Memetik Buah Salak di Desa Ekowisata Pancoh, Sleman

Memetik Buah Salak di Desa Ekowisata Pancoh, Sleman
Memetik Buah Salak di Desa Ekowisata Pancoh, Sleman

Bunyi alarm terdengar nyaring, aku terbangun sesaat. Kulirik jam dinding yang terpasang di tembok. Sudah pagi rupanya, sejurus kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan berwudu. Dingin benar air di sini, seketika rasa ngantuk menghilang.

“Pagi ini kita main air nggak?”

“Nyusur sungai. Tapi sebelumnya kita ke kebun Salak dulu.”

Entah siapa yang menjawab dari arah kamar, antara Hanif atau Rifky. Pagi di Desa Ekowisata Pancoh benar-benar sejuk. Bahkan ketika berbicarapun seperti sedang mengeluarkan asap. Dipikiranku, cuaca seperti ini paling enak kembali tarik selimut.

Jika tidak ada agenda memetik buah Salak, tentu kami masih bermalas-malasan. Kami sudah janjian dengan Pak Ngatijan, beliau adalah pengelola Desa Ekowisata Pancoh. Pancoh sebenarnya Padukuhan yang berada di Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Sleman. Kami teringat kalau pagi ini harus kumpul pukul 06.00 WIB. Tanpa pikir panjang, sehabis meneguk Teh hangat dan sajian kue tradisional, aku, Hanif, dan Rifky menuju aula.
Teman-teman berjalan menuju Kebun Salah di Desa Wisata Pancoh
Teman-teman berjalan menuju Kebun Salah di Desa Wisata Pancoh

Di aula, Pak Ngatijan dan beberapa warga setempat sudah menanti kami. Lagi-lagi di sini kami disuguhi makanan tradisional. Sebelum memetik buah Salak, kami mendapatkan sedikit informasi mengenai Desa Ekowisata Pancoh.

“Awal terkenalnya Desa Ekowisata Pancoh itu setelah erupsi Merapi tahun 2012. Tapi sebelumnya kita memang sudah membentuk kawasan Pancoh ini sebagai Ekowisata Desa.”

“Oya, kami juga mempunyai tagline; Lestari Alamku, Lestari Desaku,” Tandas Pak Ngatijan.

Hawa dingin masik menyeruak ke dalam tubuh. Lokasi yang tidak jauh dari Gunung Merapi membuat desa ini menawarkan suasana nyaman kala pagi. Perjalanan dilanjutkan menuju kebun Salak milik warga setempat. Tidak jauh lokasinya dari aula, hanya menyeberangi jalan besar saja. Kabut tipis terlihat di ujung jalan, udara masih bersih.
Suasana pagi di Desa Wisata Pancoh
Suasana pagi di Desa Wisata Pancoh

Di ujung sana, terlihat Gunung Merapi nampak kokoh berkharisma. Begitu jelas puncaknya terlihat dari sini. Aku memandangnya untuk beberapa saat.

“Merapi tak pernah ingkar janji,” Gumanku sendiri.

Seorang bapak yang  tidak jauh dariku tersenyum mendengar gumananku. Beliau tentu jauh lebih paham dengan siklus Merapi.

Setiap sisi kanan dan kiri dipenuhi kebun Salak. Hampir semua pohon juga berbuah. Aku dan rombongan menyeruak ke dalam lahan kebun Salak. Di sini kami dibebaskan mau memetik dan makan sepuasnya.
Puncak Gunung Merapi Terlihat Cerah kala pagi
Puncak Gunung Merapi Terlihat Cerah kala pagi

Pemilik kebun Salak di sini perorangan. Jadi hampir di setiap samping rumah ada banyak lahan kebun Salak. Warga Desa Ekowisata Pancoh sudah mengatur secara bergantian kebun mana yang akan dipetik jika ada tamu yang berkunjung.

Aku dan teman rombongan menggali informasi mengenai perkebuhan Salak dari beberapa narasumber yang ada di sana. Diruntut dari sejarahnya, perkebunan Salak ini dimulai pada tahun 1980an. Warga setempat memilih Salak daripada Palawija karena sekali tanam dan dapat panen berkali-kali.

Ketika belum sempat berbuah, di sekeliling pohon Salak masih bisa diselingi tanaman palawija. Istilah penanaman palawija seperti Singkong atau Cabai yang ditanam di sela-sela kebun Salak adalah Tumpang Sari.
Perkebunan Salak di Desa Pancoh
Perkebunan Salak di Desa Pancoh

“Dulu harga 1 kg Salak itu harganya sama dengan 10 kg Beras mas. Sekarang 5 kg Salak baru bisa seharga 1 kg Beras.”

“Harga salak itu berapa sih pak per kilonya?”

“Tergantung jenisnya mas. Kalau Salak Pondoh itu 4 ribu, kalau Salak Madu biasanya dua kali lipatnya harga Salak Pondoh. Ya antara 7-8 ribuan per kilo.”

“Kalau yang paling mahal pak?” Tanyaku.

“Paling mahal itu Salak Gading, harganya bisa sampai 15 ribu per kilo. Itu juga bisa lebih tinggi.”

Dituturkan beliau harga Salak Gading lebih tinggi karena belum banyak yang menanamnya. Selain itu banyak informasi yang mengatakan khasiat Salak Gading cukup melimpah. Sedangkan Salak yang popular ditanam adalah Salak Pondoh. Tidak hanya di lereng Gunung Merapi saja, Salak Pondoh juga sudah banyak tanam di kawasan Banjarnegara dan daerah-daerah dataran tinggi lainnya.

Aku berkeliling melihat banyaknya pohon Salak dan siap panen. Terbayang jika semuanya panen, akan dijual ke mana semua buah Salak ini. Sesekali aku memetik buah Salak dan kumakan. Terasa beda kalau makan hasil petikan langsung dengan beli di pasar. Jauh lebih segar dan manis rasanya.
Salaknya menggoda untuk dipetik
Salaknya menggoda untuk dipetik

Proses penanaman pohon Salak bisa dengan cangkok ataupun menanam dengan biji. Jika ingin mendapatkan hasil yang memang bagus, direkomendasikan menanam Salak dari hasil cangkok. Kata bapak yang menemaniku, jika menanam dari biji biasanya buahnya nanti rasanya agak sepat. Salak yang ditanam dari biji biasanya disebut dengan nama Salak Jawa.

Lumayan lama juga proses penanaman sampai bisa panen. Rata-rata membutuhkan waktu sampai 3 tahun baru bisa panen pertama. Selama itu juga pemilik kebun Salak harus membersihkan tumbuhan liar yang ada di sekitar lahannya.

“Sedang apa itu pak?” Tanyaku penasaran.

Bapak pemilik lahan Salak seperti mencacah bunga Salak.

“Ini namanya mengawinkan mas. Bunga Salak Jantan dikawinkan ke Bunga Salak Betina,” Seraya menunjukkan bunga salak lainnya yang masih menempel.
Proses pengawinan Bunga Salak Jantan ke Bunga Salak Betina
Proses pengawinan Bunga Salak Jantan ke Bunga Salak Betina

Baru tahu akau proses perkawinan eh penyerbukan bisa dilakukan secara manual. Selesai dilakukan proses penyerbukan, kemudian ditutupi dengan daun  Pisang. Tujuannya agar tidak terkena hujan dan gagal berbuah nantinya.

Bapak tersebut berlalu dari tempat yang tadi dilakukan penyerbukan secara manual. Beliau menjawab beberapa pertanyaan teman tidak jauh dari sana. Aku melongok bagaimana bentuk bunga jantan yang tadi seperti dicacah-cacah bapak menggunakan parang.

“Jangan diintip, itu sedang kawin,” Gurau temanku dari belakang.

Sontak kami tertawa. Ada-ada saja masa mengintip bunga Salak jantan dan betina kawin. Pada tahapan pengawinan dilakukan setelah dua hari saat bunga mekar. Setelah itu kita tinggal menunggu waktu 5-6 bulan untuk memanennya.
Selesai proses pengawinan harus ditutupi dengan daun pisang agar tidak kena hujan
Selesai proses pengawinan harus ditutupi dengan daun pisang agar tidak kena hujan

“Mas/mbak, jangan sungkan-sungkan loh kalau mau metik. Masa dari tadi cuma ngobrol-ngobrol saja,” Kata Pak Ngatijan.

Kami tersenyum lebar, mungkin Pak Ngatijan lupa kalau sedari tadi kami sudah memetik dan makan buah Salak. Beruntungnya makan buah Salak pada saat pagi hari dan belum sarapan pun tidak masalah.

“Iya pak ini kami juga metik kok,” Sahut kami kompak.

Seperti sedang kuliah saja. Sehabis mendapatkan teori dan praktik, kami lanjut memetik Salak dan dimakan bersama. Ada beberapa jenis Salak yang dikenal, di antaranya Salak Jawa, Salak Pondoh, Salak Madu, dan Salak Gading.
Mbak Dwi memetik Salak di area perkebunan
Mbak Dwi memetik Salak di area perkebunan

Untuk membedakan secara fisik, Salak Madu sisinya lebih rata dan halus. Berbeda dengan Salah Pondoh yang cenderung kasar walau warnanya hampir mirip. Sementara Salak Gading warnanya agak kuning. Kalau rasa Salak Madu lebih banyak airnya dan lebih manis dibanding Salak lainnya. Sedangkan Salak Gading rasanya lebih sepat, mirip seperti Salak Jawa hanya beda warna sisiknya.

“Begini cara mengupas Salak agar jari kalian tidak tergores,” Salah seorang warga mempraktikkan.

Salak ditaruh dikedua tangannya, lalu ditekan hingga berbunyi dan kulit Salak mengelupas. Bahkan bapak itu bisa melakukannya dengan satu tangan. Aku mencoba praktik, tapi terasa sulit. Belum terbiasa mungkin. Benar juga kata bapaknya jika dikupas dengan menggunakan Ibu jari bisa menggores jari dan terluka. Tuh mending terluka di jari atau terluka di hati?
Ternyata ada caranya mengupas Salak biar nggak tergores jarinya
Ternyata ada caranya mengupas Salak biar nggak tergores jarinya

Selama pagi ini, kami (travel blogger) yang mengikuti kegiatan di kebun Salak mendapatkan banyak informasi dan pengalaman. Selain itu, kami juga sudah puas bisa makan Salak. Yang terpenting adalah kami bisa menambah saudara dengan para warga di Desa Ekowisata Pancoh. Aku percaya dari kami bersembilan, satu orang yang paling antusias saat mengunjungi kebun Salak adalah Rifky. Karena sewaktu kuliah, jurusan dia tentang kehutanan dan perkebunan.

“Ayo kita masih ada satu tempat lagi yang dikunjungi. Kalau mau basah-basahan ya bisa,” Ujar Pak Ngatijan pada kami.

Bergegas kami keluar dari perkebunan Salak, tidak lupa memetik beberapa buah Salak yang akan kami makan saat berjalan. Ucapan terima kasih pada bapak yang mempunyai lahan, duh kenapa kebiasaanku lupa mencatat nama bapak yang mempunyai lahan Salak. Intinya pagi ini kami senang bisa diajak keliling masuk ke dalam perkebunan Salak dan bisa makan Salak sepuasnya.

*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Explore Desa Wisata Jogja (Hastag #EksplorDeswitaJogja) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Yogyakarta 24 - 26 Februari 2017.

Tertarik berkunjung ke Desa Ekowisata Pancoh? Di sini tidak hanya berkegiatan memetik Salak saja. Ada banyak kegiatan outbond yang bisa dilakukan oleh siswa/mahasisawa/umum di sini. Jika tertarik mengunjungi bisa menghubungi nomor di bawah ini.

Desa Ekowisata Pancoh
Alamat: Pancoh, Girikerto, Turi Sleman
Telepon: 081-802-652-540 (Pak Ngatijan)/ 081-328-002-856 (Menuk)
Sosial Media: @Desaekowisatapancoh (Instagram)
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

33 komentar :

  1. Pancoh kan banyak kolam-kolam ikan ya? Dann masakan ikannya enak bangets :)

    oiya mas, di pancoh juga mas alid dipertemukan sama kucing. Alhamdulillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin sempat motret kolam ikannya, tapi jelek hasilnya ahahahha

      Delete
  2. Dari sini aku jadi tau kalo ternyata salak gak bs kawin sendiri. Hahaha pantes dl dipekarangan rumah ada pohon salak gak berbuah2. Kalo kata mbah ku dl salak jantan. Laaaah, ternyata krn butuh dikawinkan. Wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya dikawinkan dulu ahahahha. Kok nggak ngambil benih dari bapak sana aja ya

      Delete
  3. hahaha tadi mau nanya, "nggak ngeliat proses ngawinin salaknya mas?" eh ternyada ditunjukin beneran. aku tertarik ngeliat beginian wkwkwk.
    tapii nek aku makan salak pagi pagi bisa mules mas hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, msa mules kalau makan salak pagi-pagi? Kalau makan mangga?

      Delete
  4. Wah sya waktu di sleman Jogjakarta cuman lewat beli salak terus ga sempat masuk daerah perkebunan rasanya sperti mnyesal gitu,,
    pengen kesana lagi tapi kapan.., hiks hiks..

    ReplyDelete
  5. aku paling takut deket2 pohin salak atau salak yg baru dipetik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa bu? Kan kalau hati-hati nggak bakal kena durinya

      Delete
  6. Salak di Desa Pancoh ini manis-manis, even yang salak gading pun gak terlalu asem. Cuma aku agak takut ya lihat ke tanah banyak lubangnya, ngeri tiba-tiba ada ular T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang saja, ada pawang ular kok kemarin ahhahahah

      Delete
  7. Waduuh aku pgn cobain yg salak madu jadinya. Slama ini nemunya cm salak pondoh di jakarta.

    Kok serem ya mas cara si bapak ngupas kulit salaknya :p. Itu bukannya msh banyak duri2nya yaa. Ga takut ketusuk telapak tangannya apa? Kalo aku ya, suka gemes ama duri2 salak. Jdnya paling suka aku amplas dulu biar durinya rontok wkwkwjwk.. Malah ketagihan kadang, ngeliat duri2nya jatuh dan kulit salak jd halus :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah gitu yang benar mbak. Biar nggak mempan durinya :-D

      Delete
  8. Dulu pernah ke Dusun Pancoh, gak nyari salak sih, tapi nyari kambing...ahaha

    Aku sekarang gak begitu heboh sama salak, karena pas masih di kampungku, aku lahir dan tumbuh besar di samping kebon salak...wkkwkw
    Kalau ada yang nawarin salak terutama yang pondoh, tetep saya terima kok...wkekwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banjarnegara banyak salak juga kan mas hehehehhee. Kalaus aya lihat Salak antusias banget :-D

      Delete
  9. "Dulu harga 1 kg Salak itu harganya sama dengan 10 kg Beras mas. Sekarang 5 kg Salak baru bisa seharga 1 kg Beras"
    Aku menghabiskan 3 menit sendiri untuk membaca kalimat ini berulang-ulang, sambil menghitung2, dulu harga salak berarti mahal atau murah? Aku memang payah kalau matematika. Masalahnya, aku sekarang tidak tahu berapa harga beras di Indonesia. hahaha...wah,,, harga salak per kilo murah banget ya...

    Kakekku di Jember juga punya kebun salak tapi aku tak pernah mau memetik, takut durinya, pohonnya kan serem juga,kayak nanas raksasA :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu memang Salak cukup menjanjikan, tapi akhir-akhir ini setelah banyak tempat budidaya Salak jadi seperti ini. Semoga petani Salak dan petain lainnya tetap makmur

      Delete
  10. Ternyata pohon salak jantan pun perlu perjuangan berat dan campur tangan manusia supaya bisa membuahi si betina. Jadi nggak heran kalau manusia pun sama ya, kudu berjuang untuk cinta #lahh. Hahaha. Kalau waktu itu nggak dibujuk pindah ke sungai, mungkin salak di kebun salak Pak Ngatijan habis separo panen sebelum sempat dijual ke kota. LOL.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha, itu artinya setiap cowok harus berjuang mati-matian mas untuk memperjuangankan sesuatu haaaa

      Delete
  11. Salaknya enak banget. Mungkin karena menjadi sentra salak di Sleman, bahkan di Jawa, sedikit lebih manis daripada salak di Lumajang. Bisa jadi bibit salak di Lumajang juga ambil dari Sleman, karena di sana kebanyakan juga salak pondoh. DUlu saya mikir gimana cara panen salaknya kan pohonnya berduri gitu, hahaha. Setelah kunjungan kemarin, kita jadi tahu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhah, pertanyaanmu sama sepertis aya dulu mas. Waktu kecil bingung gimana cara panennya hahahaha

      Delete
    2. Lama tak blogwalking.. sekalinya ke Sink dapat suguhan salak...

      Salam mas! Beberapa kali pernah baca tulisanmu di Hipwee

      Huhui

      Delete
    3. Hahahaha sekarnag sudah menetap di Indonesia kah? Wah terima kasih sudah emmbaca tulisan sana di sana. Lama nggak nulis di Hipwee :-D

      Delete
  12. jangan-jangan buah salak yang biasa dibeli di Yogyakarta itu dari sini ya? Biasanya kalau ke Jogja atau prambanan itu salah satu oleh-oleh yang dibeli itu ya salak ini :) Jadi pengen metik langsung ke pohonnya deh :D pasti lebih fresh daripada beli di toko~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hampir semua buah Salak yang dijual di pasar diambil dari sana heeee.

      Delete
  13. Wuih itu harga Salak Pondoh 4rb mas perkilo. Murah banget y mas harga Salak ditempatnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, memang murah ehhehehe. Bisa makan di tempat pula :-D

      Delete
  14. waiki ana-anakku mesti seneng dijak mbolang mrene

    ReplyDelete
  15. wah saya banget salak ... hmmm jadi kepikiran beli salak ahh untuk "camilan" .. siapa tahu dapat salak dari desa pancoh ini .. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, dimakan sambil gowes juga asyik kang

      Delete
  16. Wah top mas Nasir :D Aku pernah lihate yang di daerah Wonosobo, cuma waktu enggak metik sih cuma lihat-lihat aja. Hahaha
    Mungkin kapan kapan dicoba yang di Sleman :D

    ReplyDelete