Salah satu privilege bekerja di FK-KMK UGM adalah bisa berkunjung ke museum Bio-Paleoantropologi dengan mudah. Sama halnya dengan saat ini, aku mendapatkan tugas untuk memotret kunjungan dari delegasi luar negeri untuk melihat ruang kerja Prof. Jacob.
Sedari dulu, aku memang ingin mengabadikan meja kerja tersebut. namun karena kesibukan, sehingga belum bisa terealisasikan. Pada akhirnya, waktu itu tiba. Aku berkesempatan sowan ke ruang kerja tersebut, mengabadikan sudut-sudut di ruangan Prof. Jacob.
Tamu yang merupakan bari peneliti luar negeri belum datang, aku mendahului masuk ruangan Prof. Jacob. Seingatku, ini sudah keempat atau kelima kalinya aku masuk ruangan tersebut. namun, ketika museum Bio-Paleoantropologi direvitalisasi, ini baru kali pertama aku masuk.
![]() |
| Posisi kursi dan lemari di Museum Bio-Paleoantropologi tetap sama |
Kulihat sekitar, berbagai barang yang ada di ruangan kerja Prof. Jacob tidak banyak berubah. Seingatku, peletakan rak katalog agak berbeda dari awal. Mungkin karena digeser agar lebih rapi. Ruangan ini tidak bisa diakses secara umum, hanya untuk keperluan penting baru dibuka, khususnya bagi mereka yang bergelut di bidang Antropologi.
Ruang kerja Prof. Jacob begitu rapi. Bagi orang-orang yang meneliti tentang fosil, tentu sangat familiar dengan beliau. Prof. Dr. Teuku Jacob MS MD DSc dikenal sebagai pakar antropolog yang memiliki pengetahuan sangat luas. Beliau seorang guru pemerhati ilmu antropologi dan kepurbakalaan, tidak hanya di UGM tetapi di Indonesia.
Penemuan-penemuan penting yang beliau hasilkan antara lain fosil Homo erectus di Sangiran pada tahun 1962 dan penelitian tentang Homo floresiensis di Liang Bua, Flores. Terlihat, di ruang kerja Prof. Jacob, terdapat beberapa fosil yang terpasang pada etalase sebagai bukti kontribusi beliau di bidang antrolopogi dan kepurbakalaan.
![]() |
| Meja kerja Prof. Jacob di Museum Bio-Paleoantropologi |
Sebuah matador berukuran sedang terpasang tepat di depan meja kerja beliau. Terpajang foto beliau dengan kutipan kalimat “Saudara-saudara yang lebih muda harus dapat menghayati bidang saudara, di negeri yang paleoantropologis termasuk kaya ini, dengan terus-menerus membina diri untuk dapat menyumbangkan sesuatu pada evolusi pikiran manusia di kawasan ini maupun di dunia - Teuku Jacob, 2008:75.”
Aku melihat sudut-sudut di ruangan Prof. Jacob. Meski tidak tahu banyak tentang purbakala, namun melihat antusiasnya para peneliti luar negeri yang berkunjung ke ruangan ini membuatku kagum dengan sosok Prof. Jacob.
Tercatat, salah satu perjuangan Prof. Jacob untuk Indonesia adalah berhasil memulangkan berbagai fosil manusia purba Indonesia yang tersimpan di luar negeri selama puluhan tahun. Fosil-fosil dari Amerika Serikat, Jerman, maupun Belanda berhasil dipulangkan ke Indonesia.
![]() |
| Rak-rak buku di dalam ruangan Prof. Jacob |
Perjuangan ini merupakan upaya gigih ini menunjukkan nasionalisme dan dedikasi beliau terhadap pelestarian warisan bangsa. Kembali ke ruangan kerja Prof. Jacob, berbagai buku koleksi beliau tersimpan rapi dalam rak.
Di sinilah beliau bekerja tampak mengenal waktu. Ruangan ini tidak terbuka untuk umum. Hanya sesekali dibuka untuk keperluan tertentu. Salah satunya seperti saat ini, karena ada beberapa peneliti luar negeri yang hendak berkunjung dan ingin melihat lebih dalam tentang Prof. Jacob.
Meja Prof. Jacob masih rapi. Terdapat lima buah buku yang tertata di atas meja, ditambah satu buku semacam catatan harian. Tidak ketinggalan pena dan pensil yang ada di sampingnya. Posisi meja ini memang tidak diubah. Masih sama dengan ketika mendiang Prof. Jacob masih ada.
Di berbagai etalase, terdapat berbagai fosil yang terpajang. Pun dengan salah satu tempat semacam koper yang ada di samping meja. Deretan rak penuh dengan koleksi layaknya sebuah perpustakaan khusus. Buku-buku ini terbitan lama.
![]() |
| Salah satu koleksi buku Prof. Jacob di ruang kerjanya |
Kulongok sebuah rak katalog buku. Setiap rak mempunyai subjek yang berbeda-beda sebagai identifikasi ketika mencari data. Ada subjek Morphologi, Biotypologi, Anatomi, Anthropologi Ragawi,Antrhopologi Budaja Linguistik, Arkeologi, dan yang lainnya.
Pun dengan koleksi buku yang tertata di beberapa sudut ruangan. Semuanya tampak terawat dengan baik. Koleksi arsip dijadikan satu almari sendiri, sementara koleksi jurnal ataupun koleksi berseri pun sudah terdapat punggung buku, lengkap dengan nomor panggilnya.
Jika kalian berkunjung ke museum Bio-Paleoantropologi UGM, ruang Prof. Jacob memang tidak dilewati, karena berada di sisi yang berbeda. Harapanku, ruangan ini tetap terjaga dengan baik, dan mungkin bisa dijadikan salah satu sudut unggulan museum Bio-Paleoantropologi.
Maksudku begini, dinding yang menghadap lorong ruangan ini dibuat kaca transparan, sehingga pengunjung bisa melihat suasana ruang tanpa harus masuk. Selain itu, diberikan juga informasi yang jelas bahwa ini adalah ruangan Prof. Jacob ditambah dengan storytelling ketika mendampingi pengunjung.
Waktu kunjung selesai, aku meninggalkan museum Bio-Paleoantropologi UGM. Di FK-KMK UGM, selain museum Bio-Paleoantropologi juga ada museum Anatomi. Namun, seluruh koleksinya tidak boleh disebarkan di media sosial. Ada yang pernah ke sini? *FK-KMK UGM; 31 Oktober 2025.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar