Cerita Singkat Kala Berkunjung di Candi Brahu - Nasirullah Sitam

Cerita Singkat Kala Berkunjung di Candi Brahu

Share This
Candi Brahu di Trowulan, Mojokerto
Candi Brahu di Trowulan, Mojokerto
Musim kemarau membuat cuaca makin terasa panas. Kunjungan di Trowulan berlanjut. Kali ini rombongan kami sampai di depan Candi Brahu. Salah satu peninggalan Majapahit yang berada di Trowulan. 

Sebelum masuk ke area candi, kami tertarik mencicipi manisan mangga yang dijual tepat di ujung jalan. Irisan mangga ditambah pemanis membuat dahaga sedikit terkikis. Alhasil lidah menjadi agak kekuningan. 

Tepat di ujung pintu masuk, tanah lapang di tepian jalan dimanfaatkan menjadi lahan parkir kendaraan roda dua. Pengunjung mulai masuk dan mengikuti plang bertuliskan “Tamu Harap Lapor”. Aku mengekor di belakang, sementara teman-teman sudah terlebih dulu menuju pos petugas. 

Akhir pekan pengunjung lumayan ramai. Sedari tadi rombongan kendaraan roda dua banyak yang berdatangan. Mereka adalah wisataawn sekitar sini, bahkan sebagian dari mereka malah tidak mengenakan helm motor. 
Memasuki area Candi Brahu
Memasuki area Candi Brahu
Ada dua petugas berbeda di candh Brahu, petugas dari Dinas Purbakala dan Dinas Pariwisata. Tugas mereka pun berbeda. Tiket masuk diurusi Dinas Pariwisata, dan harganya juga sangat murah. Anak-anak dikenai biaya masuk sebesar 1500 rupiah, untuk dewasa 3000 rupiah. 

Adanya tiket masuk ini belum lama, terbilang baru pada tahun 2014 dimulai. Semoga dengan adanya tiket ini menjadi baik untuk perawatan candi. Terlebih dari informasi petugas yang berjaga tiap satu bulan pengunjungnya antara 3-4 ribuan. 

“Kalau musim liburan sekolah bisa sampai tiga kali lipatnya sampai lebih mas. Bisa jadi sampai 10 ribu – 15 ribu pengunjung.” 

Mendengar keterangan dari petugas ini, aku percaya bahwa destinasi wisata yang berkaitan dengan sejarah pada dasarnya diminati oleh wisatawan. Tinggal bagaimana pihak pengelola mengemas agar mereka yang datang tidak hanya sekadar berfoto dan pulang, namun mendapatkan informasi lebih dari itu. 

“Terima kasih informasinya pak. Kami izin berkeliling candi dulu,” Ujar teman sambil meninggalkan petugas. 

Candi Brahu menjulang tinggi tanpa ada bangunan lain yang menemani. Susunan bata merah terlihat jelas, aku mendekat ke candi dan berusaha menahan panas terik mentari. Lahan luas dengan hamparan rumput terjaga, candi Brahu terlihat megah dan kokoh. 
Candi Brahu dari sudut yang berbeda
Candi Brahu dari sudut yang berbeda
Berada di dukuh Jambu Mente, Bejijong, candi ini tidaklah berada di jalan besar. Jalan akses ke candi lumayan kecil namun sudah diaspal. Plang petunjuk arah ada di beberapa sudut, dan cukup mudah ditemukan lokasinya. 

Menurut literatur, candi Brahu merupakan candi tertua di antara candi-candi lain di sekitaran Trowulan. Nama “Brahu” sendiri diprediksi berasal dari kata “Warahu” yang mempunyai makna tempat suci. 

Penamaan ini berdasarkan prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari candi Brahu. Prasasti Alasantan dibuat pada masa Raja Mpu Sindo dan Kahuripan pada tahun 939 M. Candi ini pernah dilakukan pemugaran pada tahun 1990 dan selesai tahun 1995. 

Layaknya peninggalan Majapahit lainnya, candi Brahu sekarang menjadi salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi para pengunjung khususnya mereka yang minat tentang sejarah Majapahit. 

Aku menepi ke salah satu area candi yang rindang. Dari sudut ini berkali-kali kuabadikan candi Brahu. Sedari tadi hanya ada segelintir pengunjung yang mendekat ke area candi. Mereka lebih asyik mengabadikan dirinya dengan latar belakang candi. 
Hamparan rumput di sekitaran Candi Brahu
Hamparan rumput di sekitaran Candi Brahu
Kedua mataku tertarik melihat dua bapak yang menarik pipa besar. Mereka berdua berusaha menggeser pipa tersebut ke tiap sudut dan menyirami rumput dengan air yang diambil dari sudut candi. 

Pompa air dihidupkan, pipa besar tersebut menyeburkan air sangat deras. Kedua bapak yang bertugas menyiram rumput menarik pipa dan meletakkan di tanah yang gersang. Hanya beberapa menit saja, tanah tersebut bergenang air. 

Tak lantas selesai, kedua bapak tersebut menggendong pipa dan mencari sudut lain yang masih gersang. Sampai akhirnya mereka berdua tidak jauh dari tempat dudukku. Mereka berdua istirahat sembari menyalakan rokok. 

Salah satu dari bapak tersebut menawariku rokok, aku menolak dengan alasan sudah berhenti merokok sejak 2010. Obrolan makin asyik, dari sini aku tahu kedua bapak ini bernama Pak Gofur dan Pak Dian. Beliau berdua petugas dari Dinas Purbakala. 

Jika tadi di atas aku tulis tugas dari Dinas Pariwisata berkaitan dengan tiket, tugas dari Dinas Purbakala berbeda. Mereka pihak yang bertugas merawat candi dan area sekitarnya. Termasuk merawat taman agar rumputnya tetap hijau di musim kemarau. 
Petugas yang menyirami rumput agar tetap hijau
Petugas yang menyirami rumput agar tetap hijau
Di sekitar candi Brahu ada empat sumur bor. Sumur-sumur ini yang airnya dimanfaatkan untuk menyirami rumput dan taman. Pak Dian dan Pak Gofur balik kerja. Aku izin mengabadikan aktivitas mereka berdua. 

Selama di candi Brahu, aku malah tidak melihat secara detail candi. Di sini lebih banyak duduk santai sembari melihat aktivitas para pengunjung. Termasuk melihat kedua bapak yang sedang merawat area candi. 

Waktu berjalan cepat, aku bergegas mencari teman rombongan. Kali ini kami berencana makan siang di Sambel Wader Cak Mat. Mungkin di lain waktu aku kudu mengunjungi candi Brahu lagi. Berharap menilik sudut-sudut candi sembari membaca sejarahnya lebih dalam. *Candi Brahu; Sabtu 19 Agustus 2017.

25 komentar:

  1. Mojokerto memang gudang-nya candi dengan bata merah. Sayangnya pas waktu itu mau mampir candi ini, tutup (tanggal merah).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah ada tutupnya toh mbak heheheheh. Ke sana lagi mbak e

      Hapus
  2. Wah, stok postinganmu kayaknya berlimpah sekali ya Mas. Haha.

    Aku baru pernah ke Borobudur dan Prambanan kalau wisata candi. Belum pernah yang lain dan belum kepikiran mengunjungi candi lagi. Kalau keluar kota soalnya lebih suka menghabiskan waktu di kamar dan mengeksplor tempat-tempat yang ada di sekitaran tempat menginap saja haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang tenang hahahaha
      Stok postingan sampai akhir 2019 sudah aman kok *nggaya

      Hapus
  3. Jadi penasaranlah sama tanaman yang dirawat dinas purbakala, karena tidak sekedar merawat candi maupun prasasti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget mas. Bisalah pas ke sana tanya-tanya :-)

      Hapus
  4. Meskipun tidak memperhatikan detail candi dan mengulik lebih dalam sejarahnya, tapi duduk-duduk santai di sekitar Canri Brahu ini pasti menyenangkan. Santai. Cuci mata. Kan jarang ada orang cuci mata di daerah/lokasi candi :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duduk santai biar melepas lelah sebenarnya :-)

      Hapus
    2. Ngumpulin tenaga gitu ya qiqiqiqi :D

      Hapus
    3. Iya, ngumpulin tenaga sebelum lanjut jalan-jalannya.

      Hapus
  5. Waaa padune kepanasen jadi mengiyup takut hitam :p
    Mas kayanya pas di Lamongan ini ada beberapa tulisan candi bata merah yang sudah diposting ya? Dan aku belum pernah melihat candi bata merah. Ahaha.
    Jarang-jarang aku bisa nulis tentang percandian dan tempat-tempat bersejarah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perasaanmu aja itu mbak.
      Bukan di Lamongan, tapi rangkaian pas di Mojokerto kok. Masih ada tulisan yang lainnya nanti untuk bisa dibaca.

      Hapus
    2. Mas Nasrul kan sudah hitam ngapain takut hitam. *eh

      Hapus
  6. Wow, candinya sendirian aja. Ini candinya bagus buat foto prewed :D
    Semoga tetap lestari kebudayaan negri ini dan jauh dari tangan2 jahil.
    Suka sebel kalo liat coretan2 alay ga penting. Udah ngebersihinnya suseh kan... -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau candinya ada teman ntar kamu dicuekin hahahhhhah

      Hapus
  7. view nya mantep ya mas kalo difoto dengan tepat, apalagi saat pengunjungnya sepi, nice banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget gan :-)
      Wajib dikunjungi loh kalau main ke Mojokerto

      Hapus
  8. Di lokasi candi yang asri begini, enaknya emang duduk-duduk sambil mengamati keadaan sekitar ya, Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat bu hehehhhe, apalagi kalau bawa tele, bisa asyik motret candid teman

      Hapus
  9. Candi di daerah Jawa Timur memang kebanyakan seperti ini ya mas?
    Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata merah (batu bata bukan ya? Hehehe).
    Beda sama candi-candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hampir semua yang di Trowulan seperti itu.

      Hapus
  10. Sebagai pusat kerajaan Majapahit, Mojokerto dan Trowulan ki jelas uakeh candi-candi. Dan rata-rata bentuknya mirip ya. Susunan batunya juga.

    BalasHapus
  11. Kenangan tentang Trowulan sekelebat muncul lagi waktu beberapa hari lalu nonton video trip Salam Indonesianya Mas Erix Soekamti. Candi Brahu termasuk yang direkam. Megah sekali.

    Melihat adanya prasasti Alasantan yang dibuat Raja Mpu Sindok, berarti bisa dibilang kalau candi ini sebenarnya bukan mutlak peninggalan Majapahit, karena sudah berdiri jauh sebelum Majapahit ada. Fungsinya, seperti disebut di prasasti, merupakan bangunan suci tempat kremasi jenazah raja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahhaa, kamu pas ini mesti lagi mikir keras, gimana cara menghilangkan suara serak :-D

      Hapus

Pages