Caffein, Kedai Kopi di Kawasan Nagoya Hill Batam - Nasirullah Sitam

Caffein, Kedai Kopi di Kawasan Nagoya Hill Batam

Share This
Menikmati Kopi di Kedai Kopi Caffein Batam
Menikmati Kopi di Kedai Kopi Caffein Batam
“Ada kedai kopi kah di sekitaran hotel, mbak?” 

“Di sekitaran Nagoya Hill ramai kok mas. Nanti bisa cari kedai kopi,” Jawab Mbak Tina yang menjemputku. 

Kali ini terbesit pikiranku untuk menyeduh kopi. Sesampai di hotel, aku tak langsung mandi. Hanya meletakkan barang, lalu kembali keluar dari hotel. Sementara mbak Tina sudah izin pulang terlebih dahulu. 

Bergegas kubuka aplikasi peta di gawai, kuketik kedai kopi di sekitaran Nagoya Hill. Tak lama kemudian muncul beberapa kedai kopi, sayangnya jam buka hanya sampai pukul 22.00 WIB. Tinggal 20 menit lagi tutup. 

Keramaian Kawasan Nagoya Hill masih terekam. Jam tangan menunjukkan pukul 21.40 WIB. Ini artinya tinggal sebentar lagi tiap kedai tutup. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan menikmati secangkir kopi di Batam. 

Barisan ruko di Kawasan Nagoya Hill didominasi spa, tempat belanja, dan beberapa warung makan. Tidak lama kemudian tulisan “Caffein” terlihat. Aku pastikan ini adalah kedai kopi. Sedikit berlari aku menuju kedai tersebut. 
Kedai Kopi Caffein di kawasan Nagoya Hill Batam
Kedai Kopi Caffein di kawasan Nagoya Hill Batam
“Sebentar lagi tutup bang. Kalau dibawa pulang, kami bisa buatkan.” 

“Aihh, sayang jauh-jauh dari Jogja tidak bisa minum di sini,” Selorohku. 

Sepasang muda-mudi yang di kedai sedikit terkejut. Lantas mereka memperbolehkanku minum di kedai meski tulisan “tutup” dipasang. Ini artinya, aku bisa menikmati kopi sembari berbincang dengan baristanya. 

Barista pria yang yang melayani bernama Bang Deka. Di sini Caffein Coffee ada dua barita, hanya saja mereka saling gantian kerja. Kulihat menu yang tersedia, termasuk juga stok biji kopi yang ditawarkan. 

“Mandailing mas, dibuat V60 saja,” Pintaku. 

Sembari menunggu barista menyeduh kopi, aku langsung membayar. Harga secangkir kopi di Batam tidak jauh berbeda dengan beberapa kedai di Jogja, khususnya yang berada di pusat kota Jogja. Di sini harga juga sudah termasuk pajak. 
Daftar harga dan menu kedai kopi Caffein
Daftar harga dan menu kedai kopi Caffein
Kedai kopi Caffein awalnya bukan kedai kopi, melainkan toko kue basah. Ketika toko kue basah mulai berkurang peminatnya, pemilik kedai membuat terobosan dengan menjadikan kedai kopi. Selaras dengan kopi yang sedang menggeliat di Indonesia, tempat ini kembali ramai. 

Ruangan di kedai lumayan luas. Beja barista Panjang, jejeran biji kopi tertata rapi di dalam stoples transparan. Pun dengan kue basah yang disediakan. Selain menyeduh kopi, kita juga bisa menikmati makanan berat. 

Meja dilengkapi sepasang kursi tertata rapi di dekat tembok. Di lantai dua, ruangannya berbeda. Tak hanya meja dan kursi kecil yang disediakan. Sofa pun tersedia. Jika untuk berbincang santai, ruang di lantai dua nyaman buat rombongan. 

Layaknya kedai yang lainnya, Caffein buka pada pukul 10.00 – 22.00 WIB. Menurut bang Deka, pengunjung kedai tidak bisa diprediksi. Terkadang ramai, namun ada waktunya juga sepi. Pastinya tiap akhir pekan pengunjung lebih banyak dari hari biasanya. 
Suasana di dalam kedai kopi Caffein
Suasana di dalam kedai kopi Caffein
Rata-rata dalam sehari ada 50 pengunjung yang datang. Sebagian dari mereka ada yang dinikmati di kedai, dan sebagian lagi memesan untuk dibawa pulang. Sebagian besar pengunjung kedai adalah wisatawan. 

“Biasanya kalau pukul 14.00 WIB itu yang datang dari Singapura, bang,” Terang Bang Deka. 

Wisatawan dari Singapura biasanya datang ke Batam untuk keperluan belanja. Mereka bisa langsung pulang ke Negara-nya hari itu juga, ataupun menginap di Batam. Karena inilah, Bang Deka beserta barita lain di Caffein bisa paham siklus pengunjung yang datang ke kedai. 

Aku masih asyik mengulik informasi berkaitan dengan kedai kopi ini. hal seperti ini juga yang aku lakukan di kedai-kedai yang lainnya kala berkunjung. Sempat ada satu pengunjung yang ingin masuk kedai, namun ditolak secara halus jika kedai ini sudah tutup. 

Dengan telaten kulihat Bang Deka membuatkan pesananku. 20 gram biji kopi, ditambah dengan 220 mili air. Aku lupa menanyakan berapa suhu yang digunakan. Tak berselang lama, secangkir kopi sudah siap kusesap. 
Bang Deka, barista di Caffein Coffeshop
Bang Deka, barista di Caffein Coffeshop

“Enak bang kopinya,” Ujarku.

Sejak di Padang, aku belum menikmati kopi. Kali ini menjelang larut malam, akhirnya aku bisa menyesap kopi di tengah jantung keramaian Batam. Sesekali kuabadikan kopi di sudut meja sebelum kusesap. 

Rasaku, malam semakin larut. Tak elok rasanya berlama-lama di kedai kopi yang sudah tutup. Sekali dua kali kuseduh, kuminta Bang Deka untuk membungkusnya ke gelas agar bisa kubawa balik ke hotel. 
Kopi Mandailing atau Mandheling dengan metode V60
Kopi Mandailing atau Mandheling dengan metode V60
Sebelum berpisah, kusempatkan berfoto dengan Bang Deka (barista). Aku juga meminta satu lembar kartu nama kedai Caffein. Tujuanku, jika nanti tulisan cerita berkunjung ke kedai ini tayang, aku berencana mengabari melalui media sosial. 

Tuntas sudah keinginanku menikmati secangkir kopi di Batam. Waktunya berjalan menyusuri jalanan Nagoya Hill menuju hotel. Jika tidak lupa, hotel budget murah yang kuinapi nantinya aku tulis di blog. 
Foto bersama Bang Deka
Foto bersama Bang Deka
“Selamat tengah malam Batam. Tanpa terencanakan malah bisa menyambangi pulau yang tak pernah tidur ini.” *Caffein Coffee; Rabu, 24 Oktober 2018.

24 komentar:

  1. Wow banyak juga itu takaran seduhnya sampe 20 gram.
    Anda ini memang custoner prioritas coffeeshop ya. plang udah tutup aja masih dpt service ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya e hahahaha, airnya juga lebih banyak Qied.
      Coba kamu ke sini sekalian seduh sendiri haahhahah

      Hapus
  2. wkwkwk, warung wes meh tutup malah ngorder....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu rejeki mas hahahahah, padahal niatnya biar saya dapat konten

      Hapus
  3. Mantap lur, #NgopiTiapPekan merambah Batam.
    Eh aku baru tau kalau wisatawan Singapur belanjanya malah di Batam. Lebih murah pasti ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau ngopi di Singapur tapi lupa gak bawa paspor.

      Hapus
  4. Untung 'dari Jogja' hahaha dari jauuuuh makanya diijinkan untuk menikmati kopi meskipun tidak tandas dan harus dibawa pulang. Wow, Batam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhe, jurus paling pas itu bilang saya dari Jogja :-D

      Hapus
  5. Jadi pengen juga deh nanti menikmati kopi di Batam. Atau setiap kota yang dikunjungi. Selama ini fokusnya cuma cari destinsi, cari cerita, jadi lupa menikmati kopinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku biasnaya ke kota-kota ini hanya sebentar tante, jadi kudu mengunjungi kedai kopi biar tetap jadi konten hehehhe

      Hapus
  6. Kopi suka wanginya dan ingin minum kopi cuma terkadang asam lambungku langsung naik kalau minum kopi heuheu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau memang ada masalah dengan lambung, lebih baik pilih kopi susu atau latte. Tinggal minta ke brista agar banyak susunya biar nyaman pas diminum. Jangan dipaksakan :-)

      Hapus
  7. Suka kopi karena diracunin aqied ya, mas?
    ahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget ahhahahaha, dia yang ngeracuni.

      Hapus
  8. Menikmati kopi emang mesti diresapi. Sambil ngobrol Makin nikmat. Jadi postingan blog deh. Keren Sitam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demi konten mas, jadi kudu saling ngobrol hahahahah

      Hapus
  9. Seleb blogger Ndak boleh ditolak ya mas hihi Alhamdulillah pasti senang mas deka kedainya diulas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orangnya baru kukasih kabar pas sudah diulas mbak. Jadi bingung hahahhahaha

      Hapus
  10. Duh kopinya menggoda banget diseruput pas hujan hujan begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhehee, sebenarnya kopi itu nikmat diseruput kapanpun. Tergantung hati sedang senang

      Hapus
  11. jika di total sudah berapa banyak kedai kopi yang di singgahi ... mungkin bisa masuk rekor muri .. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhehe, masih sedikit kang. Semoga bisa tambah terus kedai kopi yang dikunjungi plus daerahnya yang berbeda-beda

      Hapus
  12. Baru tau ada keda kopi ini. Hahahaha.

    Kudu dicicipi nih kalau ke Batam. Kira-kira selezat kopi Aceh gak yaaa?
    Heheheh.


    www.aulaandika.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kopi dari manapun tempatnya sama-sama enak :-)

      Hapus

Pages