Kuliner Sepiring Gonggong di Batam - Nasirullah Sitam

Kuliner Sepiring Gonggong di Batam

Share This
Sepiring Kuliner Gonggong di Batam
Kuliner Gonggong di Batam
Keinginan menjelajah tiap sudut kota Padang kutangguhkan. Perjalanan selanjutnya menuju pulau lain yang masih di Sumatera. Batam menjadi destinasi tujuanku di edisi keliling Sumatera. Tidak ada agenda khusus. Aku ke Batam karena iming-iming kawan yang menceritakan kuliner Gonggong. 

Menjelang magrib, pesawat yang kutumpangi mulai terbang dari Padang menuju Batam. Tidak lama penerbangan, aku sudah mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Batam sebenarnya bukan termasuk daftar kota yang kukunjungi, namun tidak sangka akhirnya malah menginjakkan kaki di pulau ini. 

Suasana di bandara tidak ramai, kuikuti rombongan yang menuju pintu keluar. Tangan kanan sedari tadi menulis pesan di gawai, lantas mengirimkan pada teman yang sudah menunggu. Sampai di luar bandara, teman yang menjemput sudah datang. 

“Akhirnya sampai di Batam.” 
Bandara Internasional Hang Nadim Batam
Bandara Internasional Hang Nadim Batam
Aku tertawa menyalami. Kami bergegas menuju area parkir dan melanjutkan perjalanan. Sebelum menuju hotel, agenda malam ini adalah kuliner Gonggong. 

“Demi Gonggong, aku datang ke Batam,” Celetukku sembari tertawa. 

Bagi wisatawan yang datang ke Batam, mencicipi Gonggong menjadi hal yang mutlak. Tentu ini ditujukan para pecinta boga bahari. Aku sendiri lahir di pulau, dan kuliner bahari bukan hal yang baru. Namun, Gonggong itu berbeda. Gonggong adalah biota endemik yang banyak ditemukan di perairan Kepulauan Riau. 

Saking terkenalnya Gonggong, tidak sedikit wisatawan domestik maupun manca yang menyempatkan mencoba kuliner tersebut kala berwisata di Batam. Kuliner ini mempunyai citarasa yang menarik menurutku, pun kandingan gizi yang banyak. 

Ditilik dari literatur, Gonggong masih satu rumpun Molusca. Biota laut ini bentuknya mirip keong dengan canggang keras berwarna sedikit putih. Bahasa latin biota ini adalah Strombus Canurium. Gonggong mempunyai empat jenis dengan ukuran berbeda-beda, namun paling besar sekitar 6CM. Keseluruhan Gonggong dapat dikonsumsi. 

Mobil yang kami kendarai menuju salah satu restoran. Menurut teman, restoran ini menyediakan Gonggong dan cukup terkenal di Batam. Melintasi jalan agak sepi, mobil berhenti di deretan ruko. Juru parkir mengatur mobil kami saat berhenti. 
Berburu kuliner Gonggong di Batam
Berburu kuliner Gonggong di Batam
Di depanku tampak semua restoran yang cukup ramai. Cahaya di depan temaram, kontras dengan lampu terang di dalam warung. Deretan meja sudah dipenuhi pengunjung. Kami memilih satu meja yang agak dekat dengan kasir. 

Sembari memilih menu, kusempatkan memotret kondisi restoran. Tempat ini satu ruko dengan Money Charger. Jika tidak salah, nama restorannya adalah restoran Yong Kee. Tulisan tersebut tersemat pada belakang kaus tiap pramusaji. 

“Tomyam Kepala Ikan dan Gonggong,” Celetukku saat memilih menu. 

Hidangan pertama, Tomyam cepat tersaji. Kulibas makanan ini dengan cepat. Maklum, perjalanan dari Padang lumayan lapar, sehingga aku cepat menghabiskan menu Tomyam. Santap malam yang kedua adalah menu yang kuidam-idamkan. Gonggong! 

Sepiring Gonggong sudah di depan mata. Gonggong hanya direbus biasa, ditambah dengan garam agar rasanya agak asin. Menyantap Gonggong dibutuhkan sedikit pekerjaan ekstra, kita harus mengeluarkan daging yang masih ada di dalam cangkang. 
Gonggong, Kuliner asyik di Batam
Gonggong, Kuliner asyik di Batam
Bagian ujung terdapat semacam kaki yang cukup tajam. Kaki ini bisa ditarik untuk mengeluarkan daging dari dalam. Jika susah, restoran menyediakan tusuk gigi untuk membantu dalam proses mengeluarkan daging Gonggong. Kuambil satu, lantas kukeluarkan menggunakan tusuk gigi. Daging Gonggong lumayan banyak, lembut dan sedikit lebih kenyal dibanding cumi-cumi. 

Butuh waktu lumayan lama untuk menghabiskan satu piring Gonggong sendirian. Sementara temanku hanya tertawa sembari mengabadikan tingkahku selama makan. Rasa daging ini menurutku agak manis dan kenyal. Jika kalian pernah makan cumi-cumi, setidaknya rasanya mirip namun sedikit lebih alot. 

“Sudah tidak penasaran sama Gonggong?” Tanya teman sembari tertawa. 

“Sudah tuntas mbak. Akhirnya tidak penasaran lagi dengan Gonggong.” Jawabku. 
Sisa-sisa cangkang Gonggong
Sisa-sisa cangkang Gonggong
Menarik memang, berlibur ke Batam tanpa ada rencana yang tertulis dengan detail. Tujuannya hanya ingin menikmati kuliner Gonggong. Untuk agenda selanjutnya, kupikir belakangan. Bisa jadi di Batam main ke pantai, belanja di Nagoya Hill, atau menghabiskan waktu di kedai kopi. 

“Waktunya ke hotel untuk istirahat mbak,” Ujarku usai melahap Gonggong. 

***** 

Aku bukan tipe orang yang suka dadakan saat menentukan destinasi liburan. Terlebih harus menggunakan transportasi umum. Seperti halnya ke Batam, pembelian tiket memang sedikit mendadak, namun dana sudah kusiapkan jauh-jauh hari. 

Untuk pembelian tiket pesawat ke Batam, aku memanfaatkan aplikasi Pegipegi yang ada di gawai. Tiap ada promo dari Pegipegi, aku mendapatkan informasi melalui surel. Hal ini memudahkanku saat memantau harga tiket pesawat ke Batam yang murah. Tiap informasi diskon ataupun apapun itu pastinya terkirim di email. 
Tampilan website Pegipegi.com
Tampilan website Pegipegi.com
Biasanya, dari email nantinya tertera pemberitahuan kalau potongan harga yang dikirimkan hanya untuk pengguna yang membeli melalui aplikasi. Pun jumlah potongan harga tiket, hingga batas akhir pembelian dengan potongan tersebut. Tentunya, kita harus bisa menggunakan diskon tersebut dengan baik. 

Kita ketahui, tiket pulang-pergi menjadi hal yang paling penting saat kita merencanakan bepergian. Jika tiket sudah di tangan, nantinya urusan penginapan, destinasi, dan yang lainnya lebih mudah dalam mengurusinya. 

Seperti halnya saat aku berlibur di ke Batam. Tiket yang aku butuhkan sudah di tangan. Termasuk tiket penerbangan dari Batam ke Bangka, bahkan ke Belitung, dan kembali ke Jogja. Bagiku, jika tiket sudah terbeli, artinya liburan pasti terealisasikan. 

Keberadaan aplikasi seperti ini memudahkan kita kala ingin mencari tiket murah, dan memesan tiket tersebut. Semuanya bisa dilakukan hanya menggunakan aplikasi di gawai. Tak perlu ribet terkait tiket pesawat dan yang lainnya. Tinggal kita cari tanggal yang tepat, pesan, dan melakukan pembayaran. 

***** 

Perjalanan kembali kami lanjutkan, rinai hujan menyapa hingga sampai hotel yang berada di sekitaran Nagoya Hill. Kuucapkan terima kasih pada teman yang sudi menjemput dan menemani kulineran di Batam. Waktunya aku istirahat, melepas lelah rasa capek selama perjalanan, dan memikirkan esok menuju destinasi mana saja di Batam. 

“Halo Batam! Semoga banyak konten yang kudapatkan di sini!” 

Sebuah pengharapan singkat sebagai kata pembuka sebelum esok benar-benar menjelajahi tiap sudut pulau ini. Bagiku di manapun berada, aku harus bisa mendapatkan bahan untuk dapat diceritakan di blog. *Batam; kamis, 24 Oktober 2018.

24 komentar:

  1. serunya makan kuliner seperti itu, pas kita berusaha mengeluarkan daging dari dalam rumah nya, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, butuh perjuangan pas mengeluarkan dagingnya

      Hapus
  2. koyo keonng ya, eh siput laut, kenyil kenyil teksture yak

    BalasHapus
  3. Nah bener makan Tomyam dulu pas laper. Kalau luaperr banget terus cuma ada Gongggong ya musti suabar makannya :p satu per satu dikeluarkan dengan sabar. Gonggongnya direbus biasa aja pilihan menunya mas? nggak ada yang diasam manis atau apa gitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya gurih mbak. Kalau gonggong enaknya digado gini makannya. Kalau pakai nasi bakal ribet ahahahhaha

      Hapus
  4. Sebagai pecinta seafood dan segala makanan kenyil2 aku beneran penasaran. Apakah teksturnya kaya bekicot, mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini jauh lebih kenyal, lebih padat, dan lebih manis. Sebenarnya mirip cumi-cumi rasanya, tapi dagingnya lebih kenyal. Pokoknya enak hahahahah

      Hapus
  5. Oalah, kayak cumi to? Akhirnya tidak penasaran lagi dengan Gonggong. Hehe

    BalasHapus
  6. contoh makanan kearifan lokal, jadi mesti dicoba kalau di batam...hehhhehe
    Ternyata gonggong itu sejenis molluscas yaa, kirain yang itu..hahahha
    oyaa, pas di kediri dulu pernah makan sate bekicot. Rasanya mirip mas? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah makan bekicot, tapi rasanya cenderung manis Gonggong mas.

      Hapus
  7. Aku ndeleng e kayak siput. Tapi itu hidup di laut ya. Kayak e ning Pantai Depok ra ono kui ahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Depok gak pernah kulihat, ada tapi yang kecil-kecil. Aku gak tahu apa namanya kalau di sana

      Hapus
  8. pokoknya yang berkuah dan bersantan penuh rempah kuwi enak yo mas..hahah

    BalasHapus
  9. Btw buff kamu mirip punya doi. Hiiihhh gagal muvon khaaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu buff merek eiger, jadi semua sama ahahhaha. Aku kemarin dikasih tahu mas Ef kalau di Jogja ada tempat jualan buff dan keren bahannya.

      Hapus
  10. Behhh ngilerrr..
    ehh kalau sama adikku makan ini, bisa-bisa cangkangnya dibawa pulang..
    biasanya kami kalau nyari cangkang kerang suka ngumpulin yang bentuknya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat masukin ke aquarium bagus loh ahahahahhaha

      Hapus
  11. Bersyukurlah bisa memakan makanan ini, hahaha, saya sampai sekarang masih tidak bisa memakan kerang dan bekicot (kerang itu dulunya sering banget dimasak sama alm Bapa), termasuk buah durian (kecuali sudah dibikin es durian begitu). Manapula si gonggong ini. Duh ... bersyukurlaaaaaaah dirimuuuuu :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, memang beruntung saya sebagai pemakan segala yang ada di laut :-)

      Hapus
  12. baru tahu ada nama makanan laut gonggong ... jadi rasanya seperti makan permen karet ya .. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar juga mirip mengunyah permen karet ahahahhahaha.
      Enak loh kang. Bisa dicicipi kalau main ke Batam

      Hapus

Pages