Menapaki Jejak Menuju Candi Selogriyo, Magelang

Hari berikutnya, setelah semalam menikmati acara Festival Jamu di Alun-alun kota Magelang, berlanjut merehatkan badan di hotel PurI Asri, pagi ini selepas sarapan di restoran hotel aku dan rombongan berkumpul menunggu agenda selanjutnya. Ya, pagi ini (Sabtu, 06 Juni 2015) tujuan selanjutnya adalah ke Tidar, Magelang.

“Agenda diubah, tidak jadi ke Tidar tapi langsung ke Selogriyo,” Kata pemandu kami.
Perjalanan ke Candi Selogriyo, Magelang
Perjalanan ke Candi Selogriyo, Magelang
Selogriyo? Ya sebuah tempat yang memang baru aku dengar. Aku mendapatkan informasi kurang detail tentang tempat ini, ada yang bilang ini sebuah bukit. Namun, pertanyaan dikepalaku langsung terjawab saat dua guide lokal (yang ternyata salah satunya adalah temanku bersepeda) asli Magelang ini menerangkan bahwa Selogriyo adalah sebuah candi kecil di antara bukit. Kami pu bergegas menaiki bis dan menuju lokasi. Sesampai di dekat jalan menuju candi, sebuah jalan aspal kecil terbentang di depanku. Katanya jaraknya sekitar 2km dari ini. Alhasil kali ini harus menapaki jalanan dengan jalan kaki.

Jalanan aspal awalnya lumayan besar, setiap sisi terhampar pemandangan hijau karena sawah berjejer-jejer luas. Semakin jalan jauh, jalanan berubah menjadi lebih kecil. Kali ini bukan sawah lagi, tapi perumahan warga setempat. Aku dan rombongan pun melalui jalan di antara rumah-rumah yang ada. Tidak lama kemudian kembali bentangan sawah tepat dihadapan kami. Sejenak rombongan terlihat berhenti, mengabadikan beberapa bukit hijau yang terlihat oleh kedua mata. Pemandangan ini membuat rasa capek sedikit hilang, terpuaskan oleh pemandangan yang ada di depan.
Masih perjalanan menuju Candi
Masih perjalanan menuju Candi
Masih perjalanan menuju Candi
Lebih 1km aku berjalan, ada sebuah gerbang yang bertuliskan Candi Selogriyo, dan sebuah pos kecil yang dijaga oleh warga setempat. Ada tiga anak perempuan dengan umur belasan tahun. Mereka setia menjaga pos ini dan menunggu pengunjung datang. Sepertinya gerbang ini masih jauh dari lokasi candi, karena sepanjang mata memandang belum terlihat sebuah bangunan candi. aku pun menghela nafas seraya tetap berjalan santai.
Bareng pemandu dan teman blogger
Bareng pemandu dan teman blogger
“Candinya ada di balik bukit itu,” kata salah satu pemandu.

Yah, lebih jauh dari perkiraanku. Mungkin tidak hanya 2km, tapi malah 3km dari tempat awal kami berjalan lokasinya. Melewati jalanan paving, kemudian dilanjut dengan jalan setapak, lalu di depan terdapat gerbang dan jalanan membentuk anak tangga. Aku dan Ruqia yang memang berjalan berdua pun sedikit lega, ini artinya sudah dekat. Aku menapaki setiap anak tangga yang naik. Dan terlihatlah sebuah candi kecil serta papan bertuliskan “Candi Selogriyo”. Aku dan Ruqia menuju sebuah pos yang dijaga oleh dua orang. Di sini kami mengisi biodata, akhirnya sampai juga. Sambil mengisi, aku pun tanya nama desa dan berapa setiap harinya pengunjung yang datang ke sini kepada bapaknya.
Sampai juga di Candi Selogriyo
Sampai juga di Candi Selogriyo
Sampai juga di Candi Selogriyo
“Alamat candinya, dusun Campurejo, desa Kembangkuning, kec Windusari, Magelang mas. Kalau akhir pekan biasanya pengunjungnya bisa 50an perhari,” Jawab beliau.

Candi Selogriyo ini merupakan candi Hindu yang berada di timur lereng gunung Sumbing. Dari papan informasi, aku dapat mendapatkan sedikit informasi tentang candi ini. Candi yang ditemukan oleh Hartmann (residen Magelang masa penjajahan) pada tahun 1835. Di candi ini ada empat sisi yang setiap sisinya ada arcanya. Adapun arca tersebut adalah Durga Mahisasuramardini, Ganesa, Rsi Agastya, dan Nandishwara & Mahakala.
Candi Selogriyo dari dua sudut berbeda
Candi Selogriyo dari dua sudut berbeda
Candi Selogriyo dari dua sudut berbeda
Aku mengelilingi candi kecil ini, dan berusaha melihat seperti apa relief ataupun arca yang ada. Namun ada yang membuatku mengganjal. Beberapa arca ini tidak ada kepalanya, bagian kepalanya suda raib entah ke mana. Sebuah pertanda bahwa sudah selayaknya hal seperti ini tidak terjadi lagi di manapun tempatnya. Pemerintah harus bisa menjaga aset peninggalan sejarah bangsa dibantu dengan pengelola dan warga setempat.
Ada yang terlihat aneh?
Ada yang terlihat aneh?
Ada yang terlihat aneh?
Kedua guide lokal mulai memaparkan secara detail tentang candi Selogriyo ini, sedangkan aku malah asyik sendiri mengamati sekitar. Dari kejauhan terlihat semua mahasiswa internasional pun antusias untuk mengenal lebih dekat mengenai candi ini. termasuk teman yang sedari tadi berjalan bareng aku, Ruqia. Dia tampak mendengarkan dengan seksama apa-apa yang dijelaskan oleh kedua guide.

Saya hanya tahu candi Borobudur dan Prambanan saja, ternyata banyak candi lain,” Ucap Ruqia mendekatiku saat aku mengabadikan mereka.
Mahasiswa Internasional menyimak keterangan dari guide
Mahasiswa Internasional menyimak keterangan dari guide
Aku tersenyum mendengar ucapan dia. Ya, dia berasal dari Afganistan tepatnya di Kabul. Tentu tidak banyak dia tahu tentang candi-candi di Indonesia. Selesai kegiatan mengenalkan tentang candi dan beberapa diskusi serta permainan, aku dan rombongan pun membuat lingkaran di halaman candi untuk menikmati makan siang Pecel. Asyik, sebuah suguhan makan siang yang menggugah selera. Tidak hanya aku, teman-teman yang lain pun sangat menikmati.
Makan siang pecel pincuk
Makan siang pecel pincuk
Makan siang pecel pincuk
Tentu sebelum aku dan rombongan ini meninggalkan candi Selogriyo, ritual berfoto bareng tidak lupa kami lakukan. Sebelumnya, aku sudah berfoto sendirian. Tepat di halaman candi, kampi pun berfoto bersama.
Hanya ada 4 orang Indonesia, termasuk aku
Hanya ada 4 orang Indonesia, termasuk aku (paling kiri)
Selepas itu, aku dan rombongan kembali menuju lokasi pertama kami turun dari bis. Siang panas ini aku berlari menuju bawah. Teman berlariku bukan Ruqia, melainkan Ahmad yang berasal dari Yordania. Dia mengajakku untuk berlari agar sampai lokasi lebih cepat. Selama berlari, dia bercerita kalau di Yordania dia sering olahraga seperti ini. Ternyata dia suka main sepakbola dan futsal, duh nasibku. Aku terpaksa berlari bareng orang yang memang terbiasa dengan seperti ini, aku pun berusaha mengimbanginya walau sedikit tersengal-sengal.
*Liputan ini difasilitasi oleh Dinpudpar Jateng tanggal 4-6 Juni 2015 dengan menggandeng Mahasiswa Internasional dan Blogger.

Baca juga tulisan yang lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

24 komentar :

  1. menapaki sejarah masa lampau, saya seneng jelajah situs peninggalan sejarah, di magelang paling populer borobudur, ternyata masih ada situs lain yang tidak terekspos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga baru tahu waktu diajak ke sini, mas. Sebelumnya belum pernah dengar nama Candi ini.

      Delete
  2. Kak ... ce yg nulis buku tamu itu cakep juga yaaaa #gagalFokus

    ReplyDelete
  3. wah keliatan sangat seru yaa dengan acaranya :)

    ReplyDelete
  4. kang ko candinya di ikat gitu kang. kenapa ini kang

    ReplyDelete
  5. Aku kangen semua tentang waktu itu. Matur nuwun!!

    ReplyDelete
  6. candinya ga ngetop ya .... tapi bisa dikatakan terawat dan di urus dengan cukup baik ... he he
    meskipun ada aja orang yang curi kepala patung ..... hiyyyy ... nanti di datengin loh sama badannya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah mirisnya di Indonesia, kang. Banyak benda purbakala yang tidak terawat :-(

      Delete
  7. Wah saya malah baru tau mengenai candi ini mas, wah sip nih siap ane ngetrip kesana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Candi ini memang belum begitu dikenal, mas Tapi tempatnya sangat sejuk karena di area perbukitan.

      Delete
  8. Belum pernah kesampaian ke kawasan destinasi wisata xejarah dengan menapki jajak sejarah tempo dulu di kawasan Candi Selogriyo nan eksotis yang memiliki kisah masa lampau.

    ReplyDelete
  9. wah, bagus sekali, dulu waktu saya ke sana, waktu jaman pramuka SMP, masih dalam perbaikan, kira2 tahun 2001 an., sudah lama ternyata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah nggak kebayang jaman segitu serunya :-D

      Delete