Hamparan Sawah di Yogyakarta, Rute Asyik untuk Bersepeda - Nasirullah Sitam

Hamparan Sawah di Yogyakarta, Rute Asyik untuk Bersepeda

Share This
Jalan di tengah-tengah persawahan yang hits di Nanggulan
Jalan di tengah-tengah persawahan yang hits di Nanggulan

Di kala hamparan sawah mulai berganti dengan bangunan menjulang tinggi, warna hijau berubah pudar kusamnya tembok. Atau hamparan sawah menjadi spot foto ala-ala demi memuaskan hasrat untuk berswafoto dengan segala modifikasinya. Sesungguhnya kita tetap merindukan semilirnya angin di tengah-tengah persawahan yang mulai menghijau. 

Pemandangan sederhana tanpa tertutup sekatan batang kayu melintang bertuliskan “jomlo” atau “hamparan sawah cinta” dan lainnya. Cukuplah padi, irigasi, jalan setapak, jalan cor, petani, sepeda tua, dan pohon-pohon peneduh yang kami pandang. Itulah keindahan yang ingin terus aku pandang. 

Ini pula yang membuat aku tetap bersemangat menyempatkan akhir pekan bersepeda. Seperti yang aku lakukan bersama Pesepeda Jogja Gowes, menyusuri sudut lain Jogja yang masih menawarkan pemandangan sawah dan perbukitan Menoreh. Kulon Progo menjadi salah satu tempat yang sawahnya luas, asyik untuk disusuri. 
Para peserta yang ikut survei rute kopdar
Para peserta yang ikut survei rute kopdar

“Nanti lokasi fotonya di sini. Kalau beriringan naik sepedanya bakal bagus diabadikan,” Terang Pak Heru, salah satu fotografer senior yang sering memotret aktivitas bersepeda. 

Beliau menenteng kamera, mengabadikan teman lain yang mengayuh pedal. Aku sendiri menguntit beliau dari belakang, belajar mengambil gambar dari sudut yang mirip. Dirasa cukup, kembali kameranya dimasukkan ke dalam tas yang ada di-pannier sepeda bagian belakang. 

Secara garis besar, rute yang kami lewati itu Nol KM, Wirobrajan, Museum Suharto, Moyudan, Kenteng, Patung Sapi - berakhir di Geblek Pari. Rute beragam, jalan besar nan ramai, melintasi rel kereta api, Museum Soeharto, jalan kampung, dan tentunya hamparan sawah. 

Tujuan bersepeda memang hanya ingin berfoto-foto di lahan hijau. Nanggulan, sebuah kecamatan di Kulon Progo menjadi lokasi tujuan. Setiap melihat hamparan sawah, kami berhenti. Menatap penuh makna, sesekali menyuruh beberapa pesepeda untuk naik sepeda dan kami mengabadikan. 
Sudut lain di pematang sawah
Sudut lain di pematang sawah

Titik yang dipilih untuk berfoto sudah jelas hamparan sawah. Aktivitas pesepeda beriringan menjadi pose yang paling umum diambil. Aku mengayuh pedal sepeda, mengikuti rombongan yang sudah di depan. Sesekali tertawa melihat teman fotografer yang mengendarai motor seraya membidik. Hati kecil berdoa agar nanti ada fotoku yang terabadikan. 

Musim tanam sudah berlangsung beberapa minggu lalu, yang terlihat hamparan sawah adalah hijau; tanda padi tumbuh dengan subur. Jauh di sana sebagian petani sudah datang lebih awal, memupuk, membersihkan parit, atau sekadar berbincang dengan tetangga di tepian jalan. 

Ada pula warga yang menyempatkan waktu akhir pekan untuk bersantai. Mereka juga berolahraga melepas bosan dengan bersepeda. Seringkali kujumpai petani sedang naik sepeda menuju sawah, di belakangnya terdapat cangkul atau sabit. Tidak ketinggalan topi khas dari anyaman bambu. 
Penduduk setempat sedang menuju sawah
Penduduk setempat sedang menuju sawah
Sepeda menjadi alat transportasi sehari-hari
Sepeda menjadi alat transportasi sehari-hari

Suasana tenang membuat aku betah berlama-lama berhenti, menikmati bau tanah yang masih sedikit lembab. Semalam hujan mengguyur sangat deras, bahkan menjelang pagi masih terlihat rintikan halus. 

Tidak ada target sampai lokasi jam berapa. Sementara para rombongan sudah melintasi sawah, aku masih berhenti di tepian jalan. Melihat seorang kakek mengayuh sepeda melintasi jalan kecil. Jalan ini pula yang dilewati teman-teman saat mencari spot foto. Seingatku, jalan ini setelah pasar Kenteng nanti ada sawah dan jalan belok kiri. 

“Lewat sini atau mana?” Tanya Mas Yuda pada Febri. 

“Lurus!!” Teriak Febri sembari membidik teman-teman sepeda. 

Jalan tersebut pertigaan, belok kanan dan lurus. Mendengar teriakan Febri yang bilang lurus, sebagian rombongan yakin jika tidak belok. Febri masih memotret di pertigaan. Melihat rombongan di depan sudah mengayuh pedal agak jauh, dia kembali berteriak. 

“Lurus sini!!” Teriaknya ke arah jalan belok kiri. 

Aku tak kuasa menahan tawa. Teman-teman yang di belakang juga ikut tertawa. Ketika dia bilang lurus, pikirannya adalah searah parkir motornya, bukan arah sepeda kami datang. Mas Yuda & Mbah Kung Endi; duo pesepeda senior yang menaiki sepeda lipat harus putar balik. 

“Emang Febri itu sengaja usil. Masa Mbah Kung & Mas Yuda dikerjai suruh lurus!” 
Mbah Kung Endi dan Mas Yuda sedang berdiskusi menentukan rute kopdar, kami cukup motret saja
Mbah Kung Endi dan Mas Yuda sedang berdiskusi menentukan rute kopdar, kami cukup motret saja

Sudah lama aku bersepeda bareng Febri, dan pernah dikerjai lewat jalan yang tidak manusiawi. Kejadian itu setahun yang lalu, sepedaku harus melewati jalan seperti sungai kering. Satu-satunya cara melintasi hanya dengan memanggul sepeda. Kala itu sepulang dari Bukit Mojo Gumelem

Pilihan rute untuk kopdar hampir selesai. Dari pasar Kenteng harusnya tinggal belok kanan sampai di Geblek Pari. Namun rute dibuat blusukan lagi, rute terus lurus belok kiri dan mengikuti jalan sampai tembus ke Patung Sapi. Aku sudah tertinggal jauh dari rombongan di depan, kami putuskan untuk memotong jalan cepat menuju Patung Sapi dan belok kanan. 

Kombinasi hamparan sawah sisi kanan serta sungai kecil di sisi kiri menjadi pemandangan yang selaras. Gemericik aliran air selaras dengan embusan angin sepoi di tengah sawah. Terbentang luas sawah menghijau menyajikan keindahan yang alami. Keindahan yang memang dirindukan olehku. 
Di antara sungai dan sawah
Di antara sungai dan sawah

Ada kalanya perjalanan singkat sepedaan menyusuri sawah, melihat petani beraktivitas, menyaksikan burung-burung Bangau mengepakkan sayap mengikuti jalannya traktor yang membajak sawah adalah hal yang mengagumkan. Pemandangan yang langka di tempat yang menggeliat pembangunannya. 

Aku menikmati panasnya mentari yang mulai meninggi. Melintasi jalan kecil panjang di tengah-tengah sawah yang luas. Semoga tahun mendatang, hamparan sawah ini masih seperti sekarang. Membentang hijau tanpa tertutup papan-papan kecil bertuliskan destinasi digital. Melihat orang menuju sawah; memotret orang membajak, menanam padi. Bukan melihat barisan orang-orang mengabadikan diri menggunakan gawainya sendiri. *Kulon Progo; Minggu 24 Maret 2018.

52 komentar:

  1. Kayaknya aku wes suwi banget gak jalan-jalan yang tanpa target. Waton metu njedul wae. Huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nggak ada target itu enak oh. Misalnya dapat konten berarti sesuatu hal yang menggembirakan.

      Hapus
  2. Hmm.. Satu hal yang bikin menyesal selama merantau di Jogja..

    "Ora nduwe pit.." T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan bisa naik motor atau main bareng teman mas hahahhahahha

      Hapus
  3. wah menarik banget mas bersepeda di tengah sawah gitu.
    pemadangannya indah, liat yang ijo-ijo semua, seger.
    terus rute yang dilewatin juga asyik ya. pengalaman yg seru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak. Itulah nilai plus naik sepeda dengan rute persawahan. Biarpun saat kena angin kencang rasanya sepeda berat dikayuh :-D

      Hapus
    2. gpp berat, yg penting pengalamannya ya :D
      biar bukan dilan aja yg berat ��

      Hapus
    3. Dilan beratnya nggak seberapa mbak. Beratan beban kami para pesepeda *eh

      Hapus
    4. eh, isinya sebagian curhat ya mas? ��

      Hapus
    5. Nggak curhat, hanya menuliskan saja buahahahahha

      Hapus
  4. Bersepeda ... apa pun latarnya, selalu menyenangkan dan membahagiakan, Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan bawa sepeda ke Jogja, kang. Biar sepedaan bareng kita.

      Hapus
  5. nontoni foto foto ijo ngene iki dadi kangen ndesoku, Purworejo
    Heuheuheu, 3 minggu maneh Mudik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mudik ini. Aku juga tiga minggu lagi pulang kampung hahahahahha

      Hapus
  6. Wah baru tau ada rute sepeda kayak gini, adem banget keliatannya Mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rute sepedanya ini asal aja mas. Jadi suka-suka yang motret hehehehhe

      Hapus
  7. Harusnya sepulang Jogja Maraton kemarin aku ngubungi dirimu ya. Sawahe instagramable banget. Cocok lah sebenere recovery run di sini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahha,
      kalau nanti ke Jogja paling kuajak muter GSP UGM mas :-D

      Hapus
  8. Seger banget ya mas.
    Dulu pas lewat daerah situ juga bela-belain berhenti demi foto-foto.
    Berasa sawahnya melambai-lambai sambil bilang, "mampir foto dulu sini,, mumpung seger."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang menarik sih mbak. Setidaknya membuat kita jauh lebih nyaman

      Hapus
  9. Pas liat cover fotonya, tak kira ini sawah yang ada di daerah Mangunan itu mas. Ternyata "dudu".
    Penasaran sama Geblek Pari. Dulu sempet baca tulisan dari Mbak Dwi "relunglangit" tentang tempat makan ini. Jadi pengen mampir :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudmu yang ada jembatannya itu pa? Hahahahhaha
      Oalah, itu si rerung langit nggak ngajak-ngajak pas ke sana mas. Sekarang dia sudah punya patner.

      Hapus
  10. Ini pemandangan MAHAL kalau di Palembang. Makanya kalau agak melipir ke luar kota dikit, lihat hamparan sawah jadi norak hahaha. Terakhir pas ke Solo juga gitu, cakep-cakep banget sawahnya. Sayang mau turun dari bus segan, soalnya jalan sama rombongan >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sana banyak pohon sawit om hahahahhaha.
      Aku malah pengen foto di kebun sawit *eh

      Hapus
  11. Ecie mas Wisnu Tri selalu inget relunglangit, aku jadi terhuraa :))

    Aku pernah e menelusuri patung sapi ke arah Geblek Pari mas, pinggirannya kan ada parit dengan ilalang2..huhu apik :p
    Tapi aku isih bingung ngambil angle foto dengan barisan pesepeda itu di sisi mananya :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hemmm, padahal jalannya segitu banyak loh. Tinggal pilih mau motret dari mana arahnya ahahhahah

      Hapus
  12. kalau kesana aku mau dong diajak bersepedahan di sawah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, kamu ke sini aja cuma sebentar kemarin mbak :-D

      Hapus
  13. Suka banget kalo liat hamparan sawah kayak gini.
    Sayang banget waktu saya ke Jogja gak ke tempat ini.
    Baru tahu saya mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang lama di Jogja mas :-D
      Diulangi lagi ahhahaha

      Hapus
  14. Pemandanganya indah sekali.. udaranya juga sepertinya sangat sejuk

    BalasHapus
  15. seru dan menyenangkan sekali, rutenya asyik. Semoga area persawahan seperti ini tetap terjaga, tidak diganti oleh perkantoran dan perumahan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu berdoa agar bentangan sawah masih bisa kita nikmati keindahannya. Tidak berganti dengan bangunan

      Hapus
  16. waduhhh rutenya enak banget.. walaupun lelah akan tetap segar ya mata dengan pemandangan hijaunya kaya gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain enak juga nggak bikin capek, karena jalurnya datar hhehehehe

      Hapus
  17. Asyik tenan, mas. Seger, tentrem :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hokya tenan hahaha. Koe saiki neng endi mas nginepe?

      Hapus
  18. foto2 dengan background sawah memang indah dan kerenn .. apalagi foto pertama .. suka banget .. jalanan yang membelah hamparan sawah dan rombongan pesepeda membuat fotonya lebih hidup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas sepedaan nggak terpikirkan motret seperti di atas kang. Sekalinya lihat kok bagus, jadi kuabadikan saja.

      Hapus
  19. Apalagi di Balikpapan kota domisili aku.
    Hamparan hijau seperti ini, tidak ada!

    Beruntung banget mampir di sini, serasa ikut diboncengan si... Fahri, hahahaha...

    Tapi bagian ini juga favoritku:

    "Hati kecil berdoa agar nanti ada fotoku yang terabadikan."

    Gue banget, gitu lho...hwhwhwhw...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum pernah main ke Kalimantan, sepertinya harus singgah ke sana :-)

      Hapus
  20. Beberapa hotel di Yogya, ada paket seperti ini. Jadi, bersepeda keliling sekitar hotel, naik turun. Kalau di Bangkok, ada tour bersepeda, bagaimana dengan di Yogyakarta? Kalau Jakarta, setahu saya belum ada, kebanyakan mobil dan motor jalannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jogja tour sepeda ada mas, tapi yang membuat paket rata-rata anak sepeda.

      Hapus
  21. mas sitaaam, tolong dong postingan terbarunya share ke g+ lagi, biar sha gampang nandain mana yang udah dibaca, mana yang beluum :P

    eh tau gak, meski sha tinggal di bandung. Tapi rumah sha itu mirip kaya gini. belakang rumah sawaaaah semua hahaha

    jadi, jalan yang tidak manusiawi itu yangkaya gimana :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahha, baiklah kalau begitu. Nanti aku share yang terbaru ya,

      Cieh yang rumahnya masih asyik buat santai nggak bising

      Hapus
  22. Damai banget sepedaan kalo pemandangannya hijau segar begini hehehe :D

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin semangat sepedaannya mbak hehehehhehe

      Hapus
  23. ya ampun kalau sepedahan di jalur yang hijau sejuk dan pemandangan indah begitu ya betah banget jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak jalur asyik di Jogja loh mbak hahahahha

      Hapus
  24. Asik banget ya kayaknya hihihi
    bersepeda di alam bebas seperti ini selain dapat sehatnya juga dapat tenangnya
    tenang karena bisa melihat alam yang masih hijau. gak kayak kalau bersepeda di kota hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sepedaan di tengah kota namanya melatih kesabaran dan fokus. Karena sedikit saja tidak fokus, bakal diklakson sama kendaraan bermesin hahahaha

      Hapus

Pages