Penerbangan dari bandara Soekarno Hatta ke bandara Radin Intan II Lampung tidak lama. Rasanya, baru saja lepas landas, sudah ada informasi untuk persiapan mendarat. Aku duduk di deretan kursi C yang ada di lorong, sehingga tidak bisa melihat jendela.
Informasi dari pilot mengatakan pesawat sudah dalam posisi mendarat. Sempat kulirik jendela sisi kiri, pemandangan sawah, sungai, dan petakan sawit terlihat jelas. Sekitar pulul 14.30 Wib, pesawat Garuda yang kami naiki sudah mendarat di bandara Radin Intan II Lampung.
Perjalanan ke Lampung merupakan provinsi keempat di Sumatra yang pernah kusambangi. Sebelumnya, di tahun 2018 aku pernah berkunjung ke Padang, Kepulauan Riau (Batam), serta Bangka Belitung. Depalan tahun berselang, aku ke Lampung.
Dari Jogja, tidak ada penerbangan langsung ke Lampung. Aku harus transit di bandara Soetta lebih dari empat jam. Pukul 04.20 Wib, aku menaiki kereta bandara menuju bandara YIA. Sesampai di sana langsung salat subuh.
![]() |
| Menaiki pesawat Garuda menuju Lampung |
Penerbangan dijadwalkan pukul 06.50 Wib menuju Jakarta. Penerbangan ke Jakarta tepat waktu, kami langsung menuju ruang tunggu untuk penerbangan selanjutnya ke bandara Radin Intan II. Sesuai jadwal, penerbangan pukul sekitar pukul 13.00 Wib.
Lebih dari empat jam transit, aku manfaatkan untuk tidur di kursi. Semalam tidurku kurang nyenyak karena gusar bangun sebelum subuh. Lumayan nyenyak tidur sambil duduk di kursi, hingga waktu penerbangan sudah dekat. Aku meminta izin ke kawan untuk salat duhur.
Menariknya, sewaktu penerbangan Jogja – Jakarta, aku bertemu dengan Isyana Sarasvati dalam satu pesawat. Kulihat dari postingan di media sosialnya, Isyana baru selesai konser di salah satu tempat di Jogja. Kami berjalan beriringan menuju pintu keluar.
Panggilan penerbangan Jakarta – Lampung terdengar dari pelantang. Kami beriringan mengantre masuk pesawat. Sebelumnya, aku sempat berbincang dengan salah satu penumpang perempuan yang menyapaku sewaktu di ruang tunggu. Perempuan ini pulang dari Jepang, di sana lebih dari empat tahun.
![]() |
| Pesawat Garuda terdokumentasikan saat transit |
Di dalam pesawat, terdapat sekitar 12 turis manca. Dari obrolan yang kudengarkan, mereka merupakan wisatawan dari Australia. Sebelumnya mereka pulang dari Sumbawa, lantas melanjutkan travelling-nya ke Lampung.
Mereka merupakan wisatawan yang suka berselancar. Dari obrolan mereka, kudengar salah satu menyebutkan nama daerah Krui. Ketika kucari informasinya, Krui merupakan daerah di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung yang memang menjadi tujuan para peselancar.
Penerbangan tidak lama, rasanya lebih lama menunggu waktu lepas landas sewaktu di bandara Soekarno Hatta. Terlihat gugusan pulau dekat daratan Lampung. Namun aku tidak bisa memastikan pulau apa tersebut. Lanskap Lampung terlihat dari jendela, aku melongok dari kursi C.
Bandara Radin Intan II tak begitu besar. Mungkin seperti bandara El Tari di Kupang, atau bandara Ahmad Yani Semarang. Kami beranjak keluar menuju tempat pengambilan bagasi. Lumayan cukup lama menunggu barang-barang yang kami bawa.
![]() |
| Salat satu spot foto di Bandara Lampung |
Berbagai bawaan penumpang terlihat di bagasi. Papan-papan selancar para wisatawan manca lebih mendominasi di awal. Barang bawaan kami masih di belakang. Ketika semua barang sudah lengkap, kami tidak lupa mengabadikan diri di tulisan “Selamat Datang di Bandara Radin Intan II”.
Dari bandara, kami menuju Hotel Radisson Lampung Kedaton Bandar Lampung. Lokasinya ada di pusat Bandar Lampung. Menariknya, hotel ini terhubung dengan mall. Sepanjang perjalanan, suasana jalan dekat bandara mengingatkanku jalur di Pantura. Berbagai kendaraan besar melintas.
Salah satu yang kuingat jalanan di sini adalah Bundaran Hajimena Raja Basa Lampung. Sebuah pertigaan yang lokasinya dekat dengan terminal Rajabasa dengan gapura yang megah. Meski padat kendaraan, jarang terdengar klakson yang bunyi.
Selain itu, salah satu yang sering kulihat di Bandar Lampung adalah jembatan layang. Ada beberapa jembatan layang di Bandar Lampung dengan berbagai mural indah. Mulai dari motif bunga, hingga mural-mural wajah pahlawan nasional.
![]() |
| Suasana di ruang tunggu bandara Radin Intan Lampung |
Empat hari di Bandar Lampung dengan jadwal padat. Beberapa daftar kunjunganku sudah ada di gawai, namun aku tidak meyakini bakal terealisasikan dengan waktu kegiatan yang padat. Sehingga, selama di Bandar Lampung, aku lebih banyak jelajah kedai kopi di kala senggang.
Aku menyempatkan kuliner sambal seruit, menyambangi pantai Mutun, selebihnya lebih banyak berkutat dengan pekerjaan yang padat. Di pagi hari, aku sempat berolahraga di stadion Sumpah Pemuda Bandar Lampung yang menjadi kandang tim Bhayangkara Presisi Lampung.
Meski belum menjelajah banyak destinasi wisata di Lampung karena memang urusan pekerjaan, aku cukup menikmati waktu di sini. Sedikit hafal rute dari hotel ke Universita Lampung (Unila) yang melintasi beberapa kampus swasta, serta museum Lampung. Semoga ke depannya ada waktu berkunjung lagi ke Lampung. *Lampung; 17-20 Mei 2026.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar