Mengopi dan Berbincang Santai di Marisini Coffee Jogja - Nasirullah Sitam

Mengopi dan Berbincang Santai di Marisini Coffee Jogja

Share This
Memotret Kopi di Kedai Marisini Coffee Jogja
Memotret Kopi di Kedai Marisini Coffee Jogja
Kurang dari sebulan, aku sudah mengunjungi dua kedai kopi di sekitar Condongcatur. Kali ini aku mengunjungi Marisini Coffee di jalan Sidomukti, Tiyosan Condongcatur. Seperti biasa, mengopi kali ini aku memanfaatkan transportasi daring. Tujuannya tentu bertemu kawan-kawan blogger yang rencana kopdar. 

Kopdar dadakan ini tercetus karena ada kawan bloger dari Banyuwangi yang kembali berkunjung di Jogja. Pemilihan tempat di Marisini Coffee lebih karena mempertimbangkan faktor tempat yang dekat dari beberapa tempat tinggal kolega. 

Selepas asyar, aku sudah berada di kedai kopi yang disepakati. Marisini Coffee lumayan ramai. Namun, tetap ada meja yang belum terisi. Bangunan yang berdiri di tanah lapang serta berbatasan dengan sawah ini cukup luas. Info dari juruparkir, tanah ini adalah milik desa yang disewakan. 

Ada tiga bangunan yang besar. Mulai dari tempat meja barista, joglo di tengah, serta satu bangunan yang menyatu dengan tempat musola. Aku tidak tahu bagaimana di dalamnya, karena pengunjung duduk santai di teras rumah. Tiap dinding terdapat beberapa lukisan. 

Marisini Coffee dibalur dengan warna cat putih. Bangunan semi terbuka ini semuanya putih. Dinding dari kaca transparan (ruang bebas rokok), penyanggah bangunan putih, hingga atap pun selaras warna putih. Kontras dengan tanah lapang yang hijau. 
Dua Bangunan Utama di Kedai Marisini Coffee
Dua Bangunan Utama di Kedai Marisini Coffee
Kulangkahkan kaki masuk kedai. Sisi kanan terdapat kursi yang diduduki dua perempuan. Sepertinya mereka sedang mengerjakan tugas. Tampak kertas bertumpukan sembari menatap laptop. Sesekali dua perempuan ini berdiskusi. 

Di depan kasir, aku tidak langsung memesan minuman. Kutunggu pramusaji yang melayani pengunjung. Sayup-sayup terdengar, obrolan mereka terkait pemilihan tempat di luar. Sepertinya mbak pengunjung ini sedang menunggu kawan-kawannya yang belum datang. 

Sebaris tulisan yang membuatku tersenyum. Tepat di meja bar, sebuah tulisan yang menginfokan tidak adanya jaringan internet di tempat ini. Aku tidak menanyakan lebih lanjut. Sempat aku cek di gawai terkait jaringan internet. Ada nama Marisini yang menggunakan sandi. Namun, aku sedang tidak membutuhkan jaringan internet. 
Barista berinteraksi dengan pengunjung
Barista berinteraksi dengan pengunjung
Tak ada minuman manual brew. Aku tebersit untuk mencoba minuman yang berkaitan dengan marisini. Es Kopi Susu Papa Marisini pilihanku. Minuman dingin ini menggunakan pemanis gula aren. Sembari memesan minuman, aku meminta izin untuk memotret; dan menjelaskan jika aku suka mengulas kedai kopi di blog. 

Proses pembayaran selesai, kutunggu minuman datang di meja pendopo sambil membawa nomor meja yang diberi pramusaji. Aku kembali menunggu minumanku sembari mengelilingi tempat ini. Mencari dokumentasi foto untuk keperluan blog. 

Kali pertama mengenal Marisini Coffee dari kawan bloger yang juga menekuni dunia fotografi. Suatu ketika, antara bulan Februari atau Maret ada postingan di Instagram terkait kedai tersebut. Aku tertarik karena tempat ini sepertinya asyik untuk bersantai. 

Marisini Coffee dibuka sejak bulan Februari 2019. Kedai ini buka setiap hari dari pagi hingga malam. Total barista ada lima orang, dibantu dengan tiga pramusaji. Setiap hari biasa, dua barista bekerja. Berbeda dengan akhir pekan, barista yang berkerja menjadi tiga orang. 
Daftar Harga dan Menu di Kedai Marisini Coffee Jogja
Daftar Harga dan Menu di Kedai Marisini Coffee Jogja
Seperti yang sudah aku terangkan sebelumnya. Kedai kopi Marisini mempunyai tiga bangunan. Dua yang digunakan keseluruhan, sementara satu bangunan yang berdekatan dengan musola hanya dimanfaatkan bagian teras. Selain itu, ada juga dua bangunan kecil yang menjorok dekat sawah. 

Ruang kedai kopi yang tertutup tidak besar. Ada beberapa kursi dan meja. Satu lagi meja melekat pada dinding kedai menghadap ke barat. Meja tersebut agak lebih tinggi. Meja dan kursi di dalam tetap berwarna putih. Tempat ini cocok untuk bekerja ataupun bersantai dan terlepas dari keriuhan pengunjung yang di luar. 

Joglo di Marisini yang langsung berbatasan dengan ruangan tertutup menjadi tempat yang paling luas. Ada beberapa meja panjang, lengkap dengan kursi. Pada tiang-tiang tertentu terdapat stop kontak. Pun meja kecil yang dilengkapi empat kursi kayu. 
Meja dan kursi-kursi di area dalam kedai kopi
Meja dan kursi-kursi di area dalam kedai kopi
Jika di ruang dalam meja dan kursi identik dengan besi. Di joglo berbeda, di sini keseluruhannya terbuat dari kayu. Pemandangan pun lebih luas, di sisi barat ada tanah lapang. Bahkan ada semacam panggung kecil. Aku kurang tahu fungsinya panggung tersebut. 

Selain itu, di tanah lapang juga bisa dimanfaatkan untuk bersantai. Pramusaji nanti menyiapkan meja dan kursi. Ada juga bangunan kecil sebesar gubuk yang dilengkapi meja panjang dengan kursi sebanyak delapan buah. Tempat inilah yang menurutku paling asyik. 

Satu minuman yang dibungkus dengan gelas plastik diserahkan padaku. Sempat kutanya kenapa menggunakan plastik padahal aku minum di tempat. Barista menjawab bahwa pengunjung diperbolehkan memilih gelas plastik atau kaca. Aku sendiri lebih senang jika disajikan menggunakan gelas kaca. 

Minuman dan tas kecil kutaruh di meja. Lagi-lagi aku berkeliling mencari foto sembari menunggu kawan yang lain datang. Sedikit kaget tatkala aku kembali. Meja yang sudah aku tempati dan rencananya untuk tujuh orang sudah dipakai pengunjung yang lain. 

Aku segera meminta konfirmasi ke pramusaji, beliau meminta maaf. Dikira aku hanya sendirian. Kupindahkan sendiri minuman dan tas tersebut pada meja kecil. Kunikmati minuman sembari mencari meja yang cukup untuk rombongan. 
Joglo tempat kongkow asyik di Marisini Coffee Jogja
Joglo tempat kongkow asyik di Marisini Coffee Jogja
Sepasang pengunjung yang duduk di gubuk dekat pematang sawah pulang. Bergegas aku pindah ke sana. Bersama kawan yang sudah datang, kubersihkan sampah dari meja dan menumpuk gelas serta piring satu tempat agar mudah dibereskan pramusaji. 

“Maaf mas, tempat ini sudah dipesan pengunjung yang lain. Mereka meminta tempat ini untuk ditempati,” Terang pramusaji yang membersihkan meja. 

Sejenak aku terdiam sebelum menjawab. “Saya tadi sudah di joglo, mas. Tapi meja yang saya duduki diambil-alih pengunjung yang lain dengan bantuan pramusaji.” 

Pramusaji membereskan piring dan gelas dan berlalu. Aku dan teman yang sudah datang kembali melirik area yang lain. Siapa tahu pengunjung yang memesan tempat ini sudah datang. Selang tak lama, kembali pramusaji mendatangi kami. 

“Silakan mas di sini. Nanti yang memesan tempat kami arahkan ke gubuk sebelah.” 

Kami ucapkan terima kasih sebelum pramusaji berlalu. Sepertinya beliau berkoordinasi dengan barista yang bertugas. Di Marisini Coffee memang ada dua gubuk. Tempat ini memang asyik untuk bersantai sembari bincang santai. 

Satu persatu kawan datang, hingga akhirnya berkumpul sepuluh bloger dari Jogja, Banyuwangi, dan Palembang. Marisini Coffee tak hanya menyediakan minuman. Ada banyak makanan yang bisa dipesan. Entah berapa kali pramusaji datang membawa makanan berat hingga camilan. 

Kesibukan para bloger sudah dapat ditebak. Berbagai minuman yang datang menjadi bidikan kamera. Kami sengaja mencari konten sembari kopdar. Senja berlalu, kami bergantian memotret mentari yang terbenam. Jejeran nyiur di pematang sawah menjadi daya tarik tersendiri. Berkali-kali kawan mengabadikan senja. Aku malah asyik melihat kawan-kawan yang memotret. 
Berbagai pesanan minuman di kedai kopi Marisini Jogja
Berbagai pesanan minuman di kedai kopi Marisini Jogja
Berbagai pesanan minuman di kedai kopi Marisini Jogja
Silih berganti kami menuju musola. Tempat salat ini hanya bisa digunakan tiga orang. Meski kecil, aku merasa menyenangkan rasanya jika kedai kopi mempunyai tempat salat. Sehingga tidak memikirkan mau beribadah di mana ketika waktunya datang. 

Terlepas dari adanya kesalahpahaman dengan pramusaji terkait tempat duduk, aku merasa kedai kopi ini menyenangkan tempatnya, suasananya, dan harganya juga terjangkau. Bagi yang ingin bekerja, tempat ini bukan menjadi rekomendasiku. Tapi kalau untuk diskusi kelompok, kedai ini cukup nyaman. 

Menjelang pukul 21.00 WIB, kamu bubar. Tidak terasa lebih dari enam jam kami di sini. Kedai kopi seringnya menjadi tempat untuk kopdar sesama teman bloger. Bagi yang penasaran dengan senja di kedai ini, kalian bisa datang ke Marisini Coffee menjelang senja. Jika memungkinkan, waktu musim tanam padi menjadi momen yang menyenangkan melihat senja di sini. *Marisini Coffee; 29 Maret 2019

18 komentar:

  1. buset 6 jam nongkrong, heuheuheu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enam jam karena nunggu kumpul sepuluh orang hahahaha. Sampai habis beberapa porsi makanan.

      Hapus
  2. ga kerasa baru kesini kemarin :D dan ternyata lama juga kita ngobrol, padahal di akhir2 obrolan seru tapi harus diakhiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, kan bulan ini mau kumpul lagi. Siapa tahu selepas buka bareng lanjut kumpul di mana gitu ahahhahaha

      Hapus
  3. Mas mbok sekali-kali kamu tu nggak dateng pertama :p
    Aku kadang mbatin: kira-kira duluan aku apa Mas Sitam ya sampainya? eh tetep duluan kamu mass. Dah ngerapiin meja sendiri, ahaha mandiri sekalii.

    Kulihat dari foto sih enakan di Joglonya. Kaya lebih semilir gitu sampai enam jam nggak kerasaa. Ya Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau coba besoj tanggal 11 pas buka bareng. Siapa tahu datang ke tempat kumpul duluan kamu. Jangan lupa masak dan cuci piring ya hahahaha

      Hapus
  4. oh, tidak ada pembahasan insiden 'itu' di sini ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak disertakan. Kasian pramusajinya. Cukup dapat peringatan dari aku hahahahah

      Hapus
  5. Pernah kepikiran nggak buat bikin postingan biaya hedon ngopi sebulan ahahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum terpikirkan. Tapi sudah ada sih dana khusus untuk mengopi selama sebulan. Anggarannya sudah disiapkan ahahahah

      Hapus
  6. Aku suka 2 foto terakhir. Dimana shadow bisa menjadi pembeda suatu foto. BTW kopi kekinian sekarang ini apakah menggerus kopi traditional seperti kopi joss Jogja kah mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak mas. Meski kedai kopi di Jogja banyak, tetap saja warung kopi seperti Kopi Joss atau kedai kopi spesial kopi tubruk di Sorowajan dan yang lainnya tetap ramai, mas. Justru kedai kopi seperti ini silih berganti. Ada yang hilang, ada yang tumbuh.

      Hapus
  7. yaampun mas, senang sekali ya di jogja banyak bgt tmpt ngopi asik kaya yg ini nih, marisini coffee.
    tmptnya asik, cozy, harga bersahabat, enak banget buat kerja atau ngobrol sama pacar. eh.. haha

    itu lama lama di sana, engga disuruh pulang sama mba-nya ya mas? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tidak ada pacar, cukup ngobrol sama pengunjung lain. Kali aja cocok dan klop *eh
      Gimana mau nyuruh pulang kalau sepuluh orang pesannya seperti orang lagi ulang tahun hahahahaha

      Hapus
  8. unik ya ... bangunan tradisional tapi cat-nya dominan putih ... bahkan sampai ke genteng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi putih semuanya ahahhaha. Enak kalau di sini ramai-ramai, kang.

      Hapus
  9. Kedai yang unik, bangunannya klasik, kontras dengan warna hijau rerumputan. Terus meja kursinya itu saya suka, ada kursi sice (kursi yang dililit tali semacam plastik/karet itu). Duh pengen punya kursi begitu lagi hahaha. Nama kedai kopinya juga asyik; Marisini. Mengajak orang datang gitu ... mari mari sini ... mampir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata kawan yang datang juga begitu. Mari ke sini jadi marisini. Entah beneran atau hanya kebetulan hahahahah

      Hapus

Pages