebih kencang, akses jalan bebatuan diselingi cor semen membuat ekstra hati-hati. Lebih baik memperlambat laju kendaraan daripada memaksakan tarik gas kencang tapi jalan berlubang. Mobil berhenti di parkiran, aku berlari menapaki anak tangga, berharap Sang Baskara masih menampakkan wujudnya.

“Semoga belum terlambat,” Tuturku sendiri.
Sunset Embung Nglanggeran tertutup awan
Sunset Embung Nglanggeran tertutup awan

Kali ini aku harus puas melihat pemandangan senja. Gumpalan awan lebih suka menutupi mentari, sehingga yang tersisa adalah semburat cahayanya menebar di segala penjuru. Aku tahu, senja itu tak berlangsung lama. Terlebih di bawahnya sudah banyak gumpalan awan yang merata. Aku dan rombongan tidak merasa kecewa, toh di sini kami masih bisa menikmati suasana petang dari atas ketinggian.

Senja berlalu lebih cepat dari yang kuperkirakan. Akupun berusaha mengabadikan sisa-sisa senja. Menjadi pemandangan yang indah kala temaram senja di atas ketinggian. Berbagai sudut strategis memotret sudah dipenuhi orang-orang menenteng kamera. Mereka duduk santai, di depannya ada lebih dari dua Tripod tertancap.

Pasti orang-orang itu berhasil mengabadikan sunset indah Nglanggeran. Mereka sudah sedari sore tadi di sini. Kukelilingi Embung Nglanggeran, embung yang bebepa tahun silam sempat kusambangi naik sepeda. Bangunan Gazebo di tepian embung sudah penuh, kualihkan pemandanganku menuju bagian atas. Di sana juga tak jauh berbeda, ada tiga remaja yang asyik berswafoto.
Mengabadikan sunset di embung Nglanggeran
Mengabadikan sunset di embung Nglanggeran

Pantulan cahaya senja tergambar di air embung, tapi tak sempurna. Jika saja hembusan angin tidak kencang, mungkin aku bisa melakukan foto refleksi air dengan baik. Untuk mendapatkan hasil foto refleksi di air bagus, tentunya dipengaruhi berbagai faktor. Seperti cuaca, dan angin yang berhembus. Tidak masalah, toh aku tetap bisa mengabadikan seadanya. Dari sini terlihat rombonganku sedang asyik menikmati suasana senja. Selain itu diharuskan kita sudah tahu bagaimana teknik memotretnya.

“Sini aku bawakan kameranya. Hati-hati turunnya mbak,” Ujarku pada salah satu remaja yang kesulitan menuruni anak tangga kayu di atas Embung Nglanggeran.

Dua teman lainnya hanya tertawa melihat remaja ini kesulitan turun. Aku membantunya menuruni tangga agar nantinya aku bisa naik ke tempat tersebut dan memotret embung dari atas. Gardu Pandang kecil ini tingginya tidak sekitar 2,1 meter. Tertulis papan petunjuk jika maksimal di atas hanya 3 orang saja.

Bermodalkan lensa bawaan kamera (lensa kit), aku memotret Embung Nglanggeran dari dataran agak tinggi. Inilah gunanya Gardu Pandang yang berada di datran agak tinggi. Dari sini aku bisa memotret lansekap embung. Sayangnya lensa belum sepenuhnya mumpuni, sehingga embung tak terlihat utuh.
Pemandangan Embung Nglanggeran kala senja
Pemandangan Embung Nglanggeran kala senja

Indah pemandangan dari atas gardu pandang ini, air embung berpadu dengan warna barisan bukit yang sudah mulai gelap. Di ufuk barat sana, cahaya sang surya masih terpancarkan. Jika tidak mendung, tentu pemandangannya jauh lebih indah.

Lantunan adzan magrib berkumandang. Rona langit makin menampakkan keindahannya. Kilau jingga terbentang di angkasa, menerobos di antara mega yang tebal. Tak ayal, awan yang berwarna gelap diselingi warna jingga mempesona. Tak henti-hentinya aku mengabadikan momen tersebut.

Jika sedari awal yang terpancar sinar jingga keemasan. Menjelang akhir merangkak petang, sinarnya lebih menghanyutkan. Bolehkah kita sejenak menikmati panorama indah seperti ini. Karena di perkotaan kita belum tentu bisa menemukannya.
Semburat cahaya senja semakin mempesona menjelang petang
Semburat cahaya senja semakin mempesona menjelang petang

Kami berlomba-lomba mengabadikan setiap momen, sementara dua pemandu Desa Wisata Nglanggeran masih sabar menanti isyarat dari kami. Beliau terlihat berkoordinasi dengan anggota Pokdarwis lainnya karena kedatangan kami bersembilan. Di sampingku, Riska tampak asyik mengabadikan senja.

“Dapat hasil bagus?” Tanyaku.

“Lumayan sih. Daripada tidak dapat foto sama sekali.” Jawab Riska.

Senja memang menggoda, di manapun keberadannya. Ada setangkup kenangan indah kala menatap senja. Seperti sebuah beban yang hilang, tapi kenangan ingin menyeruak dari dalam raga.
Riska masih tetap mengabadikan senja di Embung Nglanggeran
Riska masih tetap mengabadikan senja di Embung Nglanggeran

“Mari kita pulang. Nanti langsung kami turunkan di homestay masing-masing. Pukul 19.30 WIB kita kumpul di pendopo membahas rencana besok pagi melihat sunrise dan berkunjung ke Kampung Pitu,” Ajak Mas Aris.

Kampung Pitu? Aih, ini adalah salah satu destinasi di Nglanggeran yang ingin kusambangi. Semacam berjodoh dengan kampung tersebut. Esok pagi aku dan rombongan akan berkunjung ke Kampung yang sangat menarik untuk dikunjungi dan ditelisik sejarahnya. Rasanya ingin cepat berlalu hari ini, menyongsong esok pagi menuju Kampung Pitu, Nglanggeran.
*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Explore Desa Wisata Jogja (Hastag #EksplorDeswitaJogja) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Yogyakarta 24 - 26 Februari 2017.

Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran
Sekretariat: Kalisong, Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul
Sosial Media: Gunung Api Purba Nglanggeran (FB) & @gunungapipurba (Twitter&IG)
Nomor Telepon: 081804138610 (Aris Budiyono)

64 komentar:

  1. Udah lama pengen kesitu, tapi belum kesampaian.hehe
    Jam segitu terlihat lebih indah ya mas pemandangannya :)

    Oh, iya, itu rasa belalang gorengnya gimana ya mas... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih indah lagi kalau cerah mas.

      Belalang? Hemmm kamu harus mencobanya mas.

      Hapus
  2. aku rung tau mrene tapi wes kadung mulih :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balik lagi Lan, kan sudah tahu jalannya ke sini.

      Hapus
  3. Dan tentunya Hannif. wkwkw. ini semacam kaya sajen yang wajib disertakan.

    Gegara Maklegender ya.. Aji Sukmana ini memang maklegender

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesepuh harus disebut. Kalau nggak disebut nanti kualat saya hahahahhaha

      Hapus
  4. Hesteknya eksplor (gak pake "e") mas. *rewel* *biarin* wakakakak salam, mak legenderrrr πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ishhh emang pinter kalau suruh revisi kalimat. Jangan-jangan selain ngeblog kamu juga punya jasa revisi artikel *eh

      Hapus
  5. Kalau ga ikut sama kalian, mana mungkin dibolehin ibuk nyunset sampai embung nglanggeran? Pulang² wes dikunciin pintunya mungkin. Hihihi

    Sunset e pancen syahdu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, kami aja kaget kalau kamu bisa ikut mbak.
      Nggak sabar baca tulisan galaumu kalau lihat senja hahahahha

      Hapus
  6. Balasan
    1. Inget dulu pas kita ke Sri Getuk dab. Insiden nyerempet anjing hahaahha

      Hapus
  7. Hahaha masih kebayang muka kucel, baju kecokelatan, dari basah sampai kering, akhirnya diakhiri dengan pemandangan sunset cantik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena aku tahu kalau kamu kucel, makanya kupotret dari belakang saja *eh :-D

      Hapus
  8. Aiihhh bagus banget maaaas embungnyaa :D. Kebayang kalo dapet foto sunset di sana, ;).

    Dari dulu aku tuh pgn bgt rasain belalang goreng. Tiap ke gunkid ga kesampaian muluu.. Penasaran rasanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya gurih mbak. Kudu mencoba kalau ke Gunungkidul lagi.

      Hapus
  9. Berkali-kali main kesini baru sekali dapat sunset yg juwarak, di kedatangan pertama. Mungkin itu yg disebut keberuntungan pemula ya. Nglanggeran ini selalu asyik dieksplorasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baru pertama ke sini saat senja mbak. Walau mendung tapi cukup puas kok :-D

      Hapus
  10. Nggak nyesel kasih keputusan nekad naik ke Embung Nglanggeran meski saat itu diperkirakan hujan dan nggak ada sunset ya? Terus baru inget kerupuk micin ama walang goreng kenapa nggak disantap waktu sunset-an ya? Kan syahdu nyemil walang goreng sembari nyunset. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener itu mas. Harusnya keripik dibawa dan dinikmati sambil menunggu sunset benar0benar hilang. Gimanakalau kita minta lagi ke Bleberan ahhahahaha

      Hapus
  11. pas senja keliatan lebih indah ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senja dan pagi memang indah kok, di manapun kita berada

      Hapus
  12. Tema postingannya sama dengan Inwis, tapi beda POV :D
    Kapan dong guide-kan aku ke Nglanggeran, mupeng nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inwis menceritakan keseluruhannya mak. Sementara aku fokus di senja asja, nanti kuceritakan dipostingan lain. Ayo diagendakan mak :-D

      Hapus
  13. emng keren pemandangannya kalo pas senja... serasa berada di dunia yang berbeda{lebay} hihi

    BalasHapus
  14. kangen makan belalang goreng, kirimin dong mas ke Malang. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main ke Jogja saja mas, nanti bisa kulineran di sini

      Hapus
  15. Dasar ya gamau rugi, bungkus! πŸ˜‚
    Aku pernah sekali makan belalang goreng khas gunkid itu, rasanya gitulah :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kami memang orang-orang yang nggak mau rugi urusan makanan hahahahah

      Hapus
  16. Aduh senjanya magis benar. Ajari saya Mas, bagaimana mengabadikan senja seindah itu. Meski mendung menggelayut namun keindahan rona matahari yang sudah mengantuk dan seriyep balik ke peraduannya bisa indah nian tertangkap kamera. Apalagi pemandangan lembah di kejauhan sana jelas banget tampaknya. Memang keindahan bisa didefinisikan dengan banyak cara. Selama Tuhan mengizinkan mata memandang, maka apa yang terlihat adalah yang terbaik, hehe.
    Cerita tentang Kampung Pitunya ditunggu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah mas nyatanya kamu orangnya putis juga heheheheh. Sini ke Jogja mas, ajari kami nulis mengalir saat berkunjung ke wisata heritage :-)

      Hapus
  17. Dari photo makanannya bikin ngiler, lihat photo pemandangan jadi ingin ke sana, ampuun ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya, bolehkah berkunjung ke Gunungkidul *promosi

      Hapus
  18. Belalang gorengnya unik. pengen nyoba juga rasanya gimana..gitu Mas Rullah.

    BalasHapus
  19. Memang senjanya merona dan menggoda mata, tak salahlah kalau tiket siang dan sore itu berbeda, hhehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, senja itu semacam ada kenangannya gimana gitu mas :-D

      Hapus
  20. belalang goreng mengalihkan duniaku mas haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe emang harus mengalihkan biar dibaca sampai akhir mas

      Hapus
  21. duuhh kerennya danaunya...
    melihat danau ditemani dengan cemilan gorengan itu pasti nikmat ya..hehhe
    keren ulasannya kaka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, ini embung buatan kok. Ada beberapa di jogja dan semuanya indah kala senja dan pagi

      Hapus
  22. Mantap. Belalang goreng dan kripik kesayangan jadi bekal melewatkan malam di Nglanggeran hahaha. Senjanya benar2 cukup menyita dan membolak-balikkan keputusan, berhasil dibujuk olehnya. Hahaha.

    Kapan2, ajakin belajar gowes ke sini Mas, sampai pingsan yo gapopo hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senja penuh makna ceritanya mas ahahahhaha.
      Siap, nanti kalau laper kita bisa minta makan di rumah Mbah Mawar lagi :-D

      Hapus
  23. wah pada kece travelbloggernya, yang kenal baru mas alid :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Alid mah idolak kita semua ahhahahha

      Hapus
  24. Gunungkidul terkenal dengan destinasi wisata yang banyak, terutama pantai. Tapi yang di Ngalanggeran itu keren banget mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain pantai, di Gunungkidul ada juga gunung nglanggeran dan banyak gua yang eksotik.

      Hapus
  25. Serius mas? makan belalang? gimana rasanya?
    Amazing banget pemandangannya, meskipun saya kurang paham apa yang dimaksud lansekap embung... Bisa dijelaskan? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gurih mbak hahahahha. Enak loh :-D

      Hapus
  26. aku selalu suka jepretan senjanya :)

    BalasHapus
  27. foto2 senjanya ajib bangettt, saya suka foto 3 dan 4 ... ehh foto 2 juga saya suka jajanannya ... unik ada belalang segala

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kang. Semoga bisa sepedaan di jogja biar saya temani kang.

      Hapus
  28. belalang gunung kidul yg lezat hahahahah saya jadi kepengen nyicipi lagi bang

    BalasHapus
  29. pernah kesini beberapa tahun yang lalu..apa jalannya kesana sudah mulus mas:)? fokus saya malah sama belalang gorengya..agak trauma..makan 1 tapi kakinya malah nyantol di tenggorokan agak lama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau gitu ke sini lagi mas. Semoga malah beruntung dapat belalangnya loh ehheheh

      Hapus
  30. GUNKID, mampir mas sama2 blogger Jogja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhehe, saya stay di Jogja mas :-D

      Hapus
  31. Belom pernah makan belalan goreng~ liatnya geli gimana gitu :D tapi penasaran pengen cobain! Rasanya kayak apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belalang rasanya gurih mas. Banyak bumbunya jadi seperti makan keripik aja hahahahah.

      Hapus
    2. sama mas fahmi, dan ternyata setelah makan belalang, badan jadi bentol bentol, ternyata belalang salah satu hewan yang mempunyai bakteri alergi

      Hapus
    3. Yang alergi emmang seperti itu mas :-)

      Hapus

Pages