Aturan Sepakbola Kami: Sebuah cerita saat masih kecil

Bermain sepakbola dikebun Kelapa
Bermain sepakbola dikebun Kelapa (ils: sumber gambar)
Waktu aku masih SD, aku bersama teman-teman senang banget mengisi liburan itu dengan bermain sepakbola. Kali ini tim kami akan melawan kampung sebelah, jadi tim kami rutin banget latihan bola dilapangan. Walau tanpa ada pelatih pun, kami tetap semangat latihan bola sendirian. Pokoknya semua metode bermain kayak apapun udah kami libas menunya. Duh nggak tahu pakai metodenya siapa ya?

Berhubung tim kampung sebelah sering asal buang bola saat bertanding, aku membuat perjanjian sebelum pertandingan dimulai. Keren banget deh, tanpa harus menunggu mandat dari PSSI, AFC, ataupun FIFA aku dan teman-temanku bikin peraturan sepakbola sendiri. Ngeri kan? Masih kecil aja kami udah punya aturan sendiri dalam bermain sepakbola.

Aku adalah salah satu pemain yang agak lihai nggocek bola diantara teman-temanku (pada saat itu), sehingga teman-teman kampungku percaya sama aturanku. Hebatnya lagi tim kampung sebelahpun manggut-manggut, antara paham dengan puyeng mendengar aturanku yang aneh. Kalian juga pasti puyeng kalau mendengar aturan dari ideku saat itu.

“Aturan mainnya gampang, kalau sampai dalam pertandingan bola keluar 3x berturut-turut maka pihak lawan mendapatkan tendangan pojok,” Kataku saat itu.

Semua temanku dan tim kampung sebelah mangut-mangut lagi. Mereka sudah seperti mendengarkan aturan dari orang yang benar-benar paham dalam dunia sepakbola.

“Kalau sampai tendangan pojoknya 3x berturut-turut, itu artinya tim lawan mendapatkan pinalti. Dan permainan ini waktunya 30 menit, nanti jamnya (jam dinding musholla yang sempat kami bawa, ini karena kami tidak punya jam tangan) dibawah teman yang tidak bermain, biar mereka yang menghitung waktunya.” Tambahku dengan tegas.

Kembali mereka mangut-mangut tanda setuju. Aku heran saat itu kok pinter banget ya bikin aturan aneh kayak gitu. Sampai sekarang pun aku bingung, entah darimana asalnya peraturan yang sempat aku cetuskan tersebut. Padahal dulu aku dan teman-teman sebaya nggak pernah nonton bola di TV, kan nggak punya TV waktu kecil.

Pertandinganpun dilaksanakan dikandang lawan, kali ini lapangannya adalah sebuah kebun yang ditengah-tengahnya ada banyak pohon kelapa. Nggak kayak lapangan kami yang bener-bener lapangan bola. Ini sih kebun orang yang dibersihkan dan dibikin menjadi lapangan bola darurat.

Alhasil aku dan timku dapat menang telak saat itu. Kami bisa menang 7:2 padahal kami main dikandang lawan. Tanpa penonton, tanpa wasit, dan pakai aturan sendiri akhirnya timku menang. Oya 3 dari 7 gol tersebut kami dapatkan dari pinalti. Bukan karena ada pelanggaran, tapi karena pihak lawan melanggar aturan dengan membuang bola sebanyak 9x berturut-turut saat tendangan pojok.

Keren kan saat kecilku? Kalau sekarang disuruh main bola sih kayaknya sudah nggak kuat lagi. Jadi kangen masa anak-anak kayak dulu lagi. Pantang pulang kerumah sebelum mendengar Adzan Magrib, dan yang pasti tiap hari dapat omelan dari ibu. Ya itu sih masa anak-anak kami, kalau masa sekarang kayak apa ya? 
Baca juga postingan yang lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment