Memandang Sudut Karimunjawa dari Bukit Joko Tuwo

Perjalanan kembali aku lanjutkan mengunjungi destinasi yang ada di Karimunjawa. Berbekal dengan smartphone untuk mendokumentasikannya, aku mulai mencoret satu demi satu target yang sudah terealisasi. Selama ini, target yang belum terlaksana dan memang tertunda adalah mengabadikan Milky Way. Insiden tertinggalnya baterai kamera menjadi cerita tersendiri kala itu.

Menjelang sore, aku berencana mengunjungi Bukit Love Karimunjawa untuk mengabadikan sunset. Sunset ini menjadi salah satu target selama di Karimunjawa. Sebenarnya ada banyak spot yang bisa kusambangi sembari menunggu sunset. Sengaja kupilih lokasi yang paling jauh dulu dari rumah. Selanjutnya, tinggal menyusuri lokasi yang lebih dekat. Kuabaikan dulu keindahan sunset di Pantai Ujung Gelam dan Pantai Watu Topeng. Pasti di sana jauh lebih ramai pengunjungnya.
Siluet di Bukit Joko Tuwo Karimunjawa
Siluet di Bukit Joko Tuwo Karimunjawa
Sebelum singgah di Bukit Joko Tuwo yang lokasinya tak jauh dari SMP Karimunjawa, aku menyempatkan beli minuman dan makanan ringan untuk berbuka nanti. Ya, berhubung masih bulan puasa, jadi membawa minuman dan makanan ringan merupakan keharusan untuk membatalkan puasa kala terdengar adzan magrib. Bukit Joko Tuwo ini terletak di antara SMK Karimunjawa dan SMP Karimunjawa. Sebuah plang dekat pertigaan jalan membuat mudah bagi pengunjung.

Seorang lelaki tanggung berlari dari seberang jalan ke arahku dan menyodorkan karcis. Aku berusaha mengambil dompet untuk membayarnya.

“Aku orang Kemujan mas. Ini juga orang kemujan yang dulu sekolah di SMP sini,” Kata Riki sambil menunjukku.

“Oh maaf mas. Silakan naik,” Jawabnya seraya berlalu.

Aku paham, jika pengunjung lokal seperti aku memang tidak dikenai tarikan. Namun biasanya aku sengaja diam dan memberikan uang daripada mengaku, itung-itung sebagai pemasukan. Namun sepertinya Riki lebih tanggap dalam mengantisipasi. Harus kuakui, aku dulu memang siswa SMP Karimunjawa, masuk di sekolah ini tahun 2000, dan aku rindu suasana waktu masih sekolah. Di seberang itu dulu adalah kantin tempatku makan kalau istirahat sekolah, kantin Mbak Asih.
Pintu Gerbang menuju Bukit Joko Tuwo Karimunjawa
Pintu Gerbang menuju Bukit Joko Tuwo Karimunjawa
Jalan masih berbalut tanah dan terjal menanjak. Motor yang kami naiki sedikit bekerja keras untuk sampai di atas. Batu-batu belum tertata rapi, dan masih terliat batu yang agak terjal. Tak terasa, aku sudah sampai di area parkir kendaraan. Di sana aku mengabadikan anak tangga yang nantinya kami lalui. Dua tiang dari batang kayu kering dan tulisan melengkung “Selamat Datang di Wana Wisata Bukit Joko Tuwo” menyapaku.

Tulang Ikan Joko Tuwo dan Tasbih Raksasa
Penamaan Bukit Joko Tuwo sendiri tak terlepas dari adanya tulang ikan besar yang dipajang di sini. Tulang ikan tersebut tersusun rapi memanjang. Bagian ekornya disanggah sebatang kayu. Cukup panjang ikan tersebut. Tulang/rangka bagian kepalanya pun masih ada. Jika dilihat lebih dekat, tulang-tulang tersebut seperti batu kapur yang sudah lama. Tak kusentuh kerangka ikan besar ini. Aku takut jika menyentuhnya malah membuat tulang-tulang tersebut goyah dan ambruk. Akan lebih baik lagi jika tulang ikan ini dilindung dengan kaca, sehingga menghindarkan dari jamahan pengunjung. Semoga ada dana untuk membuatkan etalase bagi kerangka ikan tersebut.

Cerita demi cerita tentang Ikan Joko Tuwo cukup melegenda di Karimunjawa. Ada yang bilang ini adalah ikan penunggu di salah satu pulau di Karimunjawa. Tak banyak literatur yang aku dapatkan mengenai ikan Joko Tuwo. Tapi waktu kecil cerita/dongeng mengenai Ikan tersebut masih teringat. Bahkan ada yang bilang, jenis ikan yang sama masih ada di dasar pulau Gundul. Ini hanya cerita, dan kebenarannya tidak diketahui.
Kerangkan ikan raksasa, disinyalir inilah ikan Joko Tuwo
Kerangkan ikan raksasa, disinyalir inilah ikan Joko Tuwo
Jika cerita-cerita mengenai Ikan Joko Tuwo ini sudah dari dulu aku dengar. Berbeda halnya dengan Tasbih Raksasa yang ada di atas. Bebatuan diberdayakan warga/pengelola menjadi sebuah tasbih raksasa ini menarik perhatian banyak orang pengunjung. Aku pernah melihat kali pertama itu dari facebook pak Kardi (salah satu guruku waktu SMP) yang berfoto di tasbih tersebut tahun lalu.

Tasbih raksasa ini baru dibuat bersamaan dengan pembuatan Bukit Joko Tuwo. Ukuran tasbih raksasa ini sangat besar, dan pastinya berat jika kalian berniat untuk mengangkatnya. Aku sangsi jika tasbih ini terangkat oleh satu/dua orang. Sepertinya butuh orang lebih banyak untuk mengangkatnya.
Tasbih Raksasa yang terbuat dari batu
Tasbih Raksasa yang terbuat dari batu
Spot Instagramable di Bukit Joko Tuwo
Konsep Bukit Joko Tuwo ini mirip dengan tempat-tempat lain yang berada di ketinggian. Di sini adalah tempat yang tepat memandangi sebagian sudut Karimunjawa dari atas. Bagiku ini sesuatu hal yang baru (di Karimunjawa). Jika dulu Karimunjawa hanya identik dengan pantai, berburu sunset harus di tepian pantai, dan lainnya. Di sini kita bisa menikmati pemandangan yang lebih dari itu. Walaupun sama-sama memandang pantai, tapi tempat ini di atas bukit. Sekalinya sampai atas, aku disapa bingkai besar bentuk love yang menghadap ke pantai.

Jauh sebelum Bukit Joko Tuwo dan Bukit Cinta dibuat. Satu-satunya tempat yang bisa dinikmati tiap warga Karimunjawa dalam menikmati keindahan laut Karimunjawa dari ketinggian ada di Makam Sunan Nyamplungan. Terlepas dari adanya tempat lain atau tidak waktu itu, spot Sunan Nyamplungan ini ada tempat di mana kita bisa duduk di atas batu dan memandang laut. Sayangnya, waktu aku ke sini lokasinya sudah rimbun dan pemandangannya terhalang pepohonan.

Dibuatnya tulisan-tulisan Karimunjawa dengan berbagai bentuk ini mengisyaratkan pengelola sedang menawarkan spot yang instagramable. Sebagaimana tulisan Love pada Bukit Love yang mengundang para pengunjung berfoto dan mengunggah di sosial media. Di sini juga diberikan spot-spot dengan figura bangunan seperti itu. Jadi kita bisa mengabadikannya dan mengunggah di sosmed. Setidaknya pengunjung sudah mempromosikan tempat tersebut pada follower-nya.
Spot menarik untuk berfoto dan diunggah di somsed
Spot menarik untuk berfoto dan diunggah di somsed
Spot menarik untuk berfoto dan diunggah di somsed
Siapa yang tidak antusias berfoto di tempat seperti ini? Selain tuliasn Karimunjawa, bentuk sarang burung, sebuah perahu bertuliskan Karimunjawa, bingkai love, ada juga titian kayu (gardu pandang) yang menghadap ke pantai. Titian kayu yang mengingatkanku pada Watu Lawang, Bukit Panguk, dan lokasi lain yang ada di Jogja. Jika di tempat tersebut menawarkan pemandangan sungai Oya dengan barisan bukit nan hijau. Di sini kita bisa berdiri dan menatap samudra dan gugusan laut sembari menanti senja.

Pulau Menjangan besar tampak jelas, deretan rumah dan Dermaga Lama Karimunjawa yang besok lusa (24 September 2016) sebagai tempat acara Jazz Sunset Karimunjawa oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah pun terlihat jelas. Arakan kapal yang berlayar dapat kita saksikan dari atas sini. Dan sebenarnya, di sini adalah salah satu spot yang indah untuk menikmati sunset. Sayangnya, aku sudah berencana menikmati sunset di Bukit Love (tidak jauh dari sini lokasinya) dan mengagendakan jika nanti balik Karimunjawa lagi, aku mengabadikan sunset di sini, itu janjiku.
Menatap lepas perairan Karimunjawa
Menatap lepas perairan Karimunjawa
“Motret siluet di sini bagus kayaknya. Coba kamu di sana, Rik,” Celetukku

Riki langsung sigap. Dia tahu apa yang harus dilakukan selama ikut denganku. Kucoba mengabadikannya di sini. Sinar mentari yang sudah bergeser kea rah barat membuat hasil foto ini siluet. Justru siluet ini yang aku cari, sehingga aku dengan bebas dapat mengabadikan dari berbagai sudut.

Pantulan cahaya mengenai air laut terlihat jelas. Riki aku suruh pindah tempat ke spot lain dan mengabadikannya. Aku rasa hasilnya tak mengecewakan. Karena cuaca yang cerah membuat semuanya terlihat sesuai harapan. Seperti inilah siluet di Bukit Joko Tuwo Karimunjawa. Ada yang berminat mengabadikannya?
Mengabadikan siluet di Bukit Joko Tuwo Karimunjawa
Mengabadikan siluet di Bukit Joko Tuwo Karimunjawa
Mengabadikan siluet di Bukit Joko Tuwo Karimunjawa
Tepat pukul 17.00 WIB, aku dan Riki bergegas meninggalkan Bukit Joko Tuwo menuju Bukit Cinta untuk mengabadikan sunset. Aku menyapa beberapa wisatawan yang masih setia di sini. sepertinya mereka sengaja ingin menikmati sunset dari bukit ini. Aku langsung menuju Bukit Cinta.

“Semoga sunset di sana nanti terlihat indah,” Doaku saat ini.

*Kunjungan ke Bukit Joko Tuwo Karimunjawa pada hari hari Minggu; 03 Juli 2016. Setiap gambar diabadikan menggunakan smartphone.
Baca juga tulisan bertema Alam lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

30 komentar :

  1. Nice
    lengkap banget sampe ke detil-detilnya
    Salam kenal ya, saya follow dulu :)

    ReplyDelete
  2. Saya masih penasaran mas sama cerita dari ikan raksasa itu memang bener bener tulang asli dari dulu mas ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas. Ini tulang ikan memang ada sudah lama :-)

      Delete
  3. ikan jowo tuwo, apa jangan2 ikan hiu paus ya,,nelayan laut selatan juga punya sebutan sendiri buat ikan itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau diruntut dari literatur mengatakan itu ikan paus mas :-)

      Delete
  4. wah dimana2 ada simbol cinta ya..xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal niatku ke sana mau nyari cinta, tapi nggak ada orangnya ahahhahah

      Delete
  5. Cakeppp banget, semoga sunset disana lebih indah.sunset memang menenggelamkan matahari namun jangan sampai melewatkan kita bahwa ada hari esok yang menanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, sunset selalu dinanti oleh jiwa-jiwa yang sedang dilanda rasa kegundahan hahahahah

      Delete
  6. oalah. joko tuwo. lagi kelingan. ini yang disambangi reza juga kayanya. yg ada bangkai tulang ikan itu. kok fotomu lebih baik daripada dia ya. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woohh kamu kudu ngelatih Reza buat motret loh, biar bagus gitu.

      Delete
  7. kata di atas ane "d mana2 ada simbol cinta" klw jomblo k sni baper gk yahh hahahah..

    salam kenal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buahahahah, huss bikin malah tambah baper kok hahahah. Salam kenal :-D

      Delete
  8. Karimun jawa keren juga nih, cocok buat traveling bareng pasangan haha

    dolinafatitela.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  9. dijaman digital ini obyek wisata juga dituntut semakin kreatif "hanya" untuk menyediakan spot foto yang iconic (kalau bisa) disetiap obyek wisata, bahkan obyek yg seharusnya "dijual" pun malah kalah pamor hehehe. yang penting bisa foto dulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget mas ahhahah. Di sini bisa liat sunset loh :-D

      Delete
  10. akh jadi pengen foto di bukit love karimun jawa :(

    Budy | Travelling Addict
    Blogger abal-abal
    www.travellingaddict.com

    ReplyDelete
  11. Pecaaah :' pecaaah banget mas. Hihihi selalu suka aku sunset di Karimun Jawa :'

    ReplyDelete
  12. Keren. Ini ttg karimun jawa dari sudut pandang berbeda. Biasanya yg sy baca ttg KJ selalu ttg pantai, wisata laut dan sejenisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Besok-besok tulisannya juga tentang pantai kok heheheheh

      Delete
  13. Pemandangan sunsetnya kece banget,,

    ReplyDelete
  14. asyik ni bisa berlibur ke sini , sambil liat sunset yg mempesona ...

    ReplyDelete
  15. sebetulnya ada beberapa yang belum diangkat disini, dibukit jokotuwo ada perahu kayu yang bagus untuk dipakai dokumentasi, ada juga beberapa pondok kayu yang belum dibahas. semoga mas nasirul kedepannya dapat mengupdate artikelnya supaya informasi yang disajikan lebih lengkap :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya sudah saya tuliskan mas, hanya memang tidak saya sertakan gambar perahu yang di dekat pohon tersebut.

      Delete