Sejuknya Suasana Hutan Pinus Setro Batealit di Jepara

Minggu dinihari hujan deras masih mengguyur Jepara. Sesekali terlihat kilat disertai suara petir kencang. Aku meraih jam tangan di meja, jarum jam menunjukkan pukul 03.30 WIB. Sudah pasti jika hujan masih mengguyur sampai pagi, niatku yang ingin memotret sunrise di Jembatan Cinta gagal. Sampai pagi hujan tak sedikit pun reda, hanya intensitas guyurannya berkurang. Usai sholat subuh, aku masih menunggu cuaca di luar. Serambi menunggu hujan reda, kubuka laptop dan mencari-cari destinasi wisata yang bisa kukunjungi pagi nanti jika sudah reda. Tujuanku tertutu pada Hutan Pinus di Setro Batealit, Jepara. Jarak antara kota ke Batealit sekitar 15km. di sana juga terdapat beberapa air terjun yang mungkin bisa kukunjungi jika waktunya memungkinkan. Tidak lupa kucatat beberapa destinasi air terjun di buku kecil, lalu kumasukkan ke dalam tas.

Kesabaranku menunggu hujan reda berhasil. Pukul 06.45 WIB guyuran air hujan berhenti. Aku bergegas mempersiapkan kamera dan sarung kumasukkan ke dalam tas. Kuambil topi putih yang bertuliskan “Jateng Gayeng” kiriman dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah tempo hari. Pagi ini aku mengayuh sepeda menuju Batelaet; rute yang kulalui adalah Tanah Abang (Kauman) – Panggang – Senenan – Tahunan – Pekalongan – Bawu – Batealit. Menyusuri jalanan Batelait sangat menyenangkan. Setelah di jalan raya bersaingan dengan bus dan truk, di sini lebih lengang. Aku tertarik mengabadikan salah satu jalur jalanan di Batealit yang teduh. Kiri kanan jalan dipenuhi pepohonan rindang. Pagi yang tanahnya masih basah berkombinasi dengan pepohonan serta aspal yang basah cukup bagus. Suasananya benar-benar menyejukkan.
Jalannya bikin nyaman dan sejuk
Jalannya bikin nyaman dan sejuk
Jalannya bikin nyaman dan sejuk
Ruas jalan yang halus kulalui sampai habis. Aku kali ini mengayuh sepeda di jalan yang berlubang. Sedari awal, jalan ini sebenarnya nanjak, hanya saja tidak terlalu kelihatan jika menaiki kendaraan bermesin. Kalau menggunakan sepeda cukup terasa. Sesekali aku bertanya pada warga mengenai Hutan Pinus ataupun mengenai air terjun yang baru booming “Dung Paso”.

“Ikuti jalan ini terus mas, nanti ketemu Tines-nya. Kalau air terjung Dung Paso masih jauh, mas. Jaraknya seperti dari sini sampai Tines, mas,” Terang seorang bapak yang kutanyai.

“Jalannya nanjak nggak, pak?” Tanyaku kembali.

“Nanjaknya biasa, mas. Namanya juga daerah gunung.”

Aku paham maksud bapak tersebut. Segera kuucapkan terima kasih lalu bergegas mengayuh sepeda. Tanjakan sedikit lebih terasa, tapi masih bisa aku lewati. Sekitar seratus meter dari tempat kubertanya pada bapak terdapat sebuah plang yang menunjukkan arah Hutan Pinus Setro. Oya, Hutan Pinus Setro lebih dikenal oleh warga setempat dengan sebutan Tines. Jalan lebih parah, selain menanjak, jalannya hanya bebatuan yang tertata tak beraturan. Aku harus menuntun sepeda sampai atas. Di sana terdapat sebuah gubuk kecil. Beratapkan anyaman daun kelapa dengan dinding sebagian terbuka, sebagian lagi ditutupi dengan bekas spanduk. Ternyata ini adalah warung yang sekaligus sebagai tempat parkir bagi orang yang ingin ke Hutan Pinus tapi takut dengan jalan terjal. Aku beristirahat di sana sekalian ngobrol dengan penghuninya. Dua orang bapak dan seorang simbah perempuan yang jualan kopi.
Papan Plang petunjuk arah dan Gubuk kecil
Papan Plang petunjuk arah dan Gubuk kecil
Papan Plang petunjuk arah dan Gubuk kecil
“Pinusnya masih jauh, pak?” Tanyaku berbahasa Jawa Kromo Inggil.

“Itu loh mas, yang daunnya kering,” Jawab salah satu bapak seraya menunjuk pepohonan yang daunnya kering berwarna kuning.

“Kalau air terjun Dung Paso, pak?”

“Oh, masih lumayan jauh, mas. Jalannya searah, tapi segini. Jalannya rusak lagi,” Terang bapak sambil merenggangkan kedua tangannya sebagai perumpamaan jalan yang nantinya aku lewati.

Sangat jelas yang diterangkan bapak di warung, jalannya tentu setapak dan licin. Aku berpamitan pada ketiga orangtua yang di warung, mengayuh sepeda sejenak. Kemudian memutuskan menuntun saja. Sengaja aku tuntun karena tadi sempat terpeleset dan jatuh di jalan tanah yang licin. Beruntunglah sepeda, badanku, maupun kameraku aman. Hanya saja pakaian menjadi belepotan. Di tengah-tengah perjalanan aku berhenti lagi seraya menenggak air mineral yang kubawa. Kumakan juga sepotong roti untuk mengganjal perut. Semilir angin di sini sangat menyejukkan, jauh dari keramaian. Dari arah atas kulihat seorang bapak memanggul rumput untuk ternaknya menyapaku.
"Hutan Pinus Batealitnya tinggal dikit lagi, mas," Ujar seorang bapak memberi semangat
"Hutan Pinus Batealitnya tinggal dikit lagi, mas," Ujar seorang bapak memberi semangat
“Sedikit lagi jalannya landai, mas. Sendirian, mas?”

“Iya pak, terima kasih.

Benar kata bapak yang membawa rumput tadi, sekitar 50 meter dari tempatku istirahat jalan relatif landai. Walau tetap saja aku tidak bisa memilih jalan halus, semuanya bebatuan. Doaku selama perjalanan berharap sepeda tidak rewel dan ban tidak bocor. Maklumlah, sepeda ini tidak pernah dipakai oleh pemiliknya (sepupuku); hanya aku yang menggunakan ketika sedang ke Jepara. Tidak lama kemudian aku sudah sampai di Hutan Pinus Setro Batealit, Jepara.

Sunyi, tenang, nyaman, dan sejuk. Itulah gambaran yang kurasakan pagi ini. bagaimana tidak sejuk, selama semalaman Hutan Lindung ini diguyur hujan, serta sisa-sisa tanah dan dahan basah masih melekat. Apalagi pagi ini mentari dari pagi tidak terlihat dihalangi awan. Perjalanan 2.5 jam naik sepeda disertai istirahat yang tak terhitung berakhir di destinasi yang pertama. Hutan Pinus atau Tines ada dihadapanku. Hutan yang sudah dikenal oleh warga Jepara karena keindahannya pun di depanku. Gubuk kecil dan plang bertuliskan jagalah hutan, jagalah kebersihan terpampang jelas. Tempat ini juga sering digunakan untuk kegiatan berkemah. Beruntunglah kali ini tidak ada yang kemping, sehingga benar-benar sepi.
Sejuk banget kan? Damainya di sini
Sejuk banget kan? Damainya di sini
Sejuk banget kan? Damainya di sini
Ratusan pohon Pinus menjulang tinggi. Setiap batangnya terdapat guratan kulit pohon karena diambil getahnya. Hampir semua batang Pinus di sini ditempeli lumut, sehingga warna batang terlihat hijau. Tentunya batang-batang ini licin jika dipegang. Aku mengabadikan kesejukan di Hutan Pinus. Untuk beberapa saat, aku merasa sangat menikmati ketenangan dan kesejukan selama di sini. Bagaimana tidak, sepagi ini aku di hutan pinus sendirian; ya, sebenarnya ada beberapa warga setempat, tapi beliau berada di sawah yang jaraknya sekitar ratusan meter. Tak ada suara bising mesin. Ingin rasanya berlama-lama di sini.

Tak kusia-siakan momen di Hutan Pinus. Kuambil Tripod dan memasangnya di jalan setapak. Lalu aku mengatur setelan timer di kamera. Kemudian seperti biasa, kuabadikan diri menaiki sepeda tepat di tengah-tengah hutan pinus. Puas aku berlama-lama di sini, mendapatkan hasil dokumentasi yang bagus. Kukemasi kamera dan Tripod, berlanjut memutari jalan setapak yang ada di tengah-tengah hutan Pinus. Walau semalaman terguyur hujan, aku dapat melihat di beberapa jalan setapak terdapat bekas ban motor yang lewat. Bisa jadi motor ini milik warga yang sedang ke ladang.
Ini di Jepara loh. Iya Jepara...
Ini di Jepara loh. Iya Jepara...
Ini di Jepara loh. Iya Jepara...
Oya hampir lupa, aku mengambil topi yang dari tadi kupakai. Seperti rencana awal, aku sengaja membawa topi ini sebagai bukti pada Dinas Pariwisata Jateng kalau hadiah yang diberikan ke aku berguna. Rencananya, setiap aku berkunjung ke destinasi di Jateng, topi ini tetap aku bawa. Tidak berapa lama, terdengar suara motor yang mendekat. Tidak satu, tapi ada beberapa suara motor. Salah satu di antaranya cukup menggeber-geber knalpot. Aku bergegas menuju tepian jalan yang berbatu. Ternyata ada empat motor, dua di antaranya motor matik yang dinaiki oleh tujuh remaja (malah masih anak-anak mungkin kalau dilihat lebih lama). Mereka berhenti di dekat are Hutan Pinus. Kemudian berfoto di sisi lain, tepatnya malah di tebing yang latar belakangnya adalah bukit. Kami bertegur sapa, kemudian kuajak mereka berfoto bareng di tempat yang sama. Ketujuh remaja ini adalah Tabah, Faiz, Hakim, Majib, Robi, Eko, dan Dila. Mereka sebagian besar dari desa Bawu.
#JatengGayeng Ayo ke Jateng
#JatengGayeng Ayo ke Jateng
Bersama teman baru, paling tua sendiri :-D
Bersama teman baru, paling tua sendiri :-D
Cukup lama aku ngobrol santai dengan ketujuh remaja ini, tidak butuh waktu lama, aku berbaur akrab dengan mereka semua. Oya, jika ingin mengunjungi Hutan Pinus Setro, kalian mencari arah Batealit; lalu ikuti jalan terus sampai mentok. Usahakan untuk bertanya pada warga setempat jika merasa kesulitan. Ada lagi yang harus diperhatikan jika mengunjungi Hutan Pinus, gunakan kendaraan yang sehat, serta usahakan jangan ke sana saat hujan. Jalan akan menjadi lebih licin. Kalian juga harus waspada, karena banyak truk yang lewat jalan sini. Dan jika sudah di Hutan Pinus, jangan pernah mengotori dan merusak di sini. Tetap jaga kebersihan Hutan Pinus dari sampah plastik, dan semoga tetap sejuk. Yang pasti akses jalannya. *Bersepeda ke Hutan Pinus Batealit ini pada hari Minggu, 6 Februari 2016.
Baca juga perjalanan lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

34 komentar :

  1. Hutan seperti ini harus dijaga nih biar nggak habis dibabat orang. Sehingga nantinya udara makin seger dan bisa menghalau polusi udara dari perkotaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini hutan Lindung, mas Semoga terus terjaga kelestraiannya :-)

      Delete
  2. Wah keren mas Sitam, sekarang ceritanya berarti pakai topi yaw? hehehe. Tempatnya memang adem ayem plus sejuk kalau di hutan pinus begini. tapi ya jalannya nggak semudah di Imogiri ya mas? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, karena lagi di luar Jogja hehhhehe. Wah kalo di Imogiri jalannya emang nanjak tapi mulus banget, mas :-D

      Delete
  3. wah mas sendirian ?
    bawa tripod dan pakai timer ya kalau yang foto foto full sebadan + motornya itu. hihih keren. mandiri lho masnya haha.

    Tapi gaada foto selfie ya.

    Btw itu hutan pinusnya kayaknya lembab yaa, emang tempatnya yang lembab atau hanya karena habis keguyur hujan mas ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sendirian hehehhehe, udah biasa motret pake sepeda sendirian, mbak :-D
      Duh nggak bakat selfie aku, mbak hahahhahha. Emang dilereng sih mbak, jadi tanpa hujan pun sudah lembab.

      Delete
  4. kok sendirian mas? mbak mbak yang ketemu di semarang manaa?

    ReplyDelete
  5. kayane yam-yaman-able kui, Om.. Kok mbak-mbak yang ketemu di semarang gak dibawa nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahuahuahua, duh ini orang kedua yang tanya :-D

      Delete
  6. itu kalo malem-malem serem engga sih mas
    orang mah tanya mas sama pohon pinusnya, kok bisa tinggi gitu, makan apa aja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak serem kok, pinusnya aja betah siang malam di sini. ahahhahhah

      Delete
  7. liat fotonya juga udah ngearasa sejuk bener mas, apalagi kesana.
    Dung Daso itu udah terkenal atau baru sebagian orang aja mas yang tau ?
    kalau udah terkenal, sayang jalannya masih bebatuan kayak gitu, tapi gimana ya, kalau jalannya bagus dan tempat itu udah terkenal, kemungkinan hutan pinus sama dung daso jadi kotor itu muncul. kemungkinan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dung Paso baru dalam 2 minggu ini terkenal, semoga bisa jadi destinasi yang bagus :-D

      Delete
  8. sampai sekarang saya masih penasaran pohon pinus itu seperti apa ya, taunya cuman pohon karet hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pohon Pinus tu seperti pohon Cemara :-) Masih satu jenis kok :-D

      Delete
  9. wuuuhh pancen gayeng mas hehe itu keren topinya hehheh keren yah di sana ada hutan pinus juga euuyyy.......

    ReplyDelete
  10. dan lebih sejuk lagi karena sepedaan itu menyehatkan. mantap bro!

    ReplyDelete
  11. wow,, pengen nih gowes gini...tapi kayaknya nggak kuat deh kalau pake nanjak medanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dituntun aja hehehhehe, aku juga nggak pernah memaksakan kalo gak kuat :-D

      Delete
  12. Buat lari pagi kayanya seru nih, ya Mas? Haha. Udaranya pasti seger!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo lari dilokasinya enak banget. Cuma ke sininya yang luar biasa aksesnya :-D

      Delete
  13. wah .. tidak jauh dari jepara ada hutan pinus ya ... kebayang saya jepara itu datar, daerah pantai ..
    memang asyikkk jalan2 ke hutan pinus .. untuk foto2 pasti kece ... adem lagi udaranya .. mau apa lagi yang dicari .. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, iya kang. Ini dekat menuju lereng Muria; lumayan gempor kakinya :-D

      Delete
  14. ya ampyun, deket kampung halamanku ternya ada tempat keren bgituuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Datangi, mbak hehehhehhe. Tapi ya jalannya kayak gitu :-D

      Delete
  15. enak sekali ya kalau camping kesana, tempatnya juga sejuk dan masih sangat asri..

    ReplyDelete