Bukit Mojo Gumelem, Spot Wisata Alam Baru di Mangunan

Bukit Mojo Gumelem, Spot Wisata Alam Baru di Mangunan
Bukit Mojo Gumelem, Spot Wisata Alam Baru di Mangunan

“Kita tidak usah lewat Mangunan, sepertinya ada jalan alternatif lewat Gumelem. Nanti bisa tembus di Jembatan Gantung Selopamioro.”

Febri bersikukuh kalau ada jalan kecil yang bisa dilalui dari arah Bukit Panguk menuju Jembatan Selopamioro melintasi dukuh Gumelem. Waktu masih cukup pagi, rute sepeda dari tengah kota Jogja menuju Jurang Tembelan – Bukit Panguk termasuk cepat. Pukul 08.30 WIB kami sudah siap balik Jogja.

Berbekal informasi dari warga setempat dan niat keras Febri, kami mengikuti jalan menuju Dukuh Gumelem mencari jalan kecil yang dimaksud. Lebih dari lima warga kutanyai perihal jalan tersebut. Semua bilang kalau jalan itu tidak bisa dilalui kendaraan bermesin. Bahkan ada yang bilang kalau jalannya bebatuan.

“Kalau sepedanya dituntun bisa sih mas.”

Kami berdua menyusuri jalan tidak terlalu luas. Di salah satu sudut jalan terdapat plang bertuliskan “Bukit Mojo”. Aku bilang ke Febri kalau kita lebih baik singgah dulu di destinasi baru tersebut. Toh sudah sampai di sini, jadi bisa sekalian main. Febri sepakat dengan usulanku, bergegas kami melibas jalanan berbatu dan sedikit menanjak.
Akses jalan menuju Bukit Mojo Gumelem, Mangunan
Akses jalan menuju Bukit Mojo Gumelem, Mangunan

Tidak susah menemukan destinasi tersebut. Sebuah spanduk besar dan lokasinya berada di jalan besar. Di area parkir ada kumpulan beberapa warga setempat duduk santai. Kusapa beliau dan meminta ijin masuk ke Bukit Mojo. Tidak ada penarikan retribusi, dan kami melangkah masuk ke area yang sudah mulai berbenah tersebut. Di sini sudah ada jejeran warung dan disediakan juga toilet.

Bukit Mojo ini mulai dibuka pada bulan Juli 2016. Pemandangan dari sini nyaris sama dengan yang ada di area lain yang menawarkan kabut tipis dan bawah adalah aliran Sungai Oya. Didesain seperti tempat untuk trekking dengan bebatuan tertata rapi di jalan setapak. Aku melihat sekelilingku. Walau masih baru, namun fasilitas seperti toilet sudah dibangun. Ini artinya penduduk setempat sudah mempersiapkan lebih awal kebutuhan pengunjung. Tidak ketinggalan tempat sampah yang disebar di berbagai sudut.
Jalan setapak di Bukit Mojo Gumelem, Mangunan
Jalan setapak di Bukit Mojo Gumelem, Mangunan

Sebuah tiang yang diujungnya Bendera Merah Putih berkibar di atas banguan dari kayu. Tempat ini dijadikan spot melihat dari ketinggian. Sewaktu aku ke sini, belum banyak pengunjung yang datang. Hanya ada tujuh orang (termasuk kami). Dua orang berada di area bendera, dan tiga lainnya asyik minum kopi di tempat duduk yang disediakan.
Bendera Merah putih berkibar terkena angin
Bendera Merah putih berkibar terkena angin

Seperti halnya yang aku lihat di setiap destinasi lainnya sepanjang Mangunan. Di sini bangunan spot berfoto juga dikembangkan. Setahuku ada empat spot berfoto yang langsung berhadapan ke arah Sungai Oya. Sudah dipastikan tujuannya adalah agar pengunjung dapat berfoto dengan latar belakang sungai. Terlebih kalau datang pagi dan beruntung mendapatkan kabut tipis. Lautan kabut itu menjadi nilai plus di tempat-tempat seperti ini.

Jika dilihat dari letaknya, Bukit Mojo Gumelem tidak bisa dijadikan lokasi berburu sunrise. Barisan bukit di timur lumayan tinggi, namun di sini cukup bagus menunggu senja. Pemandangan di barat yang juga merupakan barisan bukit tak terlalu tinggi. Sehingga jika sore hari dan cuaca cerah tentu bagus untuk diabadikan.
Tempat berfoto bari pengunjung yang datang
Tempat berfoto bari pengunjung yang datang
Tempat berfoto bari pengunjung yang datang

Aku terdiam di salah satu spot berfoto memandang ke arah Sungai Oya. Lekukan aliran air terlihat indah dan airnya pun bening. Dari kejauhan juga terlihat sedikit sawah yang berundak. Indah sekali rasanya pemandangan di sini. Cukup berbeda dengan pemandangan di Mangunan yang hanya aliran air saja kita lihat jika siang hari. Menurutku, jika kita mengunjungi siang hari, pemandangan di sini lebih bagus daripada di Mangunan. Ini hanya pendapat pribadi saja.
Pemandangan dari Bukit Mojo Gumelem, aliran sungai Oya
Pemandangan dari Bukit Mojo Gumelem, aliran sungai Oya

Ada yang menarik di salah satu spot berfoto. Di sana tersedia banyak papan yang sudah ada tulisannya. Biasanya tulisan yang terpampang itu lucu-lucu. Ada lebih dari delapan papan penuh tulisan yang tertata di bawah. Aku mengambil salah satu papan tersebut. Duh malah tulisannya tentang Jomblo. Memang sih, hampir banyak tulisan yang mirip seperti ini kutemukan di tempat-tempat lain.

Tulisan yang kupegang ini membuatku tertawa. Di sini tulisan yang terpampang bacanya “Jomblo Ra Popo, yang penting hafal Pancasila.” Jadi ingat judul bukunya siapa gitu kan? Iseng-iseng kuposting gambar tersebut di sosmed dengan menuliskan kalimat seraya mention Agus Mulyadi.

“Tiwas ngepit adoh-adoh, nganggo ritual nuntun. Tekan lokasi malah tulisane koyok ngene iki. Mesti iki seng gawe tulisan fans e Agus Mulyadi. Kui nyebut Jomblo Hafal Pancasila, kan mirip judul bukune Gusmul”
Tak masalah status jomblo, penting hafal Pancasila
Tak masalah status jomblo, penting hafal Pancasila

Sontak tulisanku tersebut menjadi bahan tertawa tema-teman. Bahkan si empunya (Agus Mulyadi) pun berkomentar. Ya, semacam promosi buku saja ini tulisan. Terlepas dari itu semua, Bukit Mojo pemandangannya memang indah. Dan kalian bisa menjadikan lokasi ini sebagai tempat berfoto ria. Mumpung lokasi ini masih sepi, jadi bisa foto sepuasnya.

Aku di sini hanya sebentar. Setelah mendapatkan foto dan merasa puas dengan hasilnya, kami berdua beranjak pulang melewati rute yang tadi diusulkan Febri. Di area parkir, sepeda sebenarnya tidak dikenai tarif. Tapi alangkah lebih baik kita tetap memberikan uang parkir pada penjaganya. Bukan masalah jumlahnya, ini lebih kepada kita ikut menyumbang untuk kemajuan destinasi tersebut. Terlebih masuk ke sana kita tidak dikenai tarif masuk.

Rute menuju Bukit Mojo Gumelem
Jika dilihat dari Google Maps’ Bukit Mojo Gumelem terletak di Gumelem Jl. Imogiri Dlingo, Rt.40, Pedukuan Kediwung, Mangunan, Dlingo, Bantul. Untuk menuju ke sana kita bisa melalui jalan Gardu Pandang Mangunan arah ke Bukit Panguk. Nanti sebelum arah Panguk ketemu pertigaan (ada plang) Bukit Mojo belok kanan. Ikuti jalan tersebut nanti sampai di lokasi. Cukup mudah sebenarnya, jalanan nyaris sama dengan arah ke Bukit Panguk Kediwung.

Jika masih bingung, kalian dapat bertanya pada warga setempat mengenai keberadaan Bukit Mojo. Atau bertanya pada warga dengan menyebutkan “Bukit Gumelem”. Intinya, kalian tidak perlu ragu/segan bertanya pada warga setempat. Itung-itung, kita bisa berinteraksi dengan warga dan terlihat lebih akrab. Unggah-ungguh pada warga setempat harus tetap kita jaga.

Rute jalan pulang penuh kejutan
Ketika seorang bapak sebelumnya berkata jalau jalur yang dilewati untuk sampai Jembatan Selopamioro ini sangat jelek dan tidak bisa dilewati motor, aku sudah membayangkan bagaimana buruknya jalan tersebut. Namun dari informasi lain, akses jalan setapak tersebut dilakui para komunitas motor Trail untuk blusukan.

“Biasanya dipakai orang-orang motor KLX, mas. Jadi jalannya benar-benar jelek,” Ujar bapak lainnya menimpali.
Jalanan masih cukup bagus, belum ada tantangan tertentu
Jalanan masih cukup bagus, belum ada tantangan tertentu

Febri tambah bersemangat, dia menggunakan sepeda Fulsus, jadi tepat untuk jalanan yang rusak. Sementara aku menggunakan sepeda MTB, bahkan sudah terlihat menjadi Hybrid. Jika ban sepeda Febri berukuran lebih dari 2.25, sementara ban sepedaku hanya 1.50. sangat kecil dan bisa dilalui untuk jalanan mulus.

Kami menuruni jalan setapak, dan aku masih sempat menaiki sepeda. Namun tak lebih dari satu menit, aku berangsur turun dari sepeda serta menuntun. Tak ada jalanan bagus dan layak bagi sepedaku. Benar-benar jalanan penuh kejutan, bebatuan, semacam lumpur dan sebagainya. Sejenak sumpah serapah kutujukan pada Febri. Dia tertawa kencang mendengar segala sumpahku.

Bayangkan saja, jalan ini tak bisa kulalui dengan sepeda. Yang ada aku harus memanggul sepeda atau sekedar menuntun. Itupun dijalur-jalur tertentu. Ban sepeda berlumur lumpur layaknya tepung untuk menbuat donat. Satu jam lebih aku harus jalan kaki diselingi memanggul sepeda. 1 jam 30 menit lebih tepatnya. Seperti inilah tampak ban sepedaku yang penuh lumpur. Sepedaku yang ukuran bannya kecil.
Ban sepeda penuh lumpur. Sudah seperti adonan Donat kan?
Ban sepeda penuh lumpur. Sudah seperti adonan Donat kan?

Kalian penasaran melihat beberapa rute yang kutempuh sekitar 1.5 jam? Inilah jalannya, bebatuan semua. Di sudut lain tidak bebatuan tapi tanah yang berlumpur. Hari ini aku benar-benar merasa tersiksa namun bahagia. Karena perjalanan kali ini penuh cerita dan lebih seru rasanya. Terbesit dibenakku, ini sebenarnya jalan atau sungai yang kering? Benar kata bapak di Bukit Mojo tadi, apa yang diucapkan terbukti sudah. Jalanan ini tidak bisa dilalui kendaraan bermesin kecuali orang-orang yang hobi naik motor Trail.
Yakin mau nuntun sepeda kalau jalannya seperti ini? Yang ada harus manggul sepeda
Yakin mau nuntun sepeda kalau jalannya seperti ini? Yang ada harus manggul sepeda

Lengkap sudah penderitaanku hari ini. Kami benar-benar menikmati rasa capeknya. Sudah sangat lama kami tidak bersepeda jauh seperti ini. Aku rasa, jalur yang kami lewati terakhir adalah rute paling buruk dan tidak terpikirkan sama sekali selama aku bersepeda. Namun, karena rute ini pula aku bisa mempunyai banyak cerita yang bisa kutulis di blog. *Bersepeda menuju Bukit Mojo Gumelem pada hari Sabtu, 24 Desember 2016.
Baca juga tulisan bertema Gowes lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

68 komentar :

  1. Yeayy akhirnya terbit juga :)
    Bukit Mojo relatif lebih sepi jika dibandingkan dengan tetangganya: Bukit Panguk Kediwung. Spot-spot di sini pun belum berbayar seperti di tetangganya yang jika mau foto dipungut retribusi Rp.3.000-5.000,-
    Kapan-kapan lagi pingin ke sini pas pagii kayanya syahdu kalau kali oyanya pas berwarna hijau begitu :)

    Cerita perjalananmu mas, nek aku kesasar di jalan macam begitu wes nangis :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kalau main itu jangan sendirian, cewek pula. Masa nyasar di Dlingo, kan nggak lucu kakakakakaka

      Delete
  2. heeuheuu..malah capek nuntunnya, daripada pas genjotnya :D
    Spot mangunan gada habisnya. pernah ke becici, eh sekarang udah ada yang baru lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Capek nuntun mas, apalagi sampai manggul sepeda hahahahha

      Delete
  3. Gayamu pas nuntun sepeda uapikkk. Suk kutiru ahhh hahaha. Makin banyak spot baru di sepanjang Mangunan yah. Selfiable kabeh! Jadi tambah bingung yen ke Yogya maneh kudu mlipir ke mana dulu. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jane kui candid mas, tur emang kok pas apik hahahahha. Rep melu ngepit? Ayoo ahahhaha

      Delete
  4. heuheuheu Jomblo Nasionalis
    Jomblo tapi hapal pancasila

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Jomblo itu nggak banyak kerjaan, jadi waktu luang buat menghapal pancasila :-D

      Delete
  5. Treknya menantang banget ya, kalo pake sepeda gunung bisa enggak bertahan di jalanan berbatu terjal itu? Thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau jalanan bebatuan besar nggak bisa kita naiki, resiko tingi. Kalau hanya lumpur dan agak bebatuan kecil bisa kita naiki

      Delete
  6. Aduh, bisa pingsan aku kalau rutenya berbatu-batu kayak gitu... Rullah, kamu nggak ada kepikiran membukukan blog kamu kah? Jadi ebook atau buku gitu?Style tulisan kamu itu nggak ngebosenin&menarik untuk dibaca. Aku selalu nungguin kamu update di google plus soalnya selalu menarik dan informatif yang kamu ulas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan pingsan mbak, ntar baliknya gimana hahahahah
      Wah tulisan ini masih jauh dari kata bagus mbak. Ada banyak teman yang mempunyai tulisan lebih bagus lagi :-D

      Delete
  7. kemarin aku ngelewati. ternyata apik juga yo. tapi kok relatif sama sih gardu pandangnya. g konsul ke aku sih cara buatnya. modelnya selalu ikut2an. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mesti kamu lewat sini karena nyasar. Wes yakin aku ahahhahah

      Delete
  8. Jomblo gapapa ya mas kesana hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa, kalau misalnya bareng pasangan foto berdua, kalau jomblo foto sendiri bedanya :-D

      Delete
  9. Makin banyak spot beginian ya mas. Jadi bingung bedain nama-tempatnya :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar nggak bingung gampang, tiap ke spot berbeda kudu sama cewek berbeda pula kakakakakka

      Delete
  10. Banyak banget spot kayak gini di sana ya mas.
    Tapi bagus sih, jadi bisa punya banyak pilihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tinggal pilih mau yang masih sepi atau sudah terkenal lebih dulu dan ramai :-D

      Delete
  11. Instagramable banget Bukit Mojo Gumelemnya. Pasti keren banget kalau berfoto di atas bukit itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lokasi di sini emang asyik buat berfoto :-)

      Delete
  12. semakin banyak aja spot foto ala ala di mangunan dan sekitarnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi pengen bawa cewek foto di sini toh mas ahhahahah

      Delete
  13. keren ya Mangunan makin banyak dikenal tempat2 bagusnya....
    jalannya berbatu2 gede begitu, jalan kaki aja susah gimana bawa sepeda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak banget sudut Mangunan yang seperti ini. Jadi bisa milih mana saja hehehehe

      Delete
  14. Kalo adonan donat nya dari lumpur, gimana rasa nya ??? hahaha
    Btw ;agi ngehitsss yaa tempat2 seperti itu sekarang, di mana2 di bangun kayak gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya nggak terbayangkan, om *Capeknya

      Benar banget, Omcum nggak minat poto manjah di sini

      Delete
  15. Hehehe, jalan penuh batu besar-besar gitu sepeda bukan dituntun ya, Mas, tapi dipanggul :)

    ReplyDelete
  16. Kayaknya tempat-tempat di ketinggian lagi ngetren ya. Bukit ini, bukit itu, tebing ini, tebing anu. Boleh jadi rekomendasi nanti kalau pulkam ke Jogja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepanjang bukit di Mangunan seperti ini semua, mas. :-D

      Delete
  17. keren ya jalurnya hahaha
    tapi asik juga naik sepedaan sepeti itu, apalagi akhirnya dapat bonus pemandangan indah

    belum pernah kepikiran saya kayak gitu, soalnya anak pantai sih
    lebih senang liat pantai dan naik perahu hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheeheh,
      Selama di Jogja kalau waktu luang seringnya seperti ini, Daeng.
      Tapi kalau di rumah sih jadi anak pantai, main sampan sambil mancing ikan :-D

      Delete
  18. ga kebayang harus nuntun sepeda dgn kondisi jalan sperti itu :D.. Aku udh nyerah pasti ;p.. tp tempat fotonya td memang bgs mas... blm prnh nih kesana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhehe, jalannya sebenarnya itu setelah dari Bukit Gumelem, mbak. Sengaja blusukan eh benar-benar keblasuk (kata orang jawa)

      Delete
  19. harus ke Jogja lagi nih
    suka liat pemandangan sungai oyanya mas

    ReplyDelete
  20. hahahahhahaha, kebanyakan memang sekarang kl ditodong suruh ngucapin sila2 Pancasila langsung mingkem.... :)))) Udah jomblo gak apal pulak terus masuk acara tv... kelar deh idup elo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahha, benar-benar kelar dan bisa jadi pembunuhan karakter kalau sempat masuk di acara TV.

      Delete
  21. view-nya ajib ya ... apalgi sudah disiapkan tempat2 untuk foto di tebingnya.
    tapi memang jalannya lebih pantas disebut sungai kering .. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang lokasinya berbenah, kang. Sudah tambah bagus :-D

      Delete
  22. kalau ngelihat dari ketinggiannya, sepertinya watu lawang masih lebih tinggi ya mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.
      Tapi lokasinya lebih jauh Gumelem dibanding Watu Lawang kalau dari Imogiri.

      Delete
  23. Wah aku jadi tertarik ke Bukit Mojoooo.
    Btw kalo aku Jogja lagi, kopdar yuuuks ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapp mbak, kalu main ke Jogja kabar-kabar aja. Biasanya mak indahjuli ngabari kalaua da bloger main ke Jogja :-D

      Delete
  24. Gilaaaaak, ada banyak banget kayaknya ya tempat wisata di mangunan itu :D wkwkw aku belum pernah main, cuma lewat aja gitu. Yaaah sepertinya aku harus mengembangkan keinginan dolanku deh :D wkwk

    btw, itu jalan balik kenapa ekstrim sekali yak wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sepanjang mangunan ada banyak seperti ini mas.
      Oya jalan pulang itu sengaja pilih blusukan kok :-)

      Delete
  25. Sepanjang mangunan makin bersolek. Apik iki. Masih sepi sisan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang udah ramai banget yang ke sini mbak. Banyak spot foto ala-alanya

      Delete
  26. spot demi spot warisan anak cucu mas... mantap Jogja siap" buka lapak Travel hehehe.. siap" kebanjiran order mas mantap dah mas Rullah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahha, kamu buka saja mas. Aku mah nggak bisa buka travel seperti itu ahahahha

      Delete
  27. Haha ngepit adoh adoh tiwas tekan disandingke tulisan jomblo...aku harus berkata apa dong mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang mbak, kamu cukup mendoakan saja biar dapat jodoh :-D

      Delete
  28. Sekarang destinasi wisata banyak yang dibikin instagramable yah ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang pasti destinasi seperti ini paling cepat banget dikenalnya mbak.

      Delete
  29. makin kedepan, Mangunan jadi surganya para pecinta selfie. Banyak spot yang menarik disana. Hampir tiap minggu pasti ada spot baru. gak heran klo Mangunan sekarang jadi salah satu tujuan wisata favorit di Jogja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, perbukitan di kawasan Dlingo, Mangunan menjadi ladang tempat foto bagi anak muda. Spotnya bermacam. Tinggal bagaimana pengelola mengatur agar kebersihan dan perawatannya terjaga.

      Delete
  30. Pemandanganya awesome mas Nasir :D
    btw spote kok medeni meni ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak menakutkan sebenarnya mas, hanya saja efek kamera saja ahhahhaha

      Delete
  31. Perasaan kawasan wisata di Jogja kayaknya nambah terus, ya. Bagi satu ke Cianjur, mas. Disini kurang stok tempat wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya setiap tempat bias dibuat seperti ini kok mas. Tinggal pengelolanya hahahaha

      Delete
  32. wuhh mantap mas roda berlumpurnya...

    ReplyDelete