Lalu-lalang wisatawan berbaur menjadi satu di sepanjang jalan Braga, Bandung. Menjelang akhir pekan, kepadatan wisatawan makin meluas. Aku bersama beberapa kawan ingin menikmati malam di Braga, melepas penat setelah seharian beraktivitas.
Klakson kendaraan, suara derapan kaki melangkah, musik dari sudut kafe, serta pengamen jalanan menyatu. Para pejalan kaki saling berpapasan di trotoar. Suasana temaram di jalan Braga semakin terlihat makin menyenangkan.
Aku mengikuti ritme kawan yang berjalan. Malam ini, kami menjadi wisatawan di Bandung. Menikmati setiap keriuhan yang ada di sepanjang jalan Braga. Menikmati malam ini dengan berjalan kaki, meski kami semua tanpa arah. Yang penting berjalan mengikuti arus.
![]() |
| Keramaian sudut Braga Bandung kala malam hari |
“Sesekali kita menjadi wisatawan,” celetukku sembari tertawa.
Kami terus menyusuri trotoar. Sesekali menghidupkan Gopro untuk merekam suasana malam hari di jalan Braga. Semacam kereta mini penuh lampu gemerlap melintas di jalanan. Wisatawan asyik duduk di dalamnya. Terlihat beberapa kawanku yang naik kereta tersebut. Kami saling tertawa begitu bertatapan.
Di keramaian pengunjung Braga, aku bersua dengan kawan satu rombongan yang sudah lebih awal pergi. Kami bertegur sapa, terus ikut foto bersama di pinggir jalan. Di Braga, ada puluhan orang yang menawarkan jasa foto di sepanjang jalan dengan harga murah.
Selesai foto bareng, kami duduk santai. Hampir selang beberapa menit, silih berganti pengamen yang datang. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini kurang nyaman. Beberapa kami beri uang kecil, selebihnya kami menolak dengan halus. Mereka pun berlalu, mendekati pengunjung yang lainnya.
![]() |
| Plang tulisan jalan Braga menjadi spot foto |
Jalan Braga benar-benar meriah. Berbagai sudut dipenuhi rombongan muda-mudi. Berbagai komunitas duduk santai menikmati malam menjelang akhir pekan. Suara-suara musik saling bersahutan. Semeriah ini ternyata jalan Braga.
Aku sedari awal memang membawa kamera, sengaja menggunakan lensa fix untuk sekadar memotret keseruan malam hari. Plang tulisan jalan Braga pun tak lupa kuabadikan. Beberapa bangunan peninggalan Belanda juga terabadikan.
Salah satu yang menarik perhatianku selain bangunan peninggalan Belanda adalah lalu-lalang pesepeda yang melintas sepanjang jalan Braga. Sejak kami dari hotel menuju jalan Braga, kami bertemu dengan berbagai rombongan sepeda yang menikmati waktu malam.
![]() |
| Bertemu dengan pesepeda peserta Critical Mass Bandung |
Aku baru ingat, kunjunganku ke Bandung ini adalah akhir pekan. Selain itu, waktunya juga bersamaan dengan akhir bulan. Di Bandung, ada aktivitas bersepeda bersama yang lebih dikenal dengan sebutan Critical Mass Bandung. Sebuah gelaran bulanan yang dilakukan berbagai kelompok pesepeda di kota tersebut.
Hal ini sama dengan di Jogja yang dikenal dengan sebutan Jogja Last Friday Ride (JLFR). Aku sendiri pernah ikut bersepeda bareng di tahun 2013. Kegiatan ini hampir serempak di berbagai kota. Tidak hanya di kota besar, beberapa kabupaten pun melakukan kegiatan yang serupa.
Pesepeda sudah selesai bersepeda bareng di kegiatan Critical Mass Bandung. Rombongan besar tersebar menuju tujuan masing-masing. Ada yang masih asyik melintasi jalanan kota, berbaur dengan kendaraan bermesin. Ada juga yang mungkin perjalanan pulang.
Meski begitu, sesekali tampak rombongan sejumlah tiga atau empat pesepeda yang melintas di jalan Braga. Rata-rata yang bersepeda adalah remaja SMP ataupun SMA. Mereka masih menikmati malam ini dengan berkeliling naik sepeda.
![]() |
| Spot foto di JPO Asia Afrika Bandung |
Kami putuskan untuk pulang ke hotel. Rute jalanan melewati Gapura JPO Asia Afrika. Pada JPO ini terkenal dengan tulisan “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. Kalimat singkat, namun menyenangkan.
Di sini, aku bertemu dengan dua rombongan pesepeda yang berbeda. Satu rombongan menggunakan roadbike, lengkap dengan helm, jersey, senter, dan sepatu cleat. Aku sempat menyapa salah satu dari mereka ketika hendak mengabadikan di spot tulisan tersebut.
“Kami dari Jakarta, ini baru sampai di Bandung,” terang salah satu pesepeda.
Awalnya, kukira mereka adalah rombongan yang ikut meramaikan Critical Mass di Bandung. Ternyata tebakanku salah. Ketiga pesepeda ini bersepeda dari Jakarta ke Bandung. Sementara rombongan lainnya yang menggunakan sepeda single speed ini yang ikut acara bersepeda di tiap jumat akhir bulan.
![]() |
| Coretan Long Live Cyclist di sudut bangunan |
Jarak jalan Braga menuju hotel tidak jauh. Kami sengaja memutari jalan utama. Keramaian masih hingga jalan Jenderal Sudirman. Termasuk melintasi JPO Asia Afrika yang spotnya banyak diminati wisatawan untuk sekadar berfoto dengan tulisan tersebut.
Perjalanan pulang memang tidak lama. Kami berhenti sejenak di salah satu minimarket yang ada di sepanjang jalan Jenderal Sudirman. Di seberangnya, tertera coretan vandal bertuliskan “Longlive Cyclist”. Aku mengabadikannya dan mengunggah di media sosial.
Ternyata, tulisan ini sudah ada cukup lama. Salah satu warganet di media sosial Threads menginformasikan bahwa sejak bulan april ternyata sudah ada coretan tersebut. Tidak tahu siapa yang mencoret di area tersebut.
Tak lama kemudian, kami sampai di hotel. Kami tidak langsung tidur, malah asyik berbincang di kursi yang ada di area hotel. Hotel ini berdampingan langsung dengan kedai kopi. Meski kedainya tutup, kami memanfaatkan meja dan kursi permanen di luar untuk berbincang hingga larut. *Bandung; 28 Agustus 2026.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar