Pelabuhan Legon Bajak Karimunjawa Kala Menjelang Sore

“Riuh rendah suara anak-anak kecil bermain sampan. Sebuah sampan kayu berwarna biru yang sudah usang dipenuhi lima anak lelaki, sementara sebuah sekoci kecil yang warnanya mencolok didayung anak-anak perempuan kecil. Mereka mengarahkan kedua sampan itu sedikit agak ke tengah. Mencari air yang dalamnya sedada mereka, kemudian salah satu di antara mereka melompak ke dalam air. Berenang sepuasnya sampai sore tanpa ada orangtuanya yang memperhatikan.”
Anak-anak bermain sampan di dekat Pelabuhan Legon Bajak, Karimunjawa
Anak-anak bermain sampan di dekat Pelabuhan Legon Bajak, Karimunjawa
Kurencanakan sore ini melihat sunset di Dermaga Mrican, namun sebelumnya kusempatkan untuk keliling ke tempat lain seraya menantikan jam tangan tepat pukul 17.00 WIB. Laju motor ini melintasi arah jalan ke Batulawang, lalu membelokkan ke arah kanan tepat pada plang yang bertuliskan Pelabuhan Legon Bajak Kemujan. Aktifiktas di Pelabuhan Legon Bajak sangat tinggi, terlebih di sini nantinya akan dibuat PLTD yang direncanakan akan hidup selama 24 jam. Sebuah sejarah yang akan tercipta nanti, selama ini Karimunjawa khususnya desa Kemujan hanya mengenyam listrik 6 jam akan berubah drastis menjadi 24 jam. Akhir maret ini, pembangunan pun dikebut agar target tetap terealisasikan sesuai rencana.

Tak banyak yang dapat kuceritakan tentang Pelabuhan Legon Bajak, ataupun penamaan dari sejarah tempat ini. Dari kecil aku mendapatkan cerita mengenai tempat ini, tapi tak kuulas karena cerita tersebut tak ada bukti yang memperkuat. Semacam dongeng untuk anak kecil yang terlahir di Karimunjawa, khususnya desa Kemujan. Semoga nantinya aku dapat menulis sedikit cerita tentang penamaan tempat di sini. Perlu diketahui, Pelabuhan Legon Bajak ini pada bulan-bulan tertentu disandari puluhan kapal nelayan dari Pekalongan, Tegal, dan kabupaten lainnya yang ada di pantura. Mereka akan menyandarkan kapal pada bulan-bulan tertentu; bagi kami orang Karimunjawa biasanya menyebutnya baratan & timuran; bulan-bulan saat perairan Karimunjawa terkena ombak besar. Selain kapal nelayan, pernah suatu ketika banyak kapal tongkang yang sandar. Sehingga tempat ini seperti kota di tengah lautan. Di sini juga aku waktu kecil mengenal sistem barter. Dengan membawa palawija atau air; kami bertukar ikan sebanyak-banyaknya dengan nelayan yang bersandar.
Pelabuhan Legon Bajak menjelang sore
Pelabuhan Legon Bajak menjelang sore
Pelabuhan Legon Bajak menjelang sore
Aku duduk di pinggiran pelabuhan, mataku menatap sebuah kapal besar yang sandar di dermaga. Kapal ini yang mengangkut mesin dari Pontianak menuju Karimunjawa. Mesin inilah yang nantinya menjadi pusat nyalanya Karimunjawa menjadi 24 jam. Berkali-kali kulihat petugas hilir-mudik dihadapanku. Mereka menggunakan helm dan pakaian yang seragam; mengatur kendaraan yang keluar masuk dari dalam kapal menuju lokasi pembangunan. Ya, bagi kami warga Karimunjawa, kegiatan semacam ini adalah hiburan. Tak ayal jika di pelabuhan ini ada orang banyak yang memandangi kapal tersebut.
Kapal dari Pontianak yang bersandar dipangkal Pelabuhan Legon Bajak
Kapal dari Pontianak yang bersandar dipangkal Pelabuhan Legon Bajak
“Itu mesinnya mas. Silakan difoto, mumpung belum terpasang,” Celetuk seorang pegawai Syahbandar ke arahku.

Awalnya aku tak berminat memotret sebuah truk yang bermuatan mesin dan bertuliskan “Lokasi PLTD Pontianak ke Karimunjawa” dan tulisan Maret 2016. Bapak syahbandar ini bercerita panjang lebar kepadaku mengenai kedatangan mesin ini, dan juga apa yang dia lakukan sebagai petugas Syahbandar. Aku yakin beliau tak mengenalku dan menganggapku sebagai seorang wartawan. Terlebih aku membawa kamera dan sedari tadi asyik mengabadikan kapal dan pelabuhan. Aku sengaja diam dan mendengarkan apa yang beliau ucapkan. Sebenarnya aku tahu nama petugas ini, tapi aku sengaja memilih diam. Oya, dulu aku dan keluargaku juga sangat akrab dengan pak Yusuf; beliau petugas Syahbandar di Karimunjawa awal tahun 2000an.
Mesin PLTD dari Pontianak untuk Karimunjawa
Mesin PLTD dari Pontianak untuk Karimunjawa
Tanpa sengaja, ketika aku mengabadikan truk bermuatan mesin itu malah melihat segerombolan anak kecil yang bermain sampan. Bergegas aku menuju bibir pelabuhan sudut lain dan melihat tingkah mereka. Ada dua sampan yang dinaiki; yang berwarna biru dan sudah usang dinaiki lima anak lelaki, sementara sekoci berwarna mencolok orange dinaiki empat anak perempuan. Mereka mendayung sampan menuju laut yang tak jauh dari pelabuhan, di sana mereka berenang sepuasnya.

Jika kalian anak pantai, berenang sore hari adalah keberkahan tersendiri. Jika di kota tiap sore banyak dari mereka yang menghabiskan waktu di depan televisi, di sini anak kecil lebih asyik menaiki sampan dan berenang. Tak perlu pendampingan orangtua, mereka tetap aman karena berada di laut dangkal. Mereka tahu seberapa dalam yang boleh mereka buat berenang, jika mereka tak melewati batas kedalaman dari 1.5 meter; mereka tetap aman. Keasyikan mereka mengingatkanku masa kecil, di mana sebuah slogan pantang pulang sebelum adzan magrib berkumandang itu masih relevan. Sesampai di rumah nantinya mendapat bonus jeweran dari ibu/bapak; kemudian beliau berteriak “Cepat ngaji ke musholla!!” Tentu kalian juga pernah mengalami, tapi dengan kenangan yang berbeda.
Bermain air laut di Karimunjawa
Bermain air laut di Karimunjawa
Bermain air laut di Karimunjawa
Jauh kupandangi laut lepas dari ujung Pelabuhan Legon Bajak. Kulihat sebuah pulau yang tampak jelas. Pulau Gundul namanya, sebuah pulau yang didominasi bebatuan dan tumbuhan Ilalang. Dari sini terlihat pulau itu berbentuk bukit kecil, tak terlihat di sana ada pepohonan atau juga tepian pasir. Seperti bongkahan batu yang tertata di tengah-tengah lautan. Aku belum pernah singgah ke pulau Gundul. Aku hanya beberapa kali lewat di dekat sana ketika menaiki kapal ke pulau lain yang tak jauh dari pulau Gundul. Tapi banyak cerita yang mengatakan jika ingin sandar ke pulau itu harus berkerja lebih keras. Kapal tak bisa sandar, jadi kita harus berenang beberapa meter agar bisa singgah ke sana.

Cerita tentang Pulau Gundul ini banyak, di sini ada sekelompok jenis burung yang mengeram di tempat ini. Masyarakat Karimunjawa menyebutnya dengan nama burung Toyang, telur-telur burung tersebut sama besarnya dengan telur burung Puyuh. Jangan salah sangka, pulau Gundul ini menjadi tempat yang sangat dikenali TNI AU; karena dari aku kecil, pulau Gundul menjadi salah satu sasaran tembak para TNI AU yang berlatih di perairan Karimunjawa. bahkan pada masa presiden Ibu Megawati Soekarnoputri, beliau sendiri pernah ikut latihan bersama TNI AU menembaki Pulau Gundul dari jarak beberapa mil. Tiap ada latihan, kami mendengar gelegar suara tembakan meriam atau sejenisnya disertai tanah bergoyang layaknya lindu (gempa skala kecil).
Pulau Gundul Karimunjawa yang tampak jelas dari Pelabuhan Legon Bajak
Pulau Gundul Karimunjawa yang tampak jelas dari Pelabuhan Legon Bajak
Waktu tak terasa berjalan dengan cepat, jam tangan sudah hampir pukul 17.00 WIB. Ini artinya aku harus meninggalkan Pelabuhan Legon Bajak. Aku berpamitan dengan orang-orang yang tadi sempat berbincang denganku, lalu meninggalkan Legon Bajak dengan segala kesibukannya. Bulan maret ini, pekerja sibuk lembur agar target bulan Mei nanti listrik hidup dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Pak Ganjar. Akhir Mei 2016, aku mendapat kabar jika sudah nyala 24 jam. Awal Juni 2016 peresmian Gubernur Jateng disambut gegap-gembita masyarakat Karimunjawa. Namun nyatanya beberapa kali mesin mati, dan kulihat tiap timeline teman Karimunjawa mengeluh dengan hidup-matinya PLTD. Ya, semoga bulan-bulan ini dan ke depannya, listrik Karimunjawa bisa tetap 24 jam dan tak rusak lagi. Akupun menyambut gembira, jika listrik hidup 24 jam, itu artinya aku akan lebih bebas bisa menulis banyak tulisan kala di Karimunjawa tanpa harus takut tak ada listrik. *Kunjungan ke Pelabuhan Legon Bajak pada hari Sabtu; 26 Maret 2016.
Baca juga ulasan pantai lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

22 komentar :

  1. Jadi kangennn banget sama Karimunjawa. Mudah-mudahan listrik nyala 24 jam agar wisatawan yang hobby update di medsoc nggak kebingungan cari colokan siang hari :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaaa bener mas, termasuk anak kampung kalau balik nggak mikir seandainya baterai kamera lowbat :-D

      Delete
  2. Jauh banget yaa di datangkan dari pontianak

    Duch kangen bu ester jadi nya kalo baca ttg karimun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang warungnya pindah tempat om. Kode buat berkunjung lagi ke Karimunjawa hehehhehehe

      Delete
  3. Keren ini, cees.

    Kayanya ente tiap hari ya datang ke tempat wisata?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak juga mas, hanya menyempatkan banyak menulis hehhheheh :-D

      Delete
  4. Kapal aja bersandar di dermaga
    Masa kamu ga punya sandaran? *eh
    Belum pernah ke karimun. *catet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curhat mbak? Mbak dwi kan punya banyak sandaran hati hahahhahahha

      Delete
  5. wah jadi kangen masa masa main kayak gitu, pantang pulang sebelum maghrib hehe. Kalau aku sih, dulu bukan anak pantai tapi anak sungai. Sungai yang aku maksud ini dulu jernih, dan dalam.. bisa di buat mandi

    Tapi waktu aku pulang ke kampung halaman, sungai nya udah dangkal. Dan agak kotor.. sedih jadinya. Mungkin anak anak kecil saat ini sudah nggak pernag main di sungai kayak aku dlu kali ya haha

    btw Dengan membawa palawija atau air; kami bertukar ikan sebanyak-banyaknya dengan nelayan yang bersandar... itu jaman kapan masih barter ?
    Kok kayak cerita masa penjajahan ya waktu rempah2 masih begitu di cari :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, sama ternyata kenangan kita :-D
      Barter di Karimunjawa tahun 90an masih ada; itu hanya khusus untuk nelayan yang sandar dengan warga setempat. Biasanya mereka meminta ayam, air mineral, kelapa, dll dibayar dengan hasil tangkapan mereka :-D

      Delete
  6. Birunyaaa Karimun Jawaaaa :') duuuuh, epic banget sumpah :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas :-D
      Semoga Karimunjawa tetap indah dan terjaga

      Delete
  7. wah saya langsung menuji kesini ketika jenengan retweet hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heee terima kasih mas, semoga ada kesempatan ke Karimunjawa :-D

      Delete
  8. Pernah hampir ke Karimunjawa, tapi ndak jadi .... Sampe sekarang masih penasaran pingin ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, semoga bisa berkunjung ke Karimunjawa di lain waktu, mbak :-D

      Delete
  9. wah seru juga ya mas itu adek" yang main di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Main air dengan aman dan nyaman, mas hehehhehe

      Delete
  10. wahhh mas nasirul sangat update nih ttg karimunjawa. mantap dehhh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedikit update, tapi masih banyak tempat yang belum tertulis di sini.

      Delete
  11. coba dulu pas main ke karimunjawa sudah kenal kamu ya mas, bisa explore lebih puas. baru kesana 2 kali. 2011 ikut tour rame-rame sama temen-temen, 2014 ujian sertifikasi selam open water di menjangan kecil.

    belum kesampaian ke sunan nyamplungan, mangrove forest, legon bajak, dll. next time kalau kesana lagi ingin stay longer dan meyatu dengan warga lokal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang ada banyak spot baru mas, bahkan penginapan berbagai macam sudah banyak. Listrik juga sudah 24 jam walau kadang masih agak terkendala mesinnya. Kalau nanti ke Karimunjawa kabar-kabar saja mas. Siapa tahu bisa nginap di rumah :-)

      Delete