Suatu Malam di Kedai Sua Coffee Jogja - Nasirullah Sitam

Suatu Malam di Kedai Sua Coffee Jogja

Share This
Kedai Sua Coffee Demangan
Kedai Sua Coffee Demangan
Aku pernah merasa bosan di kamar. Menghidupkan laptop, menyeleksi foto, dan berusaha menuangkan menjadi cerita. Lebih dari dua jam hanya terdiam menatap layar laptop tanpa ada ide menulis. Apapun itu, walaupun sebelumnya ide sudah terpikirkan dan siap dituliskan.

Seperti malam ini, aku mengusir rasa jenuh di kamar dengan mengunjungi kedai kopi yang dekat dari kos. Jaraknya tidak lebih dari 600 meter dari tempat kos, cukup dekat dijangkau dengan jalan kaki.

Sua Coffee, kedai kopi yang beralamatkan di Jalan Kenari No. 6A, Demangan Baru menjadi tujuanku. Tempatnya memang agak masuk ke gang, tapi hanya beberapa meter saja. Cukup mudah diakses dan temukan lokasinya.

Menjelang malam kedai ini tidak terlalu ramai. Berbeda saat sore, ada banyak pengunjung yang asyik menikmati minuman dan berbincang di meja luar. Kedai ini menyediakan empat meja di dalam, dan beberapa meja panjang di luar.
Seorang barista sedang membuat minuman pesanan pengunjung
Seorang barista sedang membuat minuman pesanan pengunjung
Kedai ini sudah cukup lama, tahun 2015 dibuka sampai sekarang. Tidak hanya satu tempat. Sua Coffee mempunyai cabang di tengah Kota Jogja, tepatnya di Dagen. Ada delapan barista yang bekerja, kedelapan barista tersebut saling rotasi di dua tempat.

Sepanjang tahun 2017, aku sudah bersua ke sini sebanyak empat kali dengan orang berbeda. Kali ini aku datang sendirian. Seorang barista menyapaku; dan mempersilakanku memilih menu yang disediakan. Sua Coffee seperti kedai kopi lainnya, mereka juga menyediakan minuman nonkopi.

“Pesan kopi apa mas?” Tanya barista

Kulihat menu yang ada di meja. Malam ini aku berencana tidak minum kopi. Seharian tadi sudah menikmati dua gelas kopi. Aku melirik menu nonkopi yang disediakan. Kali ini minatku pada chocolate.

“Totalnya Rp.25.000 mas.”
Daftar harga dan menu di Sua Coffee
Daftar harga dan menu di Sua Coffee
Kuambil uang pas dan menyerahkan pada barista. Aku berlalu menuju kursi paling dekat dengan barista. Meletakkan tas yang sedari tadi di punggung. Meja di dalam tidak sepanjang di luar. Idealnya satu meja di dalam untuk 3 – 4 orang.

Kedai dibuka mulai pukul 11.00 WIB, dan last order pukul 24.00 WIB. Beruntung di dalam suasananya sepi dan nyaman. Hanya ada lima orang termasuk aku, dan keseluruhannya sibuk menatap layar laptop.

Dituturkan barista jika kedai ini lebih banyak dikunjungi para siswa sekolah, khususnya De Britto. Lokasi kedai tidak jauh dari penginapan para siswa, pun dengan kampus-kampus terdekat seperti Atmajaya dan Sanata Dharma.

Di luar kedai, deretan kursi dan meja dipenuhi pengunjung. Sebagian besar pengunjung adalah mahasiswa internasional. Para mahasiswa internasional ini menyukai suasana di Sua Coffee saat siang dan malam. Mungkin karena tidak terlalu bising.
Pengunjung manca lebih suka berada di bagian luar kedai kopi
Pengunjung manca lebih suka berada di bagian luar kedai kopi
Ada yang menarik di Sua Coffee, mereka mempunyai panggilan khusus bagi pelanggannya dengan sebutan “Sahabat Sua”. Selain itu kedai ini pun memanfaatkan adanya aplikasi online untuk memesan makanan/minuman. Sua Coffee mempunyai menu khusus yang dinamakan “Kopi Susu ber-SUA” dan hanya bisa dibeli menggunakan aplikasi Gojek.

Kopi Susu ber-SUA ini bisa juga dibeli saat kita berkunjung ke kedai, namun harganya jauh lebih mahal dan stok terbatas. Pengalaman dari beberapa barista mengatakan jika ada pengunjung yang berminat membeli Kopi Susu ber-SUA, jadi mereka memesan melalui online dan ditunggu di kedai.

Setiap hari pengunjung di kedai ini tidak tentu. Layaknya kedai lainnya yang ramai tiap akhir pekan. Tiap akhir pekan, dalam sehari rata-rata mencapai 200 gelas. Sedangkan waktu hari biasa rata-rata 70 gelas/hari. Jenis kopi yang tersedia adalah Arabika.

Berbeda lagi dengan Sua Coffee yang ada di Dagen. Di sana jauh lebih banyak pengunjungnya banyak karena berada di tengah kota. Hanya saja di sana pengunjung tidak berlama-lama seperti di Demangan.

Kedai ini bekerjasama dengan Frogstone House & Kitchen dalam menyajikan makanan. Kedua kedai ini berada di satu bangunan, hanya bersekat tembok saja. jadi kita diperbolehkan memesan makanan dari sana, dan menikmatinya di kedai kopi.

Salah satu yang membuatku betah di Sua Coffee adalah akses internetnya kencang. Mungkin salah satu koneksi internet terkencang di kedai kopi yang kukunjungi. Pemilik kedai juga menyediakan beberapa colokan listrik di dekat meja. Hal ini mempermudah kita ketika ingin berlama-lama di kedai.
Menyempatkan blogwalking ke beberapa blog teman
Menyempatkan blogwalking ke beberapa blog teman
Tidak terasa dengan suasana berbeda, aku bisa menghasilkan tulisan walau belum sepenuhnya baik. Setidaknya dalam beberapa jam di kedai kopi aku sudah menghasilkan tulisan, memasukkannya ke dalam draf, mengendapkan beberapa saat, dan mengeditnya lagi di waktu mendatang.

Kedai kopi menjadi tempat alternatif para bloger. Mereka dapat menulis artikel, saling komentar (blogwalking), atau sekadar berbagi cerita dengan teman berkaitan dengan penulisan, bahkan tidak jarang muncul ide main bareng dari sini.

Malam lebih larut, aku mematikan laptop dan berkemas. Seorang barista yang berjaga kembali menyapaku; “Terima kasih mas, semoga kembali bersua di kedai ini”. Aku mengangguk dan tersenyum meninggalkan kedai. Sementara di luar masih ramai para pengunjung yang bercanda dengan rombongannya. *Kamis, 30 November 2017.


PEMUTAKHIRAN INFORMASI

Sua Coffee lokasinya pindah ke dekat jalan Kenari. Tepatnya berada satu bangunan dengan Woodpecker Hotel Demangan. Di tempat yang baru ini lokasinya jauh lebih besar dan luas. Di ruang dalam, jejeran kursi mulai banyak, ada sofa maupun tempat duduk lebih tinggi terbuat dari kayu. Selain itu stop kontak di dalam juga tersedia
Mengunjungi kedai SUA Coffee di Demangan
Mengunjungi kedai SUA Coffee di Demangan
Dengan pindahnya kedai kopi ini dan menjadi satu dengan hotel, pengunjung kedai makin variatif. Biasanya mereka yang di sini adalah mahasiswa, kali ini biasanya ditambah pengunjung dari hotel. Area luar kedai juga menyatu dengan restoran.

Menariknya di kursi yang terpajang di luar, ada sedikit bingkai yang terpajang. Tempat ini asyik untuk sekadar berfoto. Biasanya malah tempat duduk di luar kedai lebih ramai ditempati kala malam hari.
Kedai Sua Coffee yang di luar
Kedai Sua Coffee yang di luar
Bagaimana dengan minuman andalan kedai kopi ini? Minuman SUA masih ada kok, kalian juga masih bisa membeli minuman melalui aplikasi daring.
Segelas Sua coffee
Segelas Sua coffee
Jadi kapan kita bersua di sini?

32 komentar:

  1. Spotnya asik juga ya, difoto ada pelanggan bule jg saya lihat.

    BalasHapus
  2. Itu ada yang main kartu juga kayaknya. Boleh bawa kartu sendiri atau udah disediakan, Mas?

    BalasHapus
  3. Hmm sudah buka cabang di Dagen. Tapi Kedai Sua Coffee ini lebih tenang nggak semruwet, cocok untuk ngedraft mellow-mellow sambil mengingat-ingat kenangan. Ada menu non kopi pula :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kalau di Dagen banyak pengunjungnya. Berbeda di sini, rata-rata lebih lama kalau bersantai

      Hapus
  4. Menemukan kafe tempat bisa berkegiatan menulis dan lain-lain memang seru. Tidak terlalu ramai menurut saya lumayan penting karena kalau saya pribadi suka kurang nyaman jika ada di lingkungan kafe yang padat pengunjung (kendati tentu saja ini yang diharapkan pemilik kafe). Sebuah kafe adalah cocok jika kita bisa berlama-lama di sana, mengamati pengunjung datang silih berganti, sementara kita sendiri berusaha menulis sesuatu untuk blog, haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, biasanya kalau terasa sudah lama di sini minimal order 2 kali mas hehehehe. Kalau nggak seperti itu, biasanya aku mengajak teman main. Sehingga ada yang order lagi.

      Hapus
  5. semoga aku segera punya partner baru yg bisa diajak astik kelilingan ke kedai2 kopi termasuk di kedai Sua ini...#eeeaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau di Jogja sendirian pun santai buk :-)

      Hapus
  6. Uwwh sahabat sua, hhh
    Jadi penasaran sama kopi susu sua deh, kaya apa rasanya. Dulu wkt masih intes ke jogja nggak kenal dengan kedai ini sih.. Pdhl suasananya enak kayake, aku termasuk nggak suka kl ke kedai yg terlalu ramai..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu terlalu cepat meninggalkan Jogja, jadi nggak sempat menikmatiw aktu seperti ini hahahahah

      Hapus
  7. jadi pengen nongkrong d café sua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin pas ke Jogja nggak kabar-kabar mbak ahahhaha.

      Hapus
  8. lucu juga namanya ya, asal gak dibalik, heuheuheu
    yang bikin menggelitik, menu kopi susu nya cuma bisa diorder lewat aplikasi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaaa,
      bagi yang malas kelaur rumah bisa order mas. Malah seru

      Hapus
  9. Boleh nih jadi refrensi kalau main ke Jogja lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkabar aja bang kalau ke Jogja. Siapa tau bisa sekalian kopdar

      Hapus
  10. misal per cangkir 25ribu, pelanggan 200 orang yang datang, sudah keliatan 5 juta, itu kalau belum nambah lainya. kedai kopi memang sudah banyak tapi pelangganya selalu ada dan ramai buat anak muda. menggiurkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lima juta tapi terbagi-bagi lagi mas hehehehehhe

      Hapus
  11. makin banyak tempat kece untuk nongkrong di jogja yach mas. bosan dikit tinggal melipir ke cafe hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak; kalau suntuk tinggal mlipir ke kedai kopi hahahahha

      Hapus
  12. Pernah nyoba minum kopi di kedai-kedai macam ini. Berhubung belum pengalaman, ya pesennya yang namanya udah familiar aja lah. Kopi espresso. Pas kopi dianter sama barista di meja, saya cicipi. Dan....pahitnya minta ampun. Hahaha *berasa kampungan banget ini saya*

    Woh, anak sekolah sekarang nongkrongnya udah di warung kopi macam ini. Dulu pol-polan cuma di kantin sekolahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, lebih amannya kalau jarang suka ngopi pesan latte :-)

      Hapus
  13. Ini kalau ngga salah deket wisma LPP Demangan apa ya Mas, saya pernah mau masuk tapi sendirian. Takut salah pesan, maklum aku termasuk gagap cafe..hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget mas. Ini dekat sama kosku ahahhaha

      Hapus
    2. Walah kalau tau Mas, waktu itu aku nganter orang ke salon depan wisma LPP nunggu sampai berjam-jam. Kalau tau kos deket situ, aku mampir..

      Hapus
    3. Pokoknya kalau main ke Jogja lagi kabar-kabar loh mas

      Hapus
  14. wah asyik .. deket tempat kost ada kedai kopi keren begini ... malam2 daripada suntuk dan bengong enak nonkrong disini ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau senggang dan tidak ada kegiatan enak ke sini kang.

      Hapus
  15. mayan juga ya :D
    wah, ternyata mas sitam coffee addict ya beberapa kali baca sll pesennya kopi, bahkan sampe dua gelas sehari? tapi itu masih bisa ditolelir sih asal asupan makanan sama sepedaan tetep jalan :)
    Btw, denger kopi sha jadi inget kasus yang kemaren2 muncul soal "bocor halus" yang ternyata dia ngeluarin uang 47juta cuma buat beli coffee setiap bulannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak harus pesan kopi sih, biasanya malah nonkopi teh.
      Wah kalau ngopi memang kudu dibatasi teh, nggak bisa tiap hari hahahaha. Takut boros :-)

      Hapus

Pages