Pantai Tanjung Kelayang dan Pulau-pulau Indah di Tanah Laskar Pelangi - Nasirullah Sitam

Pantai Tanjung Kelayang dan Pulau-pulau Indah di Tanah Laskar Pelangi

Share This
Landmark Pantai Tanjung Kelayang, Belitung
Perjalanan panjang hampir usai. Rencana awal mengunjungi beberapa destinasi wisata di Sumatera mulai terealisasikan. Bertajukkan tour de Sumatera, aku awali perjalanan dari Bandara Adisutjipto di Yogyakarta hingga akhirnya sudah menginjakkan kaki di tanah Laskar Pelangi. 

Padang, Batam, Bangka, dan akhirnya Belitung. Empat pulau yang berbeda di Sumatera kusambangi dalam waktu sepekan. Penerbangan dari awal hingga sekarang lancar, tiket pun sudah aman sampai kembali balik ke Jogja.

Seperti yang biasa aku lakukan. Jauh-jauh hari sebelum merencanakan perjalanan, sudah aku selesaikan semua yang terkait tiket pesawat, penginapan di kota kunjungan, hingga transportasi untuk menjelajah sudut destinasi. Pun dengan daftar kunjungan destinasi wisatanya.

Kemudahan dalam mengakses informasi, mencari penginapan yang strategis, memesan tiket pesawat sesuai dengan keinginan pulang, semuanya cukup mudah. Era millenial seperti sekarang, semuanya dimudahkan dengan adanya gawai, sehingga semua layanan dapat didapatkan dengan mudah dan cepat.

Tanpa terasa, kini aku sudah berada di tepian pantai yang bertuliskan “Pantai Tanjung Kelayang”. Konon pantai ini menjadi salah satu dari sepuluh destinasi Bali Baru yang dipromosikan Kemenpar. Ini membuktikan bahwa Belitung, khususnya Pantai Tanjung Kelayang mempunyai potensi witasa yang besar. 

Pantai Kelayang ini berlokasi di Keciput, Sijuk, Belitung. Berjarak antara 32 kilometer dari bandara. Wisatawan bisa menuju ke pantai tersebut dengan mengendarai mobil atau dijemput. Aku sendiri sudah terlebih dulu menghubungi pemandu lokal untuk ditemani menjelajah sudut pulau Belitung. 

Warna-warni tulisan permanen Pantai Tanjung Kelayang selaras dengan kaus yang kukenakan. Sementara waktu, aku meletakkan kamera dan mengabadikan tepat di depan tulisan tersebut. Berlanjut mengabarkan ke teman melalui media sosial jika sudah di pulau ini. 
Landmark Pantai Tanjung Kelayang, Belitung
Landmark Pantai Tanjung Kelayang, Belitung
Belitung mulai menggeliat pariwisatanya ketika novel sekaligus film Laskar Pelangi melejit di Indonesia dan dunia. Tidak dapat dipungkiri, alur cerita dan kemasan film kisah anak pulau dipadu dengan lanskap indah sudut pulau Belitung menjadikan orang-orang ingin mengunjungi setiap tempat yang ada di sana. 

Kunjungan wisatawan makin mencuat, segala informasi berkaitan dengan pariwisata Belitung makin tersebar luas. Di saat yang tepat pula, segala keindahan pulau tersebut makin tersiar dengan memanfaatkan media sosial serta cerita perjalanan di blog. Pada akhirnya destinasi-destinasi tersebut menjadi spot andalan menggaet wisatawan. 

Puas bersantai di bawah pohon rindang dekat tulisan Pantai Kelayang, aku melangkahkan kaki menuju pantai. Hamparan pesisir memanjang, pasir putih dan suara riak ombak kecil. Di pasir tampak tali panjang yang melintang dan mengikat pada pancang kecil. 

Untaian tali tersebut adalah alat penambat kapal nelayan agar tidak bergeser. Sang empu pemilik kapal bersantai bersama satu orang yang menawariku untuk wisata keliling tiga pulau. Pulau Lengkuas, Pulau Batu Berlayar, dan Pulau Kelayang. Suatu tawaran yang menggiurkan. 
Hamparan pasir putih di Pantai Tanjung Kelayang
Hamparan pasir putih di Pantai Tanjung Kelayang
“450.000 rupiah, bang. Nanti langsung tiga pulau,” Ujar seorang bapak menawariku. 

Aku bersabar, menunggu rombongan yang ingin menyeberang. Harga sewa kapal penyeberangan sebesar 450.000 ini bisa lebih murah jika bergabung dengan rombongan. Plesiran ke Belitung, rasanya belum lengkap jika kaki belum menginjakkan kaki di tiga pulau tersebut. 

Nasib mujur masih menaungiku. Tidak lama kemudian ada satu rombongan yang ingin hopping island. Aku turut melobi untuk bergabung, alhasil diperbolehkan turut bersama. Bergegas aku menuju bapak yang menawari kapal, lantas menyepakati harganya. 

“Bayarnya nanti saja sepulang dari keliling pulau, bang.” 

Bapak tersebut mendatangi salah satu pemilik kapal, lantas mengarahkanku bersama rombongan untuk menuju kapal. Kapal yang kami gunakan lumayan besar untuk berlima. Bagian palka sengaja dibuat lebih rendah, tiap sisi kapal dijadikan tempat duduk permanen. 

Pemilik kapal mengeluarkan tangga, tampaknya tangga ini memang sudah disiapkan sebagai akses naik kapal. Secara bergantian, kami naik ke kapal. Aku menjadi yang pertama, lalu membantu rombongan yang lain, sesekali mendokumentasikan. 
Kapal yang menyeberangkan ke pulau-pulau di Pantai Tanjung Kelayang
Kapal yang menyeberangkan ke pulau-pulau di Pantai Tanjung Kelayang
Penyeberangan dimulai. Aku menikmati waktu penyeberangan dengan santai. Setidaknya hari ini aku sudah melakukan perjalanan darat, udara, dan laut. Destinasi pertama yang dituju adalah Pulau Lengkuas. Pulau ini tadi sempat terlihat jelas dari jendela pesawat, khas dengan ikon mercusuarnya. 

Perjalanan menuju pulau Lengkuas cukup menyenangkan. Meski mendung, angin tidak kencang. Pemilik kapal menginformasikan bahwa penyeberangan ini selama setengah jam. Aku duduk santai, sesekali memotret pulau-pulau yang terlewati. Berusaha untuk mengabadikan pemandangan sepanjang kapal berlayar. 

Batu-batu granit menjulang tinggi di salah satu pulau yang kami lewati. Tebersit pikiranku pada salah satu adegan anak-anak Laskar Pelangi berlarian di atas bebatuan sembari bersorak riang. Lantas mereka bermain air. Kapal kami tidak sendirian. Dari arah berlawanan, berderet tiga kapal penuh wisatawan. Sepertinya mereka sudah pulang. 

Bergantian di sisi kiri, lima kapal tertambat saling berdekatan. Puluhan orang riuh berenang. Aktivitas snorkeling memang memikat para wisatawan. Mereka menikmati pemandangan bawah laut yang beragam ikan serta terumbu karang. 
Pemandangan selama penyeberangan
Pemandangan selama penyeberangan
“Kalau sewa alatnya itu, satu paket 45000 rupiah, bang,” Ujar nahkoda kapal. 

Lagi-lagi aku mengangguk. Perjalanan kali ini memang tidak untuk bermain air. Rombongan yang bersamaku kepincut pasir putih di pantai. Sedari awal, mereka bilang ingin berfoto di hamparan pasir. Tentu ini menjadi tugasku, terlebih di sini aku membawa peralatan kamera. 

Pulau Lengkuas dan Ikon Mercusuar 

Suara mesin kapal mulai rendah, laju kapal pun melambat. Nahkoda memainkan kemudi di belakang. Menempatkan kapal agar bisa bersandar langsung di bibir pantai. Lima kapar tersandar rapi. Semuanya membawa penumpang. 

Satu persatu rombonganku turun. Mereka menyebar ke sudut pulau. Tentu berfoto bareng rombongan hingga swafoto dengan latar mercusuar. Aku serasa menjadi pemandu dadakan. Beberapa kali membantu mereka untuk foto bersama. 

Pulau lengkuas menjadi salah satu tujuan wisata yang melejit. Hamparan pasir luas bisa dijadikan area bermain pasir wisatawan. Wisatawan di sini lebih banyak bermain air, ada juga yang mengabadikan diri dengan latar bebatuan ataupun mercusuar. 
Pasir putih di Pulau Lengkuas
Pasir putih di Pulau Lengkuas
Nyiur-nyiur melambai dan menjadi salah satu tempat untuk berteduh sembari menikmati semilir angin laut. Di pulau ini sudah ada bangunan yang berdekatan dengan mercusuar. Konon, mercusuar ini adalah peninggalan masa Belanda. Dari berbagai literatur disebutkan, pembangunan Mecusuar di Pulau Lengkuas pada tahun 1882. Mercusuar di Pulau Lengkuas ini masih berfungsi sebagai penanda kala malam hari. 

Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu, kuletakkan kamera dengan penyanggahnya. Lantas mengabadikan diri di atas batu, membelakangi mercusuar. Menariknya, waktu aku mengabadikan, tidak ada wisatawan yang terlihat di belakang. Mereka sedang asyik bermain air. 
Pulau Lengkuas dengan ikon mercusuar
Pulau Lengkuas dengan ikon mercusuar
Kombinasi daratan di Pulau Lengkuas ini menarik, salah satu sisi pulau merupakan bebatuan granit khas Belitung. Aku berjalan menapaki bebatuan tersebut, melihat lanskap indah pulaunya. Benar-benar menarik. Pantas saja Pulau Lengkuas menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Belitung. 

Jika para rombongan anak-anak beserta keluarga bermain air tepat di hamparan pasir. Berbeda halnya dengan para remaja atau yang lebih dewasa. Mereka lebih suka berenang dibalik bebatuan granit. Airnya lebih tenang, dan tentu saja sedikit lebih dalam. Dari salah satu batu yang menjulang tinggi, aku kembali memotret. 
Wisatawan berenang di antara batu-batu menjulang tinggi
Wisatawan berenang di antara batu-batu menjulang tinggi

Bebatuan Granit di Pulau Batu Berlayar 

Meski tidak lama di Pulau Lengkuas, aku tetap bisa menikmati perjalanan kali ini. Stok foto cukup banyak, sempat juga merekam untuk keperluan vlog. Rombongan kembali naik kapal menuju pulau kedua yang bernama Batu Berlayar. 

Rasanya baru sebentar nahkoda menarik tuas mesin, kapal kembali melambat. Di depanku tampak bebatuan tersebar di tengah laut, ada sedikit pasir putih yang terhampar. Sekilas ini mirip Pulau Gosong. Namun unik karena didominasi bebatuan granit. 

Plang papan sederhana bertuliskan “Pulau Batu Berlayar” menjadi spot foto wisatawan. Mereka menjadikan plang tersebut sebagai penanda di mana dia sekarang berfoto. Pulau kecil ini cukup sepi, hanya ada dua kapal yang bersandar. 
Mendarat di Pulau Batu Berlayar
Mendarat di Pulau Batu Berlayar
Rombongan kapal yang sudah lebih dulu bersandar ternyata komunitas fotografer dari Jakarta. Mereka trip ke Belitung, memotret keindahan pantainya. Segala peralatan kamera lengkap berbagai lensa. Pun dengan dengungan drone yang merekam lanskap pulau ini dari atas. 

“Setelah ini kami mau ke Pulau Lengkuas, mas. Motret sunset di sana pasti bagus,” Ujar salah satu rombongan fotografer. 

Aku sepakat dengan pendapatnya. Memang sunset di pantai itu indah, walau sekarang sedikit mendung menggelayut. Langkah kakiku menyusuri pulau mungil ini, menyelusup di antara bebatuan, dan memotret pemandangannya. 

Menurutku Pulau Batu Berlayar ini jauh lebih indah jika diabadikan menggunakan drone. Namun tidak perlu khawatir. Kita tetap bisa menikmati berswafoto di bebatuannya. Aku mencari sudut yang pas, lalu berpose ala-ala mendorong batu besar. Padahal, tangan kiri fokus melihat gawai. 
Mengabadikan diri di Pulau Batu Berlayar
Mengabadikan diri di Pulau Batu Berlayar
Di pulau ini tidak ada aktivitas bermain air. Rata-rata pengunjung yang datang ingin berfoto di bebatuan. Mungkin kunjungan ke Pulau Batu Berlayar dijadikan sebagai bonus bagi para pelaku wisata. Atau malah memang untuk mengabadikan diri dari atas pakai drone? Memang menarik sih kalau fotonya dari atas. 

Ramainya Wisatawan di Pulau Kelayang 

Dari tiga pulau yang aku kunjungi, Pulau Kelayang menurutku yang paling ramai wisatawan. Mungkin salah satu faktornya adalah paling dekat dengan daratan Belitung. Waktu terus berjalan, kunjungan terakhir sebelum pulang ke Pulau Kelayang. 

Di sini baru terlihat aktivitas wisatawan yang ramai. Sudut-sudut pantai riuh, anak-anak kecil bermain air bersama keluarga. Ada juga yang menyempatkan foto bersama, atau swafoto pada plang tulisan Pulau Kelayang. 

Aku duduk di pasir, melihat para wisatawan yang asyik berlibur. Terkadang terdengar suara teriakan tawa panjang, mereka berlarian di pasir. Tidak mau kalah, suara jerit sambil tertawa juga terdengar dari anak-anak yang bermainan air laut. 

Pulau Kelayang meriah. Ada banyak warung kecil milik warga yang menawarkan aneka minuman. Di sudut yang lain sudah terdapat tempat sampah. Ya, semoga wisatawan yang datang juga turut andil membuang sampah pada tempatnya. Sehingga kebersihan pulau ini terus terjaga. 
Wisatawan bermain air di Pulau Kelayang
Wisatawan bermain air di Pulau Kelayang
Sembari menikmati waktu menjelang sore, aku kembali mendokumentasikan keramaiannya. Tidak ketinggalan mengambil rekaman vlog. Tujuanku tentu sebagai pelengkap tulisan dan foto yang nantinya terposting di blog. 

Tulisan Pulau Kelayang di ujung daratan menarik perhatianku. Untuk sejenak aku berhenti, ada wisatawan yang lain sedang berfoto. Secara bergantian kami saling membantu mengabadikan diri di tulisan tersebut. Rombongan yang aku ikuti pun foto bersama di spot ini. 

Waktu semakin berangsur sore, kapal-kapal yang ada mulai meninggalkan pulau. Aku sudah berada di atas kapal. Menyeberang menuju daratan pantai Tanjung Kelayang. Tidak berapa lama kapal sandar, rombonganku berkumpul, dan aku turut bergabung untuk membayar share cost pengeluaran sewa kapal. 

“Tidak usah, mas. Sudah kami bayar. Cukup kirimkan foto-foto kami yang ada di kameramu,” Ujar salah satu rombongan. 

Tentu ini sebuah kabar yang menyenangkan. Lantas kusalin semua foto yang ada rombongan untuk kukirimkan. Harapannya mereka dapat menyebarkan keindahan pulau ini di media sosial pada saudara, kawan, dan sejawatnya.

Unggahan-unggahan di media sosial seperti ini menjadi salah satu cara tersebarnya keindahan Belitung oleh masyarakat luas. Media sosial layaknya sebuah jendela. Postingan tersebut memantik orang lain penasaran untuk mencari informasi lebih dalam melalui tulisan blog. Lalu mengagendakan berkunjung di waktu mendatang.
Mengabadikan diri di tulisan Pulau Kelayang, Belitung
Mengabadikan diri di tulisan Pulau Kelayang, Belitung
Aku percaya, geliat pariwisata di Belitung bisa lebih maju dengan pesat. Keindahan alamnya sudah menjadi modal utama. Tinggal faktor pendukung lainnya yang harus terus ditingkatkan. Wisata identik dengan akses transportasi, penyebaran penginapan dan pemesanannya mudah, serta kemudahan dalam mendapatkan informasi terkait destinasi.

Di Belitung sendiri sudah aspek-aspek tersebut sudah terpenuhi. Rute pesawat dari berbagai kota ke Belitung, tersebarnya penginapan yang bisa dipesan dengan mudah melalui gawai, hingga informasi destinasi wisata yang dapat kita cari melalui blog maupun media sosial.

Selain itu, perlu juga bagi masyarakat setempat untuk aktif dalam mengenalkan event tahunan. Di Belitung sendiri sudah pernah ada Festival Tanjung Kelayang 2018 untuk mempromosikan destinasi wisata di Tanah Laskar Pelangi. Warga setempat juga harus mendukung dengan sajian kulinernya, dan juga cinderamata. Semua itu dapat meningkatkan geliat perekonomian.

Bagi wisatawan, ketika berkunjung di destinasi tertentu bukan sekadar datang, main, dan pulang tanpa meninggalkan kesan apapun. Menjelajahi Belitung membuat wisatawan tahu tentang alamnya, kulinernya, kebudayaannya, interaksi masyarakatnya, dan juga kenangan dalam bentuk dokumentasi foto ataupun video.

Ketika promosi sudah dicanangkan dengan baik melibatkan pimpinan, melalui semua kanal media, termasuk media sosial, serta adanya event tahunan, tentu Belitung makin menggoda para wisatawan domestik maupun manca. Ya, tidak salah jika Pantai Pulau Kelayang diharapkan menjadi salah satu destinasi andalan di kancah pariwisata Indonesia.

Aku kembali melanjutkan perjalanan. Waktu belum sepenuhnya petang, masih memungkinkan untuk mengunjungi destinasi wisata yang lainnya. Tujuanku adalah Pantai Tanjung Tinggi Belitung. Konon pantai ini lebih dikenal wisatawan dengan sebutan Pantai Laskar Pelangi.

Tentu menjadi hal yang menyenangkan. Siapa tahu nanti di sana aku bisa bersenandung ala anak-anak Laskar Pelangi. Berlarian di bongkahan batu granit sembari menikmati senja. Selama perjalanan menuju destinasi tersebut, aku mengunggah satu foto di media sosial. Tentu foto sewaktu di Pantai Kelayang.

14 komentar:

  1. wih mantap banget pemandangan pantainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pantai di Indonesia memang indah-indah kok.

      Hapus
  2. Wah seru banget pantai,jadi inget vitamin sea

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo agendakan liburan ke pantai, biar vitamin sea-nya terpenuhi.

      Hapus
  3. dari dulu aku penasaran asal muasal bebatuan besar di pantai itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kudu baca artikel di jurnal dan yang lainnya, mas. Menarik untuk dibaca kala senggang

      Hapus
  4. Piye jal, anak pulau ke pulau hemsss.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau naik gunung sih, apa daya fisik dan waktu lebih pas di pantai. Siapa tahu ketemu Putri Duyung.

      Hapus
  5. itu fotonya gada yang mau bantuin motret yaa mas...? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daripada hasilnya miring-miring, mas. Mending foto sendiri ahahahahha

      Hapus
  6. Rejeki jadi tukang poto. Alhamdulillah, bisa hopping 3 pulau secara gratis.

    450 itu dikasih durasi berapa jam gitu nggak mas, apa bebas terserah sang penyewa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya tetap ada batasannya.
      Misalnya untuk snorkeling dan yang lainnya. Rata-rata di paketan keliling pulau biasanya 6 jam untuk 450.000 rupiah.

      Hapus
  7. Masih pengen main ke pantai Mas? Padahal mburi umah pantai keren2 bgt. Huhu
    Mayan naik kapal grtisan ya. Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh, aku emang mau keliling pantai sebanyak mungkin je. Biar nggak cuma tahu pantai di Karimunjawa saja hahahahhahhhaha

      Hapus

Pages