Dimanjakan Lanskap Alam Bukit Harapan Cuntel - Nasirullah Sitam

Dimanjakan Lanskap Alam Bukit Harapan Cuntel

Share This
Tulisan Cuntel terbuat dari ranting-ranting yang dianyam

Sejak semalam, kawan terus bercerita tentang pemandangan indah bakal tersaji saat berada di Bukit Harapan Cuntel. Aku belum sepenuhnya paham. Di pikiranku hanya sebuah gardu pandang yang menghadap ke bentangan alam. Mungkin mirip di Mangunan yang menyajikan pemandangan alam. 

Hawa dingin menyeruak. Jaket tebal yang kupakai sedikit menghangatkan. Namun, tetap saja terasa dingin untuk orang pantai seperti aku. Sesekali aku menggigil diterpa angin saat mengendarai motor. 

Jalan terus menanjak. Tidak jauh dari Taman Kopeng, motor melaju ke atas. Sebuah plang Cuntel terlihat. Petakan hutan pinus menyapa. Sekelompok remaja sedang melakukan kegiatan mancakrida. Sepertinya mereka menginap di sekitaran Cuntel. 

Sepanjang perjalanan sudah terlihat gunung di sisi kanan jalan. Motor terus melaju, tiap kiri-kanan penuh petakan kebun warga. Kebun cabai, brokoli, serta sayuran yang lainnya tersebar tiap petakan ladang. Tidak ketinggalan pemilik ladang yang mencabuti rumput liar. 

Portal Bukit Harapan Cuntel tertutup. Seorang perempuan yang melihat kehadiranku bergegas menghampiri. Diambilnya kertas karcis. Masuk gardu pandang Bukit Harapan Cuntel dikenai biaya 5.000 rupiah tiap orang. 

Sebenarnya pemandangan lebih menarik di luar gardu pandang. Hanya saja rasanya tidak elok jika tidak membayar masuk. Di sini sudah ada beberapa gardu pandang yang menghadap ke barisan gunung. 
Gardu pandang menghadap ke Gunung Sindoro-Sumbing
Gardu pandang menghadap ke Gunung Sindoro-Sumbing
Aku hanya memotret sebentar, titian kayu pada gardu pandang tidak menarik minatku. Dari tanah lapang kubidik mata lensa menghadap pada sepasang gunung yang menjulang tinggi. Sumbing dan Sindoro, dua gunung ini tampak jelas dan sangat cerah. Sayang titian kayu gardu pandang sedikit menghalangi pandangan lensa kamera. 

Cuntel sebenarnya menjadi salah satu jalur untuk melakukan pendakian ke Merbabu. Dari sini sudah terlihat puncak gunung Merbabu. Namun, pemandangan yang menarik bukan mengabadikan gunung tersebut. Jejeran Gunung Sumbing, Sindoro, Andong, dan Telomoyo yang memikat mata. 

Lahan Bukit Harapan Cuntel tidaklah lapang. Hanya sepetak tempat yang sudah dikemas warga dengan gardu pandang. Bilah bambu diikat, ditambahi papan sebagai peniti. Seperti jembatan kecil. Tidak ketinggalan latar belakang penuh figura. 

Bagi warga setempat, tempat seperti ini pasti menyenangkan untuk diabadikan menggunakan gawai. Namun, aku malah tertarik memotret di jalan sebelum sampai Cuntel. Lokasinya di tikungan. Tempat ini menurutku paling bagus memotret jejeran gunung. 
Lanskap Gunung Sindoro, Sumbing, Andong, dan Telomoyo
Lanskap Gunung Sindoro, Sumbing, Andong, dan Telomoyo
“Ke ujung jalan yang tadi saja. Lebih bagus di sana pemandangannya,” Ujarku. 

“Tikungan yang ada gubuknya?” 

Aku mengangguk dan berlalu. Di gardu pandang Bukit Harapan Cuntel, aku hanya menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit. Selanjutnya beranjak balik arah menuju jalan utama. Tepatnya yang di depannya ladang warga setempat. Dari sini pemandangan gunung lebih menarik. 

Motor kami parkirkan di tepi jalan. Aku meniti jalan setapak menyusuri petakan ladang warga. Cuaca cerah tanpa ada awan membuat lanskap di Cuntel sangat indah. Kabut tipis mengelilingi salah satu gunung. 

Jalan aspal yang tidak terlalu lebar ini sepi. Sedari tadi, aku hanya berpapasan dengan dua warga setempat. Satu warga mengendarai sepeda motor menuju ladang. Sedangkan warga yang satunya lagi berjalan sembari memanggul pakan ternak. 

Gubuk kecil tepat berada di tikungan menarik perhatian. Terlebih gunung Telomoyo menjulang di belakangnya. Telomoyo, bukit tersebut pernah aku sambangi sewaktu masih kuliah. Aku ingat, waktu itu jalanan masih sangat rusak. Penuh bebatuan, entah sekarang. Sudah berubah mulus atau masih seperti yang dulu. 
Puncak Telomoyo menjulang Tinggi
Puncak Telomoyo menjulang Tinggi
Di puncak Telomoyo sudah terlihat beberapa tower berdiri. Seperti pemandangan sewaktu aku melewati jalur Ngoro-oro di Gunungkidul. Aku terus mengabadikan pemandangan, mumpung waktu masih pagi, cahayanya cukup bagus untuk dipotret. 

“Menarik juga kalau kembali menyambangi Telomoyo,” Ujarku sendiri. 

Cuntel dipenuhi lahan warga setempat. Pertanian cukup subur di tempat ini. Kiri-kanan sudah banyak ladang yang diberdayakan. Suasana pagi menambah indah dengan rerimbunan hijau segala tanaman di sekitar jalan. 
Penduduk setempat memanggul pakan ternak
Penduduk setempat memanggul pakan ternak
Nun jauh di sana, jalur pendakian ke gunung Merbabu terlihat jelas. Cuntel memang menjadi salah satu jalur pendakian. Namun, tidak banyak orang yang melintasi jalur tersebut. Pendakian gunung Merbabu rata-rata melewati jalur Selo. 

Terkadang pendaki juga melintasi jalur Suwanting. Konon jalur Suwanting treknya lebih menantang. Entahlah, aku sendiri belum pernah melintasi jalur tersebut. Di bawah tadi, tepatnya di hutan pinus, ada dua orang memanggul keril besar. Kemungkinan ingin mendaki lewat jalur Cuntel. 

Pasti tidak sedikit dari kalian bertanya, kenapa aku rela berhenti di tepian jalan dibanding melihat jejeran gunung dari gardu pandang. Alasannya sangat sederhana, pemandangan lanskap dari tepian jalan jauh lebih menggoda. 
Salah satu sudut dari Gunung Merbabu
Salah satu sudut dari Gunung Merbabu
Inilah pemandangan yang disajikan. Lanskap jejeran Gunung Sumbing, Sindoro, Andong, dan Telomoyo membuat aku bergegas mengambil kamera dan mengabadikan. Langit biru menjadi nilai tambah. Berkali-kali kuabadikan pemandangan pagi hari ini. 

Ladang warga setempat yang sedang menyemi, berkombinasi dengan petakan tanah tertata rapi selepas dicangkul, lantas pemandangan jauh di sana berbaris rapi gunung dengan berbagai puncak berselimut kabut tipis. Aku yakin, kalian tidak ingin melewatkan pemandangan ini begitu saja. 

Lama aku duduk menikmati pemandangan. Sesekali mengecek hasil dokumentasi. Sekiranya ada yang kurang, aku kembali memotret untuk kesekian kali. Hawa dingin masih menyeruak, kerekatkan jaket tebal agar lebih hangat. 
Pemandangan indah dari Bukit Harapan Cuntel
Pemandangan indah dari Bukit Harapan Cuntel
“Aku mau jalan di pematang ladang. Tolong kamu abadikan ya.” 

“Tinggal pencet?” 

Kuanggukkan kepala. Sebelumnya, pengaturan kamera sudah kuatur. Semoga saja nantinya dia bisa memotret tidak miring. Garis rana sudah terpampang pada kamera memudahkannya untuk tahu hasilnya miring atau tidak. 

Untuk sesaat kubuka jaket, beruntung kaus yang kukenakan lengan panjang. Sedikit berlari, aku menuju ujung ladang sembari berharap kawan sudah mengabadikan. Kulihat ke arah dia, sesekali mengacungkan jempol. 

“Bagus kok hasilnya,” Ujarku setelah melihat gambar di kamera. 
Berjalan di pematang lahan milik warga
Berjalan di pematang lahan milik warga
Angin sedikit kencang, aku cepat-cepat mengenakan jaket tebal. Kali ini, cukup menikmati waktu pagi di tepian jalan sembari menyusun rencana selanjutnya. Mentari mulai terlihat, cahayanya menerpa dedaunan. Sedikit memantulkan cahaya dari lembar-lembar daun yang agak basah terkena embun. 

Bukit Harapan Cuntel memang menjadi tempat yang indah memotret alam kala pagi. Jika sore, tentu pemandangan lebih indah. Setidaknya, mentari terbenam di antara gunung-gunung yang berjajar. Pastinya rona jingga bakal merekah saat cerah. 

Bagi sebagian orang, Cuntel ini sedikit terlupakan. Wisatawan lebih mengenal Kopeng, Air Terjun Kedung Kayang, dan sekitarnya. Setidaknya kalau kalian datang ke sini, mungkin pemandangan seperti inilah yang tersaji. Syukur-syukur bisa mendapatkan foto yang jauh lebih bagus. *Bukit Harapan Cuntel; 08 Juli 2018.

12 komentar:

  1. Nah kalo ini pemandangannya cakep banget, mas! Meskipun sama-sama obyek wisata ketinggian, tapi pemandangannya beda. Nggak hutan pinus dan sungai hehe. Lalu ada di sini ada "bumbu'bumbu" kehidupan warga desa yang tenang dan bersahaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya tempat seperti ini banyak. Hanya saja sekarang lebih banyak dihiasi dengan latar ala-ala untuk berfoto.

      Hapus
  2. Itu foto yang view gunung dan jalan ditengahnya kece abis. Kebayang deh untuk foto foto seru abis. Nuansa pedesaannya ajib. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, perjuangan bagun pagi yang bikin bisa dapat seperti ini, bang. Seru juga sebenarnya

      Hapus
  3. pemandangannya ademm, ijooo, segerrr
    ini pemandangan yang jarang kutemui di Kota Kupang, heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kupang enaknya ke bukit dengan latar pemandangan laut mas :-)

      Hapus
  4. Ini pemandangan mewah versi aku. Jarang-jarang bisa lihat Gunung kayak gini. Syahdu banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget om. Bagi orang sana, ini pemandangan yang biasa. Bagi kita, ini sangat luar biasa.

      Hapus
  5. foto2 yang bukan di spot bukitnya ... (area perjalanan) .. malah kece dan ngga mainstream ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru pemandangannya lebih keren heheheheh

      Hapus

Pages