Mengelilingi Sudut Benteng Pendem Cilacap

Gerbang depan Benteng Pendem Cilacap
Gerbang depan Benteng Pendem Cilacap

Bus yang kunaiki sudah berhenti di Terminal Cilacap, aku turun dari dalam bus dan melangkah ke luar terminal. Kukirimkan pesan jika aku sudah berada di luar. Tidak berapa lama pesan tersebut dibalas. Aku sudah ditunggu di seberang perempatan. Bergegas aku melangkahkan kaki menuju lokasi.

Kak Muhsin sudah cukup hafal jalan di Kota Cilacap, segera motor mengarahkan ke kawasan Alun-alun Kota Cilacap. Kurang dari satu jam aku istirahat di sini, selanjutnya beliau aku minta mengantarkanku ke Pantai Teluk Penyu, Cilacap.

“Sampai pintu gerbangnya saja kak, nanti aku jalan kaki saja ke lokasi. Sekalian lihat-lihat pantai,” Ujarku.
Memasuki Pantai Teluk Penyu Cilacap
Memasuki Pantai Teluk Penyu Cilacap

Motor kembali melaju ke arah Pantai Teluk Penyu. Sesampai di gerbang pintu, aku turun dan bersalaman dengan kakakku. Esok pagi kami kembali bersua di acara pernikahan adik iparnya. Aku berjalan menuju tempat karcis, dan membayar tiket masuk pantai yang dijaga dua petugas. Kubayar sebesar Rp.5000 ke petugas.

Siang ini cuaca sangat cerah, aku berjalan melewati teras kios-kios yang menjual cinderamata. Pernak-pernik cinderamata yang terbuat dari berbagai kerang terpajang di depan teras. Sesekali penjual menawarkan dagangannya. Aku jawab tersenyum saja sambil terus melangkah melewati teras agar tidak kepanasan.
Warung berjualan souvenir berupa pernak-pernik terbuat dari kerang mati
Warung berjualan souvenir berupa pernak-pernik terbuat dari kerang mati

Kuperhatikan dari Google Maps, jarak dari pintu masuk ke Benteng masih sekitar 650 meter. Tepat di tulisan “Pantai Teluk Penyu” aku ditawari tiga pemuda tanggung untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan.

“Nanti saya ke sana mas. Sekarang saya mau ke benteng pendem dulu,” Jawabku.

“Kalau begitu saya antar mas. Tapi nanti ikut kapal saya, bagaimana?” Kata salah satu pemuda menawariku.

Penawaran menarik, aku mengangguk saja. Bergegas dia mengambil motornya dan mengantarku ke Benteng Pendem. Memang lumayan capek juga kalau jalan kaki dari pintu masuk menuju Benteng Pendem Cilacap siang hari. Tepat di depan Benteng Pendem, dia menurunkanku sembari memberikan kartu nama.

“Nanti telpon nomor yang bawah saja mas,” Terangnya.

Kartu nama hijau bernama “Kennedy” ini kuterima. Belum sempat mengucapkan terima kasih, dia sudah memutar balik motor dan meninggalkanku. Ternyata ketiga pemuda tanggung yang di depan pintu masuk tersebut adalah bagian dari tim jasa penyeberangan ke Pulau Nusakambangan. Mereka akan gantian menawari pengunjung yang masuk dan berminat untuk menyeberang.

Siang ini tidak terlihat ramai di pintu masuk. Aku terus berjalan masuk, sempat menoleh ke kanan-kiri, tidak kulihat petugas berjaga. Entah memang tidak ada tiket masuknya atau penjaganya sedang keluar. Karena tidak ada petugas yang berjaga, sementara pengunjung lain bebas keluar-masuk, aku pun ikut masuk saja.
Aliran air di dalam Benteng Pendem Cilacap
Aliran air di dalam Benteng Pendem Cilacap

Benteng Pendem Cilacap dikenal dengan nama Kust Betterj Op De Landtong Te Tjilatjap. Benteng ini dibangun secara bertahap sejak tahun 1861 dan dinyatakan selesai pembangunannya sekitar tahun 1879. Dinamakan Benteng Pendem karena ditemukan kembali dalam keadaan terpendam. Benteng ini digali pemerintah Kabupaten Cilacap pada tahun 1986.

Fungsi benteng ini pada masanya adalah untuk menangkal atau mempertahankan serangan dari arah laut. Sama halnya dengan fungsi dibangunnya Benteng Karang Bolong, Benteng Klingker, dan Mercusuar Cimiring. Saat ini, Benteng Pendem Cilacap dimanfaatkan oleh Pemkab sebagai salah satu destinasi wisata.

Area Benteng Pendem luasnya sekitar 6.5 hektare, kuikuti jalan belok kanan. Di sini ada semacam taman, dan banyak mudi-mudi yang berkumpul dan berswafoto. Di tengah taman terdapat aliran air, aku tidak tahu apa ini air laut yang dialirkan atau air tawar. Tulisan Loka Wisata Benteng Pendem Cilacap di pondasi pun berlumut.
Sudut benteng di area Benteng Pertahanan
Sudut benteng di area Benteng Pertahanan

Di seberang pagar terdapat bangunan menjulang tinggi yang tidak terawat, Bangunan tersebut adalah Kilang Minyak Pertamina. Terus aku berjalan, sesekali bertemu dengan rombongan anak sekolah yang berkelompok menyusuri tiap sudut benteng. Bangunan yang kulihat kali ini adalah jejeran ruang barak yang sudah diperbaiki. Terlihat dari semen yang digunakan masih baru. Belum berlumut seperti bangunan lainnya yang batanya terlihat.

Arah panah menunjukkan kalau lurus menuju Benteng Pertahanan. Aku mengikuti arah tersebut. Melewati jalan setapak dan memandang tiap tembok sudah bertabur lumut kering. Benteng Pendem Cilacap ini terasa sunyi. Tembok yang tinggi  juga mulai rimbun oleh semak-semak yang hidup menempel di tembok.
Benteng Pertahanan di lokasi Benteng Pendem Cilacap
Benteng Pertahanan di lokasi Benteng Pendem Cilacap

Semakin kususuri jalan, kulihat ada tembok yang lebih landai. Mungkin inilah benteng pertahanan yang dimaksud. Tiap jarak tertentu ada anak tangganya. Melihat sisi kiri merupakan tumbuhan liar, aku seakan-akan bukan di dalam benteng. Lebih mirip berada di perbatasan hutan. Masih terdengar suara tawa anak-anak sekolah yang tadi di depanku, mereka sepertinya menikmati siang ini dengan berkeliling benteng.

Di ujung dekat ruang terowongan, aku melihat ada dua tugu kecil seperti gerbang pintu. Namun ketika kulongokkan kepala melalui sudut lain, tepat di balik tembok tersebut adalah aliran air dan semak belukar. Aku bergegas meninggalkan lokasi tersebut, tak ada teman sehingga membuatku tidak ingin berlama-lama.

Sejenak aku terdiam di area terowongan. Ada terowongan yang tidak tertutup oleh besi-besi tua nan tebal. Aku coba masuk, di sana bau lumpur dan lembab. Sempat juga bertemu dengan pengunjung lain dari arah berlawanan. Ada beberapa terowongan dan hampir sebagian besar tertutup oleh besi tua dan tebal seperti ini.
Terowongan yang tertutup oleh besi-besi tebal
Terowongan yang tertutup oleh besi-besi tebal

Ada cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut tentang jalan penghubung antara Benteng Pendem Cilacap menuju Pulau Nusakambangan. Banyak warga yang mempercayai tentang kebenarannya. Namun sampai sekarang belum terbuktikan. Setiap cerita itu diawali dengan kata “konon”. Konon ada jalur penghubungnya, biarlah ini tetap menjadi sebuah cerita misteri.

Sebuah pondasi bulat di dekat ruang penjara menarik perhatianku. Ternyata sebuah sumur tua yang sudah tidak difungsikan. Aku istirahat sejenak di sini, mengatur nafas yang mulai tersengal-sengal. Menyeka keringat yang sudah membasahi kaosku, menikmat sepoinya angin dikala terik mentari begitu cerah.

Pemandangan menyesakkan kala aku sempat melongok ke dalam sumur tua. Sumur tidak terawat ini masih ada airnya, dan ada dedaunan yang jatuh ke dalamnya. Sayang tidak hanya dedaunan, terdapat dua botol minuman air mineral yang sengaja dibuang ke dalam sumur. Tingkah pengunjung memang beragam, tapi membuang sampah ke dalam sumur itu benar-benar tak beretika. Semoga pengelola benteng segera membersihkan dan menempatkan lebih banyak tong sampah.
Sumur tua di dekat area terowongan
Sumur tua di dekat area terowongan

Sebelum sampai di ruang terowongan, sebenarnya aku melewati jejeran ruang penjara. Jangan dikira ruang penjara ini luas dan dapat dimasuki banyak tawanan. Ruang penjara ini sangat kecil, ruang berukuran kecil serta pengap dengan jendela besi-besi tua. Melihat ruangannya semacam ada kengerian kala membayangkan bagaimana suasana saat di penjara.

Ada banyak ruang penjara, bangunan tersebut saling berkaitan karena mempunyai jalan sendiri di dalamnya. Jalan-jalan berbentuk lorong ini yang mempertemukan tiap ruangan penjara. Sementara itu di atas bangunan sudah menjadi semak belukar, dan tertutup rerimbunan.
Bangunan penjara di Benteng Pendem Cilacap
Bangunan penjara di Benteng Pendem Cilacap

Tidak terasa aku hampir sepenuhnya mengelilingi bagian luar benteng. Tempat yang terlewatkan olehku adalah terowongan klinik, lokasinya tidak sejalur dengan benteng pertahanan. Tak jadi masalah, yang penting niat berkunjung ke Benteng Pendem Cilacap sudah terpenuhi.

Di seberang terlihat ada jembatan kecil yang dijadikan penyeberangan aliran air. Benteng ini sepertinya benar-benar dikelilingi tegalan. Sebelum sampai di jembatan, aku melewati barisan benteng dengan bangunan ruang-ruang yang berbentuk sama. Sayang tidak ada penjelasan ini ruang apa. Lebih mirip ruang barak namun ada jendela satu kecil di atas menghadap balik bangunan.
Bangunan-bangunan di Benteng Pendem Cilacap
Bangunan-bangunan di Benteng Pendem Cilacap

Jembatan kecil ini sebagai akses untuk menuju kembali ke pintu utama. Di aliran air ada banyak perahu bebek yang disewakan. Sementara tepat di tengah jembatan sudah ada anak-anak kecil yang duduk melihat temannya di bawah berenang.

“Mas minta koinnya!” Teriak mereka dari bawah.

Setiap bepergian, aku selalu membawa koin banyak di dalam tas. Kuambil beberapa koin dan kulemparkan. Anak-anak kecil tersebut langsung berenang menangkap koin. Sementara di sebelah lainnya beberapa anak juga menunggu.

“Mas sebelah sini juga. Biar adil!”

Aku baru sadar, ternyata ada peraturan tak tertulis dari mereka. Jika koin dilemparkan di sisi kana, maka anak yang berada di sisi kiri tidak berhak ikut berlomba mengambil koin. Kembali kuambil beberapa keping koin dan melemparkan ke sudut lainnya. Gegap-gempita anak-anak ini berenang di air berlumpur. Menikmati waktu libur dengan mengharap koin dari para pengunjung.
Jembatan kecil yang dipenuhi anak-anak berenang
Jembatan kecil yang dipenuhi anak-anak berenang 

Lebih setengah jam aku berjalan mengelilingi sudut benteng. Kali ini aku keluar, dan menunggu jemputan dari nomor yang kutelpon. Selanjutnya, aku akan menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Menjejakkan kaki di pulau yang orang-orang bilang sebagai pusatnya penjara.

Sambil menunggu jemputan, aku mencatat beberapa hal yang takut terlupakan di buku saku. Aku melihat bahwa Cilacap beruntung mempunyai Benteng Pendem. Benteng yang penuh sejarah, dan dapat dijadikan wisata pilihan jika benar-benar dikelola dengan baik. Penambahan seperti informasi berkaitan dengan sejarah benteng ini harusnya dioptimalkan. Akan lebih menyenangkan lagi juga dibuatkan semacam lefleat yang berisi sejarah benteng.

Ada banyak benteng di Indonesia, dan tidak semuanya berbentuk bangunan utuh dan masih bagus. Di kota-kota lain, benteng tinggal semacam peninggalan belanda berupa tembok yang akan runtuh berbalut lumut. Semoga pihak-pihak yang terkait dapat mengelola benteng ini menjadi lebih baik dan banyak menggaet wisatawan untuk belajar berkaitan dengan sejarah. *Kunjungan ke Benteng Pendem Cilacap pada tanggal 21 Januari 2017.
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

32 komentar :

  1. iku angker gak yo??kayaknya yg trowongan itu cocok untuk uji nyali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah ada uji nyali di area itu. Pesertanya gak kuat semua. :D

      Delete
    2. Hahahahha
      Kalo aku belum mulai udah cabut duluan. Tapi kalau siang bagus loh mas :)

      Delete
  2. Seruuuu jalan jalan sendirian ke benteng pendem. Mau ke sini sama temen temen tapi wacana wkwk.
    Itu nanti bayar babang ojeknya tadi sekalian sama nyebrangnya mas?
    Saya bayangin yang di penjara di situ atau dibuang ke nusa kambangan, hm pengap dan asing gitu gimana rasanya ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, bayar nyeberangnya. Kalau ngojeknya digratisin selama nanti pas nyeberang kita ikutan kapalnya dia.

      Delete
  3. Kesannya serem kalo sendirian, apalagi tembok2nya yg ditumbuhi lumut itu keliatan angker.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetep seru mas walau dirasa kurang bisa mendalami informasi yang harusnya bisa digali jika ada pemandunya.

      Delete
  4. Kalau kesitu harus banyak2 dzikir tuh... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehhe, di manapun tempatnya kita harus banyak berdzikir :-)

      Delete
  5. Ruang Penjaranya nyeremin banget Min, coba kalau masih digunakan biar buat para penjahat jera... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nusakambangan sudah ada penjara kok. Kalau bentengnya lebih bagus lagi kalau dirawat dengan baik

      Delete
  6. serem kayaknya ya? tapi menarik buat di telusuri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketka kita di sana, tidak ada kata seram. Malah terlihat indah

      Delete
  7. Sayang banget kelihatan kayak kurang terawat ya. Kesannya jadi angker

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, semoga pihak yang terkait bisa menjadikan benteng ini destinasi pilihan untuk berwisata

      Delete
  8. di beberapa daerah lain ada benteng pendem juga. Jadi penasaran kenapa diberi nama sama pada lokasi berbeda.

    koin nya ke tangkep ga sama anak2? kalau nyemplung sungai apa ketemu yaa. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Koinnya ditangkap mbak. Seru lh liat anak-anak berburu koin.
      Coba baca-baca sejarahnya mbak, biasanya dikatakan benteng pendem karena ditemukan pada saat terpendam :-)

      Delete
  9. Keren nih, saya juga suka sih menjelajah tempat yang punya sejarah gini. Baru tahu juga kalau di Cilacap ada tempat menarik kayak Benteng Pendem :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cilacap itu banyak destinasi yang menggoda mbak :-)

      Delete
  10. Hawane serem emang Mas, saya aja yang orang Cilacap asli malah baru dua atau tiga kali masuk sana...hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lokasinya cukup luas mas, benar-benar berpotensi loh dikembangkan dengan baik.

      Delete
  11. Sayang ya di telantarin kayak gitu jadi kotor dan kelihatan serem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kurang terawat, jika dirawat dengan baik, aku rasa bakalan bisa bagus seperti Benteng Vredeburg di Jogja

      Delete
  12. Hooo ada ya mas Benteng pertahanan di Cilacap :D

    Btw, cerita di Nusa Kambangannya ditunggu banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada mbak hehehehe, cerita yang ke nusakambangan malah sudah kutulis lebih dulu kok :-)

      Delete
  13. Wah kalau masuk situ pasti bulu kuduk langsung berdiri, Mas. Tapi Bentengnya sekarang sudah ada penjaganya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehhe,
      Aku malah tidak meihat penjaganya, padahal pas ke sana mencari-cari penjaga untuk bayar karcisnya.

      Delete
  14. Kira-kira sumur tua itu angker gak ya kayak di film-film...

    ReplyDelete
  15. pernah sekali ke benteng ini .. pakai guide jadi dibawa masuk terowongan2 yang gelap .. penakut soalnya jadi mesti ada yang nemenin ... haha.
    Masih terlihat bersih terawat ... dan tetap sepi sepi aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah enak kang kalau pakai pemandu. Jadi bisa paham lebih banyak informasinya.

      Delete