Taman Glugut Bantul, Destinasi Wisata Kebun Bambu di Tepian Sungai Opak - Nasirullah Sitam

Taman Glugut Bantul, Destinasi Wisata Kebun Bambu di Tepian Sungai Opak

Share This
Getek penyeberangan di Kali Opak, tepatnya di Taman Glugut Bantul
Getek penyeberangan di Kali Opak, tepatnya di Taman Glugut Bantul
“Kita lanjut ke Taman Glugut?” Lontar Pak Arif. 

Kami saling pandang, kemudian menyeruput teh tarik yang disajikan Mas Sany. Pagi ini sebenarnya kami hanya ingin sarapan di bubur ayam Mas Sany yang berada tidak jauh dari ringroad jalan Imogiri Barat. Berjarak 100 meter ke selatan dari ringroad, kiri jalan. 

Wacananya, setelah sarapan bubur langsung pulang. Berhubung masih pagi, ide ke Taman Glugut kami realisasikan. Taman Glugut berada di Wonokromo, Pleret. Sekitar 5 KM dari tempat kami sarapan. 

Dari arah jalan Imogiri Barat, kami mengayuh sepeda menuju perempatan Jejeran. Melewati Stadion Sultan Agung, Sate Klatak, dan tepat di perempatan Jejeran, sepeda belok kanan. Sekitar 1 KM dari sana nanti masuk gang kiri di Wonokromo. 

Biarpun lokasi Wisata Edukasi Taman Glugut melewati gang, sudah ada pang petunjuk arah. Kalaupun bingung, bisa langsung tanya pada warga sekitar. Aku mengabadikan plang yang berada di tepian gang. Sebuah tulisan besar “Taman Glugut – Amazon van Bantul.” 
Spanduk bertuliskan Taman Glugut
Spanduk bertuliskan Taman Glugut
Dari ujung gang, portal terbuat dari bambu dibuat berdiri beberapa batang. Tujuannya ada sepeda motor tidak masuk ke dalam taman. Sepeda kami angkat, memarkirkan di dalam. Berdekatan dengan parkir motor, bersekat pagar bambu. 

Kami berlima langsung menyebar, mencari tempat duduk untuk sekadar santai. Empat pesepeda lainnya membiarkanku mencari gambar. Mereka tahu hobiku, memotret dan menuangkan dalam tulisan. 

Gerbang besar bertuliskan Taman Glugut menjadi tanda bahawa kami sudah ada di areanya. Awalnya aku penasaran dengan penamaan Taman Glugut, kukira awalnya tempat ini memang kampung Glugut. Ternyata aku salah besar; penamaan Glugut ini berkaitan dengan lokasinya di Kebun Bambu. 

Glugut diambil dari nama bulu bambu yang gatal jika terkena kulit. Di sini bulu bambu itu bernama Glugut, di tempat lain nama hampir mirip yakni Lugut. Informasi yang kudapat, dulunya ini adalah lahan liar kebun bambu yang tidak dirawat, kini menjadi destinasi wisata. 
Memakirkan sepeda di rerimbunan bambu
Memakirkan sepeda di rerimbunan bambu
Gazebo yang ada di Tamab Glugut Bantul
Gazebo yang ada di Tamab Glugut Bantul
Infrastruktur seperti musola, kamar mandi sudah tersedia. Ditambah banyak warung warga yang berjualan. Taman Glugut membuat geliat ekonomi warga sekitar menjadi lebih baik. gazebo-gazebo kecil tersebar, lengkap dengan kursi yang terbuat dari batang kayu. 

Taman Glugut ini dikembangkan oleh Pokdarwis. Dibangun awal 2018, kini menjelma menjadi destinasi yang digandrungi wisatawan sekitar. Setahuku tidak hanya dikelola RT II Wonokromo, tapi di seberang sungai dikelola oleh Dusun Karangwuri, Jetis, Bantul. 

Menariknya, tempat ini dikonsep seperti taman khusus anak-anak. Slogan wisata edukasi di tempat ini bukan sekadar tulisan saja. Selain wahana seperti kolam renang kecil, ATP, di sini juga ada mainan anak-anak seperti ayunan dari ban mobil serta Egrang

Anak kecil leluasa bermain. Lahan Taman Glugut luas, membuat mereka menikmati waktu senggang dengan bermain sepuasnya. Tidak ada tarif yang dibayarkan selama main ke taman, kecuali mereka ingin menjajal wahana yang berbayar. Ayunan menjadi mainan paling digandrungi anak kecil. 
Anak kecil bermainan ayunan di Taman Glugut
Anak kecil bermainan ayunan di Taman Glugut
Mencoba main Egrang, ternyata cukup susah
Mencoba main Egrang, ternyata cukup susah
Sebagian lagi, anak-anak secara bergantian main Egrang. Egrang terbuat dari bambu dipotong sepanjang satu meter, dan diberi penyanggah kaki. Mereka yang bermain rata-rata anak daerah setempat. 

Menyusuri Sungai Opak dengan Perahu 
“Selamat datang pengunjung Taman Glugut. Bagi yang ingin naik perahu bisa merapat ke tempat pembelian karcis,” Suara kencang dari pelantang suara. 

Suara kencang tersebut menarik perhatian sebagian wisatawan. Satu keluarga yang baru datang langsung berkumpul di depan sekre, mereka minat naik perahu di Kali Opak. Sosok lelaki yang tadi memberi imbauan sedikit lebih sibuk. 

Beliau adalah Pak Abdul, lelaki yang bertugas menjaga sekre sembari mengenalkan tentang Taman Glugut melalui pelantang suara. Beliau juga bertugas mendata dan menyobek kertas bagi wisatawan yang ingin naik perahu. 
Memesan tiket untuk wisata susur sungai Opak
Memesan tiket untuk wisata susur sungai Opak
Bisa jadi, Taman Glugut ini banyak yang mengunjungi karena menawarkan susur Kali Opak menggunakan perahu. Karcis susur sungai menaiki sampan sebesar Rp.5ribu/orang. Ada batas maksimalnya dalam satu perahu. Satu perahu fiberglass maksimal dinaiki 8 penumpang. 

“Selain batas penumpang, kami juga mewajibkan mereka memakai jaket pelampung, mas,” Terang Pak Abdul. 

Pihak pengelola Taman Glugut biasanya menyediakan empat perahu untuk wisatawan. Bahkan ketika liburan lebaran kemarin, mereka menyediakan lima perahu. Susur sungai ini sekitar 15 menit. Menyusuri sudut-sudut lain Kali Opak. 

Menariknya lagi, laporan dari Pak Abdul bahwa wisata susur sungai ini menjadi salah satu yang digandrungi wisatawan keluarga. Pada saat liburan, pengunjung yang menaiki sampan tembus 400 orang/hari. Padahal tidak semua wisatawan itu naik sampan. Jika dikira-kira, mungkin tiap liburan pengunjung sampai 700 wisatawan. 
Wisatawan menikmati wisata susur sungai Opak, Bantul
Wisatawan menikmati wisata susur sungai Opak, Bantul
Wisatawan menikmati wisata susur sungai Opak, Bantul
Dari data yang tertulis, liburan lebaran kemarin lebih dari 1000 orang/hari yang datang. Sedangkan di hari biasa, pengunjung yang datang berkisar antara 300an pengunjung. Data tersebut menunjukkan bahwa Taman Glugut menjadi tempat favorit baru para wisatawan. 

Selain perahu untuk wisatawan, tepat di Taman Glugut ini juga menyediakan sarana penyeberangan sungai menggunakan getek. Transportasi getek ini sering dimanfaatkan masyarakat setempat untuk menyingkat perjalanan. 

Getek ini menyambungkan antara Wonokromo dengan dusun Karangwuri. Tidak ada patokan harga sekali menyeberang. Warga setempat hanya membayar seikhlasnya. Aku melihat cukup sering getek ini berlalu-lalang menyeberangkan masyarakat setempat. 
Getek, transportasi yang digunakan masyarakat setempat untuk menyeberang sungai Opak
Getek, transportasi yang digunakan masyarakat setempat untuk menyeberang sungai Opak
Rutinitas warga juga tampak dari sini. Di sudut lain sungai terlihat warga yang menjaring ikan. Mereka berada tidak jauh dari bendungan. Di sisi sungai, aktivitas warga setempat menambang pasir menggunakan sampan terbuat dari drum. 

Para lelaki itu menggunakan galah bambu untuk mencapai tengah sungai, lalu menambang pasir dengan alat seadanya. Di tepian sungai tumpukan pasir lumayan banyak, tidak ketinggalan kumpulan warga yang sedang gantian istirahat. 
Pemuda setempat bersiap mengambil pasir
Pemuda setempat bersiap mengambil pasir
Menjelang siang, aku dan rombongan pulang. Tujuan awal hanya sarapan bubur ayam, tapi malah blusukan sampai di Taman Glugut. Menyenangkan rasanya, akhirnya di penghujung bulan juni pecah telur juga gowesnya. *Wisata Edukasi Taman Glugut Bantul, DI Yogyakarta; Sabtu, 30 Juni 2018.

43 komentar:

  1. wah seru nih main kesini ngajak anak....

    BalasHapus
  2. Kalo kesana, aku pengeeen naik egrang :p. Mau tau sesusah apa sih hahahah.. Trus naik getek jugaaa :p. Ngeri ngeri sedap sih, takut kebalij wkwkwk. Tp penasaran.. Waktu k aceh, sempet tuh ada jalan pintas dari banda aceh ke lhokseumawe, lwt hutan lalu ada sungai. Nah, utk nyebrang disediin getek buat mobil dan motot. Tapi aku takuuut, gila aja kalo bannya nyelip trus masuk sungai hahahaha.

    Akhirnya milih jalan yg jauh tp aman.

    Cuma kalo getek utk manusia doang, aku mau sih coba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main egrang itu menurutku susah, akrena aku nggak bisa-bisa hahahaha.
      Kalau naik getek, enak kok mbak. Penting tetap pakai pelampungnya

      Hapus
  3. Aku malah belum pernah ke Amazon van mBantul haha.
    Kayanya ke Taman Glugut tetep ada yang kurang kalau belum mencicip susur kali pakai perahunya.
    Eh, jadi tau ada penyebrangan getek yang menghubungkan Wonokromo dengan dusun Karangwuri ituuu... obyek menarik buat dipotret :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengennya aku nyeberang, tapi kamu taukan kalau aku lebih suka motret aja *alibi hahahaha

      Hapus
  4. Kalau di Cilacap namanya Lugut Mas, mungkin kalau di Jogja disebut Glugut. Tapi apapun namanya, benda mirip rambut itu kalau nempel gatel..hehehe..

    Mudah"an lama kelamaan bisa mirip pasar Papringan seperti yang di Magelang itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempatku juga namanya Lugut mas, kalau kena kulit gatal banget.
      Pasar Papringan di Temanggung hehhehhee, kalau di sini lebih menawarkan tempat bermain mas. Kios ada, tapi bukan kuliner seperti di pasar Papringan

      Hapus
  5. Cocok nek buat sekadar quality time bareng keluarga, piknik gitu, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi mau piknik bareng keluarganya siapa kamu di sini? haahhaha

      Hapus
  6. Kalau ngomongin bambu jadi inget pasar papringan, hehhehee. Ternyata taman glugut berbeda. konsepnya lebih untuk taman bermain yaa. semoga semakin banyak pengunjung dan banyak kios yang jual makanan tradisional daerah bantul. jalan ke taman bermain sekalian kulineran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, Papringan menjadi pasar yang selalu diingat tiap berhubungan dengan kebun Bambu. Pun dengan Glugut, di sini konsepnya lebih ke tempat main anak-anak.

      Hapus
  7. Iiih baca ini ku jadi inget deswita sanankerto. Wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sanankerto lebih asyik. Kan ada kolam buat mandi sekalian. Hahhahaha

      Hapus
  8. Wah ada mainan egrangnya, permainan yang sudah jarang banget dimainin sama anak anak. Syukurnya disini masih ada anak anak yang mau maen egrang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jogja masih bisa ditemukan egrang mas. Di Alun-alun selatan juga tiap sore ada banyak egrang hehehhhehe

      Hapus
  9. Naik getek seru, Ada tantangannya, sesuatu yang tidak Ada di kota, semoga pohon bambu di sekitarnya tetap Ada ya karena di tempat saya sudah jaraaaang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja mbak tetap dilestarikan pohon bambunya

      Hapus
  10. Wah Bantul memang selalu g kekurangan ide untuk mengembangkan potensi wilayahnya. Sekarang tentang bambu. Terima kasih infonya mas.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa ajak Thole ke sini mas dolanan egrang hehehehheh

      Hapus
  11. Sekarang, apapun kalau dipegang dan diolah oleh tangan-tangan kreatif manusia bisa jadi sesuatu yang berharga. Suasananya seperti di Pasar Papringan, mas. Cuma kalau yang ini bukan tempat 'jual-beli' layaknya Pasar Papringan di Temanggung sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, sama-sama di kebun bambu hanya beda konsep. Papringan menyediakan lahan untuk kuliner di sini untuk bermain

      Hapus
  12. namanya lucu
    "sungai opak"
    kayak nama makanan haha

    BalasHapus
  13. dulu waktu kecil sering naik egrang kalau lagi musim, sekarang masih bisa gak ya? :D

    itu menyusuri sungai kayanya seru yah, kalau kesana wajib tuh..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sampai sekarang masih nggak bisa naik egrang ahhahahah

      Hapus
  14. kreatif ya .. dari yang hanya dulunya rumpun bambu liar ..."dikemas" akhirnya jadi destinasi wisata dan menghidupkan perekonomian warga sekitar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di banyak tempat sekarang seperti ini semua kang.

      Hapus
  15. Di Semarang disebut lugut, mitosnya untuk menghilangkan lugut yang nempel di tangan, dgosok-gosok saja ke rambut kepala

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawa Tengah rata-rata bilangnya Lugut, dan memang kalau kena tangan biasanya diusapkan ke kepala

      Hapus
  16. Main egrang itu susah parah dah, tapi airnya hijo bangat yaa. Terus bisa menyesuri sungai opak.. perjalanan yang seru bangat ini mah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh keseimbangan kalau main egrang, aku beberapa kali mencoba dan selalu gagal :-D

      Hapus
  17. Tahukah Mas, saya jadi inget apa? Iyak, jadi inget Boon Pring Andeman, ahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahahahha
      Tep bagus Boon Pring mas. lebih hidup rasanya. Di sini petakan bambunya sedikit dan di dalam sudah banyak area main anak-anak.

      Hapus
  18. Mas yang satu ini, selaluuu saja bikin saya dan keluarga menemukan tempat wisata-wisata yang baru nan menarik, matur nuwun, masbro :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama masbro.
      Selamat menjelajah Jogja dan sekitarnya :-)

      Hapus
    2. Siap, inspired banget pokoknya :)

      Hapus
  19. Ternyata dari kebun bambu yang tidak dirawat bisa menjadi destinasi wisata yang indah, sepertinya Taman Glugut teduh sekali karena disampingnya mengalir sungai yang juga digunakan untuk wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika ada kemauan, tetap ada jalan untuk menciptakan wisata :-)

      Hapus
  20. Hahaha kangen main engrang, jadi pingin ke taman glugut..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di alun-alun kidul juga sering ada engrang loh ahahhahah

      Hapus
  21. udah makin bagus lokasinyaaa..
    semoga ga cuma jadi wisata musiman aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu yang jadi tantangan pengelolanya mas :-)

      Hapus

Pages