Sunset Indah Dermaga Mrican Karimunjawa Kala Diselimuti Awan - Nasirullah Sitam

Sunset Indah Dermaga Mrican Karimunjawa Kala Diselimuti Awan

Share This
“Harum mawar di taman. Menusuk hingga ke dalam sukma. Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama. Di sore itu menuju senja. Bersama hati yang terluka, tertusuk pilu. Menganga luka itu di antara senyum. Dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan – Menuju Senja; Payung Teduh”
Sunset di Dermaga Mrican Kemujan, Karimunjawa
Sunset di Dermaga Mrican Kemujan, Karimunjawa
Laju sepeda motor tak kencang, kami menyusuri jalan dari arah yang berlawanan. Jika tadi motor yang kami naiki menuju Pelabuhan Legon Bajak dari rumah, kali ini motor berjalan dari arah yang berlawanan. Dari arah Legon Bajak atau Dusun Batu Lawang, kita bisa memilih dua jalan yang berbeda untuk sampai ke Dermaga Mrican

Bisa menyusuri jalan melewati Legon Pinggir, atau mengikuti jalan yang sudah dilabur semen melewati Lapangan Dusun Telaga, tembus di pertigaan Gelaman. Jalan yang pernah aku lalui saat berburu sunset kemarin yang tertutup awan. Jalan yang sama juga kulalui waktu menyisir Dusun Telaga melalui tepian pantai dengan bersepeda.

Jarak dari Legon Bajak tidaklah jauh. Jadi hanya kurang dari 15 menit, kami sudah berada di tepian dermaga Mrican. Aku dan Dedi seharian memutari beberapa tempat di Karimunjawa. Dedi seakan-akan menjadi pemanduku, aku rasa orang-orang yang tak mengenaliku berpikiran seperti itu. Kami berdua duduk santai menantikan senja. 

Menurut banyak cerita teman-teman, tempat ini merupakan salah satu spot yang indah untuk menyaksikan tenggelamnya sang surya. Lambat laun senja mulai merangkak. Antara suka dan sedikit cemas, tepat di ujung barat sana tampak jelas arakan awan sedikit tebal. Yang aku takutkan bakalan seperti kemarin, sunset tak dapat kulihat karena terhalang awan.
Setia menunggu senja di Dermaga Mrican
Setia menunggu senja di Dermaga Mrican
“Hai! Sampai sini juga kamu akhirnya,” Sapaku pada seorang pemuda yang menghampiri kami.

Kali ini kami bertiga, sebelumnya hanya berdua dengan Dedi. Tadi Riki sempat berujar akan menyusul. Benar juga, menjelang rona langit menjadi jingga dia sudah muncul sendirian. Tak dibawa kamera yang biasa dia pakai. Ada sedikit insiden dengan penyewa kamera yang dia sewakan sehingga kameranya rusak.

“Kena mendung lagi kak. Tapi kayaknya kalau ini masih bisa kelihatan mataharinya,” Kata Riki berargumen.

Aku mengamini argumen Riki. Awan yang berarak tipis tadi sudah mengumpul dan sangat tebal. Hitam tebal di ufuk barat. Beruntungnya awan tebal yang hitam itu tak sepenuhnya menutupi sang mentari. Ada semacam pembatas yang menjadi jarak antara mendung dan langit. 

Tepat di atas pulau Bengkoang masih terlihat langit jelas, sementara di atasnya sudah hitam pekat. Aku benar-benar berharap kali ini mendung tak sepenuhnya menutupi mentari. Ada banyak alasan yang membuatku ingin mengabadikan senja di sini. 

Alasan yang paling utama adalah tempat ini tak jauh dari rumahku (Desa Kemujan), tempat ini tak ramai seperti lokasi lain di area Karimunjawa, posisi mentari tak terhadang banyak pulau, dan dermaga ini aksesnya sangat mudah dikunjungi bagi kita yang berada di Kemujan.

Rona jingga khas sunset mulai terlihat. Membentang cakrawala berwarna jingga keemasan. Pulau-pulau yang di seberang tampak menjadi hitam seperti bayangan. Aku mulai mengabadikan sebanyak-banyaknya. 

Di ujung dermaga terlihat seorang warga setempat yang sibuk menambatkan kapal agar tak hanyut terbawa arus. Mereka menganggap sunset seperti ini adalah pemandangan yang biasa. Tak seperti aku yang tergila-gila dengan segala keindahannya. Mulutku terus berkomat-kamit berharap mentari tak tertutupi awan tebal.
Rona cahaya mentari kala senja, mentari belum menampakkan dirinya _
Rona cahaya mentari kala senja, mentari belum menampakkan dirinya _
Rona cahaya mentari kala senja, mentari belum menampakkan dirinya _
Nan jauh di sana, bentangan garis pembatas pantai dan langit seperti seperti goresan pena yang lurus mendatar. Warna air laut hanya berkelipan terpantul cahaya, sementara langit dengan warna jingga yang mempesona. 

Tepat di atasnya lagi, barisan hitam pekat tersebut adalah awan tebal. Jelas sekali dari sini perbedaan antara air laut, langit, dan awan. Dari kejauhan kubidik pemandangan tersebut. Beruntung ada dua sosok orang yang menaiki sampan dan menggunakan bambu panjang sebagai alat dayung. 

Tak kusia-siakan kesempatan membidiknya tepat di depan pulau. Objek yang indah jika kita dapat mengabadikan sunset dengan tambahan sampan atau kapal di tengahnya.

“Kelihatan!! Kelihatan!!” Teriakku sedikit menjerit.

Sore ini keberuntungan berpihak pada kami. Batas yang terlihat jelas langit merona tersebut lambat laun menampakkan sosok sang penguasa siang. Sinarnya tak lagi menyilaukan mata, bentuknya yang bulat dan besar malah membuat mata ingin terus menatapnya. 

Dari balik awan pekat, sang mentari itu indah terpandang kala senja. Tak ada penghalang yang berarti, lingkaran mentari sangat besar memancarkan sinar jingga mempesona. Sunset yang harus diabadikan, tepat berada di atas pulau Bengkoang. Sangat indah sekali.

Aku terus menerus membidiknya sebelum meranggak ke bawah dan tenggelam. Bulatan mentari ini layaknya koin berwarna jingga yang terang. Perpaduan yang tepat, senja, pulau, juga sebuah kapal tertambat di tonggak yang ada di tengah laut. 

Awan tebal yang pekat di atas menjadikan pemandangan lebih indah. Tidak hanya indah, tapi malah semacam kharisma senja yang penuh misteri. Senja yang selalu dinantikan para pecintanya.
Mentari terlihat bulat dan indah di ufuk barat perairan Karimunjawa
Mentari terlihat bulat dan indah di ufuk barat perairan Karimunjawa
Mentari terlihat bulat dan indah di ufuk barat perairan Karimunjawa
Tidak boleh sedikitpun aku berpaling dari pemandangan senja kalau ingin terus mengabadikannya. Bulatnya mentari akan cepat berlalu tenggelam dan tertutup oleh samudra. Sudah kurencanakan dari awal, jika aku ingin mengabadikannya sampai tuntas. 

Kalau perlu saat mentari itu sudah tidak tampak sekalipun, aku masih ingin tetap di sini dengan kameraku. Hanya berselang beberapa menit, mentarinya mulai menenggelamkan tubuhnya ke dalam samudra. 

Seperti sebuah koin yang kita masukkan ke dalam air secara berlahan, sebagian tubuh mentari sudah tak terlihat. Tinggal separoh lingkaran dengan cahaya yang makin indah. Sayangnya kameraku tak bisa menangkap pantulan cahaya dari air.

Sedikit kugeser lensa kamera agar mengubah bidikanku. Tak kutargetkan mentari yang sudah lebih separoh hilang. Hampir seluruh langit di barat berwarna jingga merona. Dari sini bisa terlihat ujung pulau yang di belakangnya mentari mulai tenggelam dan segaris di sampingnya rona jingga. 

Sunset sore ini memang mempesona, tak hanya melalui cerita orang lain padaku. Di sini aku sudah melihatnya sendiri. Sama halnya yang aku lihat beberapa tahun lalu di tempat yang sama. Namun waktu itu aku hanya bisa mengabadikan menggunakan kamera ponsel. Kalau tidak salah pada tahun 2014. Waktu aku mudik sebelum lebaran.
Mentari mulai tenggelam di samudra
Mentari mulai tenggelam di samudra
Mentari mulai tenggelam di samudra
Langit masih berwarna jingga merona. Cahaya sunset mulai meredup, sang raja siang sudah ingin melelapkan diri dari daratan Karimunjawa. Dia sudah memancarkan cahaya di belahan lain bumi ini. Ya, gelapnya daratan Indonesia ini akan berbanding terbalik dengan daratan lainnya yang mulai disinari mentari. 

Aku masih terdiam, masih menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh Sang Pencipta. Seperti inilah para pecinta senja menikmati waktu sore, ketika harapan dan niat agar senja dapat dinikmati; maka kita benar-benar disuguhi dan terus berucap jika keindahan itu memang nyata. 

Tuntas sudah kuabadikan tenggelamnya sang mentari di ufuk barat Perairan Karimunjawa. Aku bergegas mengemasi tripod dan memasukkan kamera ke dalam tas. Aku ingin balik ke rumah, dan menyimpan hasil potret sore ini ke dalam laptop.

Berterimakasihlah kepada senja, karena senja menjadi salah satu waktu yang tepat bagi kita untuk bersyukur atas keindahan Sang Pencipta. Senja juga menjadikan kita bisa mendapatkan ide dalam merangkai kata, membuatnya menjadi sebuah lagu yang mempunyai makna mendalam. 

Senja membuat kita makin sadar jika dunia ini terus berjalan, membuat kita sadar jika umur kita semakin tua dan berkurang sisa waktu kita menjadi penghuni bumi.
Terima kasih senja, cahayamu sangat indah
Terima kasih senja, cahayamu sangat indah
Pada akhirnya rasa dahaga untuk menikmati senja sudah kudapatkan. Berkali-kali aku ke dermaga ini, namun baru dua kali ke sini kala senja. Senja yang pertama dua tahun lalu, menikmati senja dan mengabadikan hanya dengan kamera ponsel. 

Dua tahun berselang, aku kembali ke sini dan mengabadikan dengan kamera yang sedikit lebih mumpuni. Dan aku berhasil mengabadikan secuil keindahan Karimunjawa dari sudut dermaga ini. Cerita tentang banyak sudut Karimunjawa yang bisa menyaksikan sunset itu banyak, tinggal kita memilih lokasi mana yang ingin dituju. 

Jika hari ini aku sengaja bertahan mengabadikan sunset di Dermaga Mrican, bukan mustahil mendatang aku mengabadikan di tempat-tempat lain yang sudah lebih awal dikenal sebagai lokasi stratregis para pecinta senja. Yang terpenting adalah cuaca mendukungku dan ada kesempatan bagiku untuk melakukannya. *Senja di Dermaga Mrican Karimunjawa pada hari Sabtu; 26 Maret 2016.

Baca juga tulisan bertema pantai lainnya 

33 komentar:

  1. wekeke, kalau kata mas sitam: senja nya semacam kharisma senja yang penuh misteri
    beruntung banget kok dapet view kaya begitu mas :)
    syahdu bangett, sepi meneh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokoknya yang urusan dengan senjaitu harus melankolis biar dapat menikmati ahhahahahah

      Hapus
    2. wkwkwkwkwk bener banget tuh , tapi ane bukan melankolis

      Hapus
    3. Yang paling atas itu bawaannya baperan loh mas. Sum pah akakkakaka

      Hapus
  2. Sunsetnya bisa gitu apiknya. Karjaw selalu manggil2 buat dikunjungi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau cerah memang sangat indah sunset maupun sunrisenya, bang :-D

      Hapus
  3. Balasan
    1. Makasih om, semoga bisa lebih naik lagi dalam mengambil gambar :-D

      Hapus
  4. Senjanya fantastis, narasi dan deskripsinya pun sangat membuai. Terus senjanya pas di balik pulau begitu... biasanya kan langsung masuk ke dalam laut, tapi ini terasa berbeda. Saya jadi pengen menangkap momen-momen seperti ini juga, duh mesti belajar fotografi lebih lanjut nih, hehe. Termasuk ilmu menulisnya juga, mesti dipelajari kembali. Terima kasih ya Mas sudah menulis ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senja lebih indah aslinya daripada fotonya mas. Kita sama-sama belajar menulis dan tidak segan-segan berbagi cerita :-)

      Hapus
  5. Keren kang matahari yang tenggelam nya kumplit mulai dari utuh sampai hilang semua di abadikan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang, padahal awalnya sedikit khawatir nggak bisa lihat sunset :-D

      Hapus
    2. tapi alhamdulilah bisa juga lihat sunset kan kang.. pengambilan gambar nya keren dengan moment yang pas :)

      Hapus
  6. Sunset di pulau emang selalu keren, walau kadang tertutup awan tapi juga ada keindahan yang dipancarkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bang. Sunset di pantai memang terlihat indah, apalagi depannya tak ada penghalang :-D

      Hapus
  7. Duh mas hehhhhehe. Aku malah masih awam dalam memotret, pegang kamera aja baru bulan desember :-(
    Ini juga masih latihan mas. :-D

    BalasHapus
  8. Baiyuh kok mantab sekali mas sunsetnya. bener-bener keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heee, pas banget warnanya. Jadi tinggal mengabadikan saja aku :-D

      Hapus
  9. Kemarin mupeng lihat foto-fotonya di Instagram.
    Sekarang baca ceritanya, makin kumplit mupengnya :)
    ajak aku kapan-kapan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo diagendakan mak, biar ke sana bisa bareng-bareng :-D

      Hapus
  10. tumben mas naik motor? biasanya nyepeda. capek mesti ya? haha .
    Syahdu sekali mas. bisa bunder baanget gitu. kayae aku perlu ganti lensa biar bisa bersaing dgn foto2mu. haah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Karimunjawa aku sedikit manja, jadi naiknya motor. Hhahhahahahah. Beliin aku lensa juga dong, sesekali aku diendorse dong sama IW hahahhahahha

      Hapus
  11. cantiknya sunset itu ...

    Blogwalking ...
    komentar di blog ku ya
    nanti ku komentar balik
    fast respon ...
    http://www.sejutajempol.com/

    BalasHapus
  12. terlihat langitnya makin lama mkin gelap

    BalasHapus
  13. keren foto2 sunset-nya
    saya belum pernah foto sunset ... selalu ga berjodoh alias kasih tak sampai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Karimunjawa kita lebih mudah berburu sunset dan sunrise kang, karena hampir semua pantai menghadap ke tmur dan barat.

      Hapus
  14. sunsetnya pas sempurna mas..manteeep :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengen berburu sunset di Jogja mas. Ada rekomendasi lokasi? haahhaha

      Hapus
  15. Beberapa riview buru sunset di blog ini, bru momen yg satu ini yg pling maksimal bulat penuh.dibandnding dgn sunset di ujung gelam dan bukit love. Kl cuaca pas sama2 cerah, Apa memang tempat ini yg lbh strategis atau gmana mas???
    Dan jarak dri pulau utama karimun brpa menit kl pake roda dua?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini di ujung pulau kemujan mas. Paling jauh dari karimunjawa

      Hapus

Pages