Kugapai Satu Bintang

Sinar mentari sudah mulai menyinari sebagian besar kota ini, dalam keindahan pagi ini tampak seorang anak kecil sedang sibuk mempersiapkan peralatan untuk dia mulai bekerja. Dipandanginya sebuah gedung yang tinggi dihadapannya, selintas dia langsung memandang rumah dia. Tersenyum pahit dia melihat perbedaan yang begitu jelas antara dia dengan warga kota lainnya.

“Kau pandang sejuta kali, nggak akan berubah rumah kita ini menjadi seperti itu.”

Tersentak kaget dia mendengar suara yang serak itu, ternyata ayahnya sudah siap mengarungi kejamnya kehidupan kota ini dengan beberapa kantung plastik dan sebuat alat dari besi yang berbentuk seperti kail ditangan kanannya. Dia hanya diam mendengar semua itu, mungkin dia sedang berfikir mengapa dia tidak dilahirkan dari keluarga yang bisa membuat dia menjadi lebih baik dan lebih kaya.

“Cepat kamu cari barang bekas hari ini, jangan cuma diam disitu.”

Mendengar bapaknya sudah menggertak, anak kecil itu langsung bergegas pergi dari gubuk itu. Dengan langkah agak sedikit pilu dia langkahkan kakinya menuju pabrik-pabrik atau tempat dimana dia bisa mendapatkan barang dan kertas bekas yang dibuang oleh orang lain. Seraya berjalan dia pandangi lagi setiap kegiatan orang lain yang tidak dia kenal, ada sejuta pertanyaan yang mengusik pikirannya.

“Andai aku dilahirkan dikeluarga kaya, tidak mungkin aku bergelut dengan barang-
barang bekas seperti ini.” Batinnya sendirian.

Dia kembali menyusuri jalanan kecil yang rusak dan beraspalkan tanah liat, dilangkahkan kaki itu menuju sebuah sekolah yang tidak jauh dari gubuknya. Dilihatnya banyak orang yang sebaya dengan dia sedang tersenyum girang serta bercanda dengan teman yang lainnya. Mereka berpakaian rapi dan berseragam sama dengan baju putih sekaligus celana warna merah.

Dia tidak ikutan bercanda, karena baginya semua itu bukan dunia dia. Dia dilahirkan hanya untuk mencari selembar uang agar hari ini perutnya tidak berdemo karena tidak mendapatkan jatah makanan. Dia menuju kesebuah tempat sampah yang begitu besar, berterbangan lalat-lalat saat dia mengorek timbunan sampah tersebut. Dengan cekatan dia mulai memilih mana saja yang layak dijual, tanpa disadari matanya tertuju dibungkusan kardus kecil. Dengan semangat tinggi dibukanya kardus kecil ini.

“Wah lumayan ada buku ceritanya.” Teriak dia dengan sedikit tertahan.

Beberapa buku cerpen dan dongeng yang sudah lusuh dan agaknya sudah mulai rusak diambilnya, dimasukkannya kedalam kantung plastik lainnya. Kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengais sampah agar dia bisa mendapatkan banyak barang untuk dijual.

“Dapat banyak disekolah itu Gus???”

“Cuma sedikit pak, paling-paling tadi Agus sudah kedahuluan sama yang lainnya.”

“Ya sudah, istirahat dulu kamu. Nanti siang kamu kerja lagi.”

“Ya pak.”

Agus itulah nama anak kecil yang selalu setia mengais barang bekas ditempat sampah sekolah, dengan menahan rasa capek yang luar biasa dia memasuki gubuk mereka hanya untuk istirahat sebentar dari akifitasnya. Dia putus sekolah sejak kelas tiga SD, dan terpaksa kerja karena memang orangtuanya tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Sejenak direbahkan tubuh itu diatas balai bambu dan hanya beralaskan kardus biar agak empuk, dipejamkan matanya. Tapi percuma mata itu tidak mau terpejam, dia teringat dengan beberapa buku cerpen yang dia dapatkan dari SD tadi. Diambilnya buku itu dan mulai dibacanya dengan begitu serius.

“Heeee, lucu juga ceritanya.”

“Baca apa Gus???”

Agus terkejut ternyata dipintu yang hanya tertutup oleh tirai kumuh sudah berdiri bapaknya dari tadi, dia merasa penasaran karena anaknya tertawa sendirian saat membaca sebuah buku kumuh.

“Eeeggh, i…nni pak, Agus baca buku.” Jawabnya gugup dengan menunjukkan buku yang ada ditangannya.

“Buku apa ini Gus???” Dipinjamnya buku itu dari tangan anak kesayangannya.

“Itu buku cerita tentang kancil pak.”

“Oww, begitu ya.” Sahut bapak itu tersenyum, dipandanginya buku kumuh itu dan hanya dilihat gambarnya saja. Dia tidak tahu apa sebenarnya cerita yang bisa membuat anaknya tertawa, yang dia lihat hanyalah gambar seekor kancil sedang berjalan diatas punggung beberapa buaya.

“Aku ingin sekolah lagi pak!!!!”

“Apa???”

Tersentak orangtua itu mendengar permintaan anak semata wayangnya, dilihatnya mata itu dengan seksama. Tidak ada kebohongan dari sinar mata anaknya itu, ternyata dia memang benar-benar serius dengan apa yang tadi dia katakan .

“Apa yang kamu dapatkan kalau kamu sekolah??? Apa kamu bisa menjadi lebih kaya kalau kamu sekolah???” Tanya bapak itu dengan suara tertahan.

“Aku ingin….Aku ingin pintar pak, biar kau bisa mendapatkan banyak ilmu.” Suaranya tersedak menjawab pertanyaan bapaknya.

“Sudah sana kamu cari barang bekas lagi!!!, lupakan niatmu untuk sekolah!!!”

“Tapi pak…!!!”

Dengan emosi tertahan bapak itu menghampiri anaknya, diayunkan tangan kanannya menuju wajah Agus. Tapi niatnya tertahan, lama-kelamaan tangan itu mulai melemah dan hanya diam terbawa oleh alur naluri seorang bapak. Entah apa yang terbesit dipikirannya sehingga dia tidak jadi menampar anaknya itu.

Agus ketakutan, dia hanya diam melihat apa yang akan dilakukan oleh bapaknya. Disudut kamar itu dia menangis, dilihat bapaknya sedang tersimpuh dihadapannya. Dipegangnya kedua tangan bapaknya dan letakkan keatas kepalanya.

“Maaf pak, Agus salah. Harusnya Agus memang bekerja untuk mencari uang.”

Dia melangkah keluar dari gubuk itu, kembali dia membawa peralatan yang memang sudah disiapkan sejak tadi, kali ini dia bertekad mencari uang yang banyak agar dia bisa menebus kesalahan atas ucapannya tadi ke bapaknya. Dilupakannya keinginan untuk sekolah tadi, entah kenapa tadi ada pikiran untuk kembali bersekolah.

“Gus!!! Agus!!!, kesini bentar.”

“Ada apa bu???”

Seorang wanita tua tergopoh-gopoh menghampiri Agus, ditangan kanannya membawa selembar kertas. Entah kertas apa itu, sepertinya dia meminta agar Agus bisa membantunya, setelah agak dekat dia sodorkan kertas itu kepada Agus.

“Tolong kamu baca ini, kata pak pos tadi ini surat dari anak saya yang kerja diluar
negeri, biasanya yang baca si Rian. Tapi nggak tahu Rian sekarang kemana, paling
juga sudah ngamen dilampu merah.”

Diambilnya surat itu dan dibaca dengan suara agak keras agar ibu itu paham dengan isi suratnya, ibu tersebut mendengarkan dengan seksama. Sekali-kali dia tersenyum saat mendengar isi dari surat itu.

“Sudah bu, cuma itu saja tulisannya.”

“Terima kasih ya Gus.”

“Ya bu.”

Agus melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, dia dengan cekatan membongkar-bongkar sampah yang baunya menyengat hidung untuk mendapatkan banyak barang yang bisa dijualnya. Tanpa disadari hari sudah menjelang sore, dipanggulnya hasil pencarian dia selama beberapa jam tadi menuju rumah agar besok bisa dijual oleh bapaknya.

“Mandi dulu, baru makan malam bareng bapak.”

“Ya pak.”

Beranjak dia menuju kebelakang, disana kamar mandi hanya ditutup ala kadarnya saja, diguyurnya seluruh badan dengan air agar bau keringatnya untuk sementara bisa hilang. Selesai mandi dia langsung menuju kearah bapaknya untuk makan bersama.

“Ini makan, tadi bapak dapat makanan dari orang yang bagi-bagi dijalan raya.”

Dengan lahap dia makan nasi bungkus dengan lauk sepotong tempe goring, baginya bukan gizi lagi yang harus masuk kedalam perut tapi apa saja yang penting bisa mengenyangkan perut dia. Selesai makan dia menuju kamar kebanggaannya, dia tidak lantas tidur tapi termenung dijendela seraya memandang langit.

“Coba aku pintar, sudah kuraih satu demi satu kalian.” Gumannya seraya memandang
bintang yang bertaburan dilangit.

“Apa kamu benar-benar ingin sekolah Gus???”

“Bapak????, iya pak. Agus ingin bisa pintar, biar Agus bisa sukses.”

“Kamu tahu, untuk makan saja kita susah. Bagaimana kalau kamu sekolah, siapa yang
membantu bapak nyari uang Gus???”

“Selama ini bapak banting tulang untuk kehidupan kita Gus, bapak hanya bisa sanggup
seperti ini. Kalau kamu sekolah, siapa yang bantu bapak cari uang untuk biaya hidup
kita.” Tambahnya.

Agus terdiam membisu, dia merasa bersalah atas permintaanya yang berlebihan. Dia sadar kalau kehidupannya tidak mendukung untuk sekolah, yang mendukung untuk bersekolah hanya semangat dan keingian semata.

“Ini ambil”

“Apa ini pak???” Dipegangnya sebuah bungkusan koran yang sangat lusuh.

“Buka saja.”

Dengan hati yang berdetak kencang dia mulai membuka bungkusan dari bapaknya, dalam hati dia sedang menerka-nerka apa isinya. Dilihatnya sebuah kain putih, setelah dipegang ternyata dua pakaian seragam sekolah SD.

“Maksudnya pak???”

“Ya mulai besok kamu sekolah, itu bekas seragamnya Ridho. Anak dari perumahan
sebelah yang katanya pas buat kamu.”

Tubuh Agus seperti tersengat listrik, dia langsung bangkit dan merangkul bapaknya. Tanpa disadari dia menangis dirangkulan bapaknya, suara tangis sendu daari seorang anak yang bahagia atas pemberian bapaknya. Dia merasa ini adalah kado yang sangat istimewa disepanjang hidupnya, kado yang kembali menghidupkan semangat dia untuk bisa bersekolah.

“Makasih pak, makasih!!!, Agus janji sepulang sekolah nanti Agus bantu bapak nyari
uang.”

Tiada terasa air matapun mengalir dari mata orangtua itu, dia merasakan ada kebahagian diantara kejamnya kota dalam mengarungi hidup, air mata tanda bahagia karena dia masih bisa membuat anak kesayangannya menjadi bahagia.

“Cukup sampai bapak saja garis keturunan keluarga kita yang buta aksara, dan tidak
pernah mengenyam sekolah.”

“Sudah sana tidur, biar besok pagi-pagi kamu bisa bangun dan mulai sekolah.”
Katanya sambil mengusap kepala anaknya.

“Ya pak.” Diciumnya tangan bapaknya lalu dia menuju kamar.

Agus tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, dia menuju jendela dan berteriak lantang.” Mulai besok akan kuraih satu bintang dari langit, dan aku kumpulkan menjadi satu agar aku bisa menjadi orang sukses.”

Kemudian dia menuju balai bambu itu untuk tidur, dia tidak sabar untuk melihat dirinya lagi memakai seragam dan melangkahkan kesekolah yang sama tetapi beda tujuan. Mulai besok dia tidak cuma seoang anak yang pergi mencari barang bekas, tetapi juga sebagai anak yang mencari ilmu untuk mengubah hidupnya agar menjadi lebih baik.
** *TAMAT***
Baca juga postingan yang terkait sebelumnya SENYUMAN ANAK PANTAI
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment