Edukasi Etika Bersepeda Bersama Bike to Work Jogja - Nasirullah Sitam

Edukasi Etika Bersepeda Bersama Bike to Work Jogja

Share This

Pushbike untuk anak-anak bersepeda
Menjelang sore, sekumpulan anak sedang asyik mendengarkan arahan dari teman-teman Bike to Work Jogja. Sore inim rangkaian gelaran Festival Literasi Jogja mengajak komunitas Bike to Work Jogja untuk edukasi bersepeda di jalan raya. Temanya “Gowes Pintar bersama B2W Jogja”.

Aku tidak banyak terlibat dalam kegiatan edukasi bersepeda ini. Menjelang hari pelaksanaan, teman-teman B2W Jogja mengirimkan flyer terkait kegiatan edukasi tersebut di WAG. Aku lantas menghubungi koordinator secara pribadi untuk turut menyemarakkan kegiatan tersebut.

Jika kulihat dari daftar nama yang terlibat. Teman-teman yang bergabung dalam Book Bike hampir semuanya ikut. Sehingga, aku sendiri tidak asing dengan personilnya. Sabtu pagi, sedikit susunan acara terkait Gowes Pintar dibagikan. Kami bekerjasama agar kegiatan tersebut berjalan dengan lancar.
Pengenalan tentang etika bersepeda di jalan raya
Pengenalan tentang etika bersepeda di jalan raya
“Area bersepedanya nanti di sini,” terang salah satu panitia melalui WAG.

Area parkir di Perpustakaan DPAD DIY disulap menjadi area jalan raya dengan segala keterbatannya. Setidaknya, teman-teman sudah berusaha maksimal untuk menjadikan area tersebut seperti simulasi jalan raya.

Informasi dari panitia, peserta yang mengikuti kegiatan gowes pintar ini sekitar 20 anak. Dalam waktu terbatas, tentu jumlah tersebut sudah sangat banyak. Terlebih memang dibatasi agar dalam pelaksanaan lebih mudah koordinasinya.

Aku sudah di Perpustakaan DPAD DIY pukul 13.30 Wib, kusempatkan untuk mengelilingi bazar buku. Membeli beberapa eksemplar buku bacaan, kemudian menuju area simulasi bersepeda. Selepas salat asyar berjamaah, aku bersua dengan kawan-kawan yang bekerja di Perpustakaan DPAD DIY.

Kami menunggu peserta yang datang tidak bersamaan. Niatnya memang selepas asyar langsung dilaksanakan kegiatan yang sudah disusun daftarnya. Namun, karena memang belum banyak yang datang, kami hanya menyiapkan areanya dan sepeda ke titik awal kegiatan.
Anak-anak belajar tertib di lalu lintas
Anak-anak belajar tertib di lalu lintas
Begitu sebagian besar peserta sudah datang. Kegiatan langsung dilaksanakan sesuai dengan rencana awal. Sesi awal sekadar pengenalan para personil, menyapa anak-anak agar interaksinya lebih banyak. Kegiatan sederhana ini menurutku sangat seru, kami berbaur dengan anak-anak yang antusias bersepeda.

Kegiatan di mulai dengan pengenalan sepeda. Dua kawan kami membawa satu sepeda ke depan. Anak-anak sedang asyik duduk sambil melihat sepeda yang dipajang. Dua kawan kami secara bergantian mengenalkan bagian-bagian dari sepeda.

“Apa ini namanya?” tanya salah satu kawan untuk memantik interaksi anak-anak.

“Ban!!” teriak riuh anak-anak tersebut.

Keseruan berlanjut, dua kawan yang lainnya bertugas mengedukasi etika bersepeda di jalan raya. Mulai dari edukasi taat rambu-rambu lalulintas, hingga aturan bersepeda di jalan raya. Aku dan satu kawan kemudian menambahkan tentang perlengkapan sepeda.
Anak-anak melintasi jalur yang sudah dibuatkan
Anak-anak melintasi jalur yang sudah dibuatkan
Kami mengedukasi penggunaan helm, kaus tangan, hingga kacamata jika diperlukan. Semua yang kami lakukan memang bertujuan untuk mengedukasi anak-anak agar nantinya ketika bersepeda tetap melengkapi helm dan yang lainnya.

Sesi yang paling ditunggu adalah simulasi bersepeda. Area parkir sudah dikonsep layaknya jalan raya. Terdapat penyeberangan jalan, ruang tunggu sepeda, hingga rambu-rambu lalulintas yang lainnya. Dua anak kami minta untuk mencoba melintasi.

“Lampunya merah, jadi harus bagaimana?” kembali kawan bertanya.

“Berhenti!!” teriak dua anak yang bersepeda.

Simulasi berjalan dengan lancar. Anak-anak menjajal rute tersebut secara bergantian. Mereka ada yang membawa sepeda sendiri. Bagi yang tidak membawa sepeda, sudah disiapkan beberapa sepeda kecil dan pushbike oleh panitia.

Menyenangkan, semua anak antusias menjajal rute yang sudah disiapkan. Berhubung helm sepeda terbatas, tim membatasi tiap satu sesi diikuti dua atau tiga anak agar lebih nyaman. Aku dan kawan yang lain bertugas mengatur lalulintas.
Simulasi tertib di jalan raya
Simulasi tertib di jalan raya
Selesai simulasi bersepeda, agenda berlanjut dengan menggambar. Panitia dari Perpustakaan DPAD DIY sudah menyiapkan kertas gambar untuk diwarnai. Anak-anak menikmati waktu sore di area bermain terbuka sembari menggambar.

Kegiatan selesai, seluruh peserta mendapatkan bingkisan dari panitia Perpustakaan DPAD DIY. Kami sendiri senang, pada akhirnya kembali mengedukasi pesepeda, meski kali ini targetnya adalah anak-anak. Setidaknya, kegiatan ini bisa membuat anak-anak makin paham dengan aturan di jalan.

Tidak hanya mengedukasi sepeda anak kecil, agenda yang berkolaborasi dengan Perpustakaan DPAD DIY pada gelaran Festival Literasi Jogja juga menggandeng komunitas Bike to Work Jogja untuk mengikuti Gowes Literasi di hari minggu. Kami juga terlibat pada kegiatan tersebut.

Harapannya, kolaborasi ini tak berhenti di tahun 2026. Karena mengedukasi pesepeda itu butuh konsisten. Kita tahu, pesepeda kembali disorot karena maraknya bersepeda yang mengabaikan aturan di jalan. Semoga kawan-kawan pesepeda mulai tertib di jalan, di mulai dari diri sendiri. *Jogja; 11 Juli 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages