Menatap Merapi Dari Atas Tebing Breksi Jogja

“Mas, ikuti saja jalan ini. Selesai tanjakan nanti ada pertigaan kecil, ambil kanan sampai mentok ketemu pertigaan besar jalan aspal. Nanti ambil kiri yang nanjak, dari sana Tebing Breksi dan Candi Ijo sudah dekat,” Begitulah keterangan warga setempat yang sedang mancing di Sendang tempat pemandian Sapi.
Tebing Breksi Prambanan, Yogyakarta
Tebing Breksi Prambanan, Yogyakarta
Aku ucapkan terima kasih dan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pagi ini. Jalan yang kuambil adalah jalan alternatif menuju Candi Ijo, jalan ini dilalui dari Candi Barong. Cukup menyenangkan sebenarnya, walau sebagian besar masih cor dan sebagian lagi rusak (bebatuan). Sesampai jalan aspal, benar kata teman yang tadi di Candi Barong kalau rutenya menanjak. Tapi aku menikmati tanjakan ini, kurasa masih sanggup mengayuh, masih kejam tanjakan yang menuju kawasan perbukitan Menoreh. Kaki terus mengayuh pedal, gir sudah mentok ambil paling kecil; lambat namun pasti laju sepeda pun konsisten. Tak berapa lama, aku sampai juga di jalan masuk ke Tebing Breksi.

Truk-truk bergantian keluar-masuk area Tebing Breksi, aku hanya berhenti di tepi jalan. Kuambil air mineral dan meneguknya, rasa dahaga sejenak hilang. Jalan sedikit berdebu, tebing di depanku menjulang tinggi. Guratan-guratan alat berat mengikis tiap tebing membentuk lekukan berpola. Sementara itu di depannya sudah ada lingkaran semacam panggung berbentuk setengah lingkaran. Akan tampak bagus jika dilihat dari atas tebing. Jalanan tanah agak lebar membawaku sampai di dekat tebing. Tebing Breksi, tebing yang berlokasi di desa Sambirejo, Prambanan ini mulai dikelola oleh pemerintah dijadikan Geo Heritage. Pernah sekali ada event yang diadakan di sini tahun 2015.

Kutuntun sepeda menuju dekat tebing, memotretnya sebentar dan memarkirkan lagi di tepian jalan. Sebuah tulisan “Kendaraan Dilarang Masuk” membuatku harus menghormati aturan tersebut. Aku melihat orang-orang pekerja sibuk dengan aktifitasnya. Hanya menoleh sekali ke arahku, dan kemudian bekerja lagi. Mereka tentu sudah sering melihat pesepeda yang berfoto ria di depan tebing ini. Dentuman kencang terdengar, benturan alat berat, Palu, dan sebagainya terdengar saling bersahutan. Alat-alat berat itu mereka gunakan untuk mengikis salah satu sisi tebing.

“Boleh motret di sini, mas?” Tanyaku pada sekelompok pekerja yang duduk melepas lelah di salah satu ujung.

“Silakan mas, sepedanya juga nggak apa-apa kok taruh di sini. Daripada di sana kepanasan,” Jawab bapak yang lebih tua.

“Wah aku kira nggak boleh pak, itu ada tulisan larangannya,” Balasku seraya menyalami satu-persatu.

“Wooh itu tulisan biar nggak asal parkir mas, kan banyak kendaraan keluar-masuk.”

Aku berbincang santai dengan pekerja yang di sini. Tempat yang mereka bongkar nantinya akan dibuat tangga ke belakang. Jadi semacam tangga istana yang megah. Benar saja; beberapa waktu lalu tangga itu sudah jadi, dan sangat indah tempatnya. Aku tertarik mengabadikan gambar yang ada di tebing. Dua gambar tokoh pewayangan tampak saling berhadapan. Sayangnya aku tidak tahu itu tokoh siapa namanya. Ya, walau aku terlahir di Jawa dan mengikuti budaya Jawa (notabenenya aku suku Bugis), mengenal cerita dan masa kecil pernah melihat pertunjukan Wayang, tapi aku tak bisa membedakan mana Gatotkaca, Werkudara, atau bahkan Arjuna, dan lainnya. Tak hanya sosok pewayangan, di depan tadi juga ada gambar orang memegangi alat pembelah batu. Entah ini buatan siapa.
Gambar-gambar yang ada di Tebing Breksi
Gambar-gambar yang ada di Tebing Breksi
Gambar-gambar yang ada di Tebing Breksi
“Boleh saya naik ke atas, pak?” Tanyaku pada para pekerja.

“Boleh mas, lewat belakang sana.”

Kulewati para pekerja yang sibuk memecah bongkahan batu menuju belakang. Di belakang ternyata juga ada banyak pekerja yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Dari sini untuk menuju atas Tebing Breksi disediakan tuas tali untuk naik. Jalan setapak tepat di tepian yang agak landai. Aku memegang tali dan mulai naik ke atas. Di atas Tebing Breksi cukup rimbun sebenarnya, rumput-rumput liar masih subur. Di paling ujung terdapat tiang dan Bendera Sang Merah Putih. Bentangan tali mengelilingi tiap ujung tebing, tali ini sebagai pembatas agar orang tak melewati garis. Dari sini aku melihat ke bawah, sebuah panggung kecil hampir dikelilingi bangku permanen panjang terlihat dari atas. Indah bukan?
Panggung di Tebing Breksi terlihat dari atas
Panggung di Tebing Breksi terlihat dari atas
Kupandang lepas ke arah utara, di sana tampak gagah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Aku baru sadar jika dari sini bisa melihat indahnya pemandangan di Jogja. Aku tersenyum sendiri melihat hijaunya pepohonan, dan merasakan sepoinya angin. Tak seperti di bawah yang terasa panas. Di atas Tebing Breksi cukup sepoi-sepoi. Terlebih ada beberapa pohon yang lumayan membuat tempat ini menjadi lebih teduh.

“Hari yang cerah!!”
Pemandangan dari atas Tebing Breksi
Pemandangan dari atas Tebing Breksi
Ada yang menarik untuk kupandangi berlama-lama aku di sini. Ini bukan melihat gagahnya dua gunung yang ada di utara, tapi melihat lainnya. Hamparan rumput hijau di atas Tebing Breksi membuatku terpana pada Kupu-kupu. Ya, tumbuhan liar di sini menyebabkan ada puluhan Kupu-kupu yang berterbangan di dekatku. Aku tak ingin menangkapnya, hanya ingin bermain-main saja. Sesuatu yang menurutku spesial sekali; di sini aku bisa melihat puluhan Kupu-kupu hilir-mudik berterbangan tanpa merasa terusik olehku.
Ada banyak Kupu-kupu di sini
Ada banyak Kupu-kupu di sini
Bunga-bunga dari tumbuhan liar ini membuat Kupu-kupu banyak yang datang. Seperti anak kecil yang kegirangan. Aku berlarian seakan-akan ingin menyergap rombongan Kupu-kupu, lalu mereka berterbangan. Aku menertawakan kekonyolanku sendiri dan menyaksikan bagaimana Kupu-kupu itu berterbangan ingin menyelamatkan diri. Padahal, aku tak ada niat ingin menangkapnya, namun dia tetap terusik tingkahku.

Aku duduk di dekat salah satu tumbuhan kecil yang berbunga berwarna ungu, sengaja bersabar menunggu Kupu-kupu hinggap. Tak perlu waktu lama, banyak Kupu-kupu yang hinggap, aku bergegas mengabadikannya. Walau hanya menggunakan lensa biasa; Mirroless Nikon 1 J3 yang kupegang cukup bagus juga hasilnya. Tak hanya itu, aku juga sempat mengabadikan Kupu-kupu yang menyerap sari di bunga lainnya.
Hai Kupu-kupu
Hai Kupu-kupu
Hai Kupu-kupu
Puas rasanya mengabadikan banyak Kupu-kupu, aku bergegas meninggalkan atas Tebing Breksi. Melewati jalan tadi, aku sampai juga di bawah. Tak lupa kuabadikan sepeda tepat di depan tebing. Hanya sebagai tanda kalau aku sudah bersepeda ke sini. Mentari cukup panas, memang hari ini sangat cerah. Padahal jam tangan masih menujukkan pukul 09.20WIB. Jadi aku harus bergegas meninggalkan Tebing Breksi menuju tempat selanjutnya yang katanya tinggal beberapa ratus meter saja (jalannya nanjak) dari Tebing Breksi. Tujuan selanjutnya adalah Candi Ijo, candi yang lokasinya berada di perbukitan dan termasuk candi tertinggi di Jogja.
Sepeda kesayangan Monarch 1
Sepeda kesayangan Monarch 1
Seraya terus mengayuh pedal sepeda, aku masih tak menyangka dapat melihat puluhan Kupu-kupu di atas Tebing Breksi. Sebuah kejutan tersendiri bagiku, bisa melihat banyak Kupu-kupu di Jogja. Amat sangat jarang kutemui tempat di Jogja yang ada banyak Kupu-kupunya. Namun, aku agak gusar; jika seandainya pembangunan Tebing Breksi itu juga sampai atas, ke mana Kupu-kupu itu akan berterbangan dan berpindah tempat? *Bersepeda menuju Tebing Breksi pada hari Minggu; 14 Februari 2016.
Baca juga tulisan bertema alam lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

26 komentar :

  1. Mas sitam ki lagi piyee ngono, menyergap kupu-kupu senyum" sendiri, memandangi pemandangan senyum" sendiri, sajak e lagi jatuh cinta?wkwk
    Tebing breksinya sepiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wooo namanya juga menikmati, emangnya situ ya dibribik mas-mas admin seantero Jogja :-D

      Delete
  2. tempat ini makin cantik aja yah mas...

    ReplyDelete
  3. Sitam ketularan mbak Dwi ya? Hahaha... Tebing Breksi ini masih aktif ditambang, tapi gambar-gambarnya menunjukkan tempatnya terlihat rapi ketimbang Brown Canyon yang hits di Semarang itu. Ahh dulu gagal mlipir ke sana karena ragu jalannya dari Candi Barong hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahah, kadang Kupu-kupu itu bikin kita bisa menjadi agak melow mas hahahahhah

      Delete
  4. beberapa waktu lalu ikut event breksinergi ngga mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara langsung ke sana tidak, mas. Tapi waktua cara tanam pohon kami teman-teman sepeda ada agenda iuran lalu hasilnya diberikan pada pihak sana untuk membayar bibit pohon yang akan ditanam :-)

      Delete
  5. wih mantep itu tebing breksi. asik buat diajak foto-foto buat diunggah ke social media...

    ReplyDelete
  6. wih,, kupu2nya cantik banget, heheh

    ReplyDelete
  7. saya juga suka sepedaan, dan rejeki yang sangat mahal adalah melihat pemandangan yang bagus sekali kayak di merapi ini, Subhanallah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepedaan membuat kita makin bisa menikmati alam hhehheheh

      Delete
  8. dari dulu yaa, aku slalu seneng bgt kalo bisa ngeliat gunung, walo dari jauh :).. merasa kita jd keciiil banget di hadapan Pencipta.. betahlah mas pokoknya lama2, walo hanya ngeliatin gunung gini, apalagi dr tebing ya :) .Pemandangannya yakin cakep banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, tiap liat pemandangan pasti bakalan mengabadikan dan berdecak kagum. Itu cara kita menikmati alam ciptaanNYA :-)

      Delete
  9. Tebing bebatuannya keren, Mas hehe, foto kupu kupu nya juga kece wkwkw

    ReplyDelete
  10. Waah kupu-kupu siang banyak ditemukan di Tebing Breksi.. klo kupu-kupu malam gimana mas? wkwkw

    tempat yang menarik, yg kreatif mengubah bekas pertambangan.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kupu-kupu malam udah aku sembunyikan, mas hahahhahaha. Sekarang malah ada tangganya di sana :-D

      Delete
  11. malah belum sempet kesini mas :(
    duh padahal apik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dolanmu kadoan mas, nganti seng cedak rung sempat diparani :-D

      Delete