Menyeberang ke Pulau Nusakambangan, Cilacap - Nasirullah Sitam

Menyeberang ke Pulau Nusakambangan, Cilacap

Share This
Menyeberang ke Pulau Nusakambangan, Cilacap
Menyeberang ke Pulau Nusakambangan, Cilacap
Guyuran keringat membasahi kaos yang kekenakan. Memutari Benteng Pendem Cilacap siang hari lumayan menguras tenaga. Kuarahkan kaki menuju luar benteng, mencari tempat yang teduh sembari menunggu jemputan dari pihak yang akan mengantarku ke Pulau Nusakambangan. Aku sudah terlanjur janji dengan salah satu jasa pengantar ke Nusakambangan. Terlebih dari pintu gerbang Pantai Teluk Penyu aku diantar naik motor menuju Benteng Pendem.

“Nanti kalau sudah keluar dari benteng, telpon saja mas. Saya akan jemput di depan sini,” Pesannya sembari memberi kartu nama.

Ada banyak tawaran yang kuterima selama rehat. Semuanya bertujuan sama, menawarkan jasa menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Kutolak tawaran tersebut, aku sudah lebih dulu berjanji pada pemuda yang mengantarku ke benteng.

“Aku sudah di depan benteng mas,” Ucapku saat menelpon.

Hanya dalam beberapa menit, pemuda yang tadi mengantarku terlihat dari kejauhan. Dia menjemputku. Aku segera naik motor menuju tempat kapal. Tidak jauh dari Benteng Pendem sebenarnya, hanya beberapa puluh meter saja. Sekretariat bertuliskan Kennedy terpampang di bagian depan.

“Berapa orang mas?” Tanya pemuda tersebut.

“Sendirian saja. Bisa kan?”

Pemuda ini terdiam menatapku agak ragu. Beliau menyarankan agar menunggu rombongan lain agar lebih murah. Patokan harga yang ditawarkan Rp. 150.000/kapal. Itu jika harus mendekat di pelabuhan Nusakambangan. Hanya mendekat saja, tidak sampai singgah.

“Tidak apa-apa mas. Rp. 150.000 kan? Kita jalan sekarang,” Pungkasku meyakinkan.

“Baiklah mas. Pakai pelampungnya.”
Di depan itu adalah Pulau Nusakambangan
Di depan itu adalah Pulau Nusakambangan
Perahu kecil berbahan dasar serat gelas atau yang disebut dengan fiberglass didorong ke tengah laut. Aku sudah berada di atas perahu, kurasakan sedikit guncangan ombak di bibir pantai. Selanjutnya, perahu menyusuri Selat Segara Anakan. Selat yang membatasi antara Cilacap dengan Pulau Nusakambangan.

Pemandangan dari atas perahu beragam. Pulau Nusakambangan memanjang tidak jauh dari daratan Cilacap. Bagaimana tidak, luas pulau ini sekitar 210 km2, terbentang memanjang dari barat ke timur. Di Segara Anakan ada banyak kapal yang berlabuh atau hanya tertambat jangkar.

“Di sisi kanan itu Kapal Tanker Minyak mas!” Seru Mas pengemudi merangkap sebagai pemandu.

Suaranya terdengar sayup, dikalahkan angin kencang dari arah berlawanan. Kuamati kapal besar bertuliskan “Sinar Jogya” tersandar kokoh di tepian. Kapal yang mempunyai panjang 120 meter dan lebar 27 meter berjarak dekat dengan perahu kecil yang kutumpangi. Kapal tersebut dibuat pada tahun 2001, berbobot mati: 18050t. Sampai sekarang kapal tanker tersebut masih aktif – MarineTraffic.
Kapal Tanker Minyak Sinar Jogya
Kapal Tanker Minyak Sinar Jogya
Pengemudi perahu yang kutumpangi paham betul apa yang kuinginkan. Tatkala aku akan mengambil gambar kapal, dia memperlambat laju perahu. Dengan begitu, aku dapat memotret lebih mudah. Kutinggalkan Kapal Sinar Jogya yang sedang berlabuh dan kemungkinan mengisi minyak tersebut.

Masih di sini kananku, sebuah kapal Tongkang berisi Batubara juga bersandar. Boat yang bertugas menarik Tongkang tertambat di sampingnya. Kulihat ada beberapa orang yang berjalan di atas Tongkang. Sepertinya mereka juga akan menurunkan/menaikkan batubara. Sengaja perahu tidak terlalu mendekat, debu dari Tongkang bertebaran, takutnya malah terkena mata.

Tongkang tersebut bertandakan PST 511, dan di boat yang menarik juga ada tulisannya Pancaran 511. Kemungkinan besar ini adalah bagian dari Pancaran Grup, yakni milik PT. Pancaran Samudra Transport – Pancaran Group.
Kapal Tongkang Pancaran 511 di Cilacap
Kapal Tongkang Pancaran 511 di Cilacap
Kapal Tongkang yang memuat Batubara sering kulihat di perairan Karimunjawa. Pada musim tertentu jika ombak besar, mereka bersandar di Karimunjawa. Di Jepara pun sama, PLTU Tanjung Jati yang terletak di Jepara sering ada aktifitas bongkar Batubara. Batubara tersebut menyuplai bahan bakar PLTU.

“Kalau itu dermaga penyeberang ke Nusakambangan mas.”

Sejurus mataku menatap ke arah yang ditunjuk pemandu. Di sana aktifitas orang menunggu kapal. Itu adalah pintu masuk bagi orang yang akan menyebarang ke Pulau Nusakambangan untuk keperluan menjenguk napi dan lainnya. Kita tidak bisa sembarangan asal menyeberang jika ingin berkunjung ke Lapas. Ada aturannya sendiri, dan harus berkoordinasi dengan petugas Pelabuhan Wijayapura.

Kapal yang digunakan menyeberang ke Nusakambangan bernama Kapal Pengayoman. Beruntung sekali, ketika aku menaiki perahu berpapasan dengan kapal tersebut. Pengayoman IV nama kapal yang menyeberang dari Pelabuhan Sodong (Nusakambangan) menuju Pelabuhan Wijayapura (Cilacap).
Kapal Pengayoman IV menyeberang dari Nusakambangan ke Cilacap
Kapal Pengayoman IV menyeberang dari Nusakambangan ke Cilacap
Ukuran kapal tidak besar, hanya muat sekitar 2 truk dan beberapa kendaran roda dua. Kapal ini milik Departemen Kehakiman. Jika di antara kalian ada yang berniat menjenguk narapidana di Nusakambangan, pastinya akan menaiki kapal tersebut. Waktu tempuh penyeberangan dari Cilacap – Nusakambangan sekitar 15 menit.

Tentu kalian tidak asing dengan nama Kapal Pengayoman. Setiap ada narapidana yang dipindah menuju lapas di Nusakambangan pasti naik kapal tersebut. Bahkan ketika ada berita eksekusi teroris dan lainnya di Nusakambangan, segala yang berkaitan penyeberangan naik kapal ini dan tingkat keamanannya lebih ketat.

Laju perahu yang kunaiki masih menuju timur, mendekati Pelabuhan Sodong. Perahu wisatawan diperbolehkan mendekat dengan jarak tertentu. Aku sudah berujar pada pemandu sekaligus pengemudi kapal agar rutenya ke sini dulu baru menuju pantai yang digunakan sebagai objek wisata.

Mendekat di pelabuhan, aku melihat ada beberapa perahu kecil yang tidak jauh dari pulau Nusakambangan. Mereka adalah perahu nelayan setempat, dari sini kulihat mereka sedang asyik memancing ikan. Warga setempat memang diperbolehkan memancing di dekat pulau Nusakambangan. Sementara bagian atas rerimbunan pohon lebat yang terlihat.
Perahu-perahu nelayan setempat memancing di dekat Pulau Nusakambangan
Perahu-perahu nelayan setempat memancing di dekat Pulau Nusakambangan
“Di dekat Pelabuhan ini adalah lapas untuk para tanahan narkoba.”

Pelabuhan Sodong tidak panjang, hanya pendek dan langsung mendarat di depan gerbang bertuliskan Pemasyarakatan Nusakambangan. Di sana sudah bersandar Kapal Pengayoman II. Di sampingnya juga terdapat kerahu kecil bersandar. Dari jarak antara 10 meteran, aku membidik gerbang tersebut.

Sebuah reklame besar bertuliskan “Mari Wujudkan Lingkungan Keluarga Sehat, Kuat, Hebat Tanpa Narkoba.” Perahu yang kunaiki berhenti, aku terus memotret aktifitas di sana. Seperti inilah aktifitas di Pelabuhan Nusakambangan dihari-hari biasa.
Pemandangan pelabuhan Sodong di Nusakambangan
Pemandangan pelabuhan Sodong di Nusakambangan
Pemandangan pelabuhan Sodong di Nusakambangan
“Kalau yang seperti teroris itu di mana mas?” Celetukku.

“Lokasinya tidak berdekatan mas, tetap dibedakan dan berjarak.” Jawabnya.

Aku tidak merespon lebih lagi, toh itu hanya pertanyaan yang tak sengaja terujar. Akupun sudah tahu jawabannya seperti itu, lagipula belum tentu Mas tersebut tahu di mana lokasi tepatnya. Dari berbagai informasi kudapatkan jika di sana ada 7 lapas yang masih aktif digunakan. Lapas tersebut adalah Lapas Terbuka, Lapas Besi, Lapas Batu, Lapas Kembang Kuning, Lapas Permisan, Lapas Pasir Putih, dan Lapas Narkotika yang tidak jauh dariku ini.

“Kita lanjut ke pantainya.”

Perahu berputar, kami kembali menyusuri Segara Anakan menuju arah barat. Rencananya aku akan menepi di salah satu pantai di sana. Hanya ingin bermain air, mumpung sudah sampai di sini. Air laut terlihat seperti hijau pekat, tak terlihat dasarnya seperti apa. Yang kurasakan adalah arusnya deras.

Terlihat sebuah dermaga panjang, berbeda dengan pelabuhan Sodong tadi yang langsung merapat di daratan. Kali ini pelabuhannya cukup panjang. Di ujung jembatan terlihat dua orang sedang bekerja.
Pemandangan tak kalah menarik di Pulau Nusakambangan dari Segara Anakan
Pemandangan tak kalah menarik di Pulau Nusakambangan dari Segara Anakan

“Itu pelabuhannya pabrik semen di Nusakambangan.”

Pemandu ini paham dengan rasa penasaranku. Aku baru ingat kalau di sini pun ada pabrik semen. Aku duduk di ujung perahu, menikmati hempasan angin. Masih terpasang pelampung di badanku, kali ini aku ingin berkunjung ke salah satu pantai di Pulau Nusakambangan. Namanya juga anak pantai, kalau urusan main ke pantai pasti langsung semangat. *Menyeberang ke Nusakambangan pada hari Sabtu, 21 Januari 2017.

44 komentar:

  1. Oh kesananya akhir Januari lalu?
    150 ribu itu kalau berame2 byarnya jadi patungan? Atau 150 ribu per kepala? Dan itu juga sudah termasuk ongkos guidenya??Kita nggak boleh singgah ya ke pulaunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya akhir jaunuari hehehehhe
      150 ribu per kapal, jadi kalau misalnya 10 orang kan enak hanya keluar 15 ribu aja :-D
      Sudah sekalian pemandu. Kita bisa turun di pantainya kok, bukan di dermaga nusakambangannya

      Hapus
  2. Wah sangar, langsung mangkat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keburu waktu dab, malah enak dewe iso ngatur waktu hehehhehe

      Hapus
  3. Dewean ra masalah, langsung cus! Joss iki. Jadi pingin buruan budal ke Cilacap nih, masih penasaran dengan Benteng Pendem dan benteng di tengah pulaunya itu. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kabari kalau mau ke sana mas. Aku masih penasaran dengan benteng lainnya di sana. Dua hari satu malam cukuplah di sana.

      Hapus
  4. Laporan pandangan mata yang menarik. Saya suka tulisan-tulisan bertempo pelan seperti ini, bacanya bisa sambil santai. Bisa ikut menikmati suasana di atas perahu juga, hehe.
    Ternyata Nusakambangan tidak se-ekstrem yang saya pikir. Memang di sana ada kompleks lapas tapi tidak serta-merta semua jadi menyeramkan. Tidak berarti pula di pulau itu tak ada kehidupan sama sekali. Tulisan selanjutnya ditunggu, saya yakin ada sisi lain Nusakambangan yang akan Mas ulas (jadi cenayang dulu, haha).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, ini sebagai pengantar. Pengen nulis agak dalam tapi belum terasah hehehehheh

      Hapus
  5. suka sama pulau yang penuh penjara itu, disana pasti aman dan nyaman kas mas nasir, tiada preman2 karena pada di hotel rodeo semua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheheh, pas ke sini malaha da 2 tahanan yang kabur :-D

      Hapus
  6. aku penasaran banget loh kak ke Nusa Kambangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan bisa dikunjungi lain waktu mbak. Fokus saja dulu yang jauh-jauh hehehehehhe.

      Hapus
  7. waahh Nuskam ki cen misterius. di satu sisi beritane mung serem serem gara gara terkenal karena lapas, tapi tempat wisatane gak kalah apik. ntap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu kudu ke sini Lan. Tempate asyik loh hahahhaha

      Hapus
  8. Aku suka poto dermaganya mas... pingin eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pengen kudu menginap di Cilacap. Nggak mungkin langsung PP balik kan hahahahah

      Hapus
  9. pernah sekali kesini ( sebagai wisatawan ) ternyata pulaunya g bagus...

    tapi bagus banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, aku pengen ke sini lagi mas.

      Hapus
  10. Kalau bisa lihat secara langsung asik nih, belum pernah lihat kapal seperti ini langsung.. Keren, Mas.. Enaknya rame-rame ya ini, jadi bayarnya bisa patungan, gitu ya mas ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kalau bisa ramai-ramai biar ongkosnya lebih murah mas. Kalau kebelet sendiri ya gak apa-apa

      Hapus
  11. bukannya nusa kambangan itu pulau untuk para nara pidana ya gan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi ini lokasinya tidak berdekatan dengan Lapas.

      Hapus
  12. "150ribu? Ayo jalan" Huaseeek! Hokya! Hhaahha. Aku yo mending nabung lebih biar bisa keliling pulau kayak di Kenawa, daripada nunggu ketidakpastian kwkwkwkw.

    Saya jadi ingat laporan Tempo atau apa dulu ya mengulik pulau ini dan kehidupan napi di dalamnya, napi yang kabur haha. Ingat Nusakambangan, pasti ingat ALcatraznya Amerika Serikat.

    Dan saiki penasaran karo pantaine piye :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahah, mumpung sudah di Cilacap mas, nanggung kalau nggak nyeberang.

      Ada banyak ceriat tentang Nusakambangan, tapi tetap menarik untuk dikunjungi, mas.

      Hapus
  13. Ceritanya bagus. Tapi sepertinya mas nya tidak menyeberang ke Pulau Nusakambangannya. Hanya ikut tour kapal nanti balik lagi ke pantai waktu berangkat. Kami warga Cilacap menyebutnya Areal 70. Kalau nyebrang ke Pulau Nusa Kambangan bisa ke pantai Karang Bolong, Kali Kencana, Kalipat, Rancah Babakan, dll. Atau mas belum selesai bercerita? Masalahnya judulnya Menyeberang ke Pulau Nusakambangan, tapi sepertinya kenyataannya tidak seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini saya potong ceritanya mas. di bagian akhir pemandu bilang menuju pantainya. Kami menuju Pantai Karang Tengah mas. Insyaallah saya ceritakan bagian keduanya.
      Tentu sangat menyesal kalau sudah naik kapal tapi tidak menyeberang kan? Potensi di sana banyak mas.

      Hapus
    2. Halo mas Kasih dan Mas Sitam, telat banget saya bacanya. Saya sedang di Cilacap dan pagi ini mau ke Nusakambangan tanpa jadwal. Harus ada persiapan tertentu nggak ya?saya juga belum janji sama pemilik kapal. Makasih

      Hapus
    3. Halo mbak, tidak ada persiapan tertentu mbak. Tinggak ke Pantai Teluk Penyu dan bilang mau menyeberang ke Nusakambangan. Kalau mau mengunjungi Lapas baru ada prosedurnya. Di sini saya tidak masuk lapas, hanya lewat dekat jembatan Lapas saja.

      Hapus
  14. Yaampun ternyata dibalik nama tempatnya yg (menurutku) horor, nusakambangan cakep banget yaaaaaaa! Makasih kaka sudah berbagi info :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha, tempatnya juga menarik dikunjungi bagi para pecinta sejarah mbak.

      Hapus
  15. wuuh selo tenan mas sak perahu disewa dewe :D

    BalasHapus
  16. Ke segara anakan mau nengok lapaskah mas ahahah
    Aku masi trauma euy naik kapal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahha, pengennya nengok lappas kakakakkaka.
      Wah kok trauma mbak? Emang kenapa?

      Hapus
  17. Kalo ke Cilacap lagi hub saya ya Mas. Saya bantu arahkan ke temen saya yang pemilik perahu wisata gitu, Insya Allah bisa lbh nego dan merapat ke Nusakambangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan senang hati mas. Insyaallah bulan depan saya agendakan ke sini lagi.

      Hapus
  18. Ini pulau buat penjara tapi kesannya nggak seram gitu ya :D kalau dilihat lagi udah kayak pulau lain pada umumnya. Masuk ke pulau perlu ijin khusus atau enggak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini banyak pantai yang di bagian timur buat wisata mas. Malah bagi yang suka heritage tempat ini cocok banget.

      Hapus
  19. pantai segara anakan bagian selatan pulau sangat indah, pasirnya putih bersih, karangnya bagus dan yang pasti sepi pengunjung Mas Rullah. tapi nyebrangnya bukan dari Cilacap tapi dari dermaga Majingklak Kab. Pangandaran, pakai perahu nelayan cuma 15 menit. terus jalan kaki menerobos hutan lebat naik bukit kemudian turun bukit sekitar 30 menit, sampai deh pantai pasir putih yang masih perawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah menarik ini, memang sih Nusakambagan segitu luasnya dan bisa diakses dari Cilacap ataupun Pangandaran. Semoga bisa ke sana

      Hapus
  20. beberapa tahun yang lalu saya bawa keularga jalan2 ke nusakambangan .. ke pantai pasir putihnya yang ada di ujung pulau nusakambangan dan juga menyusuri segara anakan ... tapi waktu itu bayarnya ngga semahal itu ... hehehe ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheheh aku tetap pengen ke sini lagi kang. Sepertinya mau ngajak teman :-D

      Hapus
  21. Mas, saya ada rencana ke Cilacap, sekalian penasaran mau ke Nusa Kambangan hehe. Itu 150 ribu sudah PP ke Cilacap lagi kah dan singgah2 ke Pantai yang mas ceritakan di atas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mas; 150 ribu itu biasanya dua pantai (Pantai Karang Bolong & Pantai Karang Tengah) sudah PP itu mas. Mau ke sana kapan ya? Rencananya saya februari tgl 16 ke sana lagi.

      Hapus

Pages