Senyuman Anak Pabtai - Nasirullah Sitam

Senyuman Anak Pabtai

Share This
Membaca buku di tepian pantai
Membaca buku di tepian pantai/dok pixabay
Pagi itu Riki sudah rapi, dipandanginya pantulan wajah dari cermin yang sudah retak. Sebentar kemudian dia mulai mengatur model rambutnya menggunakan sisir kecil. Sambil bersiul ia keluar dari kamar rumah.

Dia sudah ada janjian dengan temannya untuk mengelilingi indahnya desa di sepanjang kepulauan Karimunjawa.

“Makan dulu Rik, mumpung masih hangat.” Ucap seorang ibu yang terlihat masih agak sibuk dengan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga.

Riki tersenyum, bergegas ikut membatu ibu mengangkat piring serta gelas. Setelah sudah terlihat beres dia langsung menduduki kursi namun matanya celingak-celinguk seperti mencari seseorang.

“Bapak mana, bu? Kok jam segini udah nggak keliatan.”

“Bapakmu melaut. Katanya sih sudah lama nggak mancing."

Kali ini dia mangut-mangut, mungkin dia berpikir jika tadi bangun lebih pagi pasti sekarang sudah berada di atas sampan dengan bapak. Selama di Jogja dia berniat ingin memancing ikan, dan membakarnya di bibir pantai.

“Oya Rik, itu di ruangan depan ada beberapa kardus, sepertinya kirimun buat kamu.” Kembali ibunya memberitahu ke Riki.

“Dari mana bu!?” Tanyanya sambil mengunyah nasi goreng dengan lahap.

“Nggak tahu, kayaknya dari Jogja sama Solo.”

Bergegas diselesaikan sarapannya. Sejurus kemudian ia sudah berada di depan tumpukan kardus. Ada lima kardus besar yang masih belum terbuka. Ia mulai membuka salah satu kardus, sontak penuh semangat dia meloncat kegirangan.

“Yes!! Yes!! Akhirnya dapat kiriman koleksi buku banyak. Aku bisa buka Taman Baca.”

Dari belakang sang ibu tergopoh-gopoh, dilihat anak laki-lakinya tersebut melompat-lompat sambil tertawa layaknya anak kecil yang sedang mendapatkan hadiah baru dari orangtuanya.

“Isinya apa kardus-kardus itu, Rik?”

Riki yang mendengar ada suara di belakangnya. Sontak ia berhenti loncat dan berteriak. Ibunya sudah berdiri tegak sembari memasang mimik penasaran.

“Ini bu, buku-buku bacaan dan buku umun”

“Buat apa buku segitu banyaknya?” Sekali lagi ibunya bertanya.

“Begini bu, seminggu yang lalu kan aku main bareng teman-teman. Terus nggak sengaja aku lihat anak-anak SD pada rebutan baca satu buku dongeng sampai sobek. Jadi aku langsung telpon teman-teman di Jogja sama di Solo agar mereka mengirimkan buku bacaan yang layak baca.”

Sang ibu masih mencerna ucapan Riki, sementara dia sibuk memilih beberapa buku bacaan dan dimasukkannya ke dalam tas yang lumayan besar. Lantas keluar rumah.

“Bu, kalau Reza ke sini bilang saja keliling desanya besok.”

“Lha kok gitu? Kamu mau kemana?”

“Ke pantai!!”

Riki berlari menuju pantai yang tidak jauh dari rumahnya, dia tahu kalau setiap hari libur seperti ini anak-anak kecil pasti sedang berkumpul di pantai membantu bapaknya untuk mengurusi jaring maupun mengecat kapal. Penuh semangat tinggi, dia menyusuri jalan setapak dan agak terjal.

Sesampainya di pantai menyapu pandangan ke semua sudut tempat. Kemudian dia mulai duduk di bawah pohon Cemara yang lumayan lebat seraya mengatur nafas yang agak tidak beraturan.

“Kak Riki!! Kak Riki!!”

“Halo pada ngapain nih?”

“Ini kak main-main aja, tadi abis bantu bapak ngecat sampan.” Jawab anak kecil yang paling kecil.

Dilihatnya satu persatu setiap anak pantai, mereka terlihat sangat berbeda dengan anak-anak kota yang seumurannya, di sini mereka sudah terlatih untuk mandiri melakukan sesuatu yang seharusnya orang tua lakukan. Seperti ikut memancing, memperbaiki jaring, maupun lainnya.

“Oya, kakak punya sesuatu buat kalian semua”

“Apa kak! Apa kak!” Riuh suara anak-anak tersebut.

“Ini!!” Teriak Riki seraya mengeluarkan salah satu buku bacaan dari dalam tasnya.

“Buat aku kak!! Aku saja kak!! Bagianku mana kak!!” Bermacam-macam teriakan.

Mereka juga berusaha merebut buku yang ada di tangan Riki. Riki terlihat kewalahan untuk menahan buku tersebut.

“Oke!! Oke!!! Kalian semua pasti dapat jatah satu-satu untuk membaca. Nanti selebihnya bisa gantian.” Teriak Riki dengan tersenyum.

Mendengar teriakan Riki, serempak saja semua anak pantai tadi berjejeran dengan rapi. Mereka terlihat sangat antusias untuk bisa membaca buku, setelah itu kemudian Riki mulai membagi buku itu dengan rata.

“Terima kasih kak,” Itulah kalimat yang terucap dari mereka sembari tersenyum.

Selesai membagi buku, Riki terlihat asyik melihat aktivitas baru anak-anak tersebut. Mereka semua tampak riang dan bergembira saat mendapatkan buku, tidak henti-hentinya dia mendapatkan hadian senyuman dari setiap anak pantai.

Senyuman yang menandakan bahwa mereka bahagia bisa membaca, karena memang di sekolah mereka tidak ada perpustakaan dan nyaris tidak ada buku bacaan.

Melihat semua kejadian sekarang, Riki sudah bertekad kalau nantinya dia sudah lulus kuliah maka pertama kalinya yang dia lakukan ditempatnya adalah mendirikan sebuah Taman Baca untuk anak pantai.

Dia ingin agar setiap anak pantai ditempatnya bisa belajar dengan santai saat sedang libur sekolah. Sebuah anganan yang indah, karena pasti nantinya dia akan mendapatkan lebih banyak lagi senyuman-senyuman indah dari setiap anak pantai yang membaca di Taman Bacanya.

1 komentar:

  1. Mampir dan ninggalin jejak di posting paling awal... terima kasih artikelnya.

    BalasHapus

Pages