Kedinginan saat River Tubing di Ledok Amprong, Malang

Aktifitas River Tubing Ledok Amprong di Desa Wisata Gubugklakah, Malang
Aktifitas River Tubing Ledok Amprong di Desa Wisata Gubugklakah, Malang

Menyenangkan rasanya siang ini aku bisa menunaikan salat jumat di salah satu masjid di Desa Wisata Gubugklakah. Di sini aku berbaur dengan ratusan santri yang dominan menggunakan pakaian warna putih. Desa Wisata Gubugklakah adalah salah satu desa wisata yang identik dengan pondok pesantren.

Aku dan teman-teman blogger menyempatkan istirahat siang. Karena sebentar lagi agenda yang kami lakukan adalah basah-basahan di Ledok Amprong. Di sana nantinya kami akan River Tubing. Ini bukanlah pengalaman pertamaku, selama di Jogja aku sudah berkali-kali ikut tubing. Selalu menyenangkan kalau mengingatnya.

Jeep yang kami naiki melibas jalan besar, berpapasan dengan jeep lain yang naik. Setelah itu rutenya adalah perkampungan. Berkali-kali rombonganku heboh kala menyapa warga setempat yang sedang duduk di teras rumah. Sementara rombongan yang berbarengan dengan kami di depan cukup tenang, mereka malah menoleh ke rombongan kami.
Jeep yang mengantarkan kami menuju Ledok Amprong
Jeep yang mengantarkan kami menuju Ledok Amprong

“Sepertinya rombongan depan tidak seru,”Celetukku.

Rombongan di jeep depan memang tidak banyak teriak. Padahal sewaktu jalan mendekati Ledok Amprong, jalanan lebih curam di dan diapit pohon pinus menjulang tinggi. Kompak kami kembali berteriak kencang, antara seru atau sakit tergencet teman lain.

Portal Ledok Amprong terbuka, jeep yang kami naiki melenggang mulus ke tanah lapang. Sebelumnya, kami seperti sedang offroad, melibas jalan berliku dengan kontur yang tak beraturan. Ternyata ada banyak hutan pinus di Desa Wisata Gubugklakah.

Kami nantinya akan basah-basahan di Ledok Amprong. Tadi pagi hanya sempat main air di Coban Pelangi, itupun aku menghindar karena kedinginan. Sebenarnya agak ragu juga untuk ikut basah-basahan, tapi rasa penasaran menikmati River Tubing membuatku menepis keraguan. Salah satu kelemahanku adalah tidak kuat dengan dinginnya air.
Derasnya aliran sungai Ledok Amprong
Derasnya aliran sungai Ledok Amprong
Aliran Ledok Amprong cukup deras, pasti seru karena banyak bebatuan yang tersebar sepanjang sungai. Rombongan kami dapat jatah kedua, setelah rombongan depan menyelesaikan tubing-nya. Aku menyempatkan untuk memotret aliran air.

“Jadi kita tiduran dulu di sini?”Tanyaku pada yang lain.

“Sepertinya begitu,”Jawab mereka.

Satu jam kami berdiam. Aku mengelilingi Ledok Amprong, teman-teman lain juga asyik mengusik kesunyian dengan memotret. Ada juga teman yang malah tiduran di hammock. Perihal kami menunggu rombongan lain usai karena para pemandu sedang memandu rombongan yang datangnya bersamaan dengan kami.
Selama waktu senggang kami manfaatkan untuk memotret
Selama waktu senggang kami manfaatkan untuk memotret

Area Ledok Amprong ini adalah perkebunan pinus milik Perhutani yang diberdayakan oleh warga setempat untuk River Tubing. Beberapa warga dari berbagai desa bersatu membuat Ledok Amprong menjadi destinasi wisata pilihan dan dikelola oleh Pokdarwis Gubugklakah. Jika kalian ingin River Tubing, kalian harus berkoordinasi dengan Pokdarwis Desa Wisata Gubugklakah.

Lumayan lama kami menunggu, akhirnya waktu yang dinantikan datang. Kami bersembilan segera mengenakan life jacket dan helm. Mas Ghozali mengurungkan diri untuk ikut dengan alasan dia nantinya yang mengabadikan saat kami sedang menyusuri Ledok Amprong.

“Tas dan kamera dijadikan satu saja, nanti aku yang jaga. Sekalian motret kalian dari atas sini,”Ujar Mas Ghozali.

Sudah dasarnya fotografer, jadi kami beruntung bisa diabadikannya kala terhempas mengikuti aliran air. Padahal tadi sempat bingung kalau ikut semua siapa yang akan mengabadikan. Toh yang bawa camera action hanya Hanif.

“Makasih loh mas,” Ucap kami bersamaan.

Sembilan orang termasuk aku bergegas kumpul mendengarkan arahan dari pemandu. Pemandu memberikan arahan sesuai standarnya. Hal yang paling ditekankan di sini adalah bagaimana saat kita duduk atau saat terbalik dari pelampung.
Mendengarkan arahan dari pemandu
Mendengarkan arahan dari pemandu (dok. ghozaliq.com)

“Jangan panik. Nanti kalau tertahan oleh batu, kalian langsung menahan dengan kaki. Jika nanti terjepit di sela-sela bebatuan, kalian goyang-goyangkan saja pelampungnya. Nanti lepas sendiri,”Terangnya.

“Jika nanti salah satu di antara kalian ada yang terbalik, ikuti aliran saja. Jangan panik, nanti ada pemandu yang mendampingi.”Kembali beliau menekankan.

Memang benar, hal yang bertama kita lakukan kala terbalik harus menenangkan diri. Jikalau pelampungnya terlepas, nantinya ada pemandu yang sigap menolong kita. Terlebih di Ledok Amprong ini airnya tidak dalam. Hanya sedalam pinggang orang dewasa. Walau tidak dalam, alirannya cukup kencang.

Arahan telah berakhir, kami kembali bersiap dan berdoa. Lalu kami mengambil pelampung (ban dalam mobil) yang sudah dimodif bagian tengah diberi tali melintang atag bisa untuk duduk. Tantangan ketika tubing di air dangkal itu adalah pantat terkena bebatuan. Jadi harus bisa menyesuaikan kala duduk di atas pelampung.
Formasi sebelum river tubing
Formasi sebelum river tubing (dok. ghozaliq.com)

“Foto bareng dulu!”

Mas Ghozali sigap mengabadikan teman-temannya yang tak kalah narsis. Kami siap basah-basahan dan teriak kencang. Panjang rute River Tubing di Ledok Amprong ini beragam. Ada yang 1.5km dan ada yang setengahnya. Jika rombongan tadi menyusuri rute terpanjang, kami ini mencicipi rute yang 750 meter. Untuk paketan tubing dikenai biaya Rp.100.000/orang (termasuk transport jeep menuju lokasi).

Walau setengah dari rute yang dijadikan paket, kami sangat menikmati. Sembilan orang ini dipandu dengan tiga warga. Selama perjalanan aku berbincang dengan pemandu paling depan. Beliau mengatakan jika Ledok Amprong ini adalah destinasi yang baru beberapa tahun.

“Silakan satu-satu turunnya.”

Diawali beberapa teman yang turun, diberi jeda sekitar 30 detik tiap orangnya. Aku mulai menaiki pelampung. Di jarak hanya 5 meter saja sudah tersangkut batu. Kugoyangkan pelampung, dan berhasil keluar. Pelampung yang kunaiki meluncur deras serasa berputar, sehingga aku membelakangi arah aliran air.

Keriuhan terjadi kala Mas Alid dan lainnya juga sudah turun. Teriakan kencang saat terbentur bebatuan. Aku cukup yakin kalau mereka pasti sudah menelan air. Sungai Ledok Amprong tidak lebar, sekitar 8 meter saja. Namun sepanjang aliran air, bebatuan tersebar di segala penjuru. Di sinilah adrenalin terpacu kencang.

Berkali-kali aku melihat teman tersangkut dibebatuan. Pemandu dengan sigap menarik dan mendorong kencang. Aku sendiri sudah beberapa kali tersangkut, namun berhasil meloloskan diri. Tepat di lokasi yang curam aku berteriak kencang, rasanya hampir terbalik. Beruntung hal itu tidak terjadi.

Aliran sepanjang 750 meter ini memang mendebarkan. Rutenya tidak seperti tubing yang sudah kuikuti lainnya. Di sini tiap jengkal sepertinya ada batu yang menonjol. Mau tidak mau, pasti pelampung kami terbentur. Jika menghadapnya ke depan, kita bisa menghindari dengan cara menahan menggunakan kaki. Jika posisi kita tidak searah, alhasil benturan pun tak terelakkan. Di saat itulah kami berteriak kencang.
Foto bersama di saat river tubing
Foto bersama saat river tubing (dok. insanwisata.com)

Di tengah-tengah rute, kami dikumpulkan menjadi satu oleh pemandu. Di depan kami alirannya sangat deras ditambah agak menurun. Ketiga pemandu sudah berkumpul, dua pemandu lebih dulu turun dan berjaga menahan hempasan kami saat meluncur.

Satu persatu pelampung kami ditarik pemandu yang di atas, lalu didorong terjun. Momen itu berjalan dengan cepat. Pelampungku terasa jatuh dan terhempas, aku berpegangan kuat. Sempat kulihat bagaimana pemandu yang berjaga tertawa. Mungkin beliau menertawakan polah kami yang tegang.

Jembatan terbuat dari kayu yang melintang untuk penyeberangan warga sudah terlihat. Ini artinya kami sudah hampir sampai tempat terakhir. Aku terus berusaha mengendalikan pelampung agar tidak terbentur bebatuan.
Melewati aral bebatuan sepanjang aliran
Melewati aral bebatuan sepanjang aliran (dok. ghozaliq.com)

Dep! Pelampungku terbalik. Aku merasa sedang terbalik di dalam air. Bergegas aku bangkit dan menepi. Beruntung tidak terbentur bebatuan sewaktu aku terbalik. Pemandu yang berjarak lebih dari 10 meter melihatku. Beliau secepatnya ke arahku. Aku mengacungkan jempol sebagai isyarat tidak masalah.

Beliau tetap mendekatiku dan memberikan pelampungnya padaku. Kulihat dua pemandu di belakang menggunakan satu pelampung untuk berdua. Mendekati tempat terakhir, aku mengarahkan posisi ke samping kanan, di sana mas Ghozali sudah bersiap membidik.
Tetap sadar di mana kamera itu berada
Tetap sadar di mana kamera itu berada (dok. ghozaliq.com)

Tidak terasa tubing di Ledok Amprong telah berakhir. Kami semua naik ke daratan, menuju tempat semula. Tidak ketinggalan mengembalikan pelampung yang kami bawa. Sewaktu mulai berendam di air, aku sudah menggigil. Ketika sudah di atas, kembali aku merasakan kedinginan. Aku menggigil sendirian, sementara yang lain tak merasakan.

“Foto lagi!”Teriak kami bersamaan.

Kembali lagi mas Ghozali sigap mengabadikan teman-teman yang sudah basah kuyup. Kaosku yang basah segera kubuka dan kuremas sampai airnya tidak menetes lagi. Setelah itu kembali kukenakan. Rasa-rasanya aku mulai terkena gejala masuk angin. Lengkap sudah, suara sudah mau habis ditambah menggigil kedinginan.
Formasi menyerang kala usai river tubing
Formasi menyerang kala usai river tubing (dok. ghozaliq.com)

Satu hal yang harus diingat, ketika kalian nanti ingin River Tubing, lebih baik sekalian membawa pakaian ganti agar tidak kedinginan. Usai menyusuri sungai Ledok Amprong, kami melanjutkan agenda petik Apel di Desa Wisata Gubugklakah. Sepertinya perjuangan kembali berlanjut, menahan himpitan kala di Jeep, serta menahan dingin selama perjalanan.

Sesampai di Kebun Apel, kami bersepuluh menyebar mencari buah Apel yang sudah siap petik. Di sini aku menghabiskan tiga buah Apel. Mungkin efek dari dingin selama Tubing menjalar ke perut *eh.

*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Explore Desa Wisata Malang (Tagar #EksplorDeswitaMalang) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Malang 14 - 17 April 2017.

River Tubing di Desa Wisata Gubugklakah
Harga: Rp.100.000/orang
Desa Gubugklakah, Poncokusumo, Kab Malang, Jawa Timur
Narahubung: 0878-5947-8177 (Pak Purnomo Anshori)
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

26 komentar :

  1. wah seru juga nih bulan puasa my trip my adventuran :D

    ReplyDelete
  2. Seru banget basah2an, mau dong mas
    #eh

    ReplyDelete
  3. baru nyoba river tubing di goa pindul dan kali deket situ jadi ketagihan pengen lagi di tempat lain

    ReplyDelete
  4. Dingiiiiiiiiiiiin. Tapi mau lagi tubing di Gubugklakah, cuma gak mau kalau kegencet-gencet lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada loh yang tergencet sampe teriak-teriak nyerah buahahahhaha

      Delete
  5. Ah seru banget Mas river tubing dengan air deras seperti itu..

    ReplyDelete
  6. Nah kalo river tubing ini belom pernah coba aku. Sementara nyobain arung jeram aja di sini. Emang paling asyik kalau udah main air hehehe.

    Apalagi kalau main airnya bareng sohib kece macam ini. Ada ketua geng lambe paceren pula *kedip Alid

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip Arung Jeram sih, tapi pake ban hahahhahaa.
      Wah karena ada Mas Alid semuanya jadi ruamee

      Delete
  7. Main river tubing emang seru ya. Saya udah 3 kali main river tubing di Sungai Mencerit, Lombok Timur. Kelar ngeriver tubing langsung ngeteh panas dan makan pisang goreng mantap banget tuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini yang seru abis tubing langsung ngeteh ahahhhahha

      Delete
  8. Wihhhh bakal segera nyoabain kesana masss. Makasih, jadi referensi banget :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak, jangan bosan-bosan main ke blogku *eh

      Delete
  9. Di Nganjuk sebenernya juga ada wisata tubing kayak gini, tapi aku belum pernah nyobainnya. Padahal sungainya sepertinya sama kayak Ledok Amprong gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru loh mas, bisa buat teriak-teriak hahahhahaha

      Delete
  10. seru bangett .. belum pernah river tubing, pengen dari dulu tapi belum pernah kesampean, apalagi di air yang bersih seperti ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang seru kang kalau river tubing. Miriplah sama arung jeram hahahhahah

      Delete
  11. Yg ini kayaknya lbh seru drpd river tubing yg prnh aku coba.. Arusnya lbh deras ya mas. Yg begini nih yg aku suka.. Lbh menantang jadinya, drpd yg aliran airnya tenang banget :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahah, benar-benar deras kalau di sini mbak :-)

      Delete