Menepati Janji di Kedai Eternity Coffee and Maker Space Jogja - Nasirullah Sitam

Menepati Janji di Kedai Eternity Coffee and Maker Space Jogja

Share This
Barista meracik kopi di Eternity Coffee Jogja
Barista meracik kopi di Eternity Coffee Jogja
Pengunjung kedai kopi lalu-lalang mencari tempat duduk. Tampak juga barisan calon pembeli yang antre menuju meja kasir. Aku sendiri duduk santai bersama kawan di meja panjang. Aktivitasku mengamati pengunjung yang membludak sembari menyesap kopi. 

Seperti halnya kedai kopi baru buka. Eternity Coffee and Maker Space yang berada di Jalan Babarsari No.41-42, Tambak Bayan membuka harga promosi di bulan februari. Rata-rata mereka memesan minuman nonkopi. Tidak sedikit dari pembeli yang membawa pulang minuman dengan harga terjangkau. 

Menarik memang melihat perkembangan bisnis kopi di Jogja. Hampir tiap bulan pasti ada kedai kopi baru muncul dengan segmen yang beragam. Di Eternity Coffee ini, aku sempat berbincang dengan pemilik kedai. Kami berbagi cerita tentang kedai kopi di Jogja, sebatas apa yang kami ketahui. 
Suasana di meja kasir kedai kopi
Suasana di meja kasir kedai kopi
“Saya ingin membuat suasana di kedai ini seperti tempat mereka (pengunjung) sendiri, mas. Mereka nantinya akrab dengan barista, dan barista ke depannya barista langsung paham dengan pesanan pengunjung tanpa ditanyai.” 

Lelaki berambut cepak serta menggunakan kacamata ini bercerita panjang lebar terkait keinginannya mengembangkan Eternity Coffee. Aku menimpali sebisa mungkin. Kukatakan pada Mas Yudi (pemilik kedai) jika masa-masa transisi kedai kopi dalam jangka pendek adalah tiga bulan. 

“Setelah tiga bulan, kita baru tahu siapa-siapa target pengunjungnya, mas. Untuk jangka menengah, satu tahun ke depan,” Ujarku sesaat. 

Obrolan panjang di meja depan menghadap ke jalan sebelum aku dan teman-teman bloger pamit untuk pulang. Aku sempat memberi harapan jika nantinya kedai kopi ini kuulas di blog. Hingga hampir tiga bulan berselang, belum kupenuhi janji tersebut. 
Berbincang santai dengan Mas Yudi (owner kedai), di belakang terlihat Hanif (insanwisata.com)
Berbincang santai dengan Mas Yudi (owner kedai), di belakang terlihat Hanif (insanwisata.com)
*****

Tiga bulan berselang, aku kembali mengunjungi Kedai Eternity Coffee. Tujuanku kali ini ingin melihat bagaimana suasana terbaru, pun dengan melengkapi beberapa foto yang belum aku dapatkan. Beruntung Mas Yudi juga ada di kedai kopi, sehingga kami kembali berbincang santai. 

Sapaan khas barista sekaligus pramusaji cukup kencang, membuatku sedikit kaget. Kulihat agak lama, perempuan ini berbeda dengan pramusaji yang kuabadikan di bulan februari. Eternity Coffee sendiri mempunyai beberapa barista, pramusaji, dan jurumasak. 

Sembari berbincang dengan kasir, aku sempat bertanya apakah lelaki yang duduk tersebut Mas Yudi? Takutnya aku keliru orang saat menyapa. Perempuan yang bekerja di kasir mengiyakan. Untuk sesaat aku melirik menu yang tersedia. 

Ketika baru dibuka, daftar harga dan menu belum sepenuhnya tersedia. Kali ini sudah ada harga dan daftar menu yang tersedia di depan kasir. Berhubung hanya ingin sebentar, aku memesan manual brew dengan menggunakan biji kopi Kintamani. Pembuatannya dengan cara V60. 
Daftar menu dan harga di Eternity Coffee Jogja
Daftar menu dan harga di Eternity Coffee Jogja
Di sini tidak hanya menu kopi. Bagi yang nonkopi, minumannya cukup beragam. Salah satu minuman yang menjadi andalan di sini adalah “I Corn You”, serta masih banyak minuman yang lainnya. Berhubung kedai kopi ini konsepnya seperti working space, menu makanan berat pun disediakan. 

“Saya sempat baca blog kamu, mas. Tapi saya lupa judul artikelnya,” Kata Mas Yudi sewaktu bertemu. 

Aku tertawa mendengar perkataan beliau. Beliau bercerita jika acapkali mengecek apakah ada tulisan baru terkait kedai kopinya atau belum. Di sini pula aku meminta maaf kalau belum sempat menulis kedai kopi ini. 

Kurun waktu tiga bulan di lantai satu tidak sepenuhnya berubah. Meja dan kursi tertata rapi yang bisa digunakan secara bersama-sama. Tiap sudut meja disediakan stop kontak. Seperti tujuan awal Mas Yudi, kedai ini diharapkan menjadi tempat para pekerja lepas. 

Di bawah ada sekitar 20 pengunjung kedai. Sebagian besar dari mereka memang sibuk ke arah laptop. Paling sudut dimanfaatkan menjadi menja yang hanya digunakan dua orang. Atau bagian sisi kanan pintu masuk pun dilengkapi meja dan lampu. 
Menjelang malam makin ramai pengunjung
Menjelang malam makin ramai pengunjung
Kedai ini buka pukul 09.00 WIB – 01.00 WIB. Tiap hari cukup diampu dengan dua barista dan tambahan jurumasak. Waktu bulan februari, barista yang meracik kopi bernama Mas Adib. Semalam, berbeda lagi. Aku lupa berkenalan. Padahal sedari awal kami berbincang di meja barista. 

“Bagian atas sudah berubah loh, mas,” Terang Mas Yudi. 

Sewaktu awal datang, bagian atas belum sepenuhnya jadi. Seingatku hanya kursi panjang dan sedikit meja. Di atas juga tersedia kamar mandi. Kusesap kopi sesaat, lantas menaiki tangga yang berada di belakang. Dari sini, kita bisa melihat kesibukan pengunjung di lantai satu. 

Konsep lantai atas menurutku sedikit unik. Ide Mas Yudi menjadikan lantai atas sebagai working space sekaligus smoking area tentu membuatku berpikir keras. Maksud mas Yudi di sini adalah untuk menggaet mereka pembuat aplikasi dan yang lainnya. 

“Saya lebih mengatakan ini sebagai maker space. Rata-rata teman yang pembuat aplikasi dan yang lainnya itu merokok. Meski tidak semua, hanya sebagian,” Celetuknya sembari tertawa tiga bulan yang lampau. 

Lantai dua berubah total. Di sisi kanan yang berbatasan langsung dengan dinding sudah ada kursi permanen panjang lengkap dnegan meja sebanyak lima. Kemudian sisi yang lainnya dilengkapi dengan kursi-kursi tambahan. 

Sederet dengan arah ke kamar mandi, disekat dengan dinding setinggi 1 meter. Kemudian ditambahi rak buku agar tempat tersebut tidak sepenuhnya kosong. Di sana juga terdapat meja permanen panjang yang agak tinggi dilengkapi dengan beberapa kursi. 
Ruangan di lantai dua Eternity Coffee Jogja
Ruangan di lantai dua Eternity Coffee Jogja
Seluruh tempat di lantai dua adalah area merokok. Sewaktu aku menilik tempat tersebut sangat ramai. Justru tempat ini sepertinya menjadi tempat duduk favorit pengunjung. Terlihat tidak ada meja ataupun kursi yang kosong. 

Menariknya, disekat dengan dinding kaca, di atas juga masih ada ruangan kecil semacam balkon. Tempat ini hanya dilengkapi dengan dua meja. Aku membuka pintu tersebut, di dalamnya sudah ada muda-mudi yang bersantai. Berbeda dengan balik kaca yang di dalam, di sini mereka asyik berbincang. 

Rasanya makin larut, Eternity Coffee makin ramai. Kedai ini bisa menampung 80 pengunjung. Malam ini sekitar 50 pengunjung yang nongkrong. Ini tidak termasuk yang hanya datang dan memesan take away. 

Informasi dari Mas Yudi, kedai kopi ini ramai tidak pada akhir pekan. Tiap malam minggu pengunjung cenderung biasa. Beda halnya dengan malam senin dan malam jumat. Pengunjung jauh lebih banyak dibanding hari-hari yang lainnya. 

Statistik kunjungan dapat diprediksi. Kedai kopi ini mulai sedikit ramai pukul 11.00 WIB siang. Kemudian ramai lagi menjelang pukul 16.00 WIB, dan selepas salat isya. Lonjakan pengunjung terlihat lagi menjelang pukul 23.00 WIB. 

Di kedai ini ada pengunjung setia seekor kucing. Kali ini kucing tersebut sudah beranak. Tiga anak kucingnya sering berlarian di dalam kedai kopi. Bahkan kucing ini mempunyai akun Instagram sendiri. Asyiknya lagi kucing ini cukup nyaman dengan banyaknya pengunjung yang berlalu-lalang. 
Kucing dan secangkir kopi
Kucing dan secangkir kopi
Meski begitu, kedai ini tidak menyediakan musola. Bagi yang ingin menunaikan salat, kalian bisa menuju masjid yang berada di seberang kedai. Selain itu, kalian juga bisa meminta barista maupun pramusajinya untuk menjaga barang bawaan ketika salat. 

Kusesap kopi sembari melanjutkan obrolan bersama Mas Yudi. Dari obrolan ini, aku mendengar informasi jika di kedai ini sudah mempunyai pelanggan tetap. Tentu itu menjadi kabar yang baik, karena meski tiap bulan selalu ada kedai kopi baru, pelanggan tetap ini menjadi faktor utama suatu kedai untuk tetap eksis. 

Dua jam kuhabiskan waktu sembari melihat suasana malam. Sedikit demi sedikit kembali kusesap. Waktunya pulang. Segelas kopi kintamani sudah tandas. Aku berpamitan dengan pemilik Eternity Coffee. Sepertinya akan ada waktu untuk kembali ke kedai ini dalam waktu dekat. *Eternity Coffee and Maker; Februari & Mei 2019.

8 komentar:

  1. ngopi kintamani di Kintamani: check

    BalasHapus
  2. Wah, rindu sekali dengan hangatnya kota Jogja. Pengin banget mampir ke sini dan icip-icip minumannya.

    BalasHapus
  3. tempat ngopi juga jadi tempat kerja ya
    banyak yg pada bwa laptop
    seperti yg kulihat kemarin malam di Sinergi Coffee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih mampir di Sinergi toh? Dekat banget sama kosku. Tinggal jalan kaki

      Hapus
  4. Kalo yang ini aku suka desain interiornya, nyaman buat nulis dan browsing lama-lama. Semoga mas Yudi dan Eternity Coffee-nya bisa terus bertahan ya seperti namanya, Eternity.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada rencana sih kemarin buat nongkrong di sini sambil kerja. Tapi belum kesampaian, nunggu waktu yang tepat.

      Hapus

Pages