Nelayan-Nelayan di Pantai Gesing Gunungkidul - Nasirullah Sitam

Nelayan-Nelayan di Pantai Gesing Gunungkidul

Share This
Panorama Pantai Gesing di Gunungkidul
Panorama Pantai Gesing di Gunungkidul
Perjalanan berlanjut. Lepas menghabiskan waktu di Teras Kaca, saatnya kami ingin bermain air laut. Pantai terdekat dari sini tentunya Pantai Gesing. Jarak keduanya kurang dari 1 kilometer. Kembali gerbang dijaga, satu mobil dikenai tarif 10.000 rupiah.

Pantai Gesing berlokasi di Bolang, Girikerto, Panggang. Masih satu area dengan Pantai Nguluran. Kuminta sopir menuruni jalan agak curam, sisi kanan tampak puluhan kala nelayan berukuran kecil tergalang di pasir. Seingatku, spot inilah yang paling sering ditempati para pemotret untuk mengabadikan lansekap pantai.

Pasir putih berbatasan langsung dengan air menjorok, sehingga pantai ini cocok untuk tempat sandar kapal. Seperti yang kita ketahui, di sepanjang pesisir selatan, hampir sebagian besar nelayannya menggalang kapal selepas melaut. Didorong hingga batas aman dari air laut.

Kusebut kapal, karena bagiku lebih tepat kapal dibanding perahu. Setidaknya jika perahu itu kedua sudutnya lancip, depan dan belakang. Meski ukurannya ini memang lebih kecil dan mirip dengan perahu pada umumnya. Selain itu, lidahku lebih mudah menyebut kapal.

“Yang mau naik kapal! Ayo naik kapal!”
Kapal nelayan untuk keliling wisatawan
Kapal nelayan untuk keliling wisatawan
Selain untuk melaut, kapal nelayan berfungsi sebagai wahana para pengunjung. Pemilik kapal menawarkan para wisatawan untuk menikmati sensasi berlayar di laut lepas. Deburan ombak di sini mengingatkanku kala memotret Mercusuar Cimiring dari perairan lepas.

Pantai Gesing memang bukan menjadi tujuan utama para wisatawan. Mereka lebih banyak menjadikan tempat ini sebagai pilihan kunjungan selepas dari Teras Kaca. Harapannya tentu para wisatawan dapat menikmati deburan ombak dan pasir putih.

Para nelayan yang sedang senggang tak henti-hentinya menawarkan untuk menyeberang. Satu kapal kecil maksimal lima orang. Setiap orang yang di atas kapal wajib mengenakan pelampung. Untuk tarifnya sendiri aku kurang tahu.

Sempat kutanya rute kapal ini. Menurut salah satu nelayan tanggung menginformasikan kapal ini mengambil rute tidak jauh. Menikmati pemandangan tebing-tebing pantai dari perairan lepas. Bisa jadi, kapal kecil yang kupotret dari Teras Kaca adalah kapal nelayan untuk wisatawan.

Dua kawanku asyik bermain pasir, kubiarkan saja mereka berlarian. Sesekali aku memotret candid. Pun dengan dua jurufoto yang menjual jasa dokumentasi di sini. Keduanya adalah pemuda setempat yang sedang tidak bertugas di Teras Kaca. Mereka menjemput bola menawarkan dokumentasi ke tiap wisatawan.
Wisatawan bermain air di Pantai Gesing
Wisatawan bermain air di Pantai Gesing
Sembari bersantai, aku terus melihat dua kawanku, lantas mengamati sekitar. Hamparan pantai Gesing tidak panjang. Namun, tetap saja banyak wisatawan yang menikmati waktu menjelang sore di sini. Mereka berbaur dengan para nelayan.

Di sela-sela kesibukan memotret, aku masih berkesempatan interaksi dengan para nelayan. Dua orang sedang memanggul wadah ikan yang dipenuhi es. Nantinya wadah-wadah ini sebagai tempat menaruh hasil tangkapan di laut agar ikan tetap segar.

Corak cat nelayan hampir mirip. Bagian dalam semua seragam dengan warna biru. Untuk motif cat luar, dominan putih dengan kombinasi merah, biru, kuning, ataupun hitam. Bentuk kapal kecil semuanya nyaris sama. Mirip perahu dengan bagian belakang tidak lancip.

Tiap kapal Sebagian besar menggunakan satu mesin tempel/motor. Mesin tempel seperti ini identik dengan kapal cepat. Bentuk mesin cukup kecil, ringan, ringkas, serta dapat berakselerasi dengan mudah. Sehingga menjadi mesin rekomendasi para nelayan di pantai selatan.

Seingatku, mesin dua tak ini dominan keluaran dari Yahama. Para nelayan di pantai selatan, tidak meninggalkan mesin tersebut di kapal kala digalang. Mesin ini dicopot dan dibawa pulang. Pemandangan nelayan memanggul mesin pun sering kulihat selama duduk di sini.
Aktivitas nelayan menjelang sore hari di Pantai Gesing
Aktivitas nelayan menjelang sore hari di Pantai Gesing
Sebagai orang yang senang mengulik kapal, khususnya berkaitan dengan mesin kapal. Aku pun mendekati salah satu kumpulan nelayan yang baru sandar. Kulihat model mesin tempel/motor tersebut, lalu menebak antara 15-25 PK.

Dari berbagai literatur yang kubaca, PK pada sebuah mesin kapal adalah singkatan dari Paardenkracht, diambil dari Bahasa Belanda dengan makna Daya Kuda. Bapak nelayan menyebutkan mesinnya sendiri sebesar 15 PK.

Ada pemandangan menarik setiap kapal nelayan datang. Pemilik kapal yang biasanya dua orang langsung mendorong kapal fiber tersebut ke daratan. Dari laut, kapal langsung diarahkan ke daratan dan mereka turun siap mendorong.

Satu orang sudah berjaga, dia tidak bisa lepas dari tuas tali berukuran besar dan peluit. Dihampirinya kapal yang baru sandar, kemudian simpul tali dikaitkan pada bagian ujung depan hingga belakang. Tatkala sudah siap, dia meniup peluit.

Kapal bergerak di atas pasir. Orang yang memberi komando peluit menjaga agar cadik kapal tidak bergesekan dengan cadik kapal orang lain. Alat menarik kapal ini adalah sebuah truk berwarna merah yang sedari tadi parkir di dekat tempat pelelangan ikan.
Proses menarik kapal nelayan ke daratan
Proses menarik kapal nelayan ke daratan
Tiap satu kapal yang ditarik, nelayan mengeluarkan tarif antara 15.000-20.000 rupiah. Tidak tahu sistem pembayarannya itu harian, mingguan, atau bulanan. Berbeda halnya dengan nelayan di sekitaran pantai Depok. Biasanya semua nelayan saling membantu saat ada satu kapal hendak sandar.

Perlu diketahui, pantai Gesing ini awalnya tidak dalam. Dulu, pantai ini pernah dikeruk agar lebih dalam dan memudahkan kapal nelayan bersandar. Tidak tahu persis kapan pengerukan ini dilakukan. Informasi ini hasil dari obrolanku dengan pemuda nelayan setempat.

Tiap ada nelayan datang, aku antusias melihat proses penarikan kapal. Berkali-kali kuabadikan serta menyempatkan mengambil rekaman. Menjelang sore, makin banyak nelayan berdatangan. Pun dengan mereka yang hendak melaut.

Hasil tangkapan lautnya beragam. Kulihat dari wadah ikan salah satu nelayan yang baru datang, ikan air dalam yang terkena jaring. Sebagian besar hasil tangkapannya adalah ikan bawal laut. Salah satu jenis ikan yang menurutku enak dipindang maupun dibakar.

Ikan lainnya yang ditangkap adalah Ikan Layur. Bentuk ikan ini panjang dan ramping. Seingatku, selama di beberapa pesisir selatan, Ikan Layur mendominasi didapatkan para nelayan. Ikan-ikan ini hasil tangkapan menggunakan jaring.
Tangkapan nelayan kala sore hari
Tangkapan nelayan kala sore hari
Selain itu, jenis ikan yang lainnya juga kadang didapatkan, seperti Ikan Pari. Kali ini nelayan yang kuabadikan hanya mendapatkan sedikit tangkapan. Kami berbincang santai sembari melihat beliau mengeluarkan ikan dari wadahnya. Ikan-ikan ini dijual ke tempat pelelangan.

Di waktu senggang, para nelayan sibuk mengurai jaring yang kusut. Jaring yang disebar sepanjang malam rentang rusak. Berbagai sampah turut terjaring, kadang juga berlubang terkena gigitan ikan ataupun yang lainnya.

Jaring ini cukup panjang. Untuk menangkap ikan, biasanya kedalaman laut minimal 15 meter. Bisa dibayangkan seberapa tinggi jaring yang digunakan. Tiga nelayan mengurusi jaringnya, memerika apakah ada yang berlubang hingga membuang sampah yang terkait.

Jika ada yang rusak, nantinya mereka menyulam jaring yang koyak. Aku mendekat, gulungan jaring tebal dalam kapal lengkap dengan pelampung berwarna putih. Aku pernah menjaring ikan, hanya saja waktu itu di perairan dangkal. Ikan-ikan karang menjadi tangkapanku.

Mereka bersenda gurau. Kedua tangan cekatan mengurai jaring yang kusut. Sesekali membuang sampah yang terperangkap pada jaring. Aktivitas seperti ini sering kita lihat kala senggang. Tiap nelayan jika tidak melaut, mereka bakal memeriksa jaring, menyulam yang sobek, hingga mengecat kapal.
Mengurai jaring agar tidak kusut
Mengurai jaring agar tidak kusut
Tidak jauh dari tepian pantai, bangunan biru berlantai keramik sedikit lengang. Tadi, tempat ini sempat ramai, tiap nelayan membawa hasil tangkapannya menuju bangunan tersebut. Ini adalah tempat pelelangan ikan di Pantai Gesing.

Bangunan tersebut seperti aula. Siang ini hanya ada beberapa orang yang bersantai di dekat TPI. Salah satunya seorang ibu yang duduk santai sembari menata kotak besar sterofom sebagai tempat ikan dari nelayan.

Di sisi yang lain, satu mobil bak terbuka sibuk mengangkut kotak lebih besar berwana kuning. Sepengetahuanku, ini di dalam kotak tersebut berisi bongkahan es batu. Es tersebut untuk menimpan tangkapan laut agar tetap segar sesampai di daratan.

Para nelayan membawa kotak tersebut ke salah satu kapal agak besar. Aku pun turut mendekat, kulihat perlengkapannya sudah tertata rapi. Mereka siap melaut. Sepertinya, bulan ini musimnya ikan Layur. Mereka berharap mendapatkan hasil laut melimpah.
Tempat Pelelangan Ikan di Pantai Gesing
Tempat Pelelangan Ikan di Pantai Gesing
Puas berkeliling sepanjang pantai Gesing, aku menuju salah satu deretan warung warga setempat. Kami hendak makan siang. Aku tadi sudah memesan makanan untuk empat orang. Dua kawanku sudah menunggu, dan mas sopir duduk di sampingku.

Lumayan lama kami menunggu makanan tersaji. Dua ikan goreng dan dua porsi ikan kuah kecap tersaji. Kami menikmati santapan ikan laut di warung. Jika kalian suka dengan makanan laut dan sedang di sekitaran Teras Kaca. Aku rekomendasikan makan siang di sini saja.

Makanan ini kutebus dengan hanya membayar 100.000 rupiah. Bagiku peribadi, ini termasuk murah karena ikan yang kudapatkan besar dan pastinya masih segar. Di Jogja, jika kita hendak menikmati sajian ikan laut biasanya ke pantai Depok.
Menikmati santap siang di Panta Gesing Gunungkidul
Menikmati santap siang di Panta Gesing Gunungkidul
Menjelang sore, kami pulang. Niat hati ini menikmati matahari terbenam dari atas Bukit Paralayang batal. Langit tak bersahabat. Kami melintasi jalur berangkat, mendekati arah Teras Kaca, deretan mobil mengantre panjang. Hampir satu kilometer antreannya hingga mendekati jalan baru.

Kami pulang. Sepanjang perjalanan mendendangkan lagu Batak. Entahlan, lagu ini sering dinyanyikan kawan kala kami berkumpul di kosan. Tujuan selanjutnya adalah mengajak kedua kawan ini menikmati waktu sore di kafe yang berada di tengah kota. Namanya Kafe LehaLeha. *Pantai Gesing, 03 April 2021.

18 komentar:

  1. wah ada ikan layur ya...
    jadi inget dulu sering dimasakin ikan layur ama emak....
    belum pernah lihat wujud ikan layur pas masih hidup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, ikan layur memang banyak di sekitaran pantai selatan. Biasanya nelayan memang mencari ikan layur

      Hapus
  2. Kapal ukuran segitu kalau dikasih mesin ukuran 40pk ga akan maksimal mesinnya. Mungkin bisa terbang kapalnya. Pencurian mesin kapal emag rawan mas. Pas di kalimantan dulu, pernah dapat crita mesin kapal yang hilang dicuri. Padahal hanya ditinggal belanja sebentar.

    Pantai gesing emang ga populer dbandingkan pantai lainnya. Tapi pantai ini punya ciri khas. Nelayan, kapal, ikan, dan garis pantai yang tidak panjang.

    Jadi penasaran dengan pantai ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak nempel belakangnya hehehheh. Benar mas, di sini rata-rata mesin tempel, jadi mudah diangkat. Pantai Gesing memang lebih dijadikan tempat nelayan daripada untuk wisata

      Hapus
  3. Jalan-jalan ke pantai yang dekat dengan perkampungan nelayan memang mengasyikkan. Bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat nelayan. Sampai sekarang saya masih sering merindukan aroma ikan dan desir angin pantai, khas perkampungan nelayan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pas di Karimunjawa biasanya pulang-pulang bawa ikan. Dikasih sama nelayan yang dapat tangkapan banyak.

      Hapus
  4. Seru emang sih kalo mengenal kehidupan nelayan dari lebih dekat.
    Itung2 bisa menambah pengalaman.
    Termasuk murah dong ya kalo 100rb dapat segitu banyak menu makannya.

    Cuaca emang kadang jadi penghambat sih.
    Tapi mungkin ada baiknya, artinya besok2 disuruh balik lagi kesini mas untuk nikmatin sunsetnya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berinteraksi dengan nelayan setempat itu memang menyenangkan. Makanan murah karena dekat dengan TPI. Benar juga mas, bisa nih dolan lagi

      Hapus
  5. Nah bagus juga itu kapal nelayan dipake untuk kepentingan wisata. Pengunjung seneng, pemilik kapal dapat pemasukan lebih.

    Ngeliat ikan di kapal langsung ngeces secara pelahap seafood no.1 aku kalau di rumah haha. Sayang hasil tangkapannya nggak begitu banyak ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sore mereka sudah sandar, jadi kesempatan dapat tambahan dari jasa keliling wisata pas di laut.

      Hapus
  6. Waaaah aku sih drpada makan di teras kaca, ya mending di warung pantai ini mas :D. Pengalaman sebelumnya, walopun warung tapi pasti rasa seafoodnya enak, dan segeeeer. Even cuma dibakar Ama garam doang :D.

    Aku suka pantai Gesing ini. Tawaran utk naik perahu pasti ga bakal aku tolak kalo kesana. Pengen aja ngeliat area2 sekitarnya dengan perahu. Walopun kdg serem2 gimana pas liat ke air. Ga bisa berenang soalnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah salah satu alasan kenapa aku pas di destinasi sebelumnya menahan diri tidak ke restonya ehehehhe. Kalau nyeberang di sini wajib mengenakan pelampung, mbak. sesuai dengan SOP

      Hapus
  7. Rindu sekali dengan pantai, apalagi bisa makan ikan bakar di sana langsung. Huhu semoga bisa segera jalan-jalan bebas lagiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja semuanya lekas membaik, mbak. Kita semua rindu menghirup alam bebas.

      Hapus
  8. di area gunung kidul banyak banget sekali pantai yang bagus dan unik2 .... sepertinya mungkin bisa sewa perahu nelayan jelajah dari pantai ke pantai di sekitar sana ya mas Sitam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya bisa kang, karena nelayan di sini juga menawarkan jasa keliling naik perahu

      Hapus

Pages