SENYUMAN ANAK PANTAI

Pagi itu Riki sudah tampak begitu rapi, dipandanginya sebentar wajah dia melalui cermin yang sudah terlihat retak begitu banyak. Sebentar kemudian dia mulai mengatur model rambutnya dengan sebuah sisir kecil, dia berusaha mengatur model rambutnya agar terlihat lebih keren. Sambil bersiul dia keluar dari kamar rumahnya yang kayak kapal pecah karena saking berantakannya, hari ini dia sudah ada janjian dengan temannya untuk mengelilingi indahnya desa disepanjang kepulauan Karimunjawa.

“Makan dulu Rik, mumpung masih hangat.” Ucap seorang ibu yang terlihat masih agak sibuk dengan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga.

Riki hanya tersenyum saja, dia ikut membantu ibunya mengangkat beberapa piring dan juga gelas. Setelah sudah terlihat beres dia langsung menduduki kursi yang telah tersedia, sebentar saja dia duduk langsung saja kepalanya celingak-celinguk kayak sedang mencari seseorang.

“Bapak mana bu?? Kok jam segini udah nggak keliatan.”

“Bapakmu lagi mancing. Katanya sih sudah lama nggak melaut, jadi pagi-pagi malah
berangkat melaut.”

Kali ini dia mangut-mangut saja, mungkin dia berfikir kalau saja tadi dirinya bangun lebih pagi pasti sekarang sudah berada dilaut untuk memancing ikan bareng sama bapaknya. Padahal saat di Jogja dia sangat berambisi kalau sampai di Karimunjawa dia ingin mancing dan membakar ikan di pantai.

“Oya Rik, itu diruangan depan ada beberapa kardus, kayaknya kirimuan buat kamu.” Kembali ibunya memberitahu ke Riki.

“Dari mana bu???” Tanyanya sambil mengunyah nasi goreng dengan lahap.
“Nggak tahu, kayaknya dari Jogja sama Solo.”

Cepat-cepat diselesaikannya sarapannya dengan cepat dan langsung saja dia berjalan menuju ruangan tamu, dilihatnya ada lima kardus besar yang masih belum terbuka. Dengan cekatan dia mulai membuka salah satu kardusnya, setelah agak terbuka sedikit dia langsung terperanjat dan seketika pula berteriak kegirangan.

“Yes!!!! Yes!!!!!, akhirnya aku dapat kiriman koleksi buku banyak. Aku bisa buka Taman Baca.”

Dari belakang ibunya tergopoh-gopoh, dilihat anak laki-lakinya tersebut melompat-lompat sambil tertawa dan kadang berteriak kegirangan sendiri seperti anak kecil yang sedang mendapatkan hadiah sepeda, sepatu, dan juga tas baru dari orangtuanya.

“Isinya apa kardus-kardus itu Rik???”

Riki yang mendengar ada suara yang bertanya dibelakangnya langsung saja berhenti dari berteriak, dia langsung menolehkan wajahnya kebelakang. Ibunya sudah berdiri tegak dibelakangnya dengan raut jawah agak penasaran, dengan rasa malu bercampur senang dia mulai menjawab pertanyaan ibunya.

“Ini bu, buku-buku bacaan dan buku umun”

“Buat apa buku segitu banyaknya???” Sekali lagi ibunya bertanya.

“Begini bu, seminggu yang lalu kan aku main bareng teman-teman. Terus nggak
sengaja aku lihat anak-anak SD pada rebutan baca sebuah buku dongeng, langsung saja buku tersebut sobek saat rebutan. Jadi aku langsung telpon teman-teman di Jogja sama di Solo agar mereka ngirimin buku kisini.”

Sekarang ibunya Riki mulai paham dengan alasan dari anaknya tersebut, kemudian dia langsung kembali menyelesaikan masaknya yang sempat tertunda. Sementara itu Riki malah sibuk memilih beberapa buku bacaan dan dimasukkannya kedalam tas yang lumayan besar, setelah itu dia beranjak kembali kebelakang.

“Bu, kalau Reza kesini bilang aja keliling desanya besok aja.”

“Lha kok gitu?? Kamu mau kemana???”

“Ke pantai!!!”

Riki langsung saja berlari menuju pantai yang tidak jauh dari rumahnya, dia tahu kalau setiap hari libur seperti ini anak-anak SD maupun lainnya pasti sedang berkumpul dipantai membantu bapaknya untuk mengurusi jaring maupun mengecat kapal. Dengan begitu semangat dia menyusuri jalan setapak dan agak terjal tersebut.
Sesampainya dipantai menyapu pandangan kesemua sudut tempat, kemudian dia mulai duduk di bawah pohon Cemara yang lumayan lebat seraya mengatur nafas yang agak tidak beraturan.

“Kak Riki!! Kak Riki!!”

“Halo pada ngapain nih???”

“Ini kak main-main aja, tadi abis bantu bapak ngecat sampan.” Jawab anak kecil yang paling kecil.

Dilihatnya satu persatu setiap anak pantai tersebut, mereka terlihat sangat berbeda dengan anak-anak kota yang seumurannya, disini mereka sudah terlatih untuk mandiri melakukan sesuatu yang seharusnya orang tua lakukan. Seperti ikut memancing, memperbaiki jaring, maupun lainnya.

“Oya, kakak punya sesuatu buat kalian semua”

“Apa kak!!! Apa kak!!!” begitu riuh suara anak-anak tersebut.

“Ini!!!!” Teriak Riki seraya mengeluarkan salah satu buku bacaan dari dalam tasnya.

“Buat aku kak!!! Aku saja kak!!! Bagianku mana kak!!!” Bermacam-macam teriakan
mereka, dan mereka juga berusaha merebut buku yang ada ditangan Riki. Riki terlihat kewalahan untuk menahan buku yang ada ditangannya.

“Oke!! Oke!!! Kalian semua pasti dapat jatah satu-satu untuk membaca, nanti selebihnya bisa gantian.” Teriak Riki dengan tersenyum.

Mendengar teriakan Riki, serempak saja semua anak pantai tadi berjejeran dengan rapi. Mereka terlihat begitu sangat berantusias untuk bisa membaca buku-buku tersebut, setelah itu kemudian Riki mulai membagi buku itu dengan rata.

“Terima kasih kak, terima kasih kak” itulah kata-kata yang terucap dari setiap anak
saat mendapatkan buku serta tidak lupa juga mereka mengembangkan senyuman yang
indah untuk Riki.

Selesai membagi buku, Riki terlihat asyik melihat aktifitas baru anak-anak tersebut. Mereka semua tampak riang dan bergembira saat mendapatkan buku, tidak henti-hentinya dia mendapatkan hadian senyuman dari setiap anak pantai. Senyuman yang menandakan bahwa mereka bahagia bisa membaca, karena memang disekolah mereka tidak ada perpustakaan dan nyaris tidak ada buku bacaan.

Melihat semua kejadian sekarang, Riki sudah bertekad kalau nantinya dia sudah lulus kuliah maka pertama kalinya yang dia lakukan ditempatnya adalah mendirikan sebuah Taman Baca untuk anak pantai. Dia ingin agar setiap anak pantai ditempatnya bisa belajar dengan santai saat sedang libur sekolah. Sebuah anganan yang indah, karena pasti nantinya dia akan mendapatkan lebih banyak lagi senyuman-senyuman indah dari setiap anak pantai yang membaca di Taman Bacanya.
***TAMAT***
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment