Cold Brew di 7PM Books and Coffee Jogja - Nasirullah Sitam

Cold Brew di 7PM Books and Coffee Jogja

Share This
Lemon Cold  Brew dalam kemasan
Lemon Cold  Brew dalam kemasan
“Belum buka kedainya,” Terang Ardian ketika melihatku turun dari tranpostasi daring. 

Kusapu pandangan ke tiap sudut kedai kopi ini, tidak hanya kami berdua, ada sepasang muda-mudi yang juga duduk menanti kedai buka. Sebelumnya, aku mengecek informasi di Instagram; tertera keterangan buka pukul 10 pagi. Mungkin sekarang diubah satu jam lebih lambat. 

Ada dua alasan kenapa kami memilih kedai kopi 7PM yang berada di Soropadan, Condongcatur. Pertama adalah faktor toko buku Indie Book Corner milik Irwan Bajang. Siapa tahu pemilik toko ada di sana jadi kami bisa berbincang. Terlebih Ardian akrab dengan pemilik toko buku tersebut. Alasan kedua yakni konon minuman cold brew di sini enak. 

Meski belum buka pelayanannya, kami diperbolehkan menunggu di kedai. Kedai kopi 7PM ini tidak di dalam ruangan. Semua terbuka, sehingga tidak ada sekat antara mereka yang suka merokok maupun yang tidak merokok. 
Kedai kopi 7 PM belum buka
Kedai kopi 7 PM belum buka
Aku dan Ardian sudah ada tugas masing-masing. Kami berdua sibuk membuka laptop, mengerjakan kewajiban yang hampir mendekati batas waktu yang disepakati. Sesekali aku melihat pesan di gawai. Rencananya Mak Indahjuli ingin gabung. 

Bangunan permanen hanya ada pada toko buku dan meja barista. Selebihnya ditata dengan konsep terbuka. Atap tertutup asbes, tiang-tiang penyanggah dari besi. Tidak ketinggalan stop kontak yang menjalar pada tiang penyanggah. Sedikit tambahan kombinasi pot bunga serta tanaman rambat. 

Pukul sebelas lebih tujuh menit, kedai baru buka. Sepasang muda-mudi lebih dahulu memesan makanan. Selanjutnya, kami yang menuju meja kasir. Mengintip menu kopi, kemudian memesan cold brew. Sayangnya Apple Cold Brew tinggal satu gelas. Sisanya hanya Lemon Cold Brew. Sementara stok yang original tidak tersedia. 
Daftar menu dan harga di Kedai Kopi 7 PM
Daftar menu dan harga di Kedai Kopi 7 PM
Dua gelas Cold Brew kami beli, harganya cukup murah. Selain minuman, kami juga memesan camilan pengganjal perut. Minuman Apple Cold Brew yang direkomendasikan, rasanya jauh lebih pas di lidah. Untuk Lemon Cold Brew, bagi yang tidak terbiasa pasti tidak cocok dengan lidah. 

Awalnya, kukira cold brew disajikan menggunakan gelas. Ternyata di sini sudah terbungkus gelas plastik disertai sedotannya. Menurutku, lebih nyaman rasanya jika penyajiannya tidak menggunakan gelas plastik. Sehingga sedikit mengurangi sampah plastik ke depannya. Jika memang dibawa pulang, mungkin harus ada inovasi wadah yang lainnya. 
Memesan Cold Brew
Memesan Cold Brew
Kedai maupun toko buku masih sepi. Selepas azan duhur, mulailah bertambah pengunjung kedai. Lantunan lagu keras dari pelantang, sedari tadi koleksi lagu Iwan Fals yang berdendang. Aku berjalan ke ujung bangunan, melewati meja kasir, menuju ruang salat. 

Dua mukena, dua sarung, sepasang sandal jepit, dan tempat berwudu tersedia. Sajadah terbentang menghadap kiblat. Untuk sesaat aku salat di musala kedai kopi. Musala di sini bisa digunakan tiga orang salat berjamaah. Selalu senang dengan kedai-kedai yang menyediakan tempat salat seperti ini. 

Pengunjung makin bertambah, toko buku di samping mulai kedatangan pengunjung. Tidak banyak, namun satu atau dua pengunjung datang silih berganti. Ketika keluar, mereka menenteng tas plastik berisi buku beberapa eksemplar. 
Indie Book Corner di kedai kopi
Indie Book Corner di kedai kopi
Selama di sini, Ardian dan Mak Indah terlibat pekerjaan kecil. Mereka berdua sibuk membuat konsep foto tas rajutan buatan temannya. Sebuah kolaborasi yang menyenangkan, kumpul ngopi dapat, foto bagus juga dapat. 

Di samping toko buku dan kedai, sekatan jarak kedua banguan tersebut terdapat mesin roasting. Tampak pula timbangan duduk yang terletak di atas. Sejak tadi tidak ada yang bekerja me-roasting biji kopi. Aku pernah melihat proses roasting biji kopi sewaktu di Temanggung. 

Kusesap minuman sembari melanjutkan bekerja. Sesekai meneguk cold brew. Siang hari seperti ini, cold brew menjadi jauh terasa nikmat. Tidak lama kemudian, seorang pemuda menghidupkan mesin roasting. Sepertinya dia mau bekerja. Menarik diabadikan. 

Bram, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional UMY melakukan rutinitasnya. Dia menggantikan patnernya untuk me-roasting biji kopi. Pertama belajar roasting dari temannya, setelah paham, dia memberanikan diri untuk roasting sendiri. 
Biji kopi yang berlum di-roasting
Biji kopi yang berlum di-roasting
Satu kantung plastik tanggung berisi biji kopi mulai ditakar. Mesin roasting ini hanya berkapasitas tiga kilo biji kopi sekali roasting. Namun, kita bisa hanya mengisi satu kilo saja. Mulai diperiksa satu persatu komponen mesin, kemudian dia memasukkan biji kopi. 

Tidak lama kemudian raut wajahnya sedikit berubah. Sepertinya ada yang tidak beres dengan mesin ini. menurutnya tidak berjalan seperti biasanya. Masalah awal ternyata gas habis. Bersa kawan kedai, dia membeli gas. Kemudian kembali menghidupkan mesin roasting

Masalah lain muncul, sepertinya bagian pemantik api tidak mau hidup. Beberapa kali dia coba menghidupkan dibantu teman kedai. Tetap saja ada masalah. Bahkan aku turut serta membantu sesuai arahan untuk menekan tombol ON/OFF. 

“Sepertinya rusak mas. Mohon maaf loh malah mas-nya tidak bisa memotret,” Ujar Bram. 

“Santai saja mas. Terima kasih sudah berbagi informasi tentang mesin roasting ini.” 

Diambil kembali biji kopi yang sempat dituangkan, serta dimasukkan ke dalam kantung plastik. Kami berbincang agak lama tentang kedai kopi, pun dengan geliat kedai kopi yang makin terasa di Jogja. 
Melakukan proses roasting
Melakukan proses roasting
Oya, mesin roasting yang berkapasitas tiga kilo ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tempat ini juga menerima pesanan yang roasting biji kopi. Tiap sekilo dihargai 20ribu rupiah. Namun jika kalian langsung roasting 3 kilo, bayarnya hanya 50 ribu rupiah. 

Tidak terasa waktu sudah menjelang sore. Aku, Ardian, dan Mak Indah berkemas. Ini waktunya pulang, satu tulisan sudah kelar di kedai kopi ditambah bakal konten baru tentang kedai kopi 7 PM. Kami meninggalkan kedai, tak lupa berpamitan dengan Mas Bram dan koleganya di kedai kopi 7 PM. *Kedai kopi 7 PM, 20 November 2018.


Pemutakhiran Informasi

Tahun 2019, aku kembali menyambangi kedai kopi 7PM Books and Coffee. Tujuan kali ini bukan untuk bekerja, melainkan hanya santai sembari menghabiskan waktu akhir pekan. Informasi menarik kudapatkan, Cold Brew yang awalnya aku kira sebagai minuman favorit kini sudah ada saingannya.

Es Kopi Susu lambat laun merangkak ke atas menjadi minuman favorit pengunjung kedai. Aku segera mencoba minuman tersebut. Bagi yang suka kopi (manual brew), Es Kopi Susu ini agak terlalu manis di lidahku. Hanya saja urusan selera beda-beda. Aku juga mencicipi menu makanannya.
Es Kopi Susu dan Cold Brew Lemon
Es Kopi Susu dan Cold Brew Lemon
Menu Ayam Lada Hitam
Menu Ayam Lada Hitam
Tak perlu diperpanjang urusan es kopi susu tersebut, toh lidah orang beda-beda. Obrolanku bersama dua pramusaji di kedai ini, mereka menjelaskan memang banyak yang suka membeli Es Kopi Susu. Aku di sini cukup lama, berbincang dengan dua pramusaji yang keduanya berasal dari Purworejo.

Oya, kalau menjelang siang kedai ini tidak terlalu ramai. Jadi kalian yang pekerja lepas bisa coba bekerja di sini. Slot colokan listrik banyak, internet kencang, tempat terbuka, dan ada musola (seperti posingan di atas). *20 Januari 2019

24 komentar:

  1. mas Nasrul ini memang bener bener pecinta kopi dan nongkrong, banyak postingannya tentang kopi hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyempatkan saja mas. Karena sekarang yang masih ramai kedai kopi ehehehhe

      Hapus
  2. loh, dulu jam 7 pagi udah buka deh.
    sekarang jadi jam 11 toh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mulai siang. Eh pas kamu ke mana ya kok nggak ikut ini. Aku lupa hahahahah

      Hapus
    2. saya di Surabaya, ketemu Dian Sastro

      Hapus
    3. Oh iya, kubaru ingat hahahahhha

      Hapus
  3. Sayang, gelas e plastik. Padahal nek gelas tak fotoke gratis. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti aku coba tanyakan ke ownernya. Siapa tahu masukanmu bisa dipertimbangkan dab.

      Hapus
  4. Wah padahal pengalaman menarik ya nek bisa liat proses roasting sekalian gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Prosesnya bentar loh, nggak sampai setengah jam

      Hapus
  5. fokus ke menu nya, ada Sweat Snack?
    cemilan keringat donk
    ato emang gitu ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hari minggu saya ke sna, biar saya cek mas ahhahahhaha

      Hapus
  6. Wah mante mas,,, dulu aku yo suka ngopii.. :D tapi dulu sih,.. sekarang kalau ngopi malah pusing ngga tau kenapa.. akhirnya saya ganti dengan teh atau susu coklat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dipaksakan mas kalau memang kurang cocok dengan kopi :-)

      Hapus
  7. Mungkin mesin roastingnya cewek mas, grogi lho tok tunggui :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku udah mau ngetik komen, eh lihat komenmu jadi ngakak mbak :D

      Hapus
    2. Emang emboh kok dwi itu. Kayake itu pengalaman dia sama mas Mawi hahahahahha

      Hapus
  8. Pertama: bikin iri karena kopdar sama Ina (Mak Indah Juli) huhuhu, saya terakhir ketemu beliau kapan ya ... tahun 2011 kalau tidak salah.

    Kedua: Toko Budi itu punya Irwan Bajang, sekali saja dulu saya ketemuan sama Irwan di Jogja, tahun ... hmm ... 2012 kalau tidak salah haha.

    Ketiga: Konsep tempat nongkrong seperti ini luar biasa; kafe dan toko buku, tidak lupa tempat untuk menunaikan Shalat. Manapula lengkap itu ada disiapkan perangkat mukenah.

    Keempat: Plastik. Setuju sama Nasirullah kalau wadah/gelas plastik itu seharusnya bisa diganti dengan gelas kaca/mug pokoknya yang bukan kaca. Kalaupun dibawa pulang mungkin inovasi di Jepang/Korea dengan gelas kertasnya itu patut dicoba haha.

    Kelima: ... apa ya ... pengen ke sana juga :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keeman; jadi kapan main ke Jogja hahahahah

      Hapus
    2. Ketujuh: Entahlah :D hahaha ...

      Hapus
  9. Hitamnya kopi menambah lekat dan pahitnya hidup gua, itu adalah ungkapan bego dari pecinta kopi zaman dulu, yaitu gua sendiri, dulunya waktu Jepang masih berencana menjajah negeri kita hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepekat-pekatnya kopi, tetap saja bisa dinikmati ahhahhha

      Hapus
  10. yaaap mantap kl ada mushalanya, kl mau shalat nggak perlu nyabrang2 nyari tempat shalat. wkwkwk
    duh kok jd pengen es kopi susunya ya

    BalasHapus

Pages