Berbincang Alat Seduh di Klinik Kopi - Nasirullah Sitam

Berbincang Alat Seduh di Klinik Kopi

Share This
Mas Pepeng sedang meracik kopi pesanan
Mas Pepeng sedang meracik kopi pesanan
Tidak sedikit yang bertanya di Instagram, kenapa aku belum menulis kedai Klinik Kopi. Padahal kedai kopi tersebut sudah terkenal seantero Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut aku jawab dengan kalimat nanti pasti ada waktunya. 

Sedari dulu, setelah Klinik Kopi pindah ke Jalan Kaliurang, aku sudah mempunyai rencana ingin bersua dengan Mas Pepeng. Kami beberapa kali bertemu diagenda kopi, dan tidak pernah berbincang lama. Sekadar saling sapa. 

Hingga waktu tak sengaja mengantarkanku ke Klinik Kopi. Berawal dari rencana dadakan, aku, Aqied, dan Mas Iqbal menyambangi Klinik Kopi. Bagi Mas Pepeng, Aqied dan Mas Iqbal adalah teman lama. 

“Wah pas mati lampu e, Qied,” Ujar Mas Pepeng di depan meja barista. 

Rinai hujan sempat mengguyur kota Jogja menjelang sore. Bau tanah basah bercampur aroma bambu terhirup tepat di luar Klinik Kopi. Belum sempat aku menghirup aroma kopi dari dalam ruangan. 

“Bisa pesan nggak mas?” 

Mas Pepeng mengangguk. Tempatnya belum sepenuhnya gelap, sebuah lampu darurat dihidupkan, sehingga beliau masih bisa bekerja. Jika biasanya yang memesan harus melalui nomor antrean, aku dan Aqied tidak memakai nomor antrean. 
Meja tempat biji kopi di Klinik Kopi
Meja tempat biji kopi di Klinik Kopi
Mati lampu tidak sepenuhnya membuat pesanan kopi berhenti. Mas Pepeng menakar biji kopi dalam timbangan, lalu menggiling menggunakan grinder manual. Grinder kecil ini kalau tidak salah merek Porlex. 

Aku menjadi ingat grinder yang dimiliki Aqied kala menyeduh kopi di tempatnya. Dia menggunakan alat yang sama untuk menggiling biji kopi sebelum disajikan. Layaknya pasien, Mas Pepeng bertanya banyak tentang kopi padaku. 

Pertanyaan yang sering beliau utarakan adalah, kamu suka kopi seperti apa. Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun butuh waktu untuk menjawab. Aku lupa biji kopi apa yang waktu berkunjung disajikan, intinya itu adalah biji baru. Biji kopi yang sama juga diracik untuk Aqied dan Mas Iqbal. 

Tak lama kemudian, lampu hidup. Para pengunjung bisa mengambil nomor antrean. Seingatku, sudah ada beberapa orang yang menanti dengan wajah-wajah risau melihat listrik belum hidup. Rombongan awal sekelompok lelaki dari Jawa Barat, beliau bertanya-tanya tentang Klinik Kopi, kenapa kedai ini menjadi tempat syuting film AADC II. 
Sudut ruangan di dalam kedai Klinik Kopi
Sudut ruangan di dalam kedai Klinik Kopi
Aku, Mas Iqbal, dan Aqied duduk di ruang dalam kedai. Tempat ini tidak besar, namun di sinilah lokasi menyimpan biji kopi yang siap dikirim kepada pembeli. Tiap dinding terdapat berbagai bingkai foto berkaitan dengan kopi. Dokumentasi perjalanan mencari kopi di pelosok negeri. 

Obrolan kami seputaran kopi. Mulai dari peralatan seduh rumahan sampai membahas hal-hal yang lainnya. Bahkan, dari obrolan ini aku menjadi tertarik untuk memiliki minimal satu peralatan seduh rumahan. Semoga terealisasikan di tahun depan. 

Selepas isya pengunjung makin ramai. Kulongokkan kepala dari jendela, di luar sudah ada pengunjung yang tersebar menikmati kopi di beberapa tempat. Terdengar pula suara Mas Pepeng berkomunikasi dengan pengunjung dari manca. 

Sebelumnya, beberapa hari yang lalu perwakilan dari Google datang ke Klinik Kopi. Aku tidak tahu pasti agenda apa yang membuat Google datang ke kedai ini. Dari postingan Instagram Klinik Kopi, dijelaskan ada kaitannya dengan Google Business. 

Para calon pengunjung yang ingin mencari lokasi Klinik Kopi biasanya mencari informasi pada tulisan di blog, kemudian mereka mengikuti Google Maps untuk menuju lokasinya. Mungkin ini ada kaitannya dengan Google Business tersebut. 
Interaksi pengunjung dengan barista
Interaksi pengunjung dengan barista
Sudah menjadi aturannya, ketika memesan kopi di sini, kita tidak serta merta memilih biji yang diinginkan lalu menunggu di tempat duduk. Konsep yang sudah tersemat di Klinik Kopi adalah, kita berinteraksi dengan peraciknya. 

Di sini Mas Pepeng menggali dan berusaha memahami karakter kopi yang diinginkan oleh pengunjung. Jangan kaget jika untuk membuat satu gelas kopi, di sini membutuhkan waktu sekitar 10 menit. 

Dimulai dari obrolan asal daerah, darimana mengenal Klinik Kopi, suka kopi yang seperti apa, sampai membahas kedai kopi maupun jenis kopi yang ada di daerah pengunjung (jika tempat tersebut ada kebun kopinya). Obrolan panjang ini mendekatkan pengunjung dengan barista. 

Seperti malam ini, dua gadis berpakaian couple berwarna putih dengan tulisan hitam asyik berbincang dengan Mas Pepeng. Mereka datang jauh dari Lampung dan menapaki sedikit tempat yang ada di film AADC II. Obrolan kedua gadis ini dengan Mas Pepeng cukup intens, seperti bertemu dengan kawan lama. 

Satu orang yang membantu Mas Pepeng beraksi, sesekali beliau menjadi pelayan yang ingin foto bersama. Kemudian kembali pada pekerjaannya untuk mengundang pengunjung yang sudah antre, serta menjadi kasir. Sewaktu mati lampu tadi, mas ini juga yang menggiling manual biji kopi yang aku pesan. 

Tidak terasa segelas kopi hampir habis kuseduh. Pun dengan kue basah yang diambil Aqied, tinggal sepotong lagi yang bisa dinikmati. Sesekali aku menyesap kopi, berusaha mendetaksi rasa yang ada di dalamnya. Sepertinya lidahku belum sepenuhnya peka. 
Pesanan kopi yang kami minum
Pesanan kopi yang kami minum
Satu gelas kopi di Klinik Kopi harganya terjangkau. Bahkan lebih mudah dibanding beberapa kedai kopi yang sempat aku sambangi di tengah kota Jogja. Rasanya? Lidahku cocok dengan sajian racikan Mas Pepeng. 

Sebenarnya tujuan awal ke sini tidak hanya ingin menyesap kopi. Aku terpikirkan untuk mengabadikan ekspresi wajah-wajah pengunjung yang baru pertama menikmati kopi. Sayangnya, selama di sini yang aku rencanakan sedari awal tidak terealisasikan. Aku lebih asyik berbincang dengan dua temanku. 

Selain menjual kopi maupun biji kopi, Klinik Kopi juga menyediakan souvenir berbentuk kaus yang bisa dibeli. Pajangan kaus ada di depan meja barista, dan kalian bias membeli dengan kisaran harga 140 ribu rupiah. 
Souvenir kaus yang bisa dibeli pengunjung Klinik Kopi
Souvenir kaus yang bisa dibeli pengunjung Klinik Kopi
Cukup lama aku di sini, sejak pukul 16.30 WIB hingga menjelang pukul 20.30 WIB. Waktunya pamitan dan membayar minuman yang sudah kupesan. Nasib baik bagiku, segelas kopi yang kupesan dibayari oleh Mas Iqbal. Ini untuk kesekian kalinya beliau membayari pesananku, tetap banyak rejeki mas! 

Saran saja, bagi yang ingin menikmati kopi di Klinik Kopi, aku anjurkan datang ke kedai ini pada waktu hari kerja. Biasanya waktu akhir pekan pengunjung jauh lebih banyak daripada hari biasa. Jadi kalian dapat bersantai dengan suasana jauh lebih nyaman. 

“Pokoknya beli grinder dan alat seduh Aeropress, mas. Lebih simpel,” Mas Iqbal mengingatkan. 

Sepertinya benih-benih untuk menjadi pecinta kopi dan swaseduh rumahan makin tumbuh besar. Harus ditahan terlebih dahulu, sembari mengumpulkan receh dari blog untuk membeli alat yang barusan diutarakan kawan. Semoga saja! *Klinik Kopi, Selasa 18 September 2018.

14 komentar:

  1. Jadi inilah kedai tempat salah satu set AADC 2. Klinik Kopi. Bagian barista berinteraksi dengan pembelinya itu konsep unik yang saya pikir belum ada di tempat lain. Banyakan kedai kan maunya cepat layani pembeli biar antrean terus berjalan. Asyik sekali ya. Kalau ke Jogja saya harus ke sini. Harus! Btw semoga impiannya terwujud ya u/ memberi alat itu hehehe 🤗 Amin YRA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn, semoga ada waktu panjang main ke Jogja mbak. Biar nanti ditemani maknyak hahahahah

      Hapus
    2. Insha Allah, Amiiiinnn! Ditemani Maknyak dan dirimu dooonks wkwkwkwkwkkw :D

      Hapus
  2. welcome to home brewer club

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum beli, masih kepikiran beli lensa wide po yo hahahahha

      Hapus
  3. Sampai sekarang, aku masih mengagumi orang-orang yang intens bersentuhan dengan dunia kopi. Memahami seluk-beluknya, macam Mas Iqbal dan Mbak Aqid. Lalu bertemu dengan Mas Pepeng: klop sudah.

    Aku ini suka ngopi, tapi kalau ditanya kopi seperti apa yang disuka? Kalau soal teknis, aku tidak bisa menjawab. Tapi intine ora gawe gulo :D

    Kapan-kapan pengin balik ke Klinik Kopi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Situ kalau main ke Jogja kan tinggal mlipir mas ahahhaha. Ayo agendakan

      Hapus
  4. Dua hari lalu aku di Jogja dan sempat berpikir mampir ke Klinik Kopi, tapi enggak jadi. Kayaknya nanti harus dicoba nih. Penasaran gimana Mas Pepeng bakal nanggepin aku yang netral aja sama kopi. Hahah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa tida berkabar hahahah, kan kita bisa makan di angkringan :-D

      Hapus
  5. perbincangan antara barista dan pengunjung itu menghangatkan dan mendekatkan, keren konsepnya,, bener2 bukan kedai kopi biasa ya hehe..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, karena interaksi adalah salah satu kunci.

      Hapus
  6. tau gak mas sitam, sha kan minggu2 kemaren jajan kopi tuh di cafe. Pas pulang ternyata perut sha sakit banget huhuhu hampir ga pernah minum kopi gegayaan jajan :( tadinya pengen bikin postingan ala-ala gini. boro-boro hahahaa

    kasih tips nya dong, biar gak kejadian lagi. Kok bisa kuat sih minum kopi terus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tidak terbiasa jangan langsung pesan, teh. Icip-icip punya teman dulu. Mungkin teteh lebih tepat minum kopi susu, jika masih terasa kurang pas, bisa tambah susunya.

      Hapus

Pages