Kesampaian juga Bersepeda ke Candi Ijo

Kaki mulai letih namun harus terus mengayuh. Jalanan sedari tadi hanya tanjakan saja. Walau tak ekstirm, tapi kurasa tak ada datarnya. Sesekali juga harus memilih jalan agar tak terkena lubang di tengah jalan. Sebentar lagi aku sampai di Candi Ijo. Candi yang terletak pada ketinggian 400MDPL. Benar- benar menguras tenaga, tak berapa lama pun sudah terlihat tempat parkir sepeda motor. Aku terus mengayuh sampai mendekati area candi. Perasaan jaraknya tidak jauh, tapi kok dari tadi kukayuh sepeda tidak sampai-sampai. Tepat di dekat pertigaan belok kiri, aku bertegur sapa dengan warga setempat yang menuntun Sapi. Bisa jadi beliau habis memandikan sapi di Sendang yang tadi aku lihat.

Benar saja, jarak Tebing Breksi memang tak jauh dari Candi Ijo. Hanya saja jalanannya menanjak tak ada habisnya. Nafas mulai terengah-engah, aku mengatur ritme kayuhan agar tak terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Cukup pelan namun pasti. Jika sempat kaki ini menginjak tanah, tentu hal yang ada dalam pikiran adalah langsung menuntunnya. Aku berharap kali ini tak menuntun, bisa jadi ini adalah egois; tapi aku paham seberapa capeknya bersepeda ketika sabtu kemarin baru balik dari Jepara. Kuparkirkan sepeda di salah satu tempat parkir terdekat, lantas melangkah menuju area candi. Terpampang papan nama “Candi Ijo” terbuat dari papan yang sudah agak usang. Sementara di bawahnya juga tulisan “Selamat Datang”. Candi Ijo terletak di Groyokan, Sambirejo, Prambanan, Sleman. Candi yang letaknya paling tinggi di Jogja.
Candi Ijo kala siang hari
Candi Ijo kala siang hari
Masih antara tak percaya, akhirnya aku sampai juga ke Candi Ijo. Aku sudah lama merencanakan ingin bersepeda menuju Candi Ijo, namun acapkali gagal dengan berbagai alasan. Tentu “malas” menjadi alasan paling klasik jika ingin bersepeda ke sini. Terlebih banyak teman-teman pesepeda yang mengatakan jika tanjakan menuju Candi Ijo itu kejam. Bayanganku pun mengerucut waktu aku bersepeda ke beberapa tempat yang tinggi, tentu banyak waktu yang kuhabiskan dengan menuntun sepeda.
“Tulis nama dibuku tamu ya mas?” Pinta petugas dari balik jendela.

Aku menulis seperti yang ada di Candi Barong, lalu menapaki jalan menuju pelataran candi yang terhampar rumput hijau. Di setiap sudut candi sudah ramai, bahkan ada sepasang muda-mudi yang melakukan foto pre wedding. Kuamati kedua potografer yang sibuk membidik dua sejoli, sepertinya aku kenal. Benar saja, salah satu dari mereka adalah Om Siroj; beliau kukenal waktu kami sepedaan bareng ke Candi Borobudur. Kami bertegur sapa sejenak, selanjutnya meninggalkan beliau untuk kembali bertugas. Sementara aku asyik mengamati pemandangan dari atas ketinggian.

Siang cukup terik, kaosku sudah basah kuyup oleh keringat. Aku berjalan mengelilingin area candi, tiap sudut yang tak terkena terik sudah diduduki pengunjung lain. Tak kutemukan sesama pesepeda ke sini, sehingga kau hanya duduk diam di salah satu sudut candi. tak banyak yang aku lakukan di sini, aku tak mengitari tiap seluk-beluk candi; apalagi sampai masuk ke dalam bangunan yang paling besar.
Masih di salah satu sudut Candi ijo
Masih di salah satu sudut Candi ijo
Masih di salah satu sudut Candi Ijo
Candi Ijo terdapat empat banguan, tiga di antaranya bangunan kecil dan satu yang paling besar. Menurut banyak literatur, Candi Ijo dibangun pada abad ke 9. Aku mengambil gambar dari sudut yang sama. Kemudian kupasang tripod dan mengeluarkan Mirroless Nikon1 J3, aku abadikan diriku tepat di pelataran candi.

“Sepedaan ke sini, mas?” Tanya dua cewek yang ada didekatku seraya memegang tongsis.

“Iya mbak,” Jawabku.

Kami ngobrol santai tepat di tepian candi yang letaknya berada diketinggian. Tak hanya kami saja, banyak pengunjung lain yang juga duduk santai serambi menatap lepas ke depan. Dari sini terlihat jelas landasan pacu Bandara Adi Sucipto, dan dari sini aku beberapa kali menyaksikan pesawat yang sedang Take Off. Terlihat sangat jelas sekali. Sementara di bagian lainnya perbukitan nan hijau terbentang di segala penjuru.

Siang hari memang tak seindah menjelang senja. Jika senja, pemandangan di sini tentu sangat indah. Tapi bukan berarti siang tak bisa melihat keindahan alam. Banyak pengunjung yang bersantai, berkumpul dengan teman-teman seraya mengabadikan diri bersama. Aku tertuju pada dua perempuan berjilbab di dekatku. Mereka terlihat asyik berbincang. Sesekali mereka mengabadikan diri bersama dengan latar belakang candi. Aku bergegas mengabadikannya. Entahlah, aku rasa ini cukup bagus.
Mereka yang di area Candi Ijo
Mereka yang di area Candi Ijo
Mereka yang di area Candi Ijo
“Masnya wartawan?” Celetuk cewek yang berkaos ungu melihatku memotret dengan kamera yang kubawa.

“Nggak mbak. Hanya menyempatkan diri berlibur akhir pekan,” Jawabku cepat.

Obrolan kami pun terhenti, mereka meminta ijin mengelilingi candi; sementara aku masih duduk di tepian sudut candi seraya mengatur nafas. Tanjakan jalan ke Candi Ijo memang menguras tenaga, terlebih bersepeda hanya sendirian. Namun, rasa lelah itu pun terbayar dengan pemandangan dari atas sini. Suasana sejuk pun terasa, angin sedikit berhembus membuat keringat cepat hilang. Aku masih terpaku; sama halnya dengan para pengunjung yang duduk sederetan denganku. Kami sama-sama menikmati suasana nyaman ini. Duduk santai seraya menatap jauh landasan pacu di bawah sana.

Puas rasanya berlama-lama di candi, aku bergegas melangkah meninggalkan Candi Ijo. Berjalan menuju parkiran sepeda, dan mengambil sepeda. Kusodorkan uang Rp.2000 pada penjaga parkiran. Lalu menikmati turunan sampai ke jalan besar. Jalanan menurun malah harus waspada, karena lengah sedikit resikonya besar. Tepat di tanjakan antara Candi Ijo – Tebing Breksi kulihat tiga bapak-bapak menuntun sepeda ke atas.

“Masih jauh, mas?” Tanya beliau terengah-engah.

“Tinggal 200 meter lagi, pak. Semangat!!” Teriakku seraya berlalu.

Jalan aspal berubah menjadi cor semen. Ini jalan utamanya; berbeda dengan jalan yang kulalui tadi dari arah Candi Barong. Dari sini aku paham, ternyata jalan utama tanjakannya lebih kejam daripada dari arah Candi Barong. Beruntunglah aku tadi tidak lewat sini. Setengah melewati turunan, cuaca berbalik mendung dan malah gerimis. Aku berteduh sejenak di bawah pohon, memasukkan kamera ke dalam tas dan kubalut dengan plastik. Setelah semua aman, aku kembali mengayuh pedal ke arah jalan Solo. Usai sudah keinginan bersepeda ke Candi Ijo; kali ini yang belum kukunjungi bersepeda adalah Candi Ratu Boko. Aku mengadendakan setidaknya tahun ini bisa ke sana bersepeda. Selain itu juga berharap ada waktu menantikan senja di candi-candi ini; Candi Barong, Candi Ijo, bahkan di Candi Ratu Boko. Semoga ada waktunya. *Bersepeda ke Candi Ijo pada hari Minggu; 14 Februari 2016.
Baca juga tulisan terkait wisata budaya lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

36 komentar :

  1. Menjambangi Candi Ijo dengan sepeda ibarat sekali Mendayung Dua pulau terlampaui, ya Mas. Sehatnya dapet wisatanya juga dapat. Jadinya terawat. Senang sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee iya mbak Evi. Walau terasa capek tapi tetap bisa jaga kebugaran hehehhehe

      Delete
  2. Loh kok endingnya nggak tukeran nomer telepon ama mbak bertongsis? Pembaca kuciwa nihh Hahaha... Udah lama nih nggak ke Candi Ijo, bolehlah next hunting ke sana lagi eh tapi motoran aja >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeeeee, karena yang seperti ini jarang terduga mas :-D
      Kalo ke sini sekalian sore mas, biar dapat sunset juga :-D

      Delete
    2. Harusnya diaudisi sekalian itu Mba-Mba pake tongsisnya Mas..hehehe

      Delete
    3. Hahahhaa, nanti niatnya sudah tidak sama dengan waktu kali niat ingin ke sini :-D

      Delete
  3. Nyepeda ke Candi Ijo mas? Ga kebayang. Kalau aku udah pasti cuma jadi tuntuner deh. hehehe. Salut atas perjuangannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena nuntun itu juga bagian dari seninya pesepeda; nggaka da yang ngelarang untuk nuntun mas ehhehehhehe

      Delete
  4. Bisa bayangin bakal ngos-ngosan kalau naik sepedah kesini. Kalau senja pasti lebih menarik lagi ya mas suasananya. Bisa menikmati kota lanskep kota jogja dari ketinggian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pokoknya lutut ini rasanya pengen protes hahahahaha. Emang kalo senja sangat menggoda ke sini, mas :-D

      Delete
  5. mantap, petualan sejati naik sepeda ke candi. gara-gara naik sepeda, jadi diajak ngobrol sama cewek2 itu kan..

    ReplyDelete
  6. Candi abang, candi ijo, candi sambisari, candi kalasan, candi gebang, belum pernah semuaa
    Ikut yang ke candi boko mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dilarang keras ikut kalau pantang pulang malam hahahahahaha

      Delete
  7. Wahh kalau sepedaan di Jogja lebih Asik kali ya, soalnya banyak wisata yang bisa di jadikan target gowes... tidak kaya di Jakartaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di Jakarta bisa nyusur kawasan yang masih hijau kayak taman kota dll, mas :-D

      Delete
    2. Di Jakarta taman kota juga sudah tercemar gan hahaha

      Delete
  8. Kalau saya ditanya sama Cewek, Mas wartawan ya ?..pasti kujawab kalo iya kenapa kalo ngga kenapa..hahaha..bagusan mana view disini sama di Sepot Riyadi Mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhaha, mending jujur biar nggak aneh-aneh pertanyaaannya. Kalo spot riyadi kita lansekap ke candi dan dua gunung. Kalo di sini bandara dan sunsetnya dapat indah.

      Delete
  9. Aku kira candinya cuma 1 satu mas :D

    ReplyDelete
  10. asyikkk foto2 cewe :D
    dapat nomornya ga mas sitam ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak minta, kang. Hhahahhhhaa; takut kalo minta, nanti dikira modus hahahahha

      Delete
  11. Pemandangan alam-nya cewek ya :D

    ReplyDelete
  12. hebaaat, aku yg baca aja kebayang capeknya :D. jd inget pas ke mae fah luang garden di chiang rai, kita kesana itu aja naik motor, udh nanjak curam banget.. eh trs ketemu ama pesepeda yg naik ke atas.. lgs bengong, motor aja ngos2an :D.. salut aku ama yg kuat bersepeda gini...

    cakep candinya mas... ;) ga rugilah ya capek2 kesana kalo bisa liat yg begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahhaha, lumayan capek mbak beneran deh :-D

      Delete
  13. Maaaasss, naik motor aja pantat rasanya tempos. Gimana sepedaaaan kesanaa huah.
    Mengingat betis sudah segede gaban ini, jadi gak bisa sepedaaaan ke candi ijo. Padahal mah males ngos - ngosan hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhaha, justru kalau sepedaan malah nggak kerasa capeknya *ngapusi :-D

      Sesekali kudu dicoba loh sepedaan, siapa tahu kecanduan ahahahhah

      Delete
  14. Aduh, jadi kepengen gowes ke candi juga, di daerah saya adanya pure hehe

    ReplyDelete
  15. dari kemaren2 rencana mau ke candi ijo g jadi2..mupeng soale pas liat hasil fotonya temen2ku, keren2 euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enakan ke sana pas menjelang senja. Bisa lihat sunset bagus kaalu cuaca cerah.

      Delete