Homi Coffee and Working Space di Jogja - Nasirullah Sitam

Homi Coffee and Working Space di Jogja

Share This
Menikmati menu di Homi Coffee & Space Jogja
Menikmati menu di Homi Coffee & Space Jogja


Satu demi satu kedai kopi di Jogja mulai menggeliat. Hampir di setiap titik sudut kota Jogja kedai kopi layaknya toko yang bersebaran. Demangan menjadi salah satu pusat berkumpulnya berbagai kedai kopi. Sekitar 10 kedai kopi ada di sana, dan mereka mempunyai ciri khas masing-masing untuk menggaet pengunjung.

Satu kedai baru yang buka awal April membuatku tertarik datang. Homi Coffee Namanya, terletak di Jalan Kenari, Demangan. Kedai kopi yang cukup besar dengan suasana nyaman. Setidaknya itu yang aku rasakan ketika pertama kali datang dan memasuki ruangannya.

Kala pintu kubuka, pikiranku terbesit pada Noe Coffee atau Headculture. Maksudku seperti ini, ruangan luas, kursi-kursi dan sofa tersebar. Jenis kursinya juga nyaman diduduki, selain ada sandaran untuk punggung, kursinya juga berbalut busa tipis. Aku rasa Homi Coffee ini menjadi salah satu kedai kopi yang luas yang pernah aku sambangi. Berbagai dinding corak minimalis dengan ornamen sederhana.

“Selamat malam mas,” Sapa barista ketika aku datang.
Barista di Homi Coffee sedang membuat pesanan kopi
Barista di Homi Coffee sedang membuat pesanan kopi

Aku beranjak menuju bagian kasir, di sana sudah ada tiga orang lelaki tanggung beraktivitas. Kulirik daftar menu yang ada di meja sembari berpikir apa yang akan aku pesan. Pastinya aku tetap memesan kopi, ritual pertama ketika aku berkunjung ke kedai baru. Jika kunjungan kedua kali atau selebihnya, aku biasanya memilih non kopi. Barista cakap, seperti sedang berbincang dengan teman lama yang baru kembali bersua. Aku mendengarkan stok kopi yang tersedia.

“Ethiopia saja mas. Pakai V60, yang soft saja,” Pintaku.

Daftar menunya cukup beragam; Kopi, Non Kopi; Teh, Coklat, dan lainnya tersedia. Enaknya lagi di sini juga menyediakan makanan berat atapun camilan. Kombinasi menarik bagi yang malas keluar dari kedai ketika perut mulai lapar. Kisaran harga dimulai dari Rp.15.000, tergantung pesanan kita.
Daftar menu dan harga di kedai Homi Coffee
Daftar menu dan harga di kedai Homi Coffee

Percayalah, aku bukan orang yang paham kopi. Berbeda dengan teman-teman tongkronganku di #NgopiTiapPekan yang sudah melalang buana pengalaman minum kopi, paham jenis kopi, menikmati bau kopi, dan lainnya. Aku terjebak berkumpul mereka, sehingga yang aku ketahui sementara ini sekadar enak dan suasananya nyaman.

Barista yang melayaniku sigap. Diambilnya biji-biji kopi, lalu digiling. Kemudian dia menyerahkan gilingan tersebut yang sudah dimasukkan ke dalam gelas kecil padaku. Aku mencoba menghirup bau biji kopi, berusaha mengendus bau harum yang tercipta. Sejatinya, aku belum bisa merasakan enaknya kopi dari bau harumnya. Ritual mengendus bau ini aku lihat dari beberapa teman kala berbincang dengan barista.

Aku terbawa arus lantunan lagu santai di tempat ini. Tak terasa kopi pesananku sudah di depan. Tinggal aku sesap, namun kutangguhkan. Aku lebih tertarik berbincang dengan ketiga barista yang ada. Bang Ical, Bang Ozan, dan Bang Agil. Kami berbincang seputaran kopi yang ada di sini. Bahkan beliau juga menceritakan tentang sikap barista ketika menerima pengunjung.
Suasana di dalam kedai kopi
Suasana di dalam kedai kopi

“Kami harus ramah, mas. Setidaknya itu adalah awal yang baik ketika akan berinteraksi dengan pengunjung.”

Pengalaman yang menurutku menjadi hal penting karena di beberapa kedai kadang kita menjadi malas untuk datang kembali karena barista atau pramusaji-nya bertingkah cuek, bahkan ada yang bersikap kurang baik. Sudahlah, itu cerita yang tak akan pernah dilupakan teman-teman WAG.

Selain berbincang dengan ketiga barista, aku beruntung bertemu dengan bagian pemasarannya di sini. Mas Fika dan Mbak Indri. Dua sosok yang pertama ketemu langsung klop. Setidaknya ketika aku bertanya beberapa hal berkaitan dengan kedai kopi ini.

“Ada yang bilang masuk ke kedai kopi ini seperti masuk ke perpustakaan,” Ujar Mas Fika sembari tertawa.

Seperti perpustakaan, mungkin karena suasana yang nyaman dan tidak riuh. Konsep tempat duduk berjarak cukup luas, dan suasana nyaman membuat tempat ini serasa perpustakaan. Bagiku malah beda lagi; aku merasa seperti berada di sebuah galeri.

Alasanku adalah, tiap dinding ada banyak figura rak yang di dalamnya terdapat properti-properti asyik dan menarik. Membuat tempat ini makin indah. Kombinasi warna lantai, tembok, meja, dan kursi cukup seragam. Warnanya serasi, tidak ada yang mencolok.
Sudut lain di kedai kopi
Sudut lain di kedai kopi

Kedai kopi di Jogja dan beberapa kota lainnya mempunyai misi berbeda-beda. Bahkan ada juga kedai kopi yang menjual tempat daripada kopinya. Homi Coffee pun sebenarnya di tiap sudutnya asyik untuk berfoto. Saranku kalau foto di sini lebih asyik siang agar cahayanya lebih terang.

Aku menyempatkan diri meluangkan waktu untuk menikmati pesanan. Kopi dan camilan sudah tersedia. Sembari menyelesaikan satu artikel, kusesap kopi tersebut. Cukup soft, sesuai dengan permintaanku. Aku juga mencoba akses internetnya, untuk mengunduh file cukup cepat. Bahkan aku sempat mengunduh beberapa video dari youtube selama mengedit tulisan.

Seperti yang aku bilang tadi, Homi Coffee bisa digunakan sebagai tempat bekerja. Bagian ruangan di sebelah timur terdapat meja panjang yang bisa dipakai lebih dari 10 orang untuk bekerja. Di sini juga disediakan printer dan kertas. Kita bisa mencetak beberapa berkas yang mungkin dibutuhkan secara gratis.

Tiap meja terdapat colokan listrik, setiap meja hanya ada satu colokan. Apabila kita datang berkelompok dan semua sama-sama butuh listrik, mungkin lebih baik membawa colokan tambahan. Atau menggunakan colokan meja lain yang terdekat jika tidak digunakan.

Fasilitas lainnya yang menurutku nyaman di sini adalah adanya ruangan khusus untuk salat. Ruangan tersebut bisa digunakan tiga orang salat secara bersamaan. Adanya tempat salat membuat pengunjung tidak perlu keluar kedai kala ingin menunaikan ibadah.

Aku mengulik sedikit lebih dalam tentang kedai kopi pada Mas Fika dan Mbak Indri tentang siapa saja target pengunjungnya. Beliau kompak tak ada yang spesifik. Baginya rata-rata yang datang adalah mahasiswa, bahkan dari kampus yang lumayan jauh dari Demangan.

“Mungkin seperti kedai lainnya mas. Para pekerja lepas, mahasiswa, atau orang-orang yang ingin sekadar nongkrong,” Tambah Mas Fika.

Homi Coffee & Working Space ini buka mulai pukul 10.00 WIB, dan melayani pesanan terakhir pukul 23.00 WIB. Aku rasa dengan waktu seperti itu, bagi kalian yang ingin mengerjakan tugas atau mendapatkan deadline para bloger bisa menjadikan tempat ini sebagai alternatif pilihan.
Bersantai kala satu tulisan telah selesai kukerjakan
Bersantai kala satu tulisan telah selesai kukerjakan

Baru satu bulan lamanya, pengunjung kedai juga masih belum bisa diprediksi. Ketika aku di sini; ada 16 pengunjung kedai yang tersebar. Tiga di antaranya duduk di luar kedai, di sana ada beberapa meja dan kursi yang disediakan. Sementara ini dalam waktu semalam antara 30 – 40 gelas kopi yang dipesan. Tak hanya kopi sebenarnya, menu non kopi juga termasuk di dalamnya.

Tidak terasa waktu makin larut, kedai hampir waktunya tutup. Aku segera berkemas, meninggalkan kedai kopi dengan satu artikel selesai kuposting terjadwal. Terima kasih atas berbagi cerita dan jamuannya teman-teman Homi Coffee. Semoga ada terobosan-terobosan baru yang bisa dibuat sehingga tempat ini makin ramai pengunjung.

“Terima kasih sudah berkunjung,” Kembali terdengar barista padaku.

Sebuah ucapan pengantar pulang yang cukup baik dari sebuah kedai kopi. Ucapan-ucapan seperti ini yang kadang membuat pengunjung ingin kembali balik di waktu mendatang. Aku percaya, selain kopinya yang enak, tempatnya yang nyaman, harga dan menu yang sepadan, sikap barista dan pramusaji juga menjadi faktor yang menentukan apakah kita akan kembali lagi atau tidak. *Homi Coffee and Working Space, 20 April 2018.

37 komentar:

  1. wuih kopi ethiopia..
    salah satu favoritku...
    kopi kenya juga enak....

    BalasHapus
  2. Ada dua gambar yang sama, sudut lain ruang kopinya...

    BalasHapus
  3. asyik nih mas tempatnya, cozy banget buat kerja.
    di sana ga ada ruangan khusus yang bisa dipake buat meeting gitu ya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada ruang privatnya mbak. Aku sudah tanya sih sewaktu berkunjung

      Hapus
  4. nyaman ya tempatnya jadi pengen nongkrong di sana juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas main Jogja kudu ke sini mbak ahahhaha

      Hapus
  5. mantepp nihh kopinya....perlu dicoba bagi pecinta kopi....hehehe..terutama saya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo mas dicoba. Ada banyak kedai kopi yang bisa dikunjungi kalau main ke Jogja

      Hapus
  6. Wah aku baru tau kl ada kedai kopi yg menyediakan printer, di Banjarnegara atau purwokerto blm ada yg beginian deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini tidak menyediakan mantan loh mblo
      hahahhahah

      Hapus
    2. Di sini tidak menyediakan mantan loh mblo
      hahahhahah

      Hapus
    3. Mas, kapan hari ketemuan ayok! Ku ingin nendang kamu!

      Hapus
    4. Ketemuan di sini aja, biar sekalian kamu traktir aku.

      Hapus
  7. Cozy tempatnya dan kayaknya asik buat nongki disana.

    Kedai kopi kekinian seperti ini tengah menjamur di berbagai kota,ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedai kopi memang sedang banyak-banyaknya di Jogja

      Hapus
  8. Bener bangeeet.. Sikap waiter waitreess itu sangat penting :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap saja tidak diperbolehkan bawa makanan dari luar kakakakakka

      Hapus
  9. tempatnya nyaman yaa.. sesuai dengan namanya Hommi Cafe..
    rekomendasinya bagus mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi sebagian orang, ini tempat asyik mbak buat bekerja atau sekadar santai

      Hapus
  10. Berarti tengah siang pas lewat daerah Demangan saya bisa mampir ngopi dan ngadem kemari nih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget pak, sekalian ngeblog ahahhaha

      Hapus
  11. Meski aku bukan penikmat Kopi sejati dan nggak sering2 amat ke Jogja, paling nggak ini sebagai referensi nanti kalo Ke Jogja untuk hangout menghabiskan waktu sambil laptopan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkabar saja mas kalau main ke Jogja. Siapa tahu ada waktu bisa kopdar

      Hapus
  12. di jakarta aja kedai kopi bagai cendawan di musim hujan .. banyak bermunculan .. tapi banyak juga yang mati sebelum berkembang ... semoga homi coffee yang memiliki fasilitas working space tetap dapat bertahan dan maju :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini yang benar-benar harus diperhatikan kang. Banyak tempat yang tidak bisa bertahan lama

      Hapus
  13. wah, kayaknya ini salah satu coffee shop fav mas sitam. Sha sering banget liat di story, kayaknya ke sini lagi ke sini lagi. Gak pusing kalo nyari mas sitam di jogja :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kamu yang ke Jogja kan tinggal WA aja teh. Pasti ketemu hahahahh

      Hapus
  14. Jarang ngopi, tapi tempatnya itu nyaman bngat ditambah lg makanannya yg enak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga tdak selalu pesan kopi. Ada waktunya pesan coklat :-D

      Hapus
  15. tempatnya boleh juga tuh kelihatannya nyaman...

    BalasHapus
  16. Gua juga nggak terlalu ngerti soal kopi, cuman kalau soal minum kopi, itu gua banget ckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaha,
      penting seduh dan nikmati :-D

      Hapus
  17. kisaran harganyadi 15ribuan aja, nggak terlalu mahal juga, ada snack ringan spt roti kayak itu mayan juga buat nemeni ngetik draft blog ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget. Penting tempatnya nyaman buat ngedraf blog ahhahahha

      Hapus

Pages