Jauh sebelum Karimunjawa ramai dikunjungi wisatawan, nama Legon Lele merujuk pada perkampungan yang ada di Karimunjawa. Namun kini nama tersebut mulai tenggelam, dan lebih populer dengan nama pantai Bobby yang lokasinya tak jauh dari Legon Lele.
Dalam dua dekade terakhir, perubahan cukup drastis di sekitaran Kapuran. Deretan pantai sudah dikelola dengan baik. Berbagai penginapan mulai dibangun, dan perekonomian makin menggeliat. Ketika berkunjung ke arah pantai Bobby, ada satu spot yang menarik untuk dikunjungi.
Aku tidak tahu apakah spot ini sudah diberi nama atau belum. Spot ini berada di area tanjakan sebelum turunan tajam menuju pantai. Tanah lapang ini cukup mudah ditemukan, karena memang lokasinya tepat di tikungan dan ada satu pohon besar yang membuat lebih teduh.
![]() |
| Memarkirkan sepeda motor di tepian jalan |
Sepulang dari pantai Bobby, aku sengaja menghentikan sepeda motor di sini. Kuajak istri dan sikecil untuk sekadar melihat pemandangan lanskap Karimunjawa dari atas. Perbukitan yang masih asri memanjakan mata, meski di bawah sengatan matahari.
“Foto di sini?” tanya istri keheranan.
Aku tersenyum, sengaja membiarkan istri agak keheranan. Kuajak dia dan sikecil mendekat, melihat bentangan alam Karimunjawa dari ketinggian. Tanpa menunggu waktu lama, istri langsung mengambil ponsel dan merekam pemandangan tersebut.
“Aku mau sambil jalan ya?” pintanya seraya menyerahkan ponsel.
Lokasinya tidak luas, hanya di tepian jalan menuju pantai. Namun, jika dilihat secara saksama, lanskap sudut lain di Karimunjawa sayang untuk dilewatkan. Dari sini, kita bisa melihat kapal-kapal yang melintas, ataupun pulau Batu yang lokasinya tak jauh dari pantai Bobby.
![]() |
| Pulau Batu terlihat dari kejauhan |
Perbukitan yang asri ini terlihat dengan jelas. Pepohonan yang rimbun tanpa ada bopeng galian tanah ataupun pembangunan di kaki bukitnya. Kawasan tersebut harus tetap terjaga agar sokongan air bersih di Karimunjawa tetap terjaga.
Menilik kawasan di sini, pembangunan lumayan masif. Terlihat di salah satu ruas jalan tadi sepertinya sedang dalam proses pembersihan lahan. Aku tidak tahu, area-area tersebut masuk zona apa di Balai Taman Nasional Karimunjawa. Namun, masifnya pembangunan harus dibersamai dengan komitmen menjaga alam.
Aku duduk santai, menatap jauh perbukitan di Karimunjawa. Sepertinya, spot ini menarik untuk menjadi salah satu destinasi tambahan tanpa ada bingkai tulisan. Orang-orang akan sadar sendiri secara langsung jika ada foto dengan lanskap seperti ini, pastinya merujuk ke Karimunjawa.
![]() |
| Perbukitan yang hijau di Karimunjawa |
Istri dan sikecil sengaja berjalan menuju batu yang lokasinya masih di zona aman. Aku memotret dari kejauhan. Pakaian yang dikenakan kontras dengan warna hijau alam, sehingga terlihat bagus lata belakang fotonya. Berkali-kali kuabadikan di spot foto ini.
Kami tidak lama, karena waktu makin terik. Sebenarnya, berkunjung ke spot ini lebih nyaman ketika pagi ataupun sore hari. Tentu saja pemandangan lebih bagus, dan rona langit berbeda. Kita tidak tahu, dalam beberapa waktu ke depan, biasanya tempat seperti ini makin ramai.
Sebenarnya, masih banyak spot-spot yang menarik diabadikan selama di Karimunjawa. Namun karena waktu pulang terbatas, jadi aku hanya memotret spot yang gampang diakses dan sudah cukup familiar bagi wisatawan yang berkunjung ke Karimunjawa.
![]() |
| Memotret istri dan sikecil di lanskap spot Karimunjawa |
Sepanjang pantai di kawasan Kapuran, ada banyak destinasi yang bisa dikunjungi. Petakan-petakan pantai yang berdampingan mulai membangun citra agar menarik perhatian para wisatawan. Tentu saja dengan harapan makin ramai wisawatan yang menjelajah Karimunjawa.
Pembangunan di sekitar semoga berdampak bagus untuk perekonomian warga setempat. Sehingga roda-roda perekonomian di Kapuran terus bergerak, dan warga makin bisa menggali potensi yang lain untuk menarik wisatawan. Entah dalam bentuk kuliner ataupun yang lainnya.
Waktunya pulang, kubaca dengan saksama tulisan yang tertera pada salah satu batang pohon. Tertulis informasi “Tanah Milik PT Alano Mandira”. Kita tidak tahu dalam beberapa tahun ke depan, apakah tanah ini masih lapang seperti ini atau sudah ada pembangunan. *Karimunjawa; 19 Maret 2026.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar