Mengenal Lebih Dekat Desa Wisata Sanankerto

Mengunjungi Desa Wisata Sanankerto
Mengunjungi Desa Wisata Sanankerto

Perjalanan panjang dari Kecamatan Poncokusumo menuju Kecamatan Turen, Malang. Mobil Espas yang kami naiki melaju sedang, bahkan kami sempat berhenti di gapura penanda Desa Wisata Poncokusumo untuk mengabadikan gambar. Sinar mentari terik, kami di dalam tetap ceria.

Salah satu hal yang membuat kami riang di dalam adalah keramaian teman-teman membicarakan bagaimana keseruan selama di desa wisata Poncokusumo. Mengeksplor banyak destinasi di sana, dan berbagi informasi berkaitan dengan homestay serta makanan di sana. Pikiran kami sama-sama membayangkan Gimbal Udang Kriuk yang biasa tersaji selama di Poncokusumo.

Di tengah perjalanan ada usulan untuk singgah sebentar di Masjid Tiban Turen yang terkenal tersebut, namun kami sepakat untuk tidak singgah. Selain karena sudah menunaikan sholat, kami juga sudah ditunggu Pokdarwis Desa Wisata Sanankerto. Tidak enak rasanya kalau membuat warga di sana menunggu.

Tiba di Desa Wisata Sanankerto, kami langsung diantar sampai Kantor Kelurahan. Aku penasaran dengan joglo yang ada di kantor kelurahan. Seluruh sudut joglo dilapisi dengan anyaman bambu. Bahkan bagian atas pun penuh dengan anyaman bambu.
Joglo di Kelurahan Desa Wisata Sanankerto dilapisi anyaman bambu
Joglo di Kelurahan Desa Wisata Sanankerto dilapisi anyaman bambu

“Unik ya mas. Anyaman bambu semua. Bahkan kayu penyanggahnya pun dilapisi anyaman bambu,”Celetukku pada Mas Halim.

Mas Halim sedari tadi terlihat asyik mengabadikan bangunan unik ini tersenyum. Dia bahkan mengatakan tentu desa ini begitu lekat dengan pohon Bambu. Kalian bisa membayangkan, identitas Bambu amat melekat di sini. Hal yang paling mudah dapat kita lihat dari bangunan pendopo kelurahan. Sekelilingnya bangunan terbuat dari Bambu, bahkan di salah satu sudut tertulis spot bertuliskan “Eko Wisata Boon Pring Sanankerto”.
Langit-langit pada Jogjo di desa wisata Sanankerto
Langit-langit pada Jogjo di desa wisata Sanankerto

Sambutan Kepala Desa Sanankerto beserta pokdarwis mengawali hari di sini. Kegiatan berlanjut makan siang bersama. Menu tak kalah menggiurkan, Telor Asin khas Sanankerto, ditambah dengan Lauk Ayam Goreng, dan Bebek. Mendadak lupa kalau tadi sempat makan di Poncokusumo.

Eko Wisata Boon Pring Sanankerto
Pada saat #EksplorDeswitaJogja, aku dan rombongan juga pernah mengunjung Desa Wisata Malangan yang menjadikan kerajinan bambu sebagai daya tarik pengunjung/wisatawan. Nyatanya di Sanankerto juga menawarkan Bambu sebagai daya tarik yang sama. Beberapa kemasannya sama, namun ada juga perbedaan di antara keduanya.

Hampir di setiap rumah yang kami lewati, di samping rumah ada banyak bekas potongan bambu. Tidak ketinggalan juga bambu-bambu panjang yang tersusun rapi di sana. Selepas makan siang, kami diantar pokdarwis berkeliling rumah-rumah dan menunjukkan potensi wisata apa yang ada di Desa Wisata Sanankerto, khususnya yang berhubungan dengan bambu.
Bambu menjadi bahan baku untuk membuat Tusuk Sate
Bambu menjadi bahan baku untuk membuat Tusuk Sate

Anyaman bambu menjadi identitas Desa Wisata Sanankerto ini bukanlah isapan jempol semata. Sejak tahun 2013, ketika itu Pak Subur (kepala desa sekarang) menjabat sebagai Kepala Desa, Desa Wisata Sanankerto bersolek. Beliau mempunyai cita-cita jika Sanankerto bisa dikenal oleh banyak wisatawan karena wisata Bambu. Salah satu destinasi unggulan adalah Boon Pring Andeman yang sempat aku tulis di artikel sebelumnya.

Kerajinan dari bambu mulai digalakkan di sini. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Kelompok Kertomulyo. Kelompok ini mulai berkarya sekitar bulan Februari 2017. Walau baru seumur jagung, hasil karyanya sudah ada banyak. Limbah bambu yang tidak digunakan mulai dijadikan sebuah karya yang menghasilkan.
Mas Kiwil sedang melakukan finishing dalam pembuatan asbak
Mas Kiwil sedang melakukan finishing dalam pembuatan asbak

Seperti yang dilakukan oleh Mas Kiwil dan teman-temannya. Mereka menyempatkan waktu luang untuk membuat sebuah karya yang terbuat dari bambu. Menurut Mas Kiwil, limbah bambu yang paling mudah dijadikan sebuah karya adalah bagian ruas bambu.

“Kalau limbah ruas bambu pendek bisa dijadikan asbak. Kalau panjang bisa dijadikan pot bunga,” Terang Mas Kiwil.

Di salah satu rumah warga mereka berkumpul. Menurut Mas Kiwil tidak ada tuntutan untuk membuat apa. Sebisa orang di sini, jika bisa berkreasi pasti dibebaskan membuatnya. Menilik hasil karya mereka, aku pun mencoba bertanya berapa harga barang-barang yang dibuat. Berikut harganya; Asbak 20K, Pot Bunga Kecil 30K, dan Sepeda Motor Kecil 25K.
Miniatur sepeda motor terbuat dari bambu
Miniatur sepeda motor terbuat dari bambu

“Ada yang sampai Rp.700.000an mas. itu Kapal Phinisi yang di dalam,” Ujar Mas Kiwil.

Mas Kiwil dan pemuda setempat ini hanya berlatih otodidak dalam memberdayakan limbah bambu. Hal ini dilakukan karena mereka setiap hari melihat ada banyak limbah bambu yang tidak diberdayakan warga. Setelah batang-batang bambu dijadikan Tusuk Sate, sisanya hanya dibakar saja.

Selama di Desa Wisata Sanankerto, kami lebih banyak diajak berjalan kaki. Lokasi dari kerajinan bambu dan menilik aktifitas warga sejalur. Jadi bisa kita datangi dengan jalan kaki saja. Puas melihat kerajinan warga, kami mengunjungi rumah-rumah warga yang sedang beraktifitas. Hampir sebagian besar kegiatan warga di sini adalah pembuat Tusuk Sate.

Membuat Tusuk Sate ada dua cara, dengan cara manual atau dengan mesin. Selama di sini kami berkesempatan melihat keduanya. Bahkan kami juga berkesempatan untuk melihat rutinitas warga setempat lainnya. Sejatinya, berlibur ke desa wisata membuat kita menjadi lebih dekat dengan warga setempat. Tidak ada sekat sedikitpun antara keduanya.

“Sepatu anggota pokdarwisnya kok seragam ya? Jangan-jangan ini di-endorse sama merek sepatu,” Ujar Mas Alid.

Lontaran candaan ditangkap dengan baik para pemandu. Sepanjang perjalanan, kami tertawa kencang. Sesekali salah satu dari pemandu menerangkan pohon apa saja yang ditanam di tepian jalan. Bahkan ketika ada Pepaya matang di depan rumah wargapun diambil, kami makan bersama-sama.

Rumah joglo kecil beralaskan tanah kami masuki. Di dalam sana seorang ibu sedang memotong kecil-kecil bambu di depannya, lalu memasukkan ke dalam alat kecil yang tertanam di ujung kursi panjang. Begitu satu ujung sudah masuk, ditariknya ujung tersebut membentuk tusuk sate. Gumpalan sisa serat bambu melingkar dan terkumpul di depannya.
Bu Jumiasih membuat Tusuk Sate dengan alat manual
Bu Jumiasih membuat Tusuk Sate dengan alat manual

Bu Jumiasih adalah salah satu warga di sini yang masih membuat tusuk sate secara manual. Kami memperhatikan seksama, di samping kanannya sudah tertumpuk ratusan tusuk sate siap pakai. Sekilas cara kerja mirip saat aku melihat pembuatan pasa’ untuk paku kapal. Namun tusuk sate ini lebih kecil. Hanya lebih besar sedikit daripada lidi.

Bukan pekerjaan yang mudah. Potongan bambu tersebut mempunyai serat yang tajam. Jika tidak berhati-hati, tentu bisa melukai jari. Suara berderit kala Bu Jumiasih menarik potongan bambunya. Satu bilah bambu itu dipotong dengan ukuran yang sama, lalu dibelah menjadi banyak. Kami tidak mempraktikkannya, karena alat hanya satu. takut malah mengganggu pekerjaan Bu Jumiasih.

Dikesempatan berikutnya, kami mengunjungi rumah Bu Sukatiah. Beliau juga membuat tusuk sate, yang membedakan adalah Bu Sukatiah sudah menggunakan mesin dalam pembuatannya. Mesin dinyalakan, ukuran mesin seperti mesin selep kelapa. Potongan bambu yang sudah dipotong secara manual dimasukkan ke corong.
Pembuatan tusuk sate menggunakan mesin
Pembuatan tusuk sate menggunakan mesin

Dalam seketika tusuk-tusuk tersebut otomatis menjadi lebih halus dan terlempar di sudut lainnya. Aku terhenyak, begitu terasa perbedaan antara manual dengan menggunakan mesin. Jika melakukan manual dibutuhkan waktu 7 detik (bagi yang sudha mahir) untuk mendapatkan satu tusuk. Menggunakan mesin setiap detik pun bisa membuat. Tinggal ada berapa banyak stok bilah bambu yang sudah terpotong kecil.

“Wow cepet banget bikin tusuk satenya,” Celetukku.

Sebagian besar warga di Desa Wisata Sanankerto adalah membuat tusuk sate. Tidak hanya di sini, sewaktu aku di Gubugklakah pun juga ada banyak tusuk sate yang dijemur di pinggir jalan. Selain kedua rumah ini, aku dan rombongan juga sempat berkunjung di teras rumag Bu Partini. Di sini beliau sedang membelah bambu menjadi kecil-kecil.

Salah satu teman kami coba membantu, bahkan aku pun turut mencoba. Dasar tangan-tangan tidak terlatih, jadi baru sebilah bambu kecil pun terasa capek. Aku malah takut teriris tajamnya bilah bambu. Kuakui, ini bukan pekerjaan mudah. Percayalah! Di sini kami juga berkesempatan masuk ke dalam rumah warga lain yang sedang membuat kerajinan besek.

Menilik pembuatan Telur Asin
Selain melihat pembuatan kerajinan bambu, sebelumnya kami terlebih dulu melihat pembuatan telur asin. Lokasinya berada di tempat kami makan siang, jadi selepas makan siang, kami langsung menuju belakang melihat cara membuat telur asin.

Telur Asin di sini hanya dijual di warga sekitar saja. Di sini kami juga berkesempatan melihat bagaimana proses pembuatan telur asin yang diasap. Setiap hari di sini sebagian warga yang bekerja membuat telur asin menghasilkan 300an telur asin dalam satu minggu. Proses pengasapannya pun cukup lama, antara 4-6 jam.
Selain kerajinan bambu, di desa wisata Sanankerto juga membuat Telur Asin
Selain kerajinan bambu, di desa wisata Sanankerto juga membuat Telur Asin

Perbedaan antara telur asin biasa dan asap itu pada rasanya. Selain itu juga pada tingkat keawetan telur. Jika telur asin biasa kuat bertahan 1 minggu, telur asin asap bisa sampai bertahan selama 20 hari. Budidaya pembuatan telur asin ini sudah berlangsung selama 3 tahun yang lalu. Jenis bebeknya adalah Cambel. Selain telur asin, di sini juga bisa memesan Ingkung Bebek.

*****

Capek juga berkeliling melihat rutinitas warga di Desa Wisata Sanankerto. Ada banyak informasi yang kami dapat, setidaknya di sini kami bisa lebih dekat dengan tiap warga. Berbincang, berjabat tangan, dan mengenalkan diri pada mereka. Kami akan menghabiskan malam di desa ini, desa yang nyaman untuk istirahat. Jauh dari keramaian, dan terdengar nyaring suara jangkrik bernyanyi.

Malam hari, kami kembali berkumpul. Berdiksusi, dan menikmati hidangan ala kadarnya. Melihat pentas tari, dan tentunya silih berganti saling berbagi pengalaman. Satu hal yang kami tekankan di sini, jangan sampai warga setempat merasa kurang percaya diri dengan jamuan, homestay, dan keramahannya.

Mengutip dari kata Mas Halim; bahwa yang kami cari bukan kamar yang bagus, kamar mandi yang modern, atau makanan yang sesuai dengan lidah kami. Kami di sini bertujuan menyatu dengan warga, tidur di kamar yang seperti sehari-hari warga gunakan untuk istirahat, dan makan sesuai menu keseharian warga.
Bukti Desa Wisata Sanankerto identik dengan bambu
Bukti Desa Wisata Sanankerto identik dengan bambu

Sanankerto adalah desa wisata yang sedang semangat-semangatnya untuk dikenal. Adanya dana dari desa membuat kepala desa, pokdarwis, dan warganya saling membahu agar menjadi lebih baik. Jujur, desa tempat lahir salah satu pemain Timnas Indonesia ini (Beni Wahyudi) sudah berhasil membuatku terpukau. Terlebih ada destinasi lainnya yang patut dibanggakan. Aku ceritakan di lain kesempatan saja, agar kalian lebih penasaran mengunjungi Desa Wisata Sanankerto; desa yang diberi kelimpahan dengan kebun bambu.
*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Explore Desa Wisata Malang (Tagar #EksplorDeswitaMalang) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Malang 14 - 17 April 2017.
Desa Wisata Sanankerto, Turen, Kab. Malang
Alamat: Jalan Kauman RT 5, Sanankerto – Turen
Telp: 0838-4882-4802 (Mas Rudi)/ 08533-167-4242 (Mas Wahyudi)
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

24 komentar :

  1. Gimbal Udang Kriuk ini maksudnya peyek udang? Yang di Bu Suri itu bukan? *duh jadi pengin buka si gimbal, haha. Boonpring ini memang persiapannya mateng banget, ya, sebagai desa wisata, apalagi sudah punya ciri khas Bambunya. Tinggal promosi dan pembenahan SDM aja mungkin agar lebih siap mendunia.

    Btw, di wajah mas kiwil ada astralnya, ups.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp bener banget hahahahah
      Uhuk yang kangen sama Ibu Suri :-D

      Delete
  2. Paragraf ketiga itu yakin 'sekapat', Om?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setelah kamu komentar, langsung kuperbaiki hahahhha

      Delete
  3. Begitu baca kriuknya gimbal udang aku jadi ngiler mas :D
    Ah pendopo joglonya khas sekali. Keren sekaligus kreatif. Nuansa bambu bahkan sudah dilekatkan pada kelurahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarang-jarang ada joglo yang dilapisi dengan anyaman bambu seperti ini mas.

      Delete
  4. Desa yang maju dengan anyaman bambu. Mantep juga nih desa wisata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget, jadi lebih keren kelihatannya

      Delete
  5. Ya ampun itu aku kok kayak kurcaci ya 😭 kebesaran tass..

    Sanankerto ini konsep bambu2nya sudah bagus, apalagi bener2 ngajak para warganya yg selama ini nganggur, lumayan dapet kerjaan dr bikin kerajinan tadi.

    Oiya semoga museum hidup yg di gagas itu segera ada dan bisa balik kesana lg deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung kamu sendiri yang bilang. Kita berharap museum itu benar terlaksana.

      Delete
  6. bikin tusuk satenya pake mesin toh. tak pikir manual wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang manual, ada juga yang pakai mesin.

      Delete
  7. Mbok ya aku diajak ke sini dong Nasi! Hokyaaaa!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hokya
      Ini aku diajak sama insan wisata hahaha

      Delete
  8. Beragam banget ya mas bambunya dimanfaatin, mulai dari tusuk sate smp miniatur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bambu menjadi bahan untuk matapencaharian warga di sini :-)

      Delete
  9. Hebat ya yang masih bikin tusuk sate secara manual. Saya bacanya aja udah khawatir kena serat bambunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, di daerah Turen ataupun Poncokusumo masih banyak warga yang membuat tusuk sate manual

      Delete
  10. Wah unik banget itu Mas miniatur motor dan asbak dibuat dari bambu. Itu dijual langsung ke Pasar atau pesanan Mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sementara miniaturnya hanya dijual disekitar. Untuk souvenir pengunjung yang singgah di desa wisata sanankerto

      Delete
  11. lha kui...bon pring dab..perlu tak surve, gon ku ki akeh e nek mung bon pring ki..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Koe kudu golek seng apik dab. Sopor eti potensi loh :-)

      Delete
  12. Hrg jual yg manual ama yg mesin utk tusuk satenya, jauh beda ga mas? Kerajinan bambunya ga mahal yaaa.. Bisa kalap kalo aku ngliat kali :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya tidak ada perbedaan harganya mbak. Kerajinan bambu murah-murah kok.

      Delete