Menyempatkan Berkunjung ke Pantai Mutun Menjelang Petang - Nasirullah Sitam

Menyempatkan Berkunjung ke Pantai Mutun Menjelang Petang

Share This
Pantai Mutun Lampung
“Mari menyeberang ke pulau Tangkil,” sambut bapak-bapak di tepian pantai.

Kami menggelengkan kepala, kedatangan kami ke pantai Mutun hanya untuk menghabiskan waktu petang sebelum besok sibuk beraktivitas. Dari beberapa daftar pantai yang kami dapatkan, pantai Mutun menjadi pilihan karena lokasinya tidak begitu jauh.

Usai mendapatkan kamar hotel, kami sempat merencanakan menyambangi pantai di Lampung. Kawan yang pernah ke Lampung merekomendasikan pantai Mutun dengan pertimbangan jarak. Kami langsung menyepakati, lantas memesan transportasi daring.

Perjalanan menjelang sore lumayan lama. Kulihat mobil menuju arah barat, keluar dari keramaian kota Bandar Lampung. Sesekali aku melihat peta di gawai, jalanan memang tidak terlalu besar, namun cukup padat. Sesekali harus lebih pelan karena banyak motor yang menyeberang.

Sekitar 15 kilometer jarak dari hotel menuju pantai Mutun. Pantai Mutun ini berlokasi di desa Sukajaya, Padang Cermin, kabupaten Pesawaran. Lokasinya ada di sisi barat Bandar Lampung. Kami menikmati keseruan selama perjalanan.
Gazebo di pantai Mutun Lampung
Gazebo di pantai Mutun Lampung
Sesampai lokasi, sebuah plang menunjukkan arah pantai Mutun. Sudah ada petugas yang berjaga, kami membayar tiket masuk. Satu orang dikenai tarif sebesar 35.000 rupiah. Kami membayar dengan uang pas, kemudian petugas memberikan tiketnya.

“Tiket ini sudah termasuk dengan fasilitas menggunakan gazebo,” terang petugas yang berjaga.

Area parkir di pantai Mutun cukup luas. Sore ini lumayan ramai pengunjung yang berdatangan. Dua bus pariwsata besar sedang terparkir, dan beberapa kendaraan baik roda empat maupun roda dua juga tertata rapi di parkir.

Kulihat, memang ada banyak gazebo yang disediakan. Kami menuju salah satu gazebo yang besar. Sebelum kami tempati, salah satu orang di sini membersihkan terlebih dahulu. Setelah itu, kami ucapkan terima kasih dan duduk santai di gazebo.

Di pantai Mutun, banyak wisatawan yang sedang bermain air. Ombak di sini cukup tenang, serta air laut langsung dalam, sehingga asyik dimanfaatkan para wisatawan untuk berenang. Pasir putih di pantai Mutun cukup bersih. Sepertinya, pantai ini sudah terkelola dengan baik.
Anak-anak bermain di pantai Mutun Lampung
Anak-anak bermain di pantai Mutun Lampung
Berbagai fasilitas seperti tempat mandi, berbagai warung, dan gazebo cukup banyak. Wisatawan bisa bersantai di gazebo ataupun menggelar tikar di pasir. Sore ini, suasana cukup tenang, sepoi angin laut menjadi lebih asyik.

Anak-anak terlihat bermain air. Beberapa kapal kayu sedang tertambat, kapal-kapal tersebut dimanfaatkan para wisatawan yang berenang untuk melompat. Beberapa kapal lainnya terlihat sedang melintas dari kejauhan.

“Menyeberang ke pulau Tangkil bang, bisa pakai kapal kami,” ujar seseorang menawarkan paket menyeberang ke pulau yang lokasinya dekat.

Dari pantai Mutun, jarak ke pulau Tangkil memang dekat, sehingga terjangkau menggunakan kapal. Beliau menawarkan jasa untuk mengunjungi pulau tersebut, namun karena memang sudah sore, tentu kami menolak dengan halus.

Sepertinya, pulau Tangkil menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke pantai Mutun. Tentu saja untuk menyeberang biasanya dilakukan secara rombongan, sehingga harganya lebih murah.
Hamparan pasir di pantai Mutun Lampung
Hamparan pasir di pantai Mutun Lampung
Tawaran menyeberang ke pulau ini mirip dengan saat kita berkunjung ke Cilacap, kemudian ditawari menyeberang ke pulau Nusakambangan, ataupun berlibur ke pantai Kartini Jepara, kemudian ditawari menyeberang ke pulau Panjang.

Sore ini, air laut cukup tenang. Pantai Mutun menghadap ke utara, matahari yang mulai turun tertutup perbukitan kecil. Langit cerah, sedikit awan bergumpal tipis menambah indah pemandangan kala sore hari.

Kami menjelajah area pantai Mutun. Di sudut yang lain, kios-kios warga menawarkan berbagai kuliner. Spot foto di bertuliskan I Love MS Town Pantai Mutun tepat di bawah pintu masuk ke jembatan kecil. Di sampingnya, sebuah kedai kopi sudah menawarkan berbagai menunya.

Menjelang waktu senja, jembatan di pantai Mutun makin ramai. Terlihat sekumpulan pemuda sedang duduk santai di salah satu tempat duduk di jembatan, memetik gitar sembari bernyanyi. Bahkan salah satu dari mereka melambaikan tangan ketika melihatku merekam dengan Gopro.
Menjelang sore di pantai Mutun Lampung
Menjelang sore di pantai Mutun Lampung
Dari kunjungan singkat ke pantai Mutun, ada beberapa hal yang bisa kugambarkan menurut persepsiku. Pantai Mutun ini banyak kapal nelayan, tentu bagi yang suka memotret aktivitas masyarakat setempat menjadi menyenangkan. Kapal-kapal tersebut menawarkan jasa antar ke pulau Tangkil.

Pantai di Mutun sebenarnya sudah terkelola dengan baik. Ada tarif untuk kendaraan roda dua ataupun empat. Fasilitas seperti musala, kamar mandi, dan warung tersedia. Pantai ini cukup tenang, nyaman untuk anak-anak bermain pasir.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah, di pantai Mutun ternyata bisa kita jumpai beberapa anjing yang sedang bersantai. Sepengetahuanku ada sekitar tiga. Dua di area parkir, satu lagi lagi bersantai di jembatan. Tapi anjing-anjing ini tidak mengganggu, bahkan cuek dengan keberadaan kita.

Tepat sebelum petang, kami meninggalkan pantai Mutun. Ini adalah pantai pertama yang aku kunjungi di Lampung. Kami menelpon mobil yang mengantarkan tadi sore untuk dijemput kembali. Karena sejak awal sudah sepakat ditunggui. Kali ini, kami menuju kuliner seruit di tengah kota Bandar Lampung. *Pantai Mutun; 17 Mei 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages