Mural di Kampung Beji Jogja, Sebuah Pesan Persatuan Bangsa

Mural orang bergandengan tangan di Kampung Beji, Pakualaman
Mural orang bergandengan tangan di Kampung Beji, Pakualaman

Sebagian besar orang mengatakan mural adalah lukisan yang dibuat untuk mendukung arsitektur ruangan/bangunan. Maka dari itu, kita mendapati banyak bangunan atau dinding yang dihiasi mural agar terlihat lebih indah. Keberadaan mural di tiap sudut dinding kota pada dasarnya menyiratkan sebuah pesan tertentu.

Biasanya pesan yang disampaikan dalam goresan sebuah mural itu berkaitan dengan kondisi daerah tersebut. Sebuah media untuk menyuarakan kondisi sosial masyarakat, budaya, maupun estetika. Dengan mural, seorang seniman dapat menuangkan aspirasi yang berisi pesan pada seluruh masyarakat.

Di Jogja sendiri banyak dinding di sudut kota yang penuh dengan mural. Karya-karya para seniman ini makin memperindah tiap sudut kota. Sebagian besar mural itu menggambarkan tentang kondisi Jogja. Seperti sebuah pesan bahwa Jogja adalah miniatur Indonesia karena banyak mahasiswa dari berbagai suku yang belajar di sini. Menjadi Jogja menjadi Indonesia, begitulah kiranya.

*****

Laju sepeda yang kunaiki terus melintasi jalanan kota. Aku tidak ada rencana ingin bersepeda mengunjungi destinasi di tempat jauh. Dua minggu lalu aku sudah menuju Rawa Jombor, berlanjut minggu kemarin aku terengah-engah kala bersepeda ke Klangon, Cangkringan. Kali ini aku hanya ingin menikmati pagi dan mencairkan pikiran agar nantinya sampai kos semangat menulis blog.

Jika biasanya aku melewati Tugu Jogja dan duduk santai di pedestrian Malioboro, kali ini aku sengaja melewati rute berbeda. Menyusuri jalan Timoho, Mandala Krida, baru mengambil arah Malioboro. Tanpa sengaja aku melewati Kampung Beji, Pakualaman. Di sana ada banyak warga yang sedang beraktifitas. Tempat orang jualan Ayam Potong ramai dikerumuni warga.
Plang petunjuk arah Jalan Beji, Pakualaman
Plang petunjuk arah Jalan Beji, Pakualaman dan sepedaku terparkir depan gerobak soto

Aku menatap dinding di sisi kiri, ada banyak mural terukir di tiap dinding. Kuhentikan laju sepeda tepat di depan gerobak soto yang cukup ramai. Aku mencari tempat untuk memarkirkan sepeda, lalu mengabadikan tiap gambar mural yang terpajang.

Beruntung sisi kiri jalan tidak banyak kendaraan yang parkir. Hanya ada sebuah mobil bak tertutup di ujung dan motor yang tepat di seberang gerobak soto. Aku bisa mengabadikan barisan mural tanpa ada halangan. Mural-mural ini melukiskan sebuah keberagaman beragama, serta pendidikan di Indonesia.

Mural berjejer rapi di dinding, sedap dipandang. Aku memotretnya satu persatu. Pada mural yang paling ujung tertutup mobil, sehingga tidak bisa diabadikan. Berikutnya adalah mural yang menyampaikan pesan tentang keberagaman beragama.
Berbagai mural menghiasi dinding di Kampung Beji
Berbagai mural menghiasi dinding di Kampung Beji
Berbagai mural menghiasi dinding di Kampung Beji

Empat sosok gambar di dinding menggambarkan agama-agama besar di Indonesia. Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Semua berkumpul menjadi satu tanpa ada sekat. Aku bukan seniman yang dapat mengetahui makna; namun dari karya ini sebuat siratan bahwa keberagaman agama di Indonesia, khususnya di Jogja itu saling menghargai.

“Mural ini baru dibuat tiga minggu lalu, mas,” Ujar seorang ibu yang melihatku asyik mengabadikan tiap mural.

Bu Sugiyati menyapaku, beliau pulang dari pasar kecil membeli sayuran. Dengan sumringah beliau mengatakan bahwa ini adalah karya warga beserta mahasiswa ISI yang disponsori sebuah merek cat untuk membuat mural.
Mural menyiratkan pesan kerukunan antar umat beragama
Mural menyiratkan pesan kerukunan antar umat beragama

“Ada dosen ISI yang warga sini mas. Jadi langsung berbarengan dengan warga dan mahasiswa membuat mural. Semua gang rencananya dihiasi mural.”

Ibu Sugiyati pamitan pulang, dan beliau tidak berkenan untuk saya foto di depan mural dengan alasan nanti jelek gambarnya sambal tertawa. Sebuah interaksi singkat dengan warga di Kampung Beji menandakan begitu ramah masyarakat Jogja. Di manapun mereka berada. Inilah yang aku sukai tentang Jogja.

Karya mural lain yang tidak kalah menarik adalah sebuah peta Indonesia kecil berwarna merah, lalu di bagian luarnya berwarna putih. Peta Indonesia ini tepat di tengah-tengah gambar semacam burung. Burung elang kah? Atau ini menggambarkan Pancasila? Bisa jadi seperti itu.

Sebuah pesan tentang Indonesia, itulah yang terpikir olehku kala memandang mural ini. Jika semua orang menatap gambar tersebut, mereka bisa mempunyai cerita tersendiri untuk pesan yang disampaikan. Bagiku, sekelebat melihat mural ini langsung terpikirkan bahwa Indonesia adalah negara kita yang harus dilindungi sepenuh hati, jiwa dan raga.
Indonesia dicintai sepenuh hati
Indonesia dicintai sepenuh hati

Aku melangkahkan kaki tepat di depan sebuah gang. Lalu menyapa dua penjual Soto yang sudah buka, di tepian meja dan lesehan sudah ada beberapa orang memesan soto untuk sarapan. Aku memesan soto dan teh panas, lalu ijin menyusuri gang yang tepat di samping gerobak.

Dua penjual soto itu bernama Mas Fian dan Mas Wahyu, mereka berjualan sejak pagi sampai soto habis. Mereka adalah generasi ketiga setelah kakek dan pamannya yang berjualan di sini. Tepat di dinding gang sebelah kanan, sebuah mural Pancasila terpampang besar. Warna khas kuning keemasan dengan latar warna merah putih.

“Beberapa waktu lalu ada orang dari Jogja TV dan SCTV yang mengambil gambar di sini mas,” Terang Mas Wahyu.

“Oya? Memang menarik sih mas. Tiap dindingnya sebagian besar muralnya bertema Indonesia. Itu di depan seperti garuda dan peta, juga ada yang menggambarkan tokoh agama di Indonesia,” Jawabku sambil menyeduh teh panas.
Mural Garuda Indonesia di salah satu dinding lorong gang Kampung Beji
Mural Garuda Indonesia di salah satu dinding lorong gang Kampung Beji

Kunikmati semangkuk soto dan segelas teh panas sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri gang lain yang penuh mural di Kampung Beji Pakualaman. Aku berbincang panjang lebar dengan dua penjual soto ini. Informasi yang kudapatkan dari kedua pemuda ini mirip dengan yang dijelaskan Bu Sugiyati tadi.

“Sampun mas. Berapa nggeh Soto dan Teh Panas?”

“Rp. 12.000 mas,” Jawab Mas Fian.

Kusodorkan uang Rp.20.000 dan menunggu kembalian. Berhubung aku ingin menyusuri gang, dan lebih enak berjalan kaki. Aku meminta ijin kepada Mas Fian dan Mas Wahyu nitip sepeda. Beliau mempersilakan agar sepedaku terparkir di dekat gerobak soto.

Gang di Kampung Beji tidaklah besar, namun cukup ramai warga setempat berlalu-lalang. Aku tidak ingin seperti orang asing yang tersesat sembari menenteng kamera. Tiap ada warga yang keluar dan berpapasan, kuusahakan untuk menyapa. Benar-benar kunikmati pagi dengan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dengan seperti ini, masyarakat setempat tidak merasa terganggu oleh kegiatanku.

Ucapan kata “Nderek langkung pak/bu” yang berartikan “Permisi pak/bu” menjadi suatu hal yang mutlak jika kita sedang bertemu masyarakat setempat. Secara langsung kita sudah berinteraksi dan sopan kala di tempat orang lain.

Kiri-kanan dinding gang terlukis berbagai mural panjang. Mulai dari Pancasila, Punokawan, lalu berbagai motif bunga, dan tentunya lukisan-lukisan transportasi. Semua mural berwarna cerah, dan diberi bendera Indonesia.

Aku kembali tertegun di sebuah persimpangan gang. Di sini sebuah mural panjang terlukis indah. Ada mural yang lagi-lagi membuatku terdiam. Dua tangan berjabat dengan warna kulit berbeda. Warna kulit gelap dan kuning disertai kutipan kata “Kita Satu” lengkap dengan latar belakang tempat beribadah berbagai agama.
Kita Satu: Indonesia
Kita Satu: Indonesia

Nderek langkung bu,” Ujarku kala ada dua perempuan yang berpapasan denganku.

Dua ibu ini tersenyum padaku. Sepertinya pulang dari membeli daging yang ada di jalan raya.

“Dekat Kali Code juga ada loh mas,” Kata salah satu ibu yang lebih tua.

“Terima kasih infonya bu. Nanti saya coba ke sana,” Jawabku berterima kasih.

Seperti inilah keramahan masyarakat Jogja. Tanpa memandang siapa kita, darimana berasalnya, suku apa, mereka dapat menerima kita dengan tangan terbuka. Satu hal yang mendasar perbedaan kala bersepeda menuju destinasi tertentu dengan blusukan tengah kota; masuk gang, dan lainnya adalah kita dapat menyapa warga jauh lebih lama.
Menyapa warga setempat di Kampung Besi
Menyapa warga setempat di Kampung Besi

Untuk kesekian kalinya, aku mendapati mural bergambar Garuda Pancasila. Mural tersebut berada sederetan dengan mural tangan yang berjabat. Saking banyaknya mural garuda Pancasila dan bendera merah putih, aku menyimpulkan bahwa para seniman yang berkarya ini sengaja mengkonsep menjadi Jogja menjadi Indonesia. Mereka menyampaikan bahwa Jogja adalah Indonesia, dan Jogja mempunyai banyak sejarah semasa perjuangan Indonesia.

Sesuai dengan arahan ibu tadi yang mengatakan kalua di dekat Kali Code juga ada berbagai mural yang dibuat, aku segera menuju lokasi. Beruntung sepeda kutitipkan di pemilik Soto, gang yang kulalui ini semacam lorong dan tidak bisa membawa sepeda masuk ke dalam. Anak tangga kecil kuturuni, sampai akhirnya sampai di tepian Kali Code.
Mural Garuda Pancasila di sudut lain Kampung Beji
Mural Garuda Pancasila di sudut lain Kampung Beji

Pagar pembatas Kali Code yang ada jalan setapak ini dipenuhi mural. Semacam motif-motif atau lukisan abstrak. Lukisan mural ini memanjang tiap sisi pagar tembok yang membatasi Kali Code. Dinding di sini lain pun juga tak luput goresan mural indah yang lebih besar.

“Permisi nggeh pak?” Kubungkukkan badan sembari melewati seorang bapak yang asyik mancing ikan di Kali Code.

“Monggo mas,” Jawab beliau.

Pak Mamat adalah warga setempat yang sengaja meluangkan waktu ini untuk memancing di tepian Kali Code. Sebuah Jorang kecil berwarna merah muda tertancap di atas pagar. Aku berbicang santai dengan beliau. Katanya, ikan yang biasa didapatkan adalah Nila.
Pagar pembatas Kali Code penuh dengan mural indah
Pagar pembatas Kali Code penuh dengan mural indah

Seperti halnya Bu Sugiyati, Pak Mamat pun tertawa dan tidak mau saya potret walaupun saya minta foto bersama, karena saya sudah sediakan tripod. Beliau berujar jika malu. Baiklah, aku menangguhkan foto bersama, dan kembali berbincang santai sembari melihat aliran Kali Code.

Keyakinanku akan pesan keberagaman dan kerukunan umat beragama yang disampaikan oleh seniman penghias Kampung Beji bertambah. Lagi-lagi di ujung dinding kutemukan mural Garuda Pancasila. Ada beberapa mural Garuda Pancasila dengan hiasan orang-orang dari berbagai suku saling berpegangan tangan, dan ada mural tempat beribadah tiap agama.

Bhinneka Tunggal Ika; Berbeda-beda tetapi tetap bersatu. Itulah yang diharapkan oleh seniman ini pada bangsa kita. Salut untuk seniman yang menghiasi Kampung Beji dengan berbagai mural yang menyebarkan pesan perdamaian. Sebuah pesan yang amat sangat berharga bagi kita semua.
Banyak ditemukan mural Garuda Pancasila di sini
Banyak ditemukan mural Garuda Pancasila di sini

Aku percaya, setiap usaha tidak akan sia-sia. Seperti yang seniman ini lakukan pada Kampung Beji. Mural-mural indah penuh pesan mendalam tentang persatuan, kerukunan, dan nasionalisme. Pesan yang disampaikan melalui media sebuah karya, pesan yang bercitakan tentang cintanya dari Jogja untuk Indonesia.

Mural-mural di Kampung Beji ini memang belum banyak yang tahu. Karena pembuatannya baru akhir juli. Aku berharap nantinya di setiap lorong gang Kampung Beji lebih banyak lagi mural-mural indah sarat dengan pesan. Sehingga makin menarik para wisatawan untuk mengunjungi. Satu hal yang harus diperhatikan, ketika kalian berkunjung, alangkah lebih baik menyapa warga setempat dengan senyuman.
Kita bersatu, menjadi Jogja menjadi Indonesia
Kita bersatu, menjadi Jogja menjadi Indonesia

Aku kembali menyusuri lorong dan menuju tempat soto mengambil sepeda yang kutitipkan. Kuucapkan terima kasih pada Mas Wahyu dan Mas Fian yang sudah menjaga sepedaku. Aku mengayuh pedal menuju kos. Pagi ini aku tidak hanya mendapatkan ide menulis, bahkan aku sudah mengunjungi sebuah destinasi yang indah di tengah kota; tepatnya di Kampung Beji, Pakualaman.

“Seperti itulah indahnya tiap mural di dinding Kampung Beji; Dari Jogja, untuk Indonesia. Menjadi Jogja, menjadi Indonesia.” 

*Sepedaan ke Kampung Beji Pakualaman pada hari Sabtu; 12 Agustus 2017.
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

32 komentar :

  1. Internetku lagi lemot. Dari tadi aku tunggu gambarnya nggak keluar. Pengen lihat apakah foto muralnya sama seperti dua tahun lalu atau sudah bertambah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah baru tahu kalau di sini ternyata sudah lama ada muralnya mbak.
      Kemarin sih kalau kata warga setempat gambarnya baru :-)

      Delete
  2. di tamansari juga ada. aku kemaren foto foto dikit di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah sudah lama nggak masuk ke Tamansari. Biasanya hanya numpang istirahat di depan panggung sambil sarapan :-)

      Delete
  3. Kampung kreatif nih. Lebih menarik dinding-dinding nganggur dihiasi mural kreatif kek gitu daripada kekurangan bahan lalu memaksa dinding rumahnya dicat warna-warni yang boring itu hahaha. Duh Sitam... jadi pingin ootd nde sana deh. Kancani yo sasi ngarep pas mlipir Yogya. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siappp
      Pokoknya kalau cuma ke sini mah gampang, jalan kaki pun berani buahahahhha
      Mural memang jauh lebih asyik mas, dan punya pesan yang ingin disampaikan :-)

      Delete
  4. Selain kampung pelangi, kampung mural juga banyak bermunculan akhir-akhir ini. Kreatif sih, lalu kesannya lingkungannya juga bersih dan tertata. Hmm menarik kampung beji ini mengambil tema nasionalisme dan keberagaman. Indonesia banget hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menariknya kalau mural adalah tema-tema yang diambil itu jelas mas. Seperti kampung ini, secara tidak langsung membuat kita sadar akan keberagaman dan persatuan bangsa

      Delete
  5. Ada satu kawasan di Palembang yang kayanya bakalan disulap jadi kayak gini juga. Bagus sih, biar rame kayak jalan Haji Lane di Singapura itu (nganu, aku belom pernah, cuma liat di internet aja hehehe)

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu bagus bang, tidak masalah meniru tempat lain selama memang sesuatu hal yang baik :-)

      Delete
  6. Pesan pesan yang disampaikan sangat nasionalisme, mural bisa menjadi media aspirasi rakyat terhadap negara. Ah jadi pengen keliling jalan kaki di beji bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nasionalis dan penuh harap kesatuan bangsa bang. Main-mainlah ke Jogja bang, biar nanti main bareng di sini :-)

      Delete
  7. nasionalisme banget ya mural-muralnya, sha bw nemunya jogja lagi jogja lagi. emang lagi hits dan banyak banget tempat wisatanya ya mas, atau bloggernya banyak yg orang jogja? entahlah. haha

    btw, ada mural yang nyambung buat foto gitu ga sih? kaya payung buat di pegang dll?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe,
      bisa jadi banyak teman yang kamu ikuti blognya itu blogger Jogja. Atau pas main-main ke Jogja :-)

      Nggak ada mural seperti itu mbak, di sini satu tema tentang Indonesia.

      Delete
  8. kreatif dan penuh makna deh muralnya
    warna warni menariknya rasanya bisa mengundang orang ikutan foto2 di situ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, bagusnya mural itu setiap gambarnya menyampaikan pesan tertentu.

      Delete
  9. Mural-muralya bagus ya Mas.
    Gambarnya sederhana tapi penuh makan, keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, di sini muralnya penuh makna. Selain itu warga di sini juga sangat terbuka kok :-)

      Delete
  10. Bagu-bagus gambarnya,mending dibuat wadah kreatifitas seperti ini sih memang, daripada corat-coret gak jelas di tembok rumah orang.:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dibuat seperti ini rata-rata warga yang memiliki tembok setuju. Iya, dari pada hanya vandal inisial tertentu dan nggak jelas

      Delete
  11. Bisaan aja yah emang. Acung semua jempol deh untuk penggagas ide dan kontributor langsung maupun tidak langsung :)

    Daripada di doktrin secara oral kepada masyarakat mengenai kerukunan antar beragama, yang begini ini (lewat seni dan warna), saya pikir bisa lebih ngena ke penduduk. Penyampaiannya lebih asyik gituloh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka yang gemar koar-koar kadang lupa jika ada banyak cara untuk menjadin persatuan. Masyarakat lebih mudah menangkap suatu pesan dari visual daripada pendengaran :-)

      Delete
  12. kerenn .. terlihat lebih meriah dan menarik .. apalagi muralnya thematis seperti ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kang, kalau setiap mural ada tema seperti ini bakalan seru. Tidak semata-mata hanya cat warna warni saja

      Delete
  13. bagus banget ulasannya. Good luck mas, semoga menang. hadiahnya menggiurkan.... menjadi jogja menjadi indonesia....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Adi,
      Amin. Semoga menjadi jogja menjadi Indonesia tetap terjaga

      Delete
  14. kereenn...

    perasaan di sekitar stasiun lempuyangan pernah lihat mural yg beautiful banged :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin di sekitaran jembatan layangnya mas :-)

      Delete
  15. Kayaknya aku kudu kesini deeeh sebelum ini tempat bakal ngehits banget.
    *siapin dresscode.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Raisa ada jadwal meet up sama kami nggak selama di Jogja? Kali aja biro umroh mau memfasilitasi hahahahah

      Delete
  16. Maafkan baru sempat mampir hihihi. Saya serasa ikut 'blusukan' dalam cerita ini. Membayangkan sudut pandang baru tentang Jogja. Good luck, Mas! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhahahhaa, jika biasanya kita blusukan di desa wisata bareng. Kali ini blusukan di gang-gang pusat kota Jogja sendirian mas.

      Delete