Berbagi Cerita dengan Barista Kaki Langit Coffee Jogja - Nasirullah Sitam

Berbagi Cerita dengan Barista Kaki Langit Coffee Jogja

Share This

Kedai Kopi Kaki Langit di Jogja

Jumat sore kembali menyapa. Aku membuka akun kedua Instagram, lalu memeriksa koleksi foto yang kusimpan dari unggahan kedai kopi. Satu unggahan video Kaki Langit Coffee Jogja kulihat. Lantas kuputuskan sore ini mengunjungi kedai kopi tersebut. 

Kebiasaanku memang seperti itu. Menyimpan daftar kedai kopi yang ingin kukunjungi dengan menyimpan salah satu postingannya. Tatkala nanti sudah kukunjungi, aku mengikuti akun Instagram tersebut. Tujuannya hanya untuk melihat berapa kedai kopi yang sudah kukunjungi dan kutulis di blog. 

Meski mendung, aku sudah memesan ojek daring menuju kedai kopi. Melintasi jalur kemacetan di Perempatan OB, lalu berhenti tepat di halaman Kaki Langit Coffee. Kedai kopi ini berlokasi di Jalan Wahid Hasyim No.8-14, Dabag, Condongcatur. Cukup dekat dari kosan. 

Kedai kopi masih cukup lengang. Di kursi depan pintu masuk, seorang sedang bermain gitar. Dinding kaca transparan, kelihatan penghuni di dalam kedai kopi. Barista yang bertugas menyapa dengan ramah, layaknya barista-barista lain di kedai kopi.
Beberapa pengunjung dan barista di Kaki Langit Coffee
Beberapa pengunjung dan barista di Kaki Langit Coffee

“Kopi atau non kopi, mas?” 

“Kopi,” Jawabku sambil mencari daftar menu yang ditawarkan. 

Melihat aku sedikit mencari-cari menu, barista yang mengenalkan diri bernama Leon ini menunjukkan daftar menu yang terpasang di depan kasir. Aku tertawa dengan polahku sendiri. Terkadang mataku fokus lihat dinding, biasanya daftar menu dipajang pada dinding atas. 

Suasana mendung seperti ini bagiku tidak pas kalau memesan es kopi susu. Padahal di sini terdapat minuman es kopi susu. Pun dengan empat minuman signature yang tertera, konon Pororeo dan Coreomel Macchiato laris manis bagi pengunjung. 

Pororeo ini adalah susu dicampur dengan es krim, lantas ditambahi dengan oreo. Dari campurannya, pikiranku teringat minuman yang kupesan sewaktu di Balakosa Coffee. Mungkin sedikit mirip, karena aku tidak melihatnya secara langsung di sini. 

Selain minuman yang menjadi andalannya. Es kopi susu di sini juga menjadi opsi para pengunjung. Rumpi dan Danilla yang dipesan. Aku sedikit stalking komentar-komentar para pengunjung yang pernah ke sini dari ulasan di Local Guide. 

Dua biji kopi yang diperuntukkan manual seduh. Aku buka satu persatu. Di kemasan 250 gram, tertera nama Gayo. Satu lagi di wadah kecil. Entahlah, aku tidak ingat namanya. Sewaktu kutanyakan ke barista, dia menyebut asal kopi tersebut. Sayang aku tidak bisa menangkap dengan baik. 
Daftar Menu dan Harga di Kaki Langit Coffee
Daftar Menu dan Harga di Kaki Langit Coffee

Kembali kuamati cukup lama, kupilih biji kopinya. Sebelum itu aku bertanya apakah harganya sama dengan Gayo. Leon mengatakan jika manual seduh harganya sama semua. Dia merekomendasikan dengan V60. 

“Kalau saya minta dibuatkan dengan metode Kalita bisa?” 

“Bisa mas, santai saja,” Jawab Leon dengan tanggap. 

Sembari meracik minuman, aku meminta izin bertanya-tanya tentang Kaki Langit Coffee. Pun dengan keinginanku memotret sudut kedai. Hal ini memang sering aku lakukan ketika ingin mencari informasi untuk bahan tulisan. 

Kaki Langit Coffee ini sudah ada sejak bulan November 2018. Waktu operasionalnya mulai pukul 10.00 WIB – 01.00 WIB. Barista terbagi menjadi tiga sif. Pagi, siang, dan sore. Seluruh barista di sini berjumlah 7 orang. 

Awalnya, tidak hanya minuman. Kaki Langit Coffee juga menyediakan makanan berat. Hanya saja sewaktu aku datang sedang tidak ada menu makanan berat. Selain minuman, sementara ini yang tersedia adalah kudapaan dan keik. 

Untuk proses pembayarannya menggunakan uang tunai. Sementara waktu belum bisa menggunakan uang digital seperti Gopay ataupun OVO. Aku tahu ini karena ada salah satu pengunjung yang dompetnya lupa. Untung dia sudah janjian dengan kawannya. 
Sudut ruangan yang nyaman untuk bersantai
Sudut ruangan yang nyaman untuk bersantai

Leon menyeduh kopi, aku duduk santai di kursi depan barista. Sesekali memotret sewaktu dia menuangkan air dari ketel. Mataku tertuju konsep meja dan kursi di lantai satu. Cukup bervariasi penataan ruangannya. Kaki Langit Coffee cukup luas, sehingga tak berdesakan meja dan kursinya. 

Ruangan di lantai satu terbagi menjadi beberapa bagian. Depan, tempat yang langsung berhadapan dengan barista, serta di sisi lainnya yang searah ke dapur dan toilet. Meja panjang berkombinasi kursi panjang berlapiskan busa. 

Dilihat dari lokasinya, meja panjang di tengah tersebut menjadi lokasi favorit para pengunjung yang datang berkelompok. Mereka bisa melakukan aktivitas belajar bersama, hingga berdiskusi. Atau sekadar bersantai. 

Untuk menambah nuansa yang menyenangkan. Di bagian yang berbatasan dengan tembok lengkap rak buku dan koleksinya. Memang tidak banyak buku yang disediakan. Tapi cukup membuat nuansanya menjadi lebih asyik. 

Masih di lantai satu, tepatnya bagian depan barista. Meja panjang mengikuti lekuk dinding kaca transparan menghadap ke luar. Meja terbuat dari papan yang mengkilap karena sudah berbalur pelitur dan kursi kayu agak tinggi dengan sandaran yang pendek. 

Aku suka dengan meja panjang seperti ini. Bagiku, meja seperti ini bisa mengakomodasi para pengunjung kedai kopi yang datang sendirian. Mereka bisa fokus menyeduh kopi sambil bekerja tanpa menggunakan meja besar. 
Spot duduk di kedai kopi yang menghadap ke jalan
Spot duduk di kedai kopi yang menghadap ke jalan

Di bagian bawah sudah lengkap dengan stop kontak. Tempatnya pun nyaman. Menghadap ke jalan. Sehingga tidak membosankan. Hal ini aku utarakan ke Leon (barista) sewaktu kami berbincang santai. 

“Tapi di sini jarang yang duduk di sana, mas. Rata-rata pengunjung kedai kopi ini datang rombongan. Jadi, meja panjang ini kurang efektif,” Terangnya. 

Setiap kedai kopi memang mempunyai target pasar berbeda-beda. Di beberapa kedai, tempat seperti ini menjadi favorit karena bisa duduk sendirian. Di sini nyatanya tidak sesuai dengan pikiranku. Mungkin meja-meja dengan empat kursi menjadi pilihan para pengunjung. 

Kusesap kopi manual seduh, hingga tak terasa tinggal setengah gelas. Aku berbincang dengan baristanya tentang pengunjung kedai kopi di bulan desember – januari. Rata-rata pengunjung kedai kopi merosot, efek liburan mahasiswa sangat terasa. 

Anak tangga menuju lantai dua kunaiki. Di atas ada beberapa pengunjung. Untuk area merokok, di kedai kopi Kaki Langit ada di lantai dua. Aku meminta izin dulu ke pengunjung untuk memotret. Mereka mengizinkan. 

Bahkan aku sempat berbincang dengan perempuan yang kumintai izin memotret dia sedang bekerja. Kami berbincang santai. Sebelumnya, aku menunjukkan foto dan meminta izin untuk memostingnya di blog. 
Lantai dua kedai kopi Kaki Langit untuk para perokok
Lantai dua kedai kopi Kaki Langit untuk para perokok

“Sering ke sini?” Tanyaku sesaat. 

“Baru sekali, mas. Masnya bekerja di sini?” Tanya perempuan ini balik. 

Aku menggeleng. Kami masih berbincang ala kadarnya. Mungkin dia mengira aku barista karena sedari tadi memang asyik berbincang dengan barista di sini. Takut mengganggu aktivitasnya, aku meminta izin kembali ke lantai satu. 

Suara azan terdengar dari pelantang masjid. Di kedai kopi ini memang tidak ada tempat salat. Namun, masjid besar hanya berjarak sekitar 50 meter. Aku meminta izin ke masjid sekaligus meninggalkan kamera dan laptop di meja dekat barista. 

“Kami jaga barangnya, mas. Tenang saja.” 

Usai salat, aku kembali ke kedai kopi. Kutandaskan minuman yang tinggal beberapa tegukan. Sedari tadi berbincang hingga lupa tidak memotret kopi pesananku. Sif berganti, jika tadi sore Leon sendirian, kali ini sepasang barista yang berjaga. 

Aku lupa nama kedua barista ini, yang teringat di otakku adalah barista laki-laki dari Sumatera Selatan, dan perempuan dari Sumatera Utara. Niat ingin membuka laptop di sini terlupakan. Selain berbincang dengan Leon, tadi juga sempat ngobrol santai dengan Erwin (kawan Leon). 
Menyeduh kopi dengan metode Kalita
Menyeduh kopi dengan metode Kalita

Rinai hujan telah reda. Waktunya untuk pulang. sebelum pulang, sempat kubilang jika kopi yang tadi kusesap enak. Menurutku memang enak. Selain seduhannya pas bagiku, keramahan barista kala berbincang juga menjadi poin penting. 

Jika kalian ingin mencari tempat santai dan berdiskusi dengan kawan. Atau malah mempunyai komunitas membuat rajutan dan yang lainnya seperti beberapa perempuan sore tadi di sini. Kurasa Kaki Langit Coffee cukup kurekomendasikan untuk dikunjungi. 

Untuk jaringan internet aku tidak bisa memberi penilaian. Karena selama di sini aku tidak membuka laptop dan tidak menggunakan fasilitas tersebut. Untuk keseluruhannya, aku mempunyai kesan yang menyenangkan. *Kaki Langit Coffee; 31 Januari 2020.

11 komentar:

  1. mas, yang di lantai 2 yang lagi mojok itu jgn sampe lepas yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya lepaskan mas, takut dimarahin yang punya kalau tidak saya lepas.

      Hapus
  2. Suasananya kayaknya lumayan enak buat nulis-nulis, Mas. Kalau nulis di bangku panjang itu, setiap kali mentok bisa cari inspirasi dengan clingak-clinguk lihat jalanan. :D

    Btw, kalau dikumpulkan, tulisan-tulisan petualangan menjelajahi kafe ini bisa jadi semacam Rough Guide atau Lonely Planet kafe di Jogja, lho, Mas. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencari inspirasi sambil udud di luar hahahahha.
      Hahahahha, malah terpikirkan bikin cerita fiksi ala kedai kopi kakakaa

      Hapus
  3. Kayak nya enak juga nih buat nongkrong, cuma sayangnya jauh dari Banten nih kedai kopi Barista, adanya di Yogyakarta kan mas?

    Harganya ngga terlalu mahal sih menurutku, kopi espresso 15k, harga standar minimum di kedai kopi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kopi sekarang menyeluruh lokasinya, jadi jangan kaget kaalu di kota-kota jarang untuk wisata banyak kedai kopi.

      Hapus
  4. Dari ulasannya, tempatnya sepertinya nyaman untuk bekerja atau untuk menyendiri merenungi nasib.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merenungi nasib sambil membayangkan invoice turun

      Hapus
  5. sempat terfokus sama gerobak nasgor dibalik kaca kaki langit. sama kayak status WA temanku beberapa minggu lalu.. dekatnya OB kan ya?

    tempatnya enak, apalagi sekitaran daerah kos-kosan, kalau udah ada colokan.. cocok buat ngumpul sama teman2 yang beda kos-kosan disini nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaaha, iya nasi gorengnya murah itu.
      Kalau ke Jogja malah bingung kan mau kumpul di mana. Banyak banget kedai kopinya

      Hapus
  6. duh ke jogja kemarin nggak sempet ngopi, sok2an kaya minum kopi aja ya.. wkkwk
    boleh nih kapan2 mampir ke Kaki Langit

    BalasHapus

Pages