Lamunan Ditemani Segelas Teh Hangat

Menikmati malam, memandang jutaan bintang dari lantai dua rumah ditemani segelas teh hangat. Aihhh, jangan tanyakan seperti apa nikmatnya suasana malam ini. Hembusan angin terdengar dikala menerpa daun-daun pisang disamping rumah, kemudian menerobos masuk menghantam kulit ari tubuh ini. Dan kali ini aku merasa hawa dingin menusuk tulangku, aku kedinginan.

Begitu indah malam ini. Aku memainkan sebuah pena untuk menggerus kertas kosong dijadikan sebuah kertas yang dapat terbaca dengan kata-kata indah namun sulit kumengerti. Kadang aku harus berhenti menulis karena harus membalas pesan singkatmu. Walau kamu jauh dari hadapanku, namun tetap dekat dihatiku. Seperti sebuah syair lagu yang dinyanyikan oleh beberapa pemusik tanah air. Walau kau jauh, namun dekatlah dihati………”
Note, pena, dan segelas teh hangat
Note, pena, dan segelas teh hangat
Mata menjurus memandang langit malam ini, kembali aku berhenti menulis untuk memandang bintang yang bertaburan. Kali ini pikiran berkhayal melihatmu di salah satu bintang yang terang. Iya kamu ada tepat diatasku. Namun  disaat bersamaan aku melihat bintang disudut lain yang lebih indah, aku kembali menyeruak seraya berkata “Tentu itu kamu”. Ahhh, yang mana kamu sebenarnya? Kamu terlalu indah untuk aku samakan dengan bintang-bintang disana.

Kuseduh teh hangat agar tubuhku sedikit mendapatkan aura kehangatan. Kembali hati ini bersenandung layaknya seorang pujangga malam. Hati ini berguman “Manisnya wajahmu bagaikan teh hangat yang aku seduh”. Lugu kah aku? Menyamakan kamu hanya dengan segelas teh hangat, padahal masih ada yang lebih manis daripada teh. Masih ada madu yang lebih manis dan tidak membosankan. Ah, namanya juga sedang bersenandung.

Huffftt bodohnya aku kali ini, walau aku tahu madu itu lebih nikmat tetapi aku tetap memilih segelas teh hangat. Aku abaikan kenikmatan setetes madu karena saat ini aku tidak bisa dihangatkan oleh madu. Aku hanya dihangatkan oleh segelas teh hangat. Seperti itulah cinta, walau ada sesuatu yang lebih baik dan lebih bagus, tapi kita memilih seseorang yang mau bersama kita dimanapun dan kapanpun. Menerima apa yang ada dihadapankita sekarang lebih bagik daripada mengkhayal sesuatu yang lebih baik untuk diri kita, namun sebenarnya mereka tidak pernah ada disamping kita.
Baca juga postingan yang lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar :

  1. Hufffftt. Tulisan yang enak dibaca, sehingga membuat pembaca tidak ingin melewatkan satu kata di tulisan ini. Sungguh, menikmati sebuah bacaan seperti ini nikmat banget, terasa kental sekali.

    ReplyDelete
  2. Kata-katanya sungguh makjeblekblek. :) salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. :-)
      Salam kenal, pokoknya yang penting menulis dan berkhayal *eh :-D

      Delete
  3. Weits...kalimatnya puitis banget mas Rullah.. Mau dong aku jadi tehnya, hahaha...

    ReplyDelete
  4. lamunan saja sudah bisa jadi inpirasi buat bahan tulisan ya mas, hebaaattttt....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu ngelamun sedikit berkhayal ini :-D
      Jadi ngelantur nulisnya :-D

      Delete
  5. cint itu pilihan, tapi pilihan yang sulit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sulit tapi harus memilih dengan bijak :-D

      Delete
  6. wuihhh kata-katanya puitis banget,,setuju lebih baik mensyukuri yang ada daripada mengada-ngada :)

    ReplyDelete
  7. semoga saya bisa menemukan orang yang menganggap saya 'madu'...bukannya dimadu,,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaaa, madu itu enak kalau tanpa ada imbuhan kata "di" kecuali kalau imbuahanya "me" haaaa

      Delete
  8. Teh hangat bisa juga campur madu loh pa..lebih sehat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang waktu ngelamun itu nggak ada madunya mbak :-D

      Delete