Segelas Kopi di Kedai Sama Dengan Kopi Jogja - Nasirullah Sitam

Segelas Kopi di Kedai Sama Dengan Kopi Jogja

Share This
Sajian di Kedai Sama Dengan Kopi Jogja
Sajian di Kedai Sama Dengan Kopi Jogja
Dulu pernah mempunyai ide berkeliling ke tiap kedai kopi di sekitar kos tiap pekannya. Lalu mengulasnya satu persatu di blog. Ide tetaplah ide, yang tak akan pernah berubah kalau kita sendiri hanya diam tanpa aksi. Padahal, dalam radius 700 meter saja dari kos, sudah ada banyak kedai kopi yang bertebaran.

Tanpa sengaja siang ini kami (Aku, Aqied, dan Tom) berbalas komentar dan menyinggung masalah nongkrong. Balas-balasan komentar tersebut berakhir dengan diskusi menentukan nanti malam selepas salat tarawih kami akan bersua di Sama Dengan Kopi. Kedai kopi yang berada di Kompleks Kolombo No. 19, Catur Tunggal, Depok. Atau lebih familiar disebut area Demangan.

“Oke, nanti malam saling berkomunikasi saja.”

Sesuai kesepakatan bersama, usai salat tarawih aku mengayuh pedal sepeda menuju kedai kopi tersebut. Tak lebih dari enam menit sudah sampai lokasi. Aku masih menunggu Aqied yang sedang dalam perjalanan. Begitu sampai, kami berdua memarkirkan kendaraan masing-masing, dan masuk ke dalam kedai.

Kedai Sama Dengan Kopi ini letaknya tidak di dalam ruangan layaknya kedai kopi lainnya. Di sini mereka memanfaatkan teras rumah yang memanjang, batas luarnya adalah pagar. Namun di luar pagar juga diberi meja dan kursi. Tujuannya pengunjung yang ingin duduk santai di pinggir jalan pun bisa sembari menikmati segelas kopi.
Suasana Kedai Sama Dengan Kopi Jogja
Suasana Kedai Sama Dengan Kopi Jogja
Di dalam kedai, tatanan ruangan panjang ini cukup sederhana. Di ujung utara berupa meja panjang menyatu dengan tembok, di bawahnya berjejeran kursi dan diberi colokan listrik. Bagian selatan yang luas dibagi menjadi dua. Model meja dan kursi beragam, sehingga kita dapat memilih lokasi mana yang akan kita tempati.

Mural panjang sejarah kopi Indonesia tergambar di tembok atas, kutipan-kutipan tokoh pun tertulis di tembok yang dilapisi dengan papan Jati. Kami menuju bagian kasir, dan bertanya-tanya kopi apa saja yang ada di sini sekalian mengambil daftar menu.
Bersama salah satu Baristanya
Bersama salah satu Baristanya
“Pesan di sini langsung atau dibawa ke meja dulu?” Tanya Ifnu, salah satu barista di Sama Dengan Kopi.

“Kami bawa ke meja dulu mas,”Jawabku.

Kami memilih meja paling panjang untuk duduk, karena nanti masih ada teman yang ikut bergabung. Setelah itu, kami berdua mulai membolak-balikkan menu yang tersedia. Ada banyak menu minuman yang membuat kami bingung memilih. Pilihan kami tertuju pada Cold Drip & Cold Drink dengan memilih pilihannya.

Kusempatkan waktu menunggu pesanan untuk berkeliling memotret sudut maupun pernak-pernik di sini. Aku juga berbincang dengan kedua Barista di sini; Mas Hanif dan Mas Ifnu. Mereka berdua dibantu dua orang yang bertugas sebagai pramusaji.
Daftar harga menu di Sama Dengan Kopi
Daftar harga menu di Sama Dengan Kopi
Aku baru tahu jika Sama Dengan Kopi ini masih satu manajemen dengan Dongeng Kopi. Dan informasi terbaru, Dongeng Kopi sedang pindah tempat ke area Palagan. Padahal terakhir ke Dongeng Kopi Jogja belum begitu lama, saat lokasinya masih menyatu dengan Indie Book Corner.

“Bakal ramai daerah Palagan, tempatnya kedai kopi besar semua,” Celetukku.

Bukan tanpa alasan, di daerah Palagan ada beberapa kedai kopi besar yang di sana. Jadi daerah Palagan bakal ramai dengan pilihan untuk sekedar nongkrong. Kembali membahas Sama Dengan Kopi, kedai ini dibuka sejak tahun 2015. Dan stok kopi yang di sini semuanya Arabika.
Biji Kopi di dalam kemasan kaleng transparan
Biji Kopi di dalam kemasan kaleng transparan
“Kenapa namanya Sama Dengan Kopi, mas?” Tanyaku tertawa.

Mas Hanif dan Mas Ifnu tertawa mendengar pertanyaanku. Aku memang penasaran denga penamaannya. Huruf “O” pada “KOPI” di dalamnya disematkan karakter “=”. Sebagian orang menyebutnya dengan “Kopi Sama Dengan” ada pula yang menyebut dengan “Sama Dengan Kopi”. Dan sebutan yang aku tanyakan itulah yang benar.

“Hanya pemiliknya yang paham dengan arti kata “Sama Dengan Kopi”, mas,” Jawab Mas Ifnu tertawa.

Obrolan panjang dengan barista di sini membuatku lebih santai. Mereka tertawa ketika aku bilang biasanya kalau ke kedai kopi itu pesannya bukan kopi. Sama Dengan Kopi ketika bulan Ramadan buka dari pukul 19.00 – 02.00 WIB. Namun pada saat hari biasa buka tiap pukul 16.00 – 24.00 WIB.
Gelas-gelas imut bertuliskan Sama Dengan Kopi
Gelas-gelas imut bertuliskan Sama Dengan Kopi
“Aku lebih menikmati suasana di tempat kedainya mas. Makanya kalau ke kedai kopi biasanya mengajak teman yang benar-benar dia pecinta kopi,” Jelasku.

Pengunjung di Sama Dengan Kopi rata-rata adalah mahasiswa. Mereka ke sini untuk menikmati kopi sambil mengerjakan tugas. Ada juga kumpulan muda-mudi yang sedang berdiskusi. Sama Dengan Kopi lokasinya dekat dengan bebeapa kampus seperti UIN, UNY, Sanata Dharma, dan Atmajaya (Fakultas Hukum). Kisaran pengunjung tiap malam antara 30–50 orang yang datang ke sini
Mas Ifnu membuat kopi pesanan pengunjung
Mas Ifnu membuat kopi pesanan pengunjung
“Pengunjung yang datang lebih banyak pada hari kerja mas,” Terang Mas Ifnu padaku.

Selang beberapa menit pesanan kami sudah disajikan. Aku meminta ijin ke Mas Ifnu untuk balik ke tempat dudukku. Aku dan Aqied mencicipi kedua pesanan ini bergantian sambil menunggu Tom dan teman-temannya datang. Escumos & Mr. Black, dua minuman yang akan kami cicipi.

Pesanan Aqied adalah Escumos; perpaduan coldbrew dengan soda, apel, lemon, dan lime. Namun saat memesan Aqied sengaja tidak menyertakan soda pada pesanannya. Ketika kami cicipi rasanya soft banget, meski menurutnya apelnya kurang terasa.
Mr. Black & Escumos pesanan kami
Mr. Black & Escumos pesanan kami
Aku sendiri iseng mencoba Mr. Black; Long Black yang disegarkan dengan perasan lemon. Rasanya keras banget ketika kuminum tanpa gula. Dan saat kutambahi gula yang disediakan, lidah ini terasa cocok.

“Terasa kopinya baru,” Terang Aqied ketika mencicipi minumanku.
Escumos pesanan Aqied
Escumos pesanan Aqied
Akhirnya Tom dan keempat rekannya ikut gabung. Kami berenam ngobrol santai sampai tengah malam. Jika tidak keliru pesanan Tom dan teman-temannya itu Single Origin, Latte, dan Moctail. Obrolan makin seru, ditambah agenda selanjutnya yang berencana ingin mengunjungi kedai kopi lainnya.

Menjelang tengah malam, kami membubarkan diri. Berjalan menuju kasir dan akan membayar pesanan kami. Tidak salah kalau Ramadan itu penuh berkah, karena pesanan kami ternyata dibayar semua oleh Tom. Baiklah, mungkin dilain waktu kita nanti secara bergantian bayar pesanannya.
Pramusaji menyajikan pesanan Tom dan teman-temannya
Pramusaji menyajikan pesanan Tom dan teman-temannya
“Gimana kopinya mas?” Tanya Mas Ifnu ke kami.

Berhubung aku cocok dengan rasanya, aku pun menjawab dengan jempol saja. Tom turut memberikan komentar berkaitan dengan kopi yang dipesankan. Aku rasa sebuah pertanyaan yang menarik ketika seorang barista bertanya tentang racikan kopinya. Tentu ada rasa ingin tahu apakah pengunjung puas atau tidak dengan pesanannya. Salut untuk pertanyaan tersebut mas. *Kunjungan ke Kedai Sama Dengan Kopi pada hari Rabu; 31 Mei 2017
Kedai Sama Dengan Kopi Jogja
Alamat: Komp. Kolombo, No 19, Catur Tunggal
Buka: Pukul 16.00 – 24.00 WIB
Harga: Rp.14.000 ,-
Sosial Media: @kopiyk (Instagram) & @kopiyk_ (Twitter)

Update Terkini
Kedai Sama Dengan Kopi yang berada di Demangan sudah tutup sejak awal tahun 2018.

32 komentar:

  1. Jogja urusan kedai² gini juara satu 😂.
    Oiya itu yg di gelasnya mbak aqied dikasih potongan apel juga mas ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang ada potongan apel itu gelasnya Aqied hahahahha

      Hapus
  2. Betewe aku juga punya ide untuk keliling2 kedai kopi di lombok dan me review satu per satu... masih ada beberapa yg belum sempet ku datangi

    Awalnya aku bingung ama judul nya, eh ternyata itu nama kedai kopi nya, heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, ide menarik itu mas. Apalagi blog mas sudah identik dengan kuliner :-)
      Ya namanya unik hahahahhaha

      Hapus
  3. Mantap juga tuh KOpi, dengan harga yang lumayan lah sesuai dengan kantong ... wkwkkw
    kedainya sekilas juga nyaman tuh ... Siap Nyoba nih kalo pas main ke YK

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa secepatnya bermain ke Jogja :-D

      Hapus
  4. jadi, wahai anak muda, kapan giliran kau mentraktirku?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagaimana jika ibu dulu yang mentraktir *eh :-D

      Hapus
  5. Ah kok kzl yaaa ternyata traktiran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkah yang pulang terakhir hahahahah

      Hapus
  6. Wah tempat ngopi nya asyik banget Mas. Cicip kopi toraja nya Mas, enak banget tuh kopi toraja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan deh aku coba Kopi Torajanya :-)

      Hapus
  7. Mas Tom ga pengumuman nraktir dulu biar pesennya yang biasa-biasa aja :p
    Kzl ga pernah bisa ikut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang kalau nongkrong malam bisa ikut? Buahahahaha

      Hapus
  8. banyak banget pilihan kedai kopi disana, saling bersaing ketat ... tapi bagi konsumen sih asyik2 aja ... banyak pilihan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap pekan bisa ganti-ganti tempat tongkrongan hahahahha

      Hapus
  9. Kebanyakan orang minum kopi karena coba-coba ya ternyata. Hahaha. Aku juga begitu kok. Tapi minum kopi pake lemon gitu gmn ya rasanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku karena ajakan teman mas dan mencoba hal baru hahahhah.
      Enak loh mas :-D

      Hapus
  10. Leh ugha ini coffee shop dicoba pas mlipir Yogya lagi. Tapi masih bingung gimana rasa campur aduk buah ama kopi itu. Apa nggak malah bikin mules ya? Ahh kayake kudu nyicip sendiri biar nggak penasaran hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak mas, malah enak hahahahha. Biasa kalau lidah nggak suka pahit kan bisa dicampur *eh

      Hapus
  11. Tepat. Ide hanyalah ide jika tidak ada aksi. Bukan penikmat & pecinta kopi jujur gak bisa ngomenin, tapi tertarik sama bahan ini (kopi) karena varian beverage-nya banyak, "baru tau kalau ada yang dicampur lemon, apel, soda.
    Kedai kopi sepertinya jadi salah satu tempat yang wajib di Jogja ---banyak pilihanya.
    Awal baca judul kukira mau bahas buku berjudul "sama dengan kopi" (lihat foto pertama) di sebuah kedai kopi, ternyata nama kedai kopi = dengan kopi 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, varian makin banyak hehehhehe. Banyak banget orang yang bingung dengan naka kedainya :-D

      Hapus
  12. Wahhh jogjanya mana nih :D , boleh dong mit ap bareng :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya di sekitaran demangan mas. Monggo silakan loh kalau mau nraktir saya *buahahhhah

      Hapus
  13. Nama kedai kopinya sempat bikin bingung "Lah, kopi doank namanya?", gak tahunya.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaka apa-apa kalau bingung, masih ada peta untuk mencari jalan yang benar hahahhaha

      Hapus
  14. Kok aku ngiler sama escusmos punya mbak aqied yaaag.
    Kudu mampir kesini nih kalau ke Jogjaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kalau ke Jogja kabar-kabar aja. Kita brburu kopi barengan hahahhaa

      Hapus
  15. Aku lg ngebayangin kopi dengan campuran apel lemon dan lime :D. Kok kayaknya menarik yaaa... Sbnrnya aku ga bisa sih menilai kopi mas :D. Kako rasanya pahit, buatku lgs ga doyan aja :D. Pdhl pecinta kopi sejati slalu senengnya yg pahit gitu kan yaaa :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahha, karena tidak bisa menikmati kopi murni, cara paling ampuh mencoba yang seperti ini mbak :-D

      Hapus
  16. aku malah fokus sama gelasnya Escumos
    berasa mau reaksi titrasi asam basa -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaha, langsung berubah menjadi warna apa? :-D

      Hapus

Pages