Lawang Ombo Heritage Lasem, Bangunan Bekas Pabrik Opium - Nasirullah Sitam

Lawang Ombo Heritage Lasem, Bangunan Bekas Pabrik Opium

Share This
Gerbang rumah Lawang Ombo di Lasem
Gerbang rumah Lawang Ombo di Lasem
Sejujurnya Lawang Ombo ini bukan tujuan utama aku datang ke Lasem. Alih-alih mencari informasi berkaitan dengan Lawang Ombo, aku malah terbuai segala kemungkinan untuk menjelajahi kelenteng-kelenteng di Lasem. 

Penyesalan yang harus aku alami, karena bangunan yang aku singgahi bagian dari saksi sejarah penyelundupan Candu atau Opium di Lasem. Rumah candu kukunjungi karena ada acara diskusi nyatanya mempunyai misteri yang menarik dituliskan. 

Dari sungai Babagan, aku jalan kaki menuju Lawang Ombo. Rumah yang menjadi tempat berkumpul para undangan sebelum Grebeg Dumbeg berlangsung. Di sini ada aktivitas workshop dan bincang santai. Aku mengamati rumah ini dari kejauhan, memotret kala pengayuh becak melintas. 

Dua pintu terbuka lebar. Bagian depan hanya untuk lewat para pengunjung yang jalan kaki. Sementara pintu samping (tepat di pertigaan) menjadi pintu untuk mobil yang masuk. Pekarangan tidak luas namun cukup rindang. Masih pagi, dua sampai tiga mobil sudah berdatangan dan parkir di sisi rumah. 
Patung di pintu masuk ruangan utama
Patung di pintu masuk ruangan utama
Belum ada niatku untuk masuk. Kutunggu aba-aba dari panitia yang mengundangku singgah di Lasem. Teman blogger yang lainnya juga belum terlihat. Rencananya kami laksana reuni dengan teman-teman blogger Karisidenan Pati. 

Selang setengah jam, aku masuk ke rumah Lawang Ombo. Serasa masuk ke kelenteng. Tulisan-tulisan China terpajang di bagian pintu. Tidak ketinggalan dua patung singa menjadi penjaga tiap sisi pintu. Jauh di dalam, terdapat semacam almari penuh dengan motif ukiran. 

Tidak kuingat betul ada berapa ruangan di Lawang Ombo. Seingatku ruang utama ini cukup terawat karena terdapat berbagai tempat duduk sofa serta almari lebar. Almari ini malah seperti gebyok yang sering digunakan sebagai latar kala orang menikah, ukiran detail serta ada semacam meja tempat menaruh lilin. 

Tiap dinding banyak foto, tak sempat aku lihat secara detail siapa saja yang ditampilkan. Sepasang foto juga terpasang di antara lemari. Ruangan ini mempunyai dua pintu ke belakang. Pintu berwarna putih dengan bagian tengah penuh ukiran. 
Lemari dan poto di dinding
Lemari dan poto di dinding

***** 

Lasem mempunyai sejarah menarik, daerah yang berada di pesisir utara Jawa ini hidup berdampingan dengan pendatang (masyarakat Tiongkok). Kebudayaan Tiongkok banyak yang tumbuh di Lasem, hingga Lasem mempunyai julukan sendiri sebagai Petit Chinois. 

Sejarah panjang ini menjadi kajian banyak peneliti. Selain itu, di Lasem juga terdapat peninggalan-peninggalan masa lampau. Salah satunya adalah rumah Lawang Ombo. Rumah Lawang Ombo ini salah satu bangunan yang berada di jalan Dasun. 

Rumah ini sudah dibangun sejak abad 19. Konon yang mendirikan rumah adalah Kapten Liem Kiong Siok. Dia adalah seorang pedagang sekaligus sosok pimpinan masyarakat Tiongkok di Lasem. 

Kapten Liem Kiong Siok ternyata mempunyai pekerjaan yang lain, penyelundupan candu. Pada masa tersebut, opium adalah komoditas yang menggiurkan dalam perdagangan. Bahkan Belanda membuat peraturan perdagangan tersendiri untuk menguasai opium. Abad 19 opium pernah merebak sangat luas di Jawa Tengah dengan pusat pabrik di Lasem. 

Transaksi penyelundupan candu menjadikan rumah Lawang Ombo sebagai gudang penyimpanan candu. Di salah satu ruangan terdapat lorong bawah tanah sebagai jalur penyelundupan barang tersebut. karena inilah, rumah Lawang Ombo dikenal juga dengan sebutan Rumah Candu. 

Menurut berbagai informasi, Lorong rahasia dari rumah Lawang Ombo ini mempunyai ujung gua di sungai. Proses penyelundupannya dengan cara membungkus opium dengan baik, lalu dibiarkan mengalir sampai ke sungai. Caranya dengan cara mengalirkan air hingga kemasan tersebut ikut hanyut. Sementara di ujung Lorong sudah dijaga warga setempat yang bekerja. 

***** 
Benda-benda peninggalan, termasuk pipa opium
Benda-benda peninggalan, termasuk pipa opium
Cerita dibalik rumah Lawang Ombo ini yang menjadikan bangunan tersebut banyak dikunjungi. Hanya saja aku luput mengetahuinya. Sehingga tak banyak yang aku abadikan selama di sini. Pada bagian ruangan utama terdapat meja bulat semacam tempat untuk menaruh barang-barang antik yang terlapisi kaca. 

Salah satu barang yang dipajang adalah pipa opium. Barang kuno yang pernah menjadi bagian dari sejarah opium tersebut dipajang. Alat pipa opium itulah pada abad 19 menjadi benda yang wajib dimiliki para orang kaya Tiongkok. Mereka menikmati pipa-pipa opium di rumah atau di tempat-tempat yang menyediakan opium. 

Sebenarnya aku sudah melihat sendiri lorong yang menjadi tempat penyelundupan opium di sebelah ruangan utama. Waktu itu liang yang diameternya tidak luas ditutupi dengan papan agar aman dari lalu-lalang orang. Bagian lantainya ditulisi “awas lubang”. 
Lubang terowongan di rumah Lawang Ombo
Lubang terowongan di rumah Lawang Ombo
Sempat kulongokkan kepala ke bawa, melihat liang gelap, namun tak sempat kuabadikan. Dari salah satu blogger yang ikut kumpul, dia bercerita jika yang tadi aku lihat adalah lubang gua untuk menyelundupkan candu. 

Dua pintu yang mengarah ke bagian halaman belakang hanya satu yang difungsikan. Satunya lagi ditutup rapat karena di belakangnya sudah ada kursi-kursi yang berjejeran untuk acara bincang santai. Aku menuju belakang Omah Lawang. Ikut berbaur dengan para pengunjung yang sudah terlebih dahulu datang. 

Lumayan luas halaman belakang. Sejengkal tanah memisahkan dengan bangunan yang lain. Bangunan yang di belakang juga lumayan besar. Teras yang bangunan belakang dimanfaatkan sebagai tempat diskusi pagi ini. 

Bangunan ini tampak kokoh, tembok dan penyanggah dibalur cat putih. Sepertinya baru selesai dipugar warnanya. Bagian atas yang terlihat unik. Plafonnya masih terbuat dari jejeran papan. Dari plafon tersebut dapat teridentifikasi bahwa bangunan ini memang sudah sangat lama. 
Papan-papan pada bagian atas atap rumah
Papan-papan pada bagian atas atap rumah
Aku duduk di teras rumah yang belakang, memilih tempat ujung agar bisa bersandar pada dinding tembok. Bincang santai yang kudengarkan masih berkaitan dengan geliat para pecinta heritage untuk memajukan Lasem dan berharap agar bangunan-bangunan yang ada di Lasem tetap terjaga. 

Segelas kopi hitam nan pekat kuseduh. Kopi Lelet khas Lasem kunikmati. Sembari mendengarkan bincang para narasumber, mataku tertuju pada pintu samping. Layaknya pintu dapur pada umumnya yang modelnya bisa hanya dibuka bagian atas saja. Engsel yang terpasang mengaitkan kayu penyanggah dengan papan terlihat sudah berkarat dan bentuknya unik. 

Waktu berjalan cepat. Aku masih duduk di sini sembari menikmati secangkir kopi lelet. Lawang Ombo sebenarnya rumah opium pada masa lampau. Kini bangunan ini dijadikan sebagai destinasi wisata. Tentunya bagi mereka yang ingin menelisik sejarah masa lampau Lasem. *Lawang Ombo Lasem; 18 November 2017.

18 komentar:

  1. wew, ternyata opium itu jadi komoditas ya
    haha, baru tahu....

    BalasHapus
  2. Ah seharusnya Minggu lalu aku plesiran ke Lasem bareng Koko Penyuka Batu Nisan itu. Sayang gagal hiks. Eh tapi aku juga pernah sih berkunjung ke Lawang Ombo. Aku tuh penasaran pengen icip opium. DIGEMPLANG!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rak usah macem-macem hahahahaha
      Pas neng Aceh jare koe yo mendem maem sayur kakakkakakakak

      Hapus
  3. itu lubang untuk penyelundupannya kecil banget ya... Penasaran isinya kek mana tuh lubang :D

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak kecil banget sih mas, cuma kalau orang masuk ya entah bisa keluar atau tidak ahhahhaha

      Hapus
  4. Dua kali ke Lasem selalu melewatkan Lawang Ombo. Belum sekalipun masuk :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ndang neng Dasun maneh. Kan wes kenal ro warga neng kono

      Hapus
  5. Lubang untuk menyelundupkan opiumnya selebar apa, Mas? Aku jadi kepikiran, jangan-jangan di bawah tanah Lasem ada banyak terowongan gitu buat menyelundupkan opium.

    Ketika opium menjadi barang legal, berarti jaman segitu banyak sekali pecandu narkoba. Kemudian mulai kapan opium dijadikan ilegal dan peredarannya dibatasi ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pensaran silakan kunjungi, kan tinggal mlipir kalau dari Lamongan. Bisa naik bus.

      Hapus
  6. Yang menarik mata saya memandang adalah foto-foto perabotannya; kayu-kayu yang diukir cantik.

    BalasHapus
  7. Jadi tertarik untuk melihat lubangnya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau main ke Jwa, khususnya Jawa Tengah bisa diagendakan ke sini bang.

      Hapus
  8. Yang lubang di ditutup itu gua di dalam rumahnya ya mas? sik di ujung sungai masih nggak yooo?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya di dalam rumah, di salah satu ruangannya

      Hapus
  9. Aku dari dulu pengen ke Lasem belum kesampaian nih.
    Oh ya, Lawang Ombo ini sekarang ditempati oleh penerus keluarga dari Kapten Liem Kiong Siok atau dibiarkan kosong untuk dijadikan warisan budaya dan tempat wisata?

    Mirip-mirip pengedar di luar juga ya, ada jalur khusus untuk mengantarkan "barang"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepemahamanku kosong mas, namun dirawat kok. Malah pas saya ke sini bangunannya dipakai untuk acara seminar.

      Hapus

Pages